Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Ciuman Gabriel di lorong pelabuhan meninggalkan rasa panas yang membakar sekaligus menyiksa. Ketika kami akhirnya kembali ke dalam mobil limousine, suasana di dalam kabin kedap suara itu terasa sangat dingin dan mencekam.
Gabriel duduk menyandar di jok kulit, menyalakan sebatang cerutu. Asap tipis membumbung, menyamarkan separuh wajahnya dalam kegelapan malam. Matanya terus menatap lurus ke luar jendela, memandangi bayangan lampu-lampu pelabuhan yang pelan-pelan menjauh.
"Mulai esok hari, kau tidak diizinkan melangkah ke area taman luar puri tanpa pengawalan empat orang," ucap Gabriel mendadak, suaranya datar namun tak menerima bantahan.
Aku mengusap pergelangan tanganku yang masih terasa hangat bekas genggamannya. "Sampai kapan kau akan terus menambah rantai di kakiku, Gabriel?"
Gabriel menoleh. Sorot matanya yang sehitam jelaga terkunci padaku. "Sampai kepala Julian Romanov terpenggal dan disajikan di atas meja makanku."
Pernyataan dingin itu membuat tenggorokanku mendadak kering. Julian Romanov bukan sekadar petinggi dewan biasa yang bisa ditembak Gabriel di tempat seperti Baron Vance. Dia adalah pemimpin tertinggi Nordic Syndicate kerajaan kejahatan terbesar yang menguasai jalur penyelundupan utara. Provokasi Julian di panggung lelang tadi bukan sekadar godaan, melainkan deklarasi perang terbuka.
"Dia sengaja memancingmu, Gabriel," bisikku pelan. "Dan kau langsung masuk ke dalam perangkapnya dengan membayar mahkota itu lima puluh juta dolar."
Gabriel tersenyum tipis sebuah senyuman penuh bahaya yang sama sekali tidak mencapai matanya. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan penuh bekas luka mengusap daguku, memaksa wajahku mendongak menatapnya.
"Pria itu berpikir dia sedang bermain catur denganku, Cara mia," bisik Gabriel rendah. "Dia pikir kau adalah perwira yang bisa ia curi dari papanku. Dia tidak sadar... bahwa kau adalah alasan aku akan membakar seluruh papan permainannya."
---
Pukul dua pagi, kami tiba kembali di puri. Kelelahan fisik dan mental membuat tubuhku terasa sangat berat. Namun, sebelum aku sempat melangkah menuju kamar tidur, seorang pria berjas hitam dengan luka jahitan di keningnya melangkah tergesa-gesa menghampiri Gabriel di atrium utama.
Dia adalah Marco, tangan kanan sekaligus kepala keamanan kepercayaan Gabriel.
"Tuan," bisik Marco dengan raut wajah sangat serius. "Salah satu konvoi pengangkut barang kita di perbatasan utara baru saja dihadang. Tiga orang kita tewas di tempat."
Atmosfer di atrium megah itu mendadak membeku. Aku bisa merasakan bagaimana aura Gabriel berubah secara instan dari seorang kekasih yang posesif menjadi iblis pembunuh berdarah dingin.
"Julian?" tanya Gabriel dengan suara sangat pelan, namun mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Ya, Tuan. Mereka meninggalkan pesan di pintu truk," jawab Marco ragu-ragu, matanya sempat melirik ke arahku sejenak sebelum melanjutkan. "Mereka bilang... mahkota lima puluh juta dolar itu hanya uang muka untuk membawa Nona Aurora ke utara."
Darahku mendadak berdesir dingin. Jantungku berdegup kencang hingga kepalaku terasa pening. Julian benar-benar menjadikan diriku sebagai umpan untuk memancing pertumpahan darah ini.
Gabriel tidak meledak marah. Ia justru diam membisu selama beberapa detik, menghembuskan napas pelan. Keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada teriakannya.
"Marco," panggil Gabriel tenang.
"Siap, Tuan?"
"Kumpulkan seluruh pasukan utama sektor selatan dan barat. Tutup seluruh jalur perdagangan darat milik Romanov malam ini juga. Siapa pun yang mencoba melintas... tembak di tempat."
"Baik, Tuan!" Marco membungkuk hormat lalu berbalik cepat menjalankan perintah.
Gabriel kemudian berbalik menghampiriku. Ia menatapku yang berdiri gemetar di bawah pendar lampu kristal atrium. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gabriel mengangkat tubuhku ke dalam pelukannya, membawaku melintasi tangga melingkar menuju kamar utama.
---
Pintu kamar ganda terkunci rapat. Malam itu, tidak ada kata-kata manis atau perdebatan panjang. Gabriel meluapkan seluruh kegelapan, rasa terancam, dan obsesinya lewat dominasi yang sangat ganas.
Ia membaringkanku di atas tempat tidur, mencengkeram kedua pergelangan tanganku di atas kepala dengan satu tangan besarnya, sementara tangan lainnya menelusuri setiap inci tubuhku tanpa memberi celah untuk menghindar. Setiap sentuhan, ciuman yang menuntut, dan tekanan tubuhnya seolah-olah menjadi cara Gabriel memastikan bahwa aku masih ada di sana masih menjadi miliknya yang utuh dan tak tersentuh oleh pria lain.
"Kau milikku, Aurora..." bisiknya berkali-kali di ceruk leherku, suaranya serak di tengah deru napas kami yang memburu. "Hanya milikku. Tidak ada yang bisa mengambilmu dari tanganku. Tidak Julian... tidak siapa pun."
Aku memejamkan mata rapat-rapat, meremas seprai sutra di bawah tubuhku. Rasa pegal dan nyeri kembali menjalar di sekujur sendiku, namun di balik rasa sakit itu, ada getaran kepasrahan yang makin dalam. Dalam pusaran bahaya dan obsesi gila ini, aku sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa lepas. Aku telah menjadi pusat dari perang dingin dunia bawah tanah—sebuah selir rahasia yang dicintai secara gila oleh seorang raja mafia, dan diinginkan oleh musuh-musuhnya sebagai lambang kehancuran.