Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat Peransang
Mereka kembali melanjutkan untuk menikmati jamuan malam itu, namun Anne tak juga kembali hingga membuat yang lain jadi panik.
"Aku ingin menyusul Anne," ujar Alista.
"Biar aku saja yang cek," Feline mencegah.
Dia pun buru-buru bangkit.
Alista menatap cemas kepergian wanita itu.
"Anne pasti sedang buang air," sahut rekan yang lain di sertai candaan.
Feline pun menghampiri Anne di dalam kamar mandi, dia melihat gadis itu berdiri di depan wastafel dan mencuci wajahnya.
"Anne apa yang terjadi padamu?" tanya Feline.
"Aku tidak tahu, tapi aku merasakan gerah sekali," ujarnya sambil terus menyirami
wajahnya.
Dia bahkan ingin sekali membuka kencing bajunya saat ini.
"Aku ingin pulang!" Anne bertindak gelisah.
"Tenangkan dulu dirimu, sepertinya kamu
sedang tidak enak badan, bagaimana jika
istirahat di kamar saja dan ku panggil dokter?" tawar Feline mencoba membujuk.
"Ya." Anne buru-buru mengangguk, karena rasanya ia sudah tidak tahan.
Feline buru-buru memapah Anne menuju kamar, dan memasuki sebuah kamar kosong yang bercahaya temaram.
Dia langsung melempar tubuh Anne di atas kasur dan melengkungkan senyum tipis.
"Panas!" Anne melenguh.
Secara cepat kesadaran nya juga menghilang, seluruh hormon dalam tubuhnya berkontraksi membuat ia merasakan keinginan lain yang tak bisa dia tahan, tubuhnya seperti menginginkan pelepasan.
"Tunggu aku panggil dokter," suara Feline
terdengar.
"Tolong cepat..." suara Anne hampir tercekat.
Feline langsung pergi dan mengunci pintu
kamar itu, tepat setelah dia tiba di depan pintu dia bertemu Selina.
"Bagaimana apa kau sudah berhasil mengamankannya?" tanya Selina.
"Dia sudah ada di dalam,"
"Bagus!"
"Sekarang pergilah!"
Feline pun pergi, dan Selina langsung menghubungi seseorang, "Cepat kemari,
masuk ke ruangan pintu no 28." ujar Selina.
Suara di ujung sana menyahuti.
Selina pun langsung tersenyum.
Dia mematikan telepon itu dan kembali ke meja rekan-rekannya tadi.
"Maaf, sepertinya aku sedang tidak enak badan. Aku pulang dahulu ya ..." ujar Selina.
Mereka hanya mengangguk namun dalam
hatinya jelas mereka merasa heran, Feline juga izin pulang sekarang Selina, sebenarnya apa yang sudah terjadi?
"Kenapa Anne tidak kembali?" Alista
merasa curiga.
"Coba hubungi dia," sahut rekan lainnya.
Alista lalu mencari nomor Anne dan meneleponnya, tapi panggilan itu tidak
terhubung, ia mencobanya berulang kali dan nomor Anne masih saja tak aktif.
"Nomornya tidak aktif"' ucap Alista gelisah.
Alista pun langsung membangkitkan tubuhnya, "aku harus mencari Anne!"
Tepat saat itu dia berpapasan dengan Vin asisten Viktor, ia segera mengerem langkahnya sebelum menabraknya.
Vin menatapnya lekat yang buru-buru.
"Maaf-maaf tuan, aku sedang buru-buru, temanku hilang,"
Mendengar itu Vin memicing, "teman siapa?"
"Anne,"
Vin langsung panik, "bagaimana bisa terjadi?"
"Setelah minum dia ke toilet dan tidak kembali sampai sekarang,"
"Apa? Minum? Gawat, tuan bisa marah." Vin waspada, dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Viktor.
"Si-siapa yang marah?"
Panggilan itu langsung terhubung, "tuan, nona Anne mabuk dan dia menghilang,"
"Apa? Mabuk?" kilapan di mata menggelap.
"Ya, aku bertemu dengan rekan kerjanya dia juga ingin mencari nona Anne,"
"Siapa yang mengajaknya pergi minum?" nada dari suaranya mulai tak stabil membuat Vin juga waspada.
Dia menoleh ke arah Alista menatap bingung,
"Siapa?"
"Teman kerjanya, tapi aku belum tahu
yang mana, sebaiknya tuan kesini, di lantai kita meeting tadi." ujarnya.
Viktor langsung mematikan sambungannya, dan kembali ke lantai itu, belum sempat dia turun ke lantai satu setelah selesai meeting, tapi ia harus kembali.
"Dimana terakhir nona Anne pergi?" Cecar Vin pada Alista.
"Dia izin ke toilet setelah itu dia tidak kembali,"
"Lalu siapa yang mengajaknya kemari?" Alista gugup, "yang mengajak kami
kemari adalah Feline rekan kerja kita yang
baru saja naik jabatan, dia juga mengundang teman lamanya bernama Selina," Alista menjawab sambil bergetar.
Vin melebarkan matanya, "lagi-lagi istri Davin .." gumamnya.
Tidak lama setelah itu Viktor pun datang.
Pancaran hitam di matanya langsung menyala terang seperti iblis yang ingin
menerkam.
"Tuan Viktor.." Alista bergumam dengan perasaan panik, saat melihat pria itu datang, ucapan Selina tadi membuktikannya bahwa Anne memang tengah memiliki kedekatan dengan direkturnya, namun ia merasa sedikit lega karena Anne akan segera di temukan.
"'Siapa yang memberinya minum?" Tatapan Viktor menghunus.
Vin segera menyela, "rekannya Feline dan Selina,"
"Bitch!" Viktor bergumam marah.
"Cari mati, temukan mereka dan bawa ke
hadapan ku!" pintanya.
Dia langsung berlalu dari hadapan mereka setelah paham apa yang di lakukan wanita itu.
"Baik, tuan!"
Orang-orang yang mengawal Viktor langsung berlari mengikutinya, sedangkan Vin pun mencari Selina dan Feline, "kamu pulang saja, nanti jika nona Anne sudah
ketemu baru kita akan meminta keteranganmu," ujar Vin, ia ingin memberi ruang privasi tuannya agar kedekatannya dengan Anne tak di curigai rekannya yang lain.
"Baik... baik..." Alista mengangguk panik, melihat amarah Viktor membuat ia tahu betapa mengerikannya pria itu, sehingga
kini ia pergi dan berniat untuk mengajak
temannya yang lain pergi.
***
Di dalam ruangan yang temaram itu Anne
tergeletak sambil menggeliatkan tubuhnya, dia sudah kehilangan sepenuh kesadarannya.
Bajunya sudah ia buka kancingnya sehingga pakaian dalamnya terlihat.
Tiga pria dewasa masuk ke dalam kamar
itu, dan menatap dengan penuh gairah saat melihat Anne telah terbuka hampir telanjang.
Air liur mereka hampir tumpah, mereka berebut untuk melakukannya dahulu.
"Aku ingin mencicipinya duluan!"
"Aku dulu,"
"Bagaimana jika kita suit?" Akhirnya mereka setuju.
Sementara Viktor memeriksa di tiap pintu kamar yang tertutup malam ini, tidak
banyak kamar yang sudah di pesan sehingga dia dapat mengeceknya dengan mudah.
Setelah menemukan pintu terakhir yang
belum dia periksa ia merasa pintu ini terkunci dari dalam, hingga ia langsung
mendobraknya.
Brak!
Engsel pintu itu terlepas, tepat saat itu Viktor membidik ketiga pria di dalam kamar itu dengan tatapannya yang tajam, dua orang tercengang melihat Viktor datang dengan auranya yang mematikan.
Sementara satu pria mendekati Anne
dengan penuh nafsu tak peduli dengan
kekacauan di belakangnya.
"Bajingan!" Viktor langsung menendang
kedua pria itu, hingga mereka terjatuh,
setelah itu menarik leher pria yang akan
menyentuh Anne hingga terplanting, dia lalu mencekik leher pria itu sampai dia sesak nafas dengan mata melotot.
"Berani kamu menyentuh dia?" kecam Viktor dengan wajah mengetat.
Pria itu ketakutan, lidahnya menjulur merasa hampir tiba di pintu kematian.
Kedua pria tadi juga sangat takut.
Dari arah luar, Vin datang membawa Feline, "ini pelakunya, tapi aku gagal menangkap Selina karena dia sudah pergi dahulu,"
"Aku hanya membantu Selina, tolong ampuni aku tuan Viktor!" Feline memohon
dia menangis.
Dia langsung melepaskan cekikannya
pada pria itu, sampai tubuh pria itu jatuh ke lantai.
"Lempar dia pada pria-pria itu,"
Viktor langsung mendekati Anne menggendongnya.
Ia membawa keluar gadis itu dari kamar.
Sementara Vin melempar Feline di tengah tumpukan tiga pria itu lalu menatap sinis, "rasakan malam indahmu!" ujarnya lalu
pergi dan menutup pintu.
"Tolong... tolong aku! Tidak! Jangan
sentuh aku!" Feline berteriak histeris di dalam kamar itu.
***
Viktor menggendong Anne membawanya pergi ke dalam mobil, malam ini Viktor ingin menyetir sendiri.
"Dokter ... tolong sembuhkan aku .. lenguh Anne kala berfikir Viktor ialah dokter yang di bawa Feline. Obat yang di berikan ke dalam minuman Anne sudah berefek. Ia seperti cacing kepanasan yang terus menggeliat di dalamn gendongan Viktor. Bibir dan hidungnya mengendus-endus leher Viktor dan mencium aroma familiar dari tubuhnya.
Aroma sandalwood seperti empat tahun lalu.
"Kamu-" gumam Anne.
Kedua tangannya melingkari leher Viktor, lalu mencium bibir hangatnya.
Viktor tertegun mendapat serangan ini.
"Sialan!" dia mengumpat sambil menahan diri.
"Kamu dalam pengaruh obat. Pantas saja
seperti orang bodoh, terbaring di dalam sana tak bergerak,"
Setibanya di mobilnya Viktor langsung
masuk, membiarkan Anne di atas pangkuannya, dia mulai menyetir mobil.
Anne menggesek-gesekkan tubuhnya
kepada Viktor.
"Hei dokter tolong sembuhkan aku .. " racau Anne memohon dengan wajah yang menggemaskan.
la melingkari tubuh Viktor dengan tangannya yang bergerak nakal bagaikan api gairah yang menyala-nyala memicu hasrat dalam diri Viktor.
Satu tangan Viktor menyetir mobil, satu
tangan lainnya menahan pinggang belakang Anne.
Membiarkan Anne terus menggeliat di atas tubuhnya.
Ia menahan hasrat yang sudah bangun dan bergejolak dalam dirinya, keinginan untuk melakukannya pun semakin menggebu.
"Sialan!"
Umpatnya saat Anne semakin berani., gerakannya semakin liar, Anne menggoyangkan pinggulnya di atas pangkuan Viktor.
Bibirnya yang lembut menciumi pipi Viktor sesekali mencium bibirnya dan menggigit lehernya.
Pria itu memejamkan matanya sesaat, merasakan gairahnya yang sudah berontak.
Dia tidak bisa menahan lagi.
la menghentikan mobilnya di hutan yang sepi.
Ia mematikan mesinnya.
Langsung menatap Anne dengan lekat.
"Dokter tolong sembuhkan aku..." Lenguhnya sambil tersenyum manis.
Darah di tubuh Viktor makin berdesir panas, "ya aku akan menyembuhkan mu," Dia langsung meremas dada Anne yang terbuka dan mengulum bibirnya.