Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang
"Aku mah berangkat ke kantor pakai mobil, bukan angkot atau ojek online. Makanya duit tuh ditabung untuk beli mobil biar ke sana sini nggak usah bingung," ucap Kafka tiba-tiba sambil mengelap mobilnya yang terparkir di halaman rumah Aruna. Bahkan matanya sedari tadi terus mencuri pandang ke arah Aruna yang baru saja keluar dari rumah.
Tadi pagi, Ibu Salma mengambil pakaian milik Kafka atas perintah laki-laki itu. Lebih tepatnya Kafka tidak mau masuk ke dalam kamar yang dipakai oleh Aruna sehingga tak bisa mengambil pakaian. Semua pakaian Kafka langsung dibereskan oleh Ibu Salma dan Aruna dari lemari. Semua pakaiannya dimasukkan ke dalam koper tanpa ditata kemudian diletakkan di dekat pintu rumah. Kafka pun langsung mengambil kopernya dengan kasar tanpa mengucapkan terimakasih.
Kemudian saat ini Kafka berada di depan rumah sambil mengelap mobilnya. Aruna tahu kalau Kafka sedang menyindirnya yang tidak punya uang dan mobil. Namun tak apa, dia akan membuktikan kalau bisa membeli mobil juga suatu hari nanti. Namun bukan untuk pamer seperti apa yang dilakukan oleh Kafka. Dia akan membeli mobil ketika membutuhkan. Lagi pula untuk sekarang, makan dan pendidikan Nasya jauh lebih penting.
"Mending nggak punya mobil, daripada belum ada rumah. Masa iya mau tinggal di dalam mobil seterusnya," ucap Aruna dengan santainya.
"Oh lupa... Dulu punya rumah, tapi buat isi listrik aja nggak mampu." lanjutnya yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Kafka.
"Sialan kamu, Aruna. Aku bejek-bejek juga nanti kamu," seru Kafka dengan raut wajah kesalnya. Niatnya ingin melihat Aruna insecure karena dia sudah mempunyai mobil mewah, ternyata gagal.
"Nggak usah pamer, itu juga masih nyicil kan?" ledek Aruna sambil menjulurkan lidahnya.
Benar apa yang dikatakan oleh Aruna, lebih baik punya rumah dulu. Namun Kafka tidak mau menjual mobil itu demi membeli rumah. Dia gengsi kalau pergi ke perusahaan naik motor. Apalagi statusnya yang seorang manager. Semua manager di perusahaan itu memakai mobil. Jadi dia tak mau jika diremehkan karena hanya memakai motor. Padahal seseorang akan dihargai atau dipuji karena prestasinya, bukan kekayaannya.
"Kafka, ingat ya. Jangan berbuat ulah sama Aruna di kantor," tegur Ibu Salma saat melihat bagaimana tingkah Kafka.
"Iya, Bu. Lagian di kantor juga ada Silvy sih. Ngapain juga ganggu atau berbuat ulah pada Aruna," ucap Kafka dengan acuh.
"Berangkat dulu, Bu." pamitnya yang kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Dasar bocah gemblung. Tadi kan anaknya berangkat sekolah, mbok ya diantar dulu. Udah tahu Aruna kalau antar cuma jalan kaki. Emang itu otaknya Kafka lagi kesumpelan mukanya Silvy. Jadi nggak bisa buat mikir," gerutu Ibu Salma mengumpati Kafka.
Kafka mendengar sekilas gerutuan dari Ibu Salma. Kafka memilih untuk pergi saja dan tidak menggubris ucapan Ibu Salma. Beberapa tetangga melihat kembalinya Kafka. Mereka segera mendekati Ibu Salma untuk mencari tahu. Selain itu, mereka khawatir kalau sampai kejadian yang lalu terjadi lagi.
"Ibu Salma, kok Kafka bisa bebas seperti itu? Nanti kalau dia menyakiti Aruna dan Nasya bagaimana?" tanya Ibu Fia dengan tatapan khawatirnya.
"Tidak. Dia sudah membuat surat pernyataan untuk tidak menyakiti Aruna lagi. Kalau sampai terjadi lagi, dia akan benar-benar masuk penjara dan dipecat." ucap Ibu Salma dengan yakin.
"Kalau suamiku KDRT sih mending cerai aja," ucap Ibu Fia lagi tapi tak dijawab oleh Ibu Salma.
"Itu urusan rumah tangga masing-masing, Bu. Tidak perlu ikut campur. Saya permisi," Ibu Salma langsung berpamitan daripada ditanya banyak hal oleh tetangganya. Apalagi dia belum mau mengungkap tentang gugatan cerai dari Aruna. Biar lah nanti Aruna dan Kafka sendiri yang menjawab.
***
"Mas Kafka sayang, katanya kemarin kamu nggak berangkat karena lagi di rumah baru. Kamu beli rumah baru buatku kok nggak kasih tahu aku sih?" tanya Silvy dengan raut wajah antusiasnya.
Melihat Kafka sudah berangkat ke kantor, Silvy langsung masuk ke dalam ruangan kekasihnya kemudian mengunci pintunya. Kafka sampai terkejut melihat kedatangan Silvy. Yang lebih membuatnya terkejut mengenai pertanyaan tentang rumah baru. Dia saja baru kehilangan rumah warisan, malah ditanya Silvy seperti itu. Bahkan setelah ini, dia bingung harus tinggal dimana. Pasalnya Ibu Salma meminta Kafka pergi dari rumah itu setelah resmi bercerai dengan Aruna.
"Beli rumah baru apaan sih? Jangan aneh-aneh," ucap Kafka dengan raut wajah kesalnya.
"Kemarin kata Ibu Aruna, Mas Kafka tidak berangkat karena melihat rumah baru. Kasih tahu aku dong dimana rumah baru untuk kita, Mas. Aku yakin kalau rumah baru itu untuk aku kan?" ucap Silvy lagi dengan tatapan penuh harap.
"Apa sih? Kamu lagi halusinasi ya? Atau lagi sakit?" tanya Kafka sambil memeriksa dahi Silvy. Kafka merasa bahwa Silvy ini tengah berhalusinasi atau sakit.
"Enggak, Ibu Aruna sendiri kok yang bilang." ucap Silvy menepis pelan tangan Kafka.
"Aku kemarin itu ke kantor polisi karena Aruna melaporkanku. Aku menginap di penjara, bukan melihat rumah baru." ucap Kafka membuat Silvy shock.
Bahkan Silvy langsung memundurkan langkahnya menjauh dari Kafka. Dia menatap Kafka dengan pandangan tak percaya. Sedangkan Kafka sengaja jujur pada Silvy. Dia ingin melihat apakah yang dikatakan Ibu Salma waktu itu benar adanya. Jika Silvy mengetahui dia masuk penjara, pasti perempuan itu akan meninggalkannya. Raut wajah Silvy saat ini terlihat shock dan kebingungan.
"Jangan bercanda, Mas Kafka. Aku serius lho. Kalau kamu tidak mau memberitahuku tentang kejutan rumah baru, aku tidak masalah kok. Tapi jangan mengatakan hal yang seperti ini," ucap Silvy yang berharap bahwa Kafka hanya bercanda.
"Aku sedang tidak bercanda, Silvy. Bahkan Aruna sudah mengetahui perselingkuhan kita. Makanya kita jangan dekat-dekat dulu di kantor. Yang ada, nanti akan jadi masalah untuk ke depannya." ucap Kafka meminta pengertian dari Silvy.
"Oke, kita nggak usah dekat-dekat. Aku juga tidak mau dekat sama laki-laki yang pernah masuk penjara," ucap Silvy tiba-tiba.
Bahkan Silvy langsung keluar dari ruangan Kafka tanpa berpamitan. Hal itu membuat Kafka langsung sadar bahwa Silvy menjauhinya. Kafka meraup wajahnya dengan kasar. Tidak menyangka kalau Silvy ingin cuci tangan tentang permasalahan ini. Daripada memikirkan Silvy yang pergi begitu saja, lebih baik Kafka memperbaiki laporan bulanannya kemarin. Dia masih sayang dengan pekerjaannya dan mencoba mempelajari laporan buatan Aruna kemudian memperbaiki miliknya.
"Kayanya emang Silvy itu cuma mengincar duit dan rumah warisanku deh," gumam Kafka sambil menghela nafasnya kasar.
"Udah kehilangan rumah, istri, dan muka di depan tetangga eh sekarang pacar juga hilang. Nasib..." lanjutnya.
😁😁😁😁
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒