NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Gengsi Membungkam Maaf

“Dasar Varro gila! Mau musuhan ya musuhan aja! Memangnya gue peduli?! Semakin jauh lo dari hidup gue, semakin tenang bernapas!”

Aku membenamkan seluruh wajahku ke balik bantal busa tipis di atas kasur, meluapkan amarah yang tertahan di sana. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya saat ini juga demi membuang seluruh kekesalan yang menumpuk di dalam dada. Namun, suara gelak tawa Papa dan adukan cangkir kopi Mama di ruang tamu memaksaku menelan rapat-rapat dorongan tersebut.

Aku membalikkan badan dengan napas memburu, menatap langit-langit kamar yang mulai mengelupas catnya.

"Kurang ajar lo, Varro! Mentang-mentang lo anak konglomerat dan punya geng motor, lo pikir lo bisa bertindak semena-mena di kampus dan menginjak-injak harga diri orang lain?!"

Dengan emosi yang masih memuncak, aku meraih bantal di sampingku lalu melemparnya sekuat tenaga ke arah pintu kamar yang tertutup. Brak! Bantal itu terjatuh tak berdaya ke lantai, meninggalkan rasa kesal yang masih membakar jiwaku.

Keesokan paginya, suasana koridor lantai dua gedung bisnis terasa dingin oleh embun pagi yang tersisa. Aku melangkah santai menyusuri lorong seraya mendekap dua buah buku tebal materi kuliah di depan dada.

“Hai, Gisel cantik!”

Sebuah suara berat yang mendadak terdengar begitu hangat dan ramah menyapa indra pendengaranku. Aku menghentikan langkah refleks, menoleh ke samping.

Varro berdiri di dekat tiang koridor. Pria itu mengenakan kemeja kasual yang digulung sampai siku, tatanan rambutnya rapi ke atas, dan yang paling membuat bulu kudukku berdiri, ia sedang melambaikan tangan kanannya seraya melempar senyum lebar yang terlihat sangat dipaksakan.

Aku memiringkan kepala, menatapnya dengan rasa curiga yang mendalam. Ini orang gila kenapa hari ini tiba-tiba berubah sok ramah? Ada sarafnya yang putus gara-gara kulempar dompet kemarin?

Enggan melayani ketidakjelasan pria itu, aku mendengus pelan dan langsung melangkah pergi begitu saja. Aku membuang muka lurus ke depan, berpura-pura seolah tidak melihat keberadaannya maupun mendengar sapaannya.

“Eh, Gisel! Tunggu dulu, lo mau ke mana?”

Belum sempat aku melangkah tiga tindak, jemari kekar Varro sudah mencengkeram pergelangan lengan jaket denimku, menahan pergerakanku.

Aku menghentikan langkah, membalikkan badan dengan raut wajah dingin dan memutar pergelangan tanganku hingga cengkeramannya terlepas. “Gue mau ke mana aja, apa urusannya sama lo?”

Varro membetulkan letak kerah kemejanya canggung. Wajah tampannya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini tampak menyiratkan kebingungan yang nyata. Matanya bergerak liar, menatap ke arah sepatu ketsku lalu beralih ke mataku.

“Tunggu dulu... gue mau...” kata Varro pelan. Suaranya menggantung di udara. Ia menarik napas dalam-dalam, namun tak ada satu kata pun yang sanggup meluncur keluar dari tenggorokannya.

Aku menunggu selama beberapa detik di tengah kesunyian lorong, menanti kelanjutan kalimatnya dengan alis terangkat. “Mau apa?”

Varro mengusap tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya merona merah akibat menahan rasa malu yang amat sangat. “Gue... gue cuma mau-”

“Ah, gak jelas banget sih lo! Minggir, jangan halangi jalan gue!” potongku jengkel. Aku tidak punya waktu untuk melayani tingkah konyolnya. Tanpa sengaja, aku sengaja menabrakkan bahu kiriku ke bahu kirinya saat melangkah melewatinya.

“Aish!” teriak Varro frustrasi dari belakangku. Ia menghentakkan kaki kirinya keras-keras ke lantai marmer koridor, menatap punggungku yang makin menjauh dengan raut wajah putus asa karena gagal menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.

Siang harinya, suasana kantin kampus mendadak riuh oleh aroma tumisan masakan dan deretan mahasiswa yang mengantre. Aku dan Sasa sedang berdiri beriringan di barisan antrean untuk mengambil porsi makan siang kami.

Namun, tiba-tiba aku merasakan presensi aura dingin yang teramat dominan di belakang punggungku. Rasa merinding mendadak menjalar di sepanjang tengkuk. Aku melirik tipis lewat sudut mata; Varro, Brandon, dan Marcel sedang berdiri tepat di belakang antrean kami.

“Bro...” bisik Varro pelan pada dua sahabatnya di samping, berniat menyembunyikan percakapan itu dari mahasiswa lain.

“Apa?” sahut Marcel berbisik balik seraya menaikkan alisnya.

Varro menelan ludah kasar, matanya melirik canggung ke arah punggungku. “Gue... gue mau minta maaf sama Gisel. Kalian berdua bantuin gue, ya.”

Brandon menggeleng tipis, sementara Marcel menahan tawa giginya.

Varro memajukan tubuhnya selangkah, lalu berdehem pelan. “Gisel...” panggil Varro dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat lembut.

Aku seketika bergidik ngeri mendengarnya. Nada suaranya terdengar sangat aneh dan dipaksakan. Bagaimana mungkin seorang badboy arogan yang mencekik leherku dua hari lalu tiba-tiba bersikap selembut ini?

Aku membalikkan badan setengah, menatapnya datar. “Apa?”

Varro mengusap wajahnya gusar, lalu menatapku dengan binar mata memohon yang tertahan. “Gisel... jangan jutek-jutek gitu dong sama gue.”

Emosiku mendadak tersulut oleh kepura-puraan yang ia tampilkan. “Apa sih mau lo sebenarnya?! Sana pergi, gak usah ganggu antrean gue!” seruku seraya menggerakkan tangan mendorong dadanya menjauh.

Varro tertahan, tubuhnya tak bergeming sedikit pun. Ia mengepalkan kedua tangannya rapat-rapt di samping tubuh. “Gisel, tunggu dulu! Gue tuh sebenarnya cuma mau...”

Ia menarik napas, membusungkan dada, mencoba memaksa bibirnya menguapkan kata maaf. Namun lagi-lagi, harga diri dan gengsi setinggi langit yang membelenggunya membungkam mulut itu rapat-rapat. Tidak ada kata maaf yang berhasil lolos dari bibirnya.

“Lo mau apa?! Cepat bilang kalau ada hal penting!” bentakku meledak-ledak karena sudah kehabisan kesabaran.

Mendengar bentakanku, wajah Varro seketika berubah panik. Matanya membelalak kaget, benar-benar kehilangan kontrol atas reputasinya sendiri.

Marcel yang berdiri di belakang Varro langsung menepuk kedua tangannya pelan, menyeringai geli dari balik punggung ketua gengnya. “Wah... Sejak kapan seorang Varro Aldrian Wijaya panik setengah mati cuma gara-gara dicuekin dan dibentak sama cewek?”

Varro membalikkan badan cepat, matanya memerah menatap Marcel dengan penuh ancaman. “Kevin! Jaga mulut lo!” bentak Varro tidak terima rahasia rentannya diejek.

Raut santai di wajah Marcel seketika sirna begitu nama aslinya diucapkan. Dengan kilat marah, Marcel maju dan mencengkeram kuat kerah baju Varro. “Udah sering gue bilang... jangan pernah panggil nama depan gue!”

Melihat pertikaian yang hampir meletus di tengah antrean kantin, Brandon bergerak cepat menyela di antara keduanya, memisahkan cengkeraman tangan Marcel. Setelah keadaan terkendali, Brandon menoleh lurus menatapku.

“Gisel,” panggil Brandon tenang.

Aku mengalihkan pandangan dari pertikaian mereka, menatap mata Brandon dengan tajam. “Apa?!”

Brandon mendorong pelan bahu Varro ke depan agar kembali berdiri berhadapan denganku. Varro hanya diam menunduk, tidak melawan dorongan Brandon dan tetap enggan mengeluarkan suara.

“Varro cuma mau minta maaf sama lo atas kejadian di parkiran kemarin,” jelas Brandon mewakili sahabatnya.

Aku mengerutkan dahi, menatap ketiganya dengan rasa heran yang bercampur ironi. “Kalau dia memang niat mau minta maaf sama gue, dia kan punya mulut buat ngomong sendiri sekarang! Ngapain harus lo yang mewakilkan dia bicara?”

Marcel yang membetulkan kerah bajunya mendengus geli, melempar pandangan meremehkan pada Varro. “Gisel... si Varro setan ini seumur hidupnya gak pernah minta maaf sama siapa pun di dunia ini. Jadi, gengsinya udah menguasai seluruh otaknya.”

Aku menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan rasa jijik. “Cih! Kalau lo masih mengagungkan gengsi lo itu, ya gak usah sok-sok mau minta maaf! Dasar pengecut!” seruku seraya memalingkan wajah sepenuhnya dari Varro.

Aku sama sekali tidak pernah mengemis permintaan maaf dari pria sepertinya. Jika permintaan maaf itu tidak lahir dari ketulusan hatinya sendiri melainkan hanya karena tuntutan keadaan, lebih baik kata maaf itu tidak pernah diucapkan sekalian.

“Apa lo bilang?!” teriakan Varro memecah suasana kantin. Pria itu melangkah maju rapat-rapat menghadapku.

Aku membalas tatapannya tanpa gentar, menantangnya dari jarak dekat. “Gue bilang... lo dasar pengecut!”

“Gisel!” raung Varro menggelegar.

Dalam sekejap, Varro mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di udara dengan napas memburu. Bayangan cengkeraman di leherku kembali terbayang.

Apakah dia mau memukulku atau mencekikku lagi di depan banyak orang? Pikirku dalam hati. Aku memejamkan mata seraya menengadahkan kepala, siap menerima perlakuan kasarnya jika itu memang harga yang harus kubayar untuk mempertahankan harga diri.

Namun, pukulan itu tak pernah mendarat.

Varro menggantung tangannya di udara selama beberapa detik. Jemari tangannya mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan penyesalan yang bertabrakan di dalam dadanya. Dengan napas memburu rapat, Varro menurunkan kepalan tangannya kembali ke samping tubuh.

Tanpa menguapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badan dan melangkah lebar meninggalkan area kantin, diikuti oleh Brandon dan Marcel yang mengekor dari belakang.

Sore harinya di rumah sederhana kami.

Aroma minyak kayu putih memenuhi kamarku. Aku baru saja selesai mengenakan kaos polo hitam dan celana kain, seragam standar untuk kerja shift malamku di kafe. Saat aku sedang merapikan tali sepatu ketsku di tepi ranjang, ponsel yang tergeletak di atas meja belajar berdering nyaring.

Aku mendekat dan mendapati sebuah rentetan nomor asing tanpa nama tertera di layarnya. Awalnya aku mengabaikannya karena mengira itu hanya panggilan spam atau penawaran produk. Namun, nomor tersebut terus menelepon berkali-kali tanpa henti hingga lima kali berturut-turut.

Dengan rasa curiga dan sedikit jengkel, aku menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. “Halo? Ini siapa?”

“Gisel...”

Suara berat dan terkesan memerintah di seberang sana memanggil namaku. Kenal betul aku dengan artikulasi nada tersebut.

“Ini gue... Varro,” lanjut pria itu datar.

Mataku membelalak kaget. “Hah?! Varro?! Lo... lo dapat nomor HP gue dari mana?”

“Tenang aja, gue gak ngehack HP lo atau minta nomor lo sama siapa pun,” sahut Varro di seberang sana, suaranya terdengar berusaha keras menjaga kesantunan yang kaku. “Gue telepon lo sore ini karena gue mau ajak lo ketemuan di mall besok sore jam empat.”

Aku tertawa sinis mendengarnya. “Mall? Lo gila, ya? Ngapain gue harus ketemuan sama lo di mall?”

Bertemu dengannya di tempat mewah seperti mall... bukankah itu terdengar seperti sebuah kencan konyol? Pria ini benar-benar tidak paham realita hidupku.

“Pokoknya gue gak bisa ke sana! Gue masih harus kerja!” tegasku menolak mentah-mentah. Lagi pula, jadwal kerja paruh waktuku di kafe sudah menumpuk.

“Gue tahu lo masih ada kerjaan, tapi-”

Sebelum Varro menyelesaikan kalimatnya, pintu kamarku mendadak terdorong terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu. Gwen, adik kembarku yang perempuan melangkah masuk seraya membawa sebuah mainan.

“Sorry, gue tutup dulu teleponnya. Bye!” ucapku panik, langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu balasan Varro.

Gwen mendekatiku dengan binar mata jahil, melirik ponsel di tanganku. “Ci... Cici teleponan sama siapa tadi? Suaranya cowok, ya? Cici punya pacar baru, ya?”

Aku mengembuskan napas lega, lalu mendaratkan cubitan gemas di kedua pipi adikku itu. “Gwen! Jangan mikir yang aneh-aneh, ya! Itu cuma teman kampus.”

“Hehehe... sakit, Ci!” tawa Gwen menyeringai.

“Gwen masuk kamar Cici sebenarnya mau minta tolong Cici pasangin kalung plastik ini ke leher Gwen.” Ia menyodorkan sebuah kalung mainan manik-manik berwarna merah muda.

Gwen lalu menundukkan kepalanya canggung. “Maaf ya, Ci... tadi Gwen lupa ketuk pintu dulu sebelum masuk.”

Melihat kepolosan adikku, rasa kesalku akibat telepon Varro menguap seketika. Aku mengulas senyum hangat seraya mengusap kepalanya. “Gak apa-apa, Gwen sayang. Balik badan kamu, Cici bantuin pasang kalungnya.”

Gwen membalikkan badan riang, dan aku memosisikan kalung mainan itu melingkari lehernya dengan telaten.

“Makasih banyak ya, Ci Gisel!” seru Gwen riang seraya berbalik dan memeluk pinggangku erat-erat sebelum berlari keluar kamar dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan.

Sementara itu, di dalam ruang keluarga mansion mewah keluarga Wijaya.

Varro melempar ponsel pintarnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi brakk yang cukup keras. Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa kulit, menyandarkan kepala seraya mengusap wajahnya frustrasi.

“Dia nolak ajakan gue,” cetus Varro dingin, menatap dua sahabatnya yang sedang duduk santai menikmati minuman di depannya.

Marcel terkekeh tipis. “Gue udah duga. Lo ngajak cewek yang baru lo cekik dan lo ledek buat ketemuan di mall? Ya jelas dialah nolak, Al. Dia pasti mikir lo mau ngerjain dia lagi.”

Varro tidak membalas ejekan Marcel, melainkan menatap Brandon dengan binar mata meminta petunjuk. “Terus gue harus gimana?”

Brandon membetulkan kacamata tipisnya, berpikir sejenak sebelum memberikan analisis realistisnya. “Gisel itu tipikal cewek pekerja keras yang gak punya waktu buat nongkrong di mall. Daripada lo maksa dia ke dunia lo, kenapa lo gak coba datang ke tempat yang sering dia datangi?”

Varro memiringkan kepala. “Maksud lo?”

“Lo bisa samperin dia ke tempat kerja paruh waktunya di kafe itu. Minta maaf sama dia secara langsung di sana, di tempat aman di mana dia gak merasa terancam,” jelas Brandon mantap.

Mata Varro seketika berbinar terang. Sebuah pencerahan menghantam pikirannya. “Iya juga... Kenapa gue gak kepikiran dari kemarin, ya?”

Varro menepuk bahu Brandon kuat-kuat, lalu berdiri menyambar kunci mobil sport-nya di atas meja. “Thanks, Bro!”

“Eh! Lo mau ke mana lagi, Al? Ini udah mau malam!” teriak Marcel kaget melihat pergerakan cepat ketuanya.

Namun, Varro tidak menghiraukan panggilan Marcel. Dalam hitungan detik, raungan mesin mobil sport mewahnya sudah terdengar membelah heningnya pelataran mansion, melaju kencang menembus jalanan Jakarta menuju kafe tempat Gisella bekerja.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!