Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Mendengar perkataan yang keluar dari bibir Kaetos dengan begitu santai, tubuh Parrie Rose serta-merta membeku. Rasa dingin meluncur deras menyusuri setiap pembuluh darahnya, mematikan seluruh saraf di punggungnya. Napasnya tercekat di pangkal tenggorokan, meninggalkan rasa tercekat yang menyesakkan dada.
"K-kau... masih menyimpan video itu?" bisik Parrie dengan suara yang hampir tak terdengar, gemetar hebat menahan gelombang horor yang menghantam kesadarannya.
Kaetos tidak menunjukkan ekspresi bersalah sedikit pun. Pria itu justru mengangguk perlahan, jemarinya di atas paha Parrie kembali bergerak halus—sebuah usapan perlahan yang terkesan intim namun terasa bagaikan cengkeraman ketakutan bagi Parrie.
"Hm. Video kita," sahut Kaetos datar, menekan kata terakhir dengan intonasi yang begitu jelas.
DEG!
Jantung Parrie rasanya dihantam martil raksasa hingga pecah berkeping-keping. Bayangan malam-malam mereka bersama kembali berputar tanpa ampun di dalam ingatannya.
Malam di mana ia menyerahkan seluruh kepolosannya, malam di mana ia berpikir bahwa Kaetos hanyalah pria asing yang butuh pelampiasan rasa penasaran, malam yang ia kira sudah terkubur bersama uang pembayaran rumah sakit ibunya.
Namun, fakta bahwa pria ini merekam segalanya tanpa sepengetahuannya—dan masih menyimpannya hingga detik ini—membuat perut Parrie mual secara mendadak.
"Kenapa... kenapa kau belum menghapusnya, sialan?!" cetus Parrie, memutar wajahnya menatap Kaetos dengan mata membara oleh amarah yang membakar habis rasa takutnya. Suaranya ditekan sekecil mungkin agar tidak menarik perhatian dosen di depan kelas, namun getaran kemurkaan di dalamnya tak sanggup ia sembunyikan.
Kaetos hanya menaikkan satu alisnya. Tatapannya tetap dingin, tenang, dan terlampau angkuh. "Terserah aku," jawabnya santai tanpa beban. "Lagipula... apa hakmu menyuruhku menghapusnya?"
"Itu tubuhku! Itu kehidupanku!" desis Parrie, jemarinya di bawah meja mencengkeram kain roknya sendiri hingga remuk.
"Dan itu kameraku. Di dalam propertiku," potong Kaetos cepat, tak memberi celah sedikit pun untuk Parrie membela diri.
Parrie menatap lurus ke dalam manik mata pria jahat di depannya. Pria yang bertahun-tahun hidup dalam kemewahan melimpah, pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan, dan pria yang masih saja memanggilnya dengan sebutan 'jalang' hingga hari ini tanpa peduli betapa berdarah-darahnya Parrie bertahan hidup.
Tidak.
Parrie menarik napas dalam-dalam, menahan rasa panas yang mulai merambat ke pelupuk matanya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan pria gila ini. Jika ia menangis, jika ia memohon, pria berhati dingin seperti Kaetos hanya akan makin menginjak-injak harga dirinya hingga tak tersisa.
Kaetos memperhatikan perubahan raut wajah Parrie. Garis-garis pertahanan yang dipasang gadis itu di sekeliling dirinya justru memancing rasa penasaran yang kian membesar di dada Kaetos.
"Katakan padaku," bisik Kaetos lagi, menundukkan kepalanya hingga hembusan napas hangatnya menyapu pelipis Parrie. "Kemana kau sebulan terakhir? Kenapa kau menghilang tanpa jejak? Apa kau benar-benar marah... hanya karena kamera tersembunyi itu?"
Parrie memutar kepalanya pelan, menyunggingkan sebuah senyum sinis yang dipaksakan. Sebuah senyuman dingin yang memantulkan keputusasaan sekaligus kebanggaan dirinya yang terluka.
"Hubungan kita sudah berakhir sejak malam itu, Tuan Ashford," ucap Parrie pelan namun tajam, menekankan setiap suku kata dengan keberanian yang dipaksakan. "Kontrak kita selesai. Ibuku sudah meninggal sebulan yang lalu. Aku tidak punya alasan lagi untuk berurusan denganmu. Jadi, kenapa kau harus peduli kemana aku pergi?"
Kaetos terdiam sejenak. Mendengar kata 'ibuku sudah meninggal', ada kilatan halus yang melintas di matanya—sebuah riak emosi asing yang menghilang secepat kilat sebelum sempat dibaca oleh Parrie.
Namun, bukannya menunjukkan simpati atau rasa duka, ego Kaetos yang terluka oleh tatapan sinis Parrie justru mengambil alih. Pria itu terkekeh rendah, sebuah kekehan hampa yang menyayat hati.
"Peduli? Padamu?" Kaetos mendekatkan bibirnya ke telinga Parrie, menyuarakan kalimat yang meluncur tajam bak belati beracun. "Jangan berhalusinasi, Parrie. Aku tidak peduli padamu. Aku hanya... merindukan jalangku."
DUARRR!!!
Kata itu kembali menghantam dada Parrie bagai ledakan hebat.
Jalang.
Kata hinaan yang sama dengan yang dilemparkan oleh ibu tirinya di rumah keluarga Ford pagi tadi. Dunia rasanya tidak begitu adil dalam satu hal: ke mana pun ia melangkah, semua orang kaya selalu memandangnya tak ubahnya sampah tak berharga.
Parrie memalingkan wajahnya sepenuhnya ke depan. Ia memfokuskan pandangannya pada papan tulis digital di depan kelas, berpura-pura mencatat rumus dan grafik yang sedang dijelaskan oleh dosen. Jemarinya yang memegang pena gemetar hebat, menyebab pening di kepalanya kian menumpuk.
Walaupun pelupuk matanya mulai berkaca-kaca dan sudut penglihatannya mengabur oleh genangan air mata yang ditahannya setengah mati, Parrie menolak untuk membiarkan satu tetes pun jatuh di hadapan Kaetos. Pria ini tidak akan pernah menghargainya.
Pria ini akan tetap menganggapnya rendahan, seorang gadis yang bisa dibeli dengan lembaran uang saat butuh, dan dibuang atau diancam sesuka hati saat tak lagi berguna.
'Fokus, Parrie... fokus,' batinnya menjerit berulang kali, mencoba menulikan telinganya dari keberadaan pria berbahaya di sebelahnya.
Kau di sini untuk beasiswamu. Kau di sini untuk masa depanmu. Jangan biarkan dia merusak satu-satunya hal yang tersisa darimu.
Satu setengah jam berlalu bagaikan neraka yang merayap lambat. Setiap detik di dalam kelas itu terasa mencekik.
Sepanjang perkuliahan, Kaetos tidak lagi menyentuhnya secara fisik, namun presensi tegap pria itu yang menyandarkan tubuhnya santai di sebelah Parrie—dengan pandangan mata yang sesekali melirik dingin ke arah catatan Parrie—sudah cukup untuk membuat seluruh otot tubuh Parrie tegang tanpa henti.
Saat suara bel berbunyi menggelegar menandakan berakhirnya sesi kuliah pertama, dosen merapikan berkasnya dan melangkah keluar kelas. Seketika itu juga, riuh suara obrolan mahasiswa memenuhi ruangan bertingkat tersebut.
Parrie tidak membuang waktu. Dengan gerakan terburu-buru, ia memasukkan buku catatan dan penanya ke dalam tas punggungnya. Ia bahkan tidak peduli jika tatanan bukunya berantakan di dalam tas, yang penting ia bisa segera angkat kaki dari radiasi berbahaya bernama Dimitriou Kaetos Ashford.
Namun, baru saja Parrie berdiri dari kursinya dan hendak menyusuri tangga keluar, Kaetos menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, lalu bersuara tanpa menatapnya.
"Gedung rektorat jam empat sore nanti," ucap Kaetos datar, nadanya seperti memberi perintah kepada seorang bawahan. "Kalau kau tidak muncul... rekaman kita yang berdurasi empat puluh menit akan diunggah ke server internal kampus sebelum matahari terbenam."
Langkah kaki Parrie terhenti di anak tangga pertama. Tubuhnya gemetar hebat oleh amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri, lalu melanjutkan langkahnya setengah berlari keluar dari ruang kelas.
Parrie menerobos kerumunan mahasiswa di koridor Fakultas Bisnis. Udara siang kota New York yang dingin tidak sanggup mendinginkan otaknya yang mendidih oleh campuran rasa takut dan benci.
Ia terus berjalan tanpa arah yang jelas, hanya ingin menjauh sejauh mungkin dari gedung fakultas tersebut. Langkah kakinya membawanya menuju area pelataran belakang kampus yang lebih sepi—sebuah tumpukan bangku kayu di bawah naungan pohon maple berdaun kemerahan.
Di sana, di bawah tiupan angin gugur yang dingin, Parrie akhirnya menghentikan langkahnya. Tubuhnya meluruh ke atas salah satu bangku kayu. Ia menekup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, membiarkan pertahanan yang dibangunya sejak pagi akhirnya runtuh total.
Air mata yang sejak tadi ditahannya meledak begitu saja. Isakan pelan keluar dari tenggorokannya yang tersekat.
Mengapa dunianya harus semalang ini?
Di rumah, ia harus menelan makian dan tatapan jijik dari ibu tiri dan saudara tirinya. Nama keluarga Ford yang dipaksakan melekat padanya tak lebih dari rantai besi yang menyeretnya ke dalam kubangan penghinaan. Dan di kampus—tempat yang ia harapkan menjadi suaka untuk merajut cita-cita—ia justru kembali terperangkap dalam cengkeraman Kaetos Ashford, pria yang memegang rahasia kelam masa lalunya.
Di tengah isakannya yang tertahan, sebuah suara derak langkah kaki di atas dedaunan kering terdengar mendekat.
"Permisi..."
Parrie tersentak kaget. Dengan cepat ia mengusap pipinya yang basah menggunakan lengan baju sweternya, lalu mendongak dengan raut siaga.
Di hadapannya, berdiri seorang pemuda bertubuh jangkung. Pemuda itu mengenakan kemeja putih rapi berbalut sweter rajut abu-abu, dan di wajahnya bertengger sepasang kacamata berbingkai emas tipis yang membingkai matanya yang teduh. Di tangannya, pria itu memegang sebotol air mineral dingin dan selembar sapu tangan bersih.
"Kau... tidak apa-apa?" tanya pemuda berkacamata itu dengan nada suara yang sangat lembut dan ramah.
Parrie tertegun sejenak. Kacamata emas tipis?
Pikiran Parrie mendadak melayang kembali pada pesan peringatan yang diberikan oleh ibu staf administrasi saat memboncengnya tadi pagi: 'Jauhi wanita berambut merah, dan pria berkacamata tipis berbingkai emas...'
Sensasi siaga langsung berdesir di dada Parrie. Ia surut beberapa inci di atas bangku kayu, menatap pemuda itu dengan pandangan curiga.
Melihat reaksi defensif dari Parrie, pemuda berkacamata itu menyunggingkan senyum tipis yang terkesan sangat hangat dan menenangkan—sebuah senyuman yang sanggup meruntuhkan kewaspadaan siapa pun dalam sekejap.
"Maaf kalau aku mengejutkanmu," ujar pemuda itu santai, lalu meletakkan botol air mineral dan sapu tangan di ujung bangku kayu, agak jauh dari Parrie agar gadis itu tidak merasa terancam. "Aku melihatmu berlari dari Fakultas Bisnis sambil menangis. Aku hanya khawatir kau pingsan di area sepi seperti ini."
Parrie membasahi bibirnya yang kering. "Saya... saya tidak apa-apa. Terima kasih," jawab Parrie pelan, mengalihkan pandangannya.
Pemuda itu tidak langsung pergi. Ia justru menyandarkan tubuhnya di batang pohon maple tak jauh dari bangku, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya yang berpotongan rapi.
"Nama saya Julian," ucap pemuda itu memperkenalkan diri. "Julian Vance. Mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum."
Julian Vance. Nama itu terdengar begitu halus, berbeda 180 derajat dari aura intimidatif dan penuh dosa milik Kaetos Ashford.
"Parrie," bisik Parrie pendek, tidak bermaksud memberitahukan nama lengkapnya.
Julian mengangguk pelan. Matanya yang tajam di balik lensa kacamata emasnya mengamati raut wajah Parrie yang pucat. "Parrie... nama yang indah. Dan jika aku tidak salah menebak, kau pasti mahasiswa baru penerima beasiswa penuh tahun ini, bukan?"
Parrie menoleh, alisnya bertautan. "Bagaimana Anda bisa tahu?"
Julian terkekeh pelan, sebuah tawa halus yang terdengar menyenangkan di telinga.
"Di kampus ini, mahasiswa biasa yang berani berjalan sendirian dengan raut wajah terluka biasanya adalah mereka yang baru saja bersinggungan dengan para 'penguasa' kampus. Dan aroma stres yang kau bawa... sangat khas dengan orang yang baru saja berhadapan dengan keluarga Ashford."
DEG!
Parrie menahan napasnya. "Anda... tahu?"
"Semua orang di Fakultas Hukum dan Bisnis tahu siapa keluarga Ashford," sahut Julian tenang.
Sorot matanya berubah sedikit lebih redup, menyimpan kilatan misterius di balik kacamatanya. "Terutama Kaetos Ashford. Pria yang terbiasa menganggap seluruh universitas ini sebagai papan catur pribadinya. Apakah dia mengganggumu, Parrie?"
Parrie mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Peringatan dari staf administrasi tadi pagi bergemuruh di kepalanya: Jangan pernah ikut campur dengan apa pun yang berkaitan dengan perselisihan orang lain... jauhi pria berkacamata tipis berbingkai emas...
Namun, di tengah rasa terisolasi dan ketakutan yang mencekik akibat ancaman video dari Kaetos, kehadiran Julian yang menawarkan simpati terasa bagaikan oase di padang pasir yang tandus. Haruskah ia percaya pada peringatan staf itu, ataukah Julian adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya keluar dari cengkeraman Kaetos?
"Saya... saya hanya ada sedikit masalah pribadi," jawab Parrie diplomatis, memilih untuk tetap berhati-hati.
Julian tersenyum makin lebar, seolah sudah menduga jawaban tersebut. Ia melangkah mendekati bangku, mengulurkan sebuah kartu nama kecil berawarna hitam elegan dengan cetakan tinta emas.
"Jika masalah pribadimu berkaitan dengan hukum, intimidasi, atau sesuatu yang mengancam hak-hakmu sebagai mahasiswa..." Julian menundukkan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Parrie dengan kehangatan yang terasa hampir sempurna. "...kau bisa menemuiku di gedung LBH Kampus. Aku tidak suka melihat orang berkuasa bertindak sewenang-wenang pada mereka yang berjuang dari bawah."
Parrie menatap kartu nama di tangan pemuda itu. Julian Vance – Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Mahasiswa.
Tanpa Parrie ketahui, dari jauh tepatnya di lantai dua gedung rektorat yang menjulang tinggi di dekat tempat mereka berada, sesosok pria tegap berdiri mematung di balik jendela kaca gelap.
Dimitriou Kaetos Ashford berdiri di sana dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Matanya yang tajam menatap lurus ke bawah, mengunci pemandangan di bawah pohon maple tersebut. Rahangnya mengetat keras hingga otot-otot di lehernya menegang, saat menyaksikan Parrie perlahan mengulurkan tangannya dan menerima kartu nama dari Julian Vance.
Cangkir kopi porselen di atas meja kerja Kaetos bergetar pelan saat jemari pria itu mengepal erat di dalam sakunya.
Kau benar-benar tidak pernah belajar, Parrie... batin Kaetos membakar amarahnya sendiri.