NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegiatan di Akhir Pekan

Sabtu pagi datang dengan jauh lebih cepat dari yang Almeera bayangkan. Sejak pertama kali membuka mata setelah bangun tidur, dia sudah mengingat satu hal. Yaitu, agenda kegiatan bakti sosial yang akan dia ikuti bersama Eliza hari ini.

Almeera memilih untuk mengenakan pakaian kasual yang sederhana dan nyaman dipakai untuk bergerak. Ia kemudian memasukkan beberapa barang penting yang sekiranya diperlukan ke dalam tas ranselnya.

Ia membawa ponsel, dompet, botol minum, dan tidak lupa buku catatan kecil kesayangannya. Setelah memastikan semuanya siap, Almeera melangkah turun ke lantai bawah.

"Ma, Meera berangkat dulu ya," pamit Almeera saat melihat Mamanya di ruang tengah.

"Mau pergi ke mana emangnya sepagi ini, Meera?" tanya Mama.

"Ini, Meera mau ikut kegiatan bakti sosial kampus bareng sama Eliza," jawab Almeera ramah.

"Acaranya sampai seharian penuh, Nak?" tanya Mama lagi memastikan.

"Kayaknya sih cuma sampai sore aja kok, Ma," jawab Almeera.

Mama mengangguk angguk memberikan izin. "Ya sudah, baik baik ya kamu di sana."

"Iya, siap, Ma. Assalamu'alaikum," ucap Almeera menyalami tangan Mamanya sebelum akhirnya melangkah keluar rumah.

Sesampainya di lokasi titik kumpul yang sudah ditentukan panitia, Eliza ternyata sudah berdiri manis menunggunya.

"Wah, rekor nih! Kamu tumben nggak telat datangnya," goda Eliza langsung saat melihat kehadiran Almeera.

Almeera langsung tertawa renyah menanggapi sindiran sahabatnya itu. "Ih, makanya jangan kaget dong. Almeera yang sekarang kan sudah berkomitmen buat berubah."

Eliza tersenyum jail. "Halah, baru sekali ini aja kamu datang tepat waktu, sudah merasa berubah banyak."

Almeera menggeleng gelengkan kepalanya santai. "Ya yang penting kan hari ini sudah kelihatan ada kemajuan positif, Liz."

Eliza kembali tertawa puas mendengar pembelaan Almeera. Mereka berdua kemudian berjalan bersama menuju meja panitia untuk melakukan registrasi ulang.

Suasana di lokasi titik kumpul sudah tampak ramai dipenuhi oleh puluhan mahasiswa lainnya. Tidak lama setelah itu, ketua panitia langsung berdiri di depan untuk memberikan pengarahan singkat mengenai teknis kegiatan bakti sosial hari ini.

Untuk mempermudah pekerjaan, seluruh peserta mahasiswa akan dibagi secara acak menjadi beberapa kelompok kecil. Ada kelompok yang bertugas khusus untuk membersihkan area lingkungan, ada kelompok yang menyiapkan barang paket bantuan harian, dan ada pula kelompok yang membantu membagikan paket sembako kepada warga sekitar.

Beruntung, Almeera dan Eliza ternyata mendapatkan pembagian kelompok kerja yang sama.

"Alhamdulillah, untung banget kita bisa satu kelompok, Meer," ucap Eliza merasa lega.

"Iya, bener banget, Liz. Yuk, langsung ke lokasi," jawab Almeera semangat. Mereka berdua bersama anggota kelompok lainnya segera berjalan menuju lokasi kegiatan lapangan yang sudah ditentukan.

Sesampainya di lokasi, Almeera tidak mau tinggal diam. Ia langsung bergerak aktif membantu menyapu dan membersihkan sampah sampah di area lingkungan sekitar bersama mahasiswa lainnya.

Di tengah kesibukan bekerja, ada seorang mahasiswa yang berjalan mendekat dari arah tenda panitia sambil membawa beberapa perlengkapan sapu baru. Awalnya, Almeera sama sekali tidak menyadari kehadiran orang tersebut karena terlalu fokus menyapu. Sampai akhirnya, Eliza menyenggol lengannya pelan.

"Meera, coba lihat deh," panggil Eliza berbisik.

"Ada apa emangnya, Liz?" tanya Almeera mendongak bingung.

"Itu... itu Kak Rafael ikut bergabung di sini juga," ucap Eliza sambil menunjuk ke arah tenda.

Almeera langsung mengikuti arah pandang Eliza. Matanya seketika membelalak terkejut saat menyadari bahwa sosok Rafael memang nyata ada di lokasi baksos yang sama. Lelaki itu tampak sedang sibuk mondar mandir membantu panitia inti mengangkat beberapa kardus logistik yang berat.

Almeera benar benar tidak menyangka akan berpapasan lagi harian ini. "Loh, Ka Rafael? Kamu ikut bergabung di kegiatan baksos ini juga?" tanya Almeera refleks menyapa saat langkah kaki Rafael tidak sengaja berjalan melewati posisinya.

Rafael menghentikan langkahnya sebentar lalu menoleh ramah. "Eh, iya, Meera. Saya ikut daftar kegiatan ini juga."

"Kamu sudah datang dari jam berapa emangnya ke sini?" tanya Almeera kepo.

"Saya sudah ada di lokasi sejak pagi pagi sekali tadi, membantu panitia menyiapkan barang," jawab Rafael jujur dengan nada suara yang tenang.

Almeera langsung tertawa kecil mendengar pengakuan jujur Rafael. "Wah... berarti pertemuan kita harian ini bener bener murni kebetulan takdir lagi ya."

Rafael menganggukkan kepalanya setuju sambil tersenyum tipis. "Iya, sepertinya memang begitu kenyataannya."

Eliza yang sejak tadi berdiri di samping Almeera ikut memberanikan diri untuk menyapa. "Halo, Kak Rafael."

"Halo juga, Eliza," jawab Rafael sopan sambil mengangguk ramah.

Di tengah obrolan singkat mereka, suara teriakan dari seorang panitia inti dari arah tenda logistik mendadak memotong suasana. "Rafael! Tolong kardus air mineral yang itu ditaruh di sebelah meja depan ya!"

"Iya, siap, Kak!" sahut Rafael tegap merespons perintah. Rafael kemudian membalikkan badannya menatap Almeera dan Eliza untuk berpamitan. "Kalau begitu, aku ke sebelah sana dulu ya buat mengurus barang logistik."

"Iya, silakan," jawab Almeera ramah. Rafael pun kembali melangkah cepat memanggul kardus logistik tersebut ke tempat tujuan.

Eliza masih memandangi kepergian punggung Rafael dengan tatapan penasaran. "Meera, Kak Rafael itu emangnya tipe cowok yang rajin banget ikut kegiatan sosial kampus kayak begini ya?"

"Iya, waktu mengobrol kemarin dia sempat cerita kalau dia sudah biasa aktif ikut jadi volunteer kegiatan sosial sejak beberapa tahun lalu, Liz," jawab Almeera menjelaskan informasi yang dia tahu.

Eliza mangut mangut kagum. "Wah, keren juga kepribadian dia ya."

Almeera hanya tersenyum tipis menanggapi pujian Eliza, lalu dia kembali menundukkan badannya untuk fokus melanjutkan sisa pekerjaan menyapunya yang tertunda.

Beberapa jam berikutnya berjalan dengan diisi oleh rentetan aktivitas fisik lapangan yang cukup menguras tenaga dan melelahkan bagi Almeera. Namun anehnya, dia sama sekali tidak merasakan stres atau tertekan harian ini. Atmosfer kegiatan bakti sosial harian ini terasa sangat seru dan menyenangkan bagi dirinya.

Di sela sela waktu bekerja, Almeera dan Eliza sering kali saling melemparkan candaan receh untuk mengusir rasa penat. Mereka berdua juga tampak mulai aktif membuka diri untuk mengobrol santai dengan para peserta mahasiswa dari fakultas lainnya.

Uniknya, di sepanjang acara harian ini, sama sekali tidak ada satu pun orang yang membahas tentang masalah privasi masa lalu kelamnya Almeera. Tidak ada yang menanyakan atau menyebut nama Kaizan sedikit pun di sini. Dan Almeera merasa sangat bersyukur akan hal tersebut. Ia merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa berada di sebuah lingkungan baru yang sehat, tanpa harus terus menerus diingatkan pada kenangan masa lalu yang menyakitkan hatinya.

Menjelang siang hari, matahari mulai terasa terik dan panitia akhirnya menginstruksikan seluruh peserta untuk berhenti beristirahat sejenak. Almeera dan Eliza berjalan lemas mencari tempat berteduh, lalu langsung duduk bersila di bawah pohon rindang yang sejuk.

"Meera, jujur kamu ngerasa capek banget nggak sih?" tanya Eliza sambil mengipasi wajahnya dengan kertas.

"Banget! Sumpah, telapak tanganku sampai rasanya kapalan nih memegang gagang sapu terus," jawab Almeera mengeluh lemas.

Eliza langsung tertawa renyah mendengar keluhan sahabatnya. "Loh, padahal tadi pas pagi hari siapa coba yang mukanya paling kelihatan semangat berkobar kobar?"

Almeera cemberut menertawakan dirinya sendiri. "Ya namanya juga manusia, Liz. Aku kan cuma bersemangat di awal acara aja, pas tenaganya masih penuh hari ini."

"Alasan aja kamu mah," ucap Eliza terkekeh jail. Almeera ikut tertawa lepas.

Tidak jauh dari posisi tempat mereka duduk berteduh, tampak Rafael sedang sibuk membantu panitia untuk membagikan botol air minum gratis kepada para peserta. Setelah urusannya selesai, Rafael melangkah berjalan santai menghampiri posisi Almeera dan Eliza.

"Kalian berdua sudah mendapatkan waktu istirahat?" tanya Rafael ramah setelah sampai di depan mereka.

"Sudah kok, Kak, ini lagi meluruskan kaki," jawab Eliza sopan.

Almeera ikut menganggukkan kepalanya tegap. "Iya, bener."

Rafael kemudian menyodorkan dua botol air mineral dingin dari dalam kardus yang dipegangnya ke arah mereka. "Ini, diminum dulu biar nggak dehidrasi."

Eliza dengan cepat mengulurkan tangan untuk menerima botol tersebut. "Wah, pas banget lagi haus. Terima kasih banyak ya, Kak Rafael."

"Sama sama," jawab Rafael tersenyum ramah.

Almeera ikut menerima botol minuman dingin itu dari tangan Rafael. "Makasih ya, Ka Rafael."

Rafael mengangguk tegap. "Iya, sama sama. Kalian berdua jujur masih kuat kan buat melanjutkan sisa acara harian ini?" tanya Rafael menguji ketahanan fisik mereka.

Eliza langsung menjawab dengan nada suara yang lantang dan tegap. "Kalau aku sih masih kuat banget, Kak! Tenang aja."

Mendengar jawaban Eliza, Almeera langsung menolehkan wajahnya menatap Eliza dengan tatapan tidak percaya. "Ih, Eliza! Bohong banget kamu. Padahal baru semenit lalu kamu yang paling heboh mengeluh capek ke aku," bongkar Almeera blak blakan tanpa ampun.

Eliza langsung tertawa renyah karena rahasianya terbongkar. "Hahaha! Ya kan mengeluh capek itu hal yang wajar, Meer. Tapi capek bukan berarti fisikku nggak kuat buat lanjut kerja lagi, kan?" bela Eliza tertawa.

Lengkungan senyum geli langsung terbit di wajah tampan Rafael setelah menonton perdebatan lucu di antara kedua sahabat tersebut. "Iya sih, bener kata Eliza. Mengeluh itu manusiawi kok."

Tidak lama setelah obrolan santai itu, suara peluit dari ketua panitia di depan tenda kembali berbunyi nyaring. Waktu istirahat resmi dinyatakan selesai. Seluruh peserta mahasiswa pun diminta untuk kembali bangkit berdiri dan menyelesaikan sisa pekerjaan kelompok mereka masing masing.

Sisa waktu siang itu diisi Almeera dengan membantu kelompok panitia logistik untuk menyiapkan dan merapikan beberapa barang paket sembako bantuan bantuan warga. Sementara itu, Rafael diposisikan bertugas di bagian area lapangan luar yang berbeda jurusan dengannya.

Di sepanjang sisa acara harian ini, posisi mereka berdua memang tidak selalu berada di satu titik lokasi yang sama terus. Namun uniknya, setiap kali mereka tidak sengaja berpas pasan jalan di koridor, Rafael hampir selalu menyempatkan diri untuk menyapanya dengan ramah.

"Pekerjaan kelompok kamu sudah selesai dikerjakan, Meera?" tanya Rafael santai saat berpapasan membawa tumpukan tali.

"Belum nih, dikit lagi beres," jawab Almeera sambil membawa tumpukan kantong plastik kosong.

"Masih banyak banget ya sisa barang sembakonya yang belum dibungkus?" tanya Rafael lagi perhatian.

"Tinggal sedikit lagi kok hari ini, aman," jawab Almeera tersenyum manis.

"Oke, siap. Kalau begitu tetap semangat ya menyelesaikannya," ucap Rafael menyemangati tulus sebelum kembali berjalan.

Almeera langsung membalas sapaan itu dengan senyuman ramahnya yang paling manis. "Iya, kamu juga ya, semangat kerjanya." Mereka pun kembali melanjutkan sisa tugas kelompok harian mereka masing masing dengan fokus.

Menjelang waktu sore hari tiba, seluruh rangkaian agenda kegiatan bakti sosial kampus akhirnya resmi dinyatakan selesai dengan sukses. Seluruh jajaran panitia inti langsung mengumpulkan seluruh peserta mahasiswa di tengah lapangan terbuka untuk memberikan ucapan terima kasih yang sebesar besarnya atas kerja keras harian ini.

Almeera berdiri santai di barisan tengah, tepat di sebelah posisi Eliza. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling area lapangan hijau kampus. Jujur, tidak ada pemandangan yang mewah atau kejadian yang luar biasa harian ini. Namun entah mengapa, di dalam lubuk hatinya, Almeera bisa merasakan sebuah kepuasan dan rasa kebahagiaan yang teramat sangat besar dan damai.

Rasa bahagia yang merayap di dadanya sore ini muncul murni bukan karena dia berhasil bertemu lagi dengan sosok Rafael. Dan bukan juga karena dia mendapatkan perhatian perhatian kecil yang manis dari seorang pria baru.

Melainkan, rasa bahagia itu muncul murni dari dalam dirinya sendiri karena harian ini dia akhirnya berhasil membuktikan bahwa eksistensi dirinya di dunia ini bisa memberikan sebuah manfaat dan kebaikan yang nyata bagi kehidupan orang-orang miskin di sekitarnya.

Setelah acara resmi dibubarkan oleh panitia, Eliza langsung menarik lengan Almeera pelan untuk mengajak sahabatnya itu duduk bersantai sejenak di bangku pinggir lapangan.

"Meera, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Eliza membuka obrolan setelah duduk nyaman.

"Boleh, mau tanya apa emangnya, Liz?" jawab Almeera mendongak ramah.

"Jujur kamu ngerasa senang nggak sih setelah ikut berpartisipasi di acara baksos harian ini?" tanya Eliza menatap mata Almeera dalam dalam.

Almeera langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat mantap tanpa ada keraguan sedikit pun. "Iya, sumpah aku ngerasa senang dan lapang banget hatiku harian ini, Liz."

"Wah, seriusan? Berarti kalau suatu hari nanti ada agenda kegiatan sosial kampus kayak begini lagi, kamu bakal mau ikut join daftar lagi nggak?" tanya Eliza lagi memastikan antusiasme sahabatnya.

"Mau banget dong! Nanti kalau ada info baksos baru lagi, kamu wajib banget ya kabari dan ajak aku lagi, Liz," jawab Almeera tegap berkomitmen.

Lengkungan senyum tulus yang sangat lega langsung merekah di wajah Eliza harian ini. Ia menepuk pundak Almeera ramah. "Alhamdulillah, berarti misi utamaku harian ini sudah resmi dinyatakan berhasil sukses besar nih!"

Almeera langsung mengernyitkan dahinya bingung mendengar istilah asing itu. "Loh, maksud kamu bilang misi berhasil itu apa coba?"

"Ya misi berhasil buat merayu dan memaksa seorang Almeera agar mau keluar dari dalam kamar tidurnya pas akhir pekan, biar kamu nggak terus menerus mengunci diri meratapi kesedihan di rumah, Meer," jawab Eliza blak blakan tertawa lepas membongkar niat baiknya.

Almeera sempat tertegun sejenak mendengarnya, sebelum akhirnya ikut tertawa renyah mencubit lengan sahabat setianya itu dengan gemas. "Ih, Eliza! Dasar kamu ya, bisa aja alasannya." Mereka berdua pun tertawa bersama menikmati angin sore kampus yang sejuk.

Di tengah tawa renyah mereka, sosok Rafael tiba tiba berjalan mendekat menghampiri posisi bangku tempat mereka duduk bersantai.

"Kalian berdua setelah ini mau langsung memutuskan buat jalan pulang ke rumah?" tanya Rafael menyapa ramah membuka obrolan penutup harian ini.

"Iya, nih, Kak, sudah sore juga soalnya, takut kemalaman di jalan," jawab Eliza mewakili.

Almeera ikut menganggukkan kepalanya tegap dari posisinya. "Iya, bener."

Rafael menolakkan telapak tangannya menunjuk ke arah gerbang luar jalan raya kampus. "Oh, ya sudah kalau begitu. Hati hati di jalan ya pas pulang nanti, soalnya akses jalanan utama sore menjelang magrib begini biasanya lagi padat padatnya sama kendaraan umum."

"Iya, siap. Terima kasih banyak ya atas infonya, Ka Rafael," jawab Almeera tersenyum ramah.

"Sama sama," jawab Rafael sopan. Lelaki itu kemudian membalikkan badannya untuk berjalan menuju tenda utama guna berpamitan dan bersalaman dengan jajaran panitia inti lainnya.

Almeera sempat memandangi gerak gerik langkah kaki Rafael selama beberapa detik dari bangkunya dengan tatapan mata yang tenang, sebelum akhirnya dia buru buru memalingkan wajahnya kembali ke arah jalanan depan agar tidak ketahuan oleh Eliza. Beruntung, kali ini Eliza tampaknya sedang sibuk merapikan isi tasnya sehingga tidak menyadari atau menggoda keteledoran mata Almeera tadi. Mereka berdua pun segera bangkit berdiri lalu berjalan bersama menuju ke area pangkalan angkutan umum kampus.

Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah duduk di dalam angkot yang berjalan pelan, Almeera menyandarkan kepalanya di bingkai jendela kaca. Ia merenung, dia bisa merasakan bahwa rentetan pengalaman baru di acara bakti sosial harian ini telah berhasil memberikan sebuah warna dan pemahaman hidup baru yang sangat berharga bagi kedewasaan jiwanya.

Pelajaran baru yang dia dapatkan harian ini bukan berbentuk sebuah jawaban gaib atas segala pertanyaan sedihnya di masa lalu, dan bukan juga berwujud kehadiran seorang kekasih baru yang romantis. Melainkan, takdir harian ini datang memberikan sebuah kesadaran dan pemahaman prinsip hidup yang sangat mendasar.

Bahwa lembaran roda kehidupan di dunianya ini ternyata masih memiliki banyak sekali hal-hal indah dan bermakna lainnya yang sangat layak untuk dia jalani ke depannya. Almeera tersadar, selama beberapa bulan belakangan ini, isi pikiran di kepalanya sudah terlalu bodoh karena selalu sibuk membuang buang energi hanya untuk memikirkan dan meratapi satu porsi hal lama yang telah hilang dari genggamannya. Padahal kenyatannya, di luar sana masih ada banyak sekali hal hal baru yang bermanfaat yang bisa dia temukan dan dia pelajari dari nol.

Sesampainya di dalam kamar rumahnya yang sejuk, Almeera langsung membersihkan diri ke kamar mandi lalu merebahkan tubuhnya sejenak untuk mengistirahatkan otot ototnya yang pegal.

Malam harinya, Almeera sudah duduk tenang di depan meja belajarnya yang sepi. Ia membuka buku catatan kecil kesayangannya. Pada halaman lembar yang masih bersih harian ini, tangannya kembali menggoreskan tinta pulpen untuk menulis sebuah kalimat kesimpulan yang indah:

“Hari ini aku berhasil belajar satu ilmu kebahagiaan hidup yang baru. Bahwa esensi dari sebuah kebahagiaan sejati di dunia ini ternyata tidak selalu harus datang dari kehadiran atau pengakuan seorang manusia saja. Terkadang, rasa kebahagiaan yang utuh itu justru akan lahir di dalam dada saat kita mampu melakukan sesuatu hal kecil yang nyata yang bisa memberikan manfaat dan kebaikan bagi orang orang di sekitar kita.”

Almeera memandangi deretan teks kalimat indah yang baru dia ukir itu selama beberapa saat dengan lengkungan senyum tipis yang tulus di wajahnya, sebelum akhirnya menutup buku catatannya kembali dengan rapat.

Untuk saat harian ini, Almeera berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mau memikirkan hal hal yang terlalu jauh ke depan mengenai urusan masa depannya yang misterius. Dia juga sudah tidak memiliki ketertarikan untuk menebak nebak akan seperti apa kelanjutan dari status hubungannya bersama Rafael ke depannya nanti setelah rentetan insiden papasan ini. Almeera memilih untuk tidak mau memaksakan atau menuntut takdir apa pun di hidupnya dari sekarang.

Bagi Almeera harian ini, jika memang Allah ke depannya masih mengizinkan garis takdir kehidupannya untuk kembali dipertemukan secara tidak sengaja dengan sosok baik seperti Rafael, maka pertemuan itu dipastikan akan berjalan mengalir dengan sendirinya tanpa perlu dia cari cari atau dia kejar kejar dari belakang secara sengaja.

Sebab untuk fokus harian ini, Almeera murni hanya ingin mengabdikan seluruh sisa tenaganya untuk terus konsisten berjalan maju di atas jalur proses hijrahnya. Ia hanya ingin fokus untuk memperbaiki kualitas ibadahnya sehari hari, fokus merampungkan semua urusan tugas kuliah dosennya agar bisa lulus tepat waktu, fokus menjaga kualitas hubungan asmara kasih sayangnya bersama Mama di rumah serta sahabat setianya seperti Eliza, dan yang paling krusial adalah fokus belajar untuk semakin mendekatkan diri bersujud kepada Allah SWT.

Almeera harian ini sama sekali belum menyadari rahasia takdir besar dari Tuhan yang sedang berjalan mengintai di masa depannya. Bahwa dari sekian banyak rentetan insiden pertemuan tidak sengaja antara dirinya dengan sosok Rafael yang selama ini dia anggap murni hanya sebatas kebetulan takdir belaka, sebenarnya kelak akan ada satu porsi momen pertemuan khusus di antara mereka yang perlahan lahan akan bertransformasi menjadi sebuah awal mula dari cerita takdir yang berjalan jauh lebih bermakna dan sakral daripada pertemuan biasa lainnya di hidup mereka.

Namun, Almeera dan Rafael harian ini memang masih belum waktunya untuk diizinkan mengetahui rahasia besar tersebut. Waktunya harian ini masih belum tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!