Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: JANGAN PERCAYA SHEN MO
Pendar lampu darurat berwarna merah darah berputar lambat di atas lantai beton gudang pelabuhan yang basah, memantulkan bayangan gelap dari tubuh kaku seorang wanita yang baru saja mengembuskan napas terakhirnya.
Ibu Chen terbaring tak bernyawa di atas genangan air hujan yang merembes masuk melalui atap berkarat; jemarinya yang dingin masih mencengkeram erat ujung jas trench coat milik Shen Mo. Sebelum cahaya di matanya benar-benar padam, wanita itu sempat membisikkan satu kalimat peringatan terakhir yang merobek kesunyian malam:
"Jangan pernah percaya pada... Shen Mo."
Namun, di hadapan mayat sang ibu, bocah tujuh tahun bernama Luo Chen sama sekali tidak meneteskan air mata. Tatapan mata jernih anak itu justru memindai tajam setiap inci ruangan, merekam setiap detail gestur pria berjas hitam yang berdiri terpaku di hadapannya—Shen Mo, sang penguasa bayangan The Crown Tower yang namanya baru saja disebut sebagai ancaman terbesar.
Belum sempat udara dingin meresap lebih dalam ke paru-paru mereka, suara derap sepatu combat militer bergemuruh dari luar pintu besi gudang. Sergapan pasukan pembunuh bayaran datang tanpa aba-aba, menghujani dinding semen dengan peluru tajam yang memecah kaca dan menerbangkan serpihan kayu.
Shen Mo, dengan gerak refleks seorang pembunuh berdarah dingin, langsung menyambar lengan kecil Luo Chen dan menariknya berlindung di balik tumpukan kontainer besi. Alis tebal pria itu bertaut tajam, menatap bocah di sampingnya dengan kilatan kebingungan bercampur amarah: bagaimana mungkin seorang anak berusia tujuh tahun yang baru saja kehilangan ibunya tidak menunjukkan secercah pun rasa takut, melainkan tengah menghitung ritme tembakan musuh di luar sana?
"Mereka datang lewat sektor utara dan timur, membawa senjata laras panjang kaliber 5,56 milimeter dengan peredam suara," suara Chen terdengar sangat tenang, dingin, dan terlampau matang untuk ukuran anak seusianya.
Tanpa menunggu persetujuan Shen Mo, bocah itu merogoh saku mantel ibunya, menarik keluar sebuah gawai tablet terenkripsi yang memuat data internal organisasi.
"Jika kita tetap diam di sini dalam tiga menit ke depan, tingkat kematian kita mencapai seratus persen. Tapi kalau kita meretas sistem jaringan listrik pusat The Crown Tower sekarang, kita bisa memadamkan seluruh lampu sektor dan membalikkan keadaan."
Shen Mo tertegun sejenak, menatap layar tablet yang berpendar terang di tangan kecil anak tersebut—sebuah perangkat yang berisi bukti-bukti penggelapan dana miliaran dolar yang dilakukan oleh para petinggi pengkhianat di dalam organisasi mereka sendiri.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Luo Chen melompat lincah ke atas meja konsol portabel yang tertinggal di sudut ruangan. Jari-jemari kecilnya menari di atas layar dengan kecepatan kilat, memasukkan barisan kode sandi rumit yang membongkar seluruh rahasia busuk penggelapan dana The Crown Tower hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga menit.
Bugh!
Suara ledakan kecil dari gardu listrik utama di luar langsung memadamkan seluruh cahaya di kawasan pelabuhan, menjerumuskan para penyerang ke dalam gulita total yang membingungkan. Memanfaatkan kekacauan mutlak tersebut, Shen Mo menarik tangan Chen erat-erat, menerobos Hujan peluru dan bayangan musuh untuk melarikan diri ke dalam mobil SUV hitam yang menderu kencang membelah malam Kota Yucheng.
Di dalam kabin yang gelap dan bergetar hebat akibat kejaran musuh, Shen Mo menatap bocah di sampingnya lekat-lekat. Napas pria itu berat, namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa takjub yang mendalam.
"Kau... siapa sebenarnya, Chen?" tanya Shen Mo pelan; suaranya serak tertahan oleh deru mesin mobil yang melaju kencang.
Luo Chen tidak langsung menjawab. Bocah itu menatap lurus ke depan, ke arah kaca mobil yang dibasahi hujan, lalu mengangkat jam saku antik milik ayahnya yang tergantung di leher.
"Ibuku bilang, jangan percaya pada Shen Mo," ucap Chen datar, tanpa emosi. "Tapi ibuku juga bilang, jika aku ingin hidup, aku harus menemukanmu. Karena hanya kau yang bisa melindungi warisan terakhir keluarga Luo dari tangan para pengkhianat."
Mendengar kalimat itu, rahang Shen Mo mengeras. Pria itu mengepalkan setir mobil dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu betul bahwa nama Luo adalah nama yang telah lama ia kubur dalam-dalam di masa lalu—nama seorang sahabat yang ia khianati, atau lebih tepatnya, nama seorang sahabat yang mati karena keputusannya tujuh tahun lalu.
"Warisan apa yang kau maksud?" tanya Shen Mo lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah dan penuh selidik.
Luo Chen memutar layar tablet di tangannya, menampilkan sebuah diagram jaringan keuangan global yang sangat rumit, dengan satu titik pusat bernama Aegis Corp. Di titik itu, tertera sebuah brankas digital dengan kode akses biologis yang hanya bisa dibuka oleh darah keturunan langsung keluarga Luo.
"Ayahku menanamkan seluruh aset gelap organisasi, daftar nama pengkhianat, dan kunci sandi sistem pertahanan bawah tanah Yucheng ke dalam sistem ini sebelum ia dibunuh," jawab Chen tenang. "Dan kunci pembukanya ada di dalam darahku."
Mobil SUV hitam itu terus melesat membelah jalanan basah Kota Yucheng, meninggalkan gudang pelabuhan yang kini terbakar hebat di belakang mereka. Di dalam kabin yang sunyi, dua takdir yang bertolak belakang—sang raja mafia yang ditakuti dan bocah jenius yang kehilangan segalanya—kini terikat dalam satu ikatan darah dan dendam yang tidak akan pernah bisa terputus.
Shen Mo menginjak pedal gas lebih dalam, sorot matanya tajam menatap jalanan gelap di depan.
"Kalau begitu, mulai malam ini, kau ikut denganku," ucap Shen Mo dingin. "Aku akan membuat mereka yang membunuh ibumu berlutut dan memohon ampun di depan pusara ibumu."
Luo Chen menoleh, menatap wajah dingin pria itu tanpa gentar.
"Jangan berjanji jika kau tidak bisa menepatinya, Tuan Shen," balas Chen lirih, namun menusuk. "Karena aku akan mengingat setiap kata yang kau ucapkan malam ini."
Di luar, hujan semakin deras mengguyur Kota Yucheng, seolah menjadi saksi bisu awal dari perang besar yang akan mengguncang seluruh dunia hitam. Petualangan maut antara sang raja mafia dan pewaris rahasia yang mematikan ini resmi dimulai.