NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:557.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Arka memarkirkan mobilnya di halaman rumah tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Suasana sudah sangat sepi, namun ia melihat sosok Jefri masih duduk di kursi teras sambil menikmati udara malam.

"Baru pulang, Ka?" tanya Jefri saat Arka melangkah mendekat.

"Iya, Yah. Baru selesai tadi," jawab Arka sambil menyalami tangan ayah mertuanya itu.

"Ya sudah, masuk saja. Pasti kamu capek," ucap Jefri sambil menepuk bahu Arka pelan.

Arka mengangguk dan masuk ke dalam rumah dengan langkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia berhenti di depan pintu kamar, menarik napas panjang, lalu dengan pelan membuka kamar Lilis.

Cahaya lampu tidur yang temaram menyambutnya. Arka melangkah masuk, namun langkahnya terhenti. Ada yang mengganjal saat melihatnya.

Lilis tampak sudah tertidur pulas di atas ranjang dengan posisi miring. Namun, Arka tertegun melihat istrinya itu masih menggunakan jilbab dan cadarnya lengkap.

Arka berdiri diam di tepi tempat tidur. Hatinya merasa iba sekaligus sesak. Ia tahu Lilis masih membentengi diri darinya, bahkan dalam tidurnya sekalipun. Tanpa berniat membangunkan atau menyentuh cadar itu, Arka hanya menyelimuti kaki Lilis dengan perlahan, lalu ia memilih untuk berbaring di sofa kecil di sudut kamar, mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang letih.

Suara azan Subuh berkumandang dari masjid terdekat. Lilis sudah bangun lebih dulu dan sudah selesai berwudu. Ia melihat Arka masih tertidur pulas di sofa dengan posisi yang tampak kurang nyaman.

Lilis melangkah mendekat, "Mas, bangun. Shalat Subuh," ucap Lilis pelan sambil mengetuk pinggiran sofa. "Udah ditunggu Ayah di depan."

Arka mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia meregangkan otot lehernya yang kaku karena tidur di sofa semalaman. Saat matanya terbuka, ia melihat Lilis sudah rapi dengan mukenanya.

"Oh, iya. Bentar," jawab Arka dengan suara khas orang bangun tidur.

Ia segera duduk dan mengusap wajahnya. Arka melirik jam di dinding, lalu bergegas berdiri untuk mengambil air wudu.

Lilis hanya diam memerhatikan suaminya yang berjalan menuju kamar mandi, lalu ia kembali merapikan sajadahnya sendiri di dalam kamar.

Lilis sedang membantu ibunya memotong sayuran, sementara Mbak Rita sibuk di depan kompor.

"Lis, buatin kopi dulu buat Ayah. Sekalian itu kue yang semalam sisa acara, tata di piring," suruh Mbak Rita tanpa menoleh.

Lilis menghentikan potongannya sejenak. "Emang masih bagus, Ma?" tanya Lilis ragu.

"Masih, kalau nggak mana mungkin Mama nyuruh kamu buatnya. Cuma sisa sedikit, kok," jawab Mbak Rita.

"Buatkan juga minum untuk suamimu."

"Mas Arka biasanya minum apa, Ma?"

Mbak Rita menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Lilis dengan kening berkerut.

"Mana Mama tahu, sana tanya dulu. Kamu kan istrinya sekarang, masa tanya Mama,"

Lilis hanya bisa menghela napas. Dengan langkah pelan, ia keluar dari dapur menuju ruang tengah. Dilihatnya Arka sedang duduk di teras bersama Ayahnya. Masih mengenakan sarung dan baju koko. Lilis berdiri di balik pintu, ragu untuk memanggil.

"Mas..." panggil Lilis lirih.

Arka menoleh. "Iya, Lis?"

"Mas mau minum apa? Mau kopi juga seperti Ayah atau yang lain?" tanya Lilis tanpa berani menatap mata Arka terlalu lama.

"Air putih aja, Lis," jawab Arka singkat namun terdengar ramah.

Lilis sempat terdiam sejenak di ambang pintu. Ia mengira Arka akan meminta kopi atau teh hangat seperti pria pada umumnya di pagi hari.

"Air putih aja? Enggak mau teh atau yang hangat, Mas?" tanya Lilis memastikan.

Arka menggeleng pelan. "Enggak usah, tadi malam sudah banyak minum kopi di rumah sakit. Air putih saja cukup."

"Oh, iya Mas. Sebentar ya," ucap Lilis.

Ia pun kembali ke dapur untuk menyiapkan pesanan mereka. Mbak Rita yang melihat Lilis hanya mengambil gelas besar berisi air putih langsung bertanya.

"Lho, Arka nggak mau kopi?"

"Enggak, Ma. Katanya air putih aja," jawab Lilis sambil menata gelas-gelas itu di atas nampan kayu.

Lilis kemudian membawa nampan itu ke teras, meletakkannya dengan hati-hati di meja depan Ayah dan Arka,

"Lis, nanti jangan lupa buatkan minum sama cuci mulutnya ya," pesan Ayah Jefri. "Ada orang yang mau datang buat buka tenda di depan."

Lilis mengangguk pelan. "Iya, Yah. Berapa orang yang datang?"

"Paling cuma tiga atau empat orang. Buatkan saja kopi atau teh, sama gorengan kalau ada," jawab Ayanya sebelum melangkah pergi.

Siang menjelang sore, Arka menghampiri Lilis yang sedang berada di ruang tengah. Ia tampak sudah bersiap-siap dan memegang kunci mobil.

"Lisa... bisa temani saya ke rumah? Ada tukang perabot mau antar barang," ajak Arka pelan.

"Hah, rumah mana, Mas?"

Arka tersenyum tipis. "Rumah kita. Enggak lama, kok. Nanti cuma cek-cek saja," jawabnya santai.

"Ah, bentar Mas," ucap Lilis. Ia segera masuk ke kamar untuk mengambil tas kecil dan memastikan cadarnya sudah terpasang dengan rapi.

Setelah berpamitan kepada ibunya, Lilis mengikuti langkah Arka menuju mobil. Di sepanjang jalan, suasana di dalam mobil terasa hening. Lilis lebih banyak menatap keluar jendela, sementara Arka fokus menyetir.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis yang tampak baru selesai dibangun. Halamannya bersih dan catnya masih segar.

"Ini rumahnya, Mas?" tanya Lilis saat turun dari mobil.

"Iya, ayo masuk. Tukangnya mungkin sebentar lagi sampai," ajak Arka sambil membuka pintu utama.

Lilis melangkah masuk dengan ragu. Ia melihat ruang tamu yang masih kosong, namun desainnya terasa sangat nyaman. Di sudut ruangan, sudah ada beberapa kardus besar yang belum dibuka.

Arka membuka pintu geser yang menuju ke arah taman kecil di belakang, lalu menoleh ke arah Lilis.

"Enggak apa-apa kan rumahnya kecil dulu. Aku belum punya uang buat bangun yang lebih besar. Ini juga karena dibantu Ayah sebagian," ucap Arka dengan nada rendah, seolah merasa tidak enak.

Lilis mengamati sekeliling ruangan yang bersih itu. Meski tidak mewah, rumah ini terasa sangat tenang.

"Iya enggak apa-apa, Mas," jawab Lilis.

"Perabotannya juga udah aku pesan sebagian. Yang besar-besar. Nanti kamu mau kan bantu-bantu tatanya? Mungkin rumah ini bisa kita tempati seminggu lagi."

Lilis mengangguk pelan.

"Nanti juga kita belanja alat masak sampai makan ya," sambung Arka lagi sambil tersenyum ke arah Lilis.

Lilis hanya terdiam sebentar, membayangkan dirinya akan benar-benar mengurus rumah ini dan memasak untuk Arka di dapur kecil itu. "Iya Mas, nanti Lilis temani belanjanya," jawabnya pelan di balik cadarnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil boks dari arah depan. Tukang perabot yang mereka tunggu akhirnya sampai. Arka segera keluar untuk menyambut mereka, sementara Lilis mulai membayangkan bagaimana ia akan menata hidup barunya di rumah tersebut.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tamat juga baca marathon.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Dasar Kakek sama Opanya Gibran ada saja bahan bikin ribut./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selamat datang di dunia baru mu baby Gibaran Hafizan.. panggilannya GIBRAN atau HAFIZAN nih.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hihihi pak Yuda lucu sekali kayak bocil lagi merajuk./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya calon Arka - Elisa junior hadir juga.👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Inibsebenarnya dokter Gunawan yang salah prediksi apa gimana sih, kok Elisa kebiasaannya menunjukan dan perubahan badan serta moodnya kayak orang lagi hamil.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kamu gantle Elham.👍
Hana buka hati mu untuk Elham suami mu karna dia sudah benar² berjuang keras untuk tanggung jawab dan maaf mu jadi berjuang bareng² saling melengkapi karna kamu sudah melihat sendiri gimana perjuangan dia di depan mu sampe rela melepas semua barang dan jabatan daribAyahnya demi kamu juga
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kok bisa gitu ya, di kirain beneran hamil.🤔
Mungkin belum waktunya... di suruh mantenan dulu.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Aduh Arka kamu dokter sampe ga kedeteksi kalau Elisa lagi hamil, biasanya kan dari gejalanya saja sudah ada ngarah ke situ beda sama Magh... coba kalau tadinya diperiksa denyut nadinya pasti ada yang beda.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah Loh bu Tantri dengan bu Marni saling mengenal, kejadian antara Elham dan Hana menjadi penghubung antara bu Tantri dan bu Marni yang mungkin sudah lama ga bertemu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Calon baby sudah hadir nih dari gejalanya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
pak Yasir ini kayaknya arogan banget, sombong dan lebih mentingin kehormatan dari pada tanya baik² anaknya gimana.
Sudah sepuh harusnya ga pake otot pak takutnya larinya ke stroke.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Terus berjuang Elham, jangan menyerah sampe kamu benar² sudah sampe batas di mana kamu harus terus maju atau mundur untuk berhenti berjuang dan mendapatkan jawaban keputusan dari Hana.💪
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sebenarnya ga ada yang namanya untung di sini tapi di balik kejadian Hana, hikmahnya adalah dia meskipun kehilangan kehormatan tapi Elham hadir bertanggung jawab dan datang di waktu yang tepat juga di saat bu Marni memerlukan pertolongan plus sosok Elham mungkin yang Allah kirim untuk jadi tempat Hana bersandar plus berbagi beban hidup yang selama ini dia keluhkan.

Jadi Hana dengan bantuan dan hadirnya Elham juga kamu ga kehilangan ibu mu, orang tua yang paling kamu sayangi... tapi masalahnya bukan hanya pada maaf Hana tapi juga ortu'nya Elham gimana nanti.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Betul Arka, meskipun kesalahan Elham berat tapi dia mau tanggung jawab dan ga lari dari kesalahannya begitu juga dia mau berjuang untuk maafnya Hana dan membantu bu Marni biayain operasinya dan menuhin kebutuhan Hana.

Biar waktu yang menjawab gimana nanti keputusan Hana pada Elham entah mau menerima dia atau ngga yang penting Elham sudah berusaha.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Saatnya Elham berjuang maaf pada Hana, untung juga a Elham datang tepat waktu jadi berarti Elham masih punya sisi baik meskipun itu ga bisa mengubah / mengembalikan keadaan Hana seperti dulu tapi kalau Elham haris menebus kesalahannya itu tergantung Hana gimana karna takutnya Hana hamil.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Terus kalau kamu pergi, Ibu mu di rumah barrng siapa dan siapa yang rawat beliau Hana.

Apalagi sakit jantung, kalau sewaktu² kambuh terus kamu ga ada yang ada kamu bakal lebih nyesel seumur hidup... lari dari masalah malah akan dapat cobaan baru
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Waduh apa Hana di perk0sa sama Elham ya karna Elham patah hati dan frustasi saat tau kalau Elisa sudah menikah dan berkahir mabuk terus lampiasin ke si Hana.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ada hubungan apa Hana dengan Elham kok kayak terjadi sesuatu di antara mereka.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Bilang saja kamu keberatan karna kamu sudah menikah dan ga mau bikin salah paham Elisa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!