Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.
Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.
Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.
Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesembuhan Selir Kedua Dan Pangeran Lin Tian
Dengan langkah yang sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun—demi menjaga kenyamanan tidur Selir Kedua dan Pangeran Lin Tian—tabib istana itu melangkah mendekat ke arah ranjang. Ia berlutut, lalu dengan jemari yang sedikit gemetar mulai memeriksa denyut nadi keduanya secara bergantian.
Baru beberapa detik berlalu, sepasang mata tabib tua itu langsung membelalak sempurna. Denyut nadi yang beberapa hari lalu melemah drastis, kini bergerak dengan begitu kuat dan normal. Bahkan, helaan napas mereka terdengar sangat teratur, jauh dari kesan sekarat. Wajah pucat pasi yang sebelumnya menyerupai mayat, kini justru tampak bersinar dan kembali merona.
"I--ini.. b---bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi?" Tabib itu tercekat, suaranya tertahan di tenggorokan seolah-olah ia baru saja melihat sebuah keajaiban yang menentang hukum alam.
Kaisar Lin Dong yang sejak tadi memperhatikan dengan cemas, langsung menangkap perubahan ekspresi wajah tabib yang mendadak memucat.
Ia segera melangkah maju dan bertanya dengan nada penuh tuntutan, "Ada apa, Tabib? Mengapa wajahmu seperti itu? Apa kondisi mereka berdua justru semakin parah?!"
Di belakang sang Kaisar, Permaisuri Li masih berdiri dengan sikap anggun dan tenang. Sudut bibirnya hampir saja terangkat membentuk senyuman sinis. Dia sangat yakin kondisi Selir Kedua dan Pangeran Lin Tian semakin memburuk.
Namun, kalimat yang keluar dari mulut tabib selanjutnya seketika membuat Permaisuri Li merasa seperti dihantam oleh batu besar yang runtuh dari langit.
"Kondisi Selir Kedua dan Pangeran Lin Tian... mereka sangat baik, Yang Mulia Kaisar! Ini benar-benar sebuah mukjizat!" seru tabib itu dengan suara yang bergetar karena emosi yang meluap. "Denyut nadi mereka berdua telah kembali normal sepenuhnya, napasnya pun teratur tanpa ada hambatan. Bahkan wajah mereka tampak begitu segar dan memancarkan energi kehidupan yang sangat kuat, seolah-olah rasa sakit itu tidak pernah ada."
Mendengar laporan tersebut, kilatan kebahagiaan yang luar biasa langsung terpancar dari sepasang mata Kaisar Lin Dong. Beban berat yang menghimpit dadanya mendadak sirna. Namun, situasi berbanding terbalik di tempat Permaisuri Li berdiri. Tubuhnya menegang, dan napasnya seakan berhenti berputar.
"B--bagaimana mungkin.. s--seharusnya efeknya tidak..." suara Permaisuri Li tercekat di tenggorokan, gumaman frustrasinya lolos tanpa ia sadari karena rasa syok yang teramat sangat.
"Seharusnya apa, Yang Mulia Permaisuri?" tanya Lin Jia tiba-tiba dengan nada datar yang menusuk.
Ternyata, indra pendengaran Lin Jia yang tajam berhasil menangkap gumaman panik tersebut.
Langkah kakinya mendekat, sepasang matanya menatap lurus ke arah sang Permaisuri dengan tatapan penuh selidik. "Kenapa wajah Permaisuri terlihat pucat dan dipenuhi keringat dingin seperti itu? Apa sekarang justru Permaisuri yang mendadak jatuh sakit?"
Kaisar Lin Dong yang mendengar ucapan Lin Jia langsung mengalihkan pandangannya, memperhatikan raut wajah sang istri yang tampak kacau. "Permaisuri, kamu baik-baik saja? Wajahmu memang terlihat sangat tidak sehat," tanya Kaisar Lin Dong dengan dahi berkerut.
Permaisuri Li mengepalkan tangannya di balik jubah sutranya yang lebar, berusaha keras mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan kembali memaksakan sebuah senyuman tipis di tengah rasa terkejut dan ketakutan yang menggerogoti dadanya.
"Tentu saja... aku baik-baik saja, Yang Mulia. Aku hanya... hanya merasa terlalu tidak percaya. Bukankah baru beberapa hari yang lalu kita semua melihat sendiri bagaimana Selir Xu dan Pangeran Lin Tian berada dalam kondisi yang sangat kritis dan hampir tidak tertolong?" Permaisuri Li menjeda kalimatnya, matanya melirik ke arah ranjang dengan tatapan tidak rela. "Tapi... bagaimana bisa mereka sembuh total dalam waktu secepat ini? Obat apa yang sebenarnya telah mereka minum?"
Rencana licik yang telah disusunnya selama ini untuk menyingkirkan Selir Kedua beserta anak - anaknya itu kini hancur berantakan tanpa sisa. Di saat keheningan kembali mencekam, sebuah suara serak namun tegas terdengar memecah ketegangan.
"Tentu saja kami bisa sembuh secepat ini, Ibu Permaisuri."
Pangeran Lin Tian tiba-tiba membuka matanya dan perlahan mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang. Tidurnya mungkin sedikit terusik oleh suara bising di dalam ruangan tersebut. Ia menatap Permaisuri Li dengan senyuman penuh arti yang sarat akan sindiran, sebelum akhirnya menoleh ke arah Kaisar.
"Karena sosok luar biasa yang merawat dan menyembuhkan kami... tidak lain adalah adik kandungku sendiri," kata Pangeran Lin Tian dengan nada suara yang mantap, membuat seluruh orang di dalam ruangan itu terperangah saling pandang.
Pangeran Lin Tian kemudian memutar pandangannya. Matanya yang tajam langsung tertuju pada sesosok pria berpakaian tabib yang berdiri di sisi ranjang.
"Tidak seperti seseorang di sini... yang selalu mengaku sebagai tabib hebat dengan reputasi tinggi, tetapi pengobatannya sama sekali tidak membuahkan hasil," sindir Pangeran Lin Tian dengan nada dingin yang menusuk.
Mendengar sindiran telak itu, sang tabib muda langsung menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dan ia merasa gugup seketika di bawah tatapan mengintimidasi sang pangeran.
Di sisi lain ranjang, Kaisar Lin Dong melangkah mendekat. Dengan segenap rasa haru yang membuncah di dadanya, beliau meraih dan memegang tangan Lin Jia dengan sangat erat.
"Ayah sungguh tidak tahu, Jia'er... Ayah tidak pernah menyangka jika kamu memiliki kemampuan medis yang sangat luar biasa ini," kata Kaisar Lin Dong dengan suara serak. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis bahagia yang siap tumpah. "Padahal, seluruh tabib istana terbaik yang Ayah miliki saja sudah menyerah dan angkat tangan untuk mengobati Ibu dan Kakakmu. Tapi kamu... kamu justru berhasil menyelamatkan nyawa mereka."
Di balik cadar kain yang menutupi sebagian wajahnya, Lin Jia hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman misterius yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun. Namun, di dalam hatinya, sebuah gejolak kebenaran berteriak dengan lantang.
‘Bukan karena tabib-tabib itu tidak mampu mengobati... tetapi karena mereka memang tidak berniat dan tidak ingin menyelamatkan siapapun sejak awal,’ batin Lin Jia penuh penekanan, mengetahui konspirasi busuk di balik penyakit keluarganya.
Kaisar Lin Dong yang diselimuti rasa syukur yang amat besar kemudian berbalik. Beliau melangkah lebar keluar dari kamar, berdiri dan langsung memberikan perintah tegas kepada panglima serta seluruh prajuritnya yang sedang berjaga.
"Berikan dan bagikan koin emas kepada seluruh rakyat Kekaisaran Naga Langit sebagai bentuk rasa syukur kita! Selir Kedua dan Pangeran Lin Tian telah sembuh total dari masa kritisnya. Pastikan semua rakyat tanpa terkecuali mendapatkannya!" titah Kaisar Lin Dong dengan suara menggelegar penuh wibawa.
"Baik, Yang Mulia!" jawab semua prajurit secara serentak sambil mengangguk patuh dan memberi hormat, sebelum akhirnya bergegas pergi melaksanakan perintah.
Sementara itu, di dalam kamar yang mulai sepi, Permaisuri Li masih berdiri terpaku. Matanya menatap tajam ke arah tubuh Selir Kedua Xu dan Pangeran Lin Tian yang tampak bugar. Di balik wajah anggunnya yang mendadak pucat, jiwanya berteriak histeris menahan amarah yang membakar.
‘Bagaimana mungkin?! Bagaimana hal ini bisa terjadi?!’ jerit Permaisuri Li dalam hati, tangannya mengepal kuat di balik jubah sutranya. ‘Seharusnya racun langka itu tidak akan pernah bisa terdeteksi oleh siapapun... bahkan penawarnya pun sangat susah didapatkan di Kekaisaran ini! Bagaimana mungkin mereka semua bisa selamat dari kematian?!'