NovelToon NovelToon
Gulungan Dewa Naga

Gulungan Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.

Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Wush! Wush! Wush!

Tombak-tombak es raksasa melesat dengan kecepatan mengerikan membelah udara arena. Zhao Tian menembakkan seluruh energi Inti Emas miliknya tanpa mempedulikan batas pertahanan tubuhnya sendiri.

Setiap tombak es itu membawa hawa dingin yang bisa membekukan darah manusia dalam hitungan detik.

Trang! Trang! Trang!

Yang Zhen hanya bergeser beberapa sentimeter ke kiri dan ke kanan dengan langkah yang terlihat sangat malas. Tombak-tombak mematikan itu meleset tipis dari wajahnya dan menancap sia-sia di lantai batu.

"Kau bergerak terlalu lebar ke kanan saat melempar, Patriark Tua." kritik Yang Zhen dengan nada bosan. "Keseimbanganmu hancur karena kau terlalu mengandalkan emosi murahan."

"Tutup mulutmu, Sampah!" raung Zhao Tian dengan urat leher menonjol keluar. "Aku akan membekukan mulut sombongmu itu sekarang juga!"

Krak krak krak!

Zhao Tian menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah, merapalkan teknik rahasia tingkat tinggi milik klannya. Hawa dingin ekstrem menyebar dengan cepat, mengubah seluruh permukaan rawa lumpur buatan Yang Zhen menjadi daratan es padat.

Bahkan suhu di area tribun penonton ikut turun drastis membuat banyak murid menggigil ketakutan.

"Mati kau di dalam Domain Es Abadi milikku!" tawa Zhao Tian meledak penuh kemenangan.

Di kursi kehormatan VVIP, Patriark Su Tian menyipitkan matanya dengan raut wajah tegang.

"Zhao Tian memaksakan pembakaran esensi darahnya untuk menekan Yang Zhen." gumam Su Tian menganalisis pertarungan. "Bocah itu mungkin jenius, tapi perbedaan antara Pengumpulan Qi dan Inti Emas terlalu jauh seperti bumi dan langit."

"Apakah kita harus turun tangan sekarang, Patriark Su?" tanya Chen Fei yang juga mulai terlihat cemas.

Su Lin yang berdiri di dekat mereka hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Jangan ikut campur, Tuan Muda Chen." ucap Su Lin dengan mata tidak lepas dari sosok Yang Zhen. "Pria menyebalkan itu belum mengeluarkan separuh dari kekuatan aslinya."

Di tengah arena yang telah berubah menjadi padang es, Yang Zhen berdiri mematung seolah kakinya telah membeku. Es berwarna biru pucat mulai merambat naik dari sepatu hingga ke lututnya.

Zhao Tian tertawa semakin keras melihat pemandangan yang sangat ia nantikan tersebut.

"Di mana kesombonganmu sekarang, Yang Zhen?!" ejek Zhao Tian sambil melangkah perlahan mendekati mangsanya. "Kau hanya seekor semut yang mencoba melawan dewa!"

"Dewa katamu?" Yang Zhen tiba-tiba menguap lebar sambil menutup mulutnya dengan tangan yang bebas.

"Jika kau adalah dewa, maka surga pasti sedang kehabisan stok petarung yang kompeten." goda Yang Zhen sambil menyeringai lebar.

Krak!

Yang Zhen hanya menghentakkan kaki kanannya dengan gerakan yang sangat ringan. Balok es yang mengunci kakinya seketika hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu salju.

Mata Zhao Tian membelalak sempurna melihat teknik pamungkasnya dihancurkan semudah memecahkan kerupuk.

"Bagaimana mungkin?!" gagap Zhao Tian mundur selangkah karena syok. "Es itu dialiri oleh Qi Inti Emas Bintang Satu!"

"Es milikmu ini sangat rapuh, Patriark Tua." jawab Yang Zhen sambil memungut serpihan es di dekatnya. "Kau hanya memadatkan air tanpa memahami inti dari elemen tanah yang menjadi pondasi arena ini."

Syuut!

Yang Zhen melemparkan serpihan es kecil itu dengan sentilan jari tengahnya. Serpihan es itu melesat membelah udara dengan kecepatan setara peluru meriam.

Jleb!

"Aaargh!" jerit Zhao Tian kesakitan saat serpihan es itu menembus telapak tangan kanannya.

Darah segar menetes deras mewarnai padang es yang putih bersih itu menjadi merah menyala. Zhao Tian memegangi tangannya yang berlubang dengan wajah berkerut menahan rasa sakit luar biasa.

"Itu adalah hukuman karena kau berani mengirim pembunuh bayaran ke Hutan Kabut Kematian." ucap Yang Zhen mulai berjalan mendekat.

Langkah kaki Yang Zhen terdengar sangat pelan, namun di telinga Zhao Tian, itu adalah suara ketukan palu algojo.

"Dan ini adalah hukuman karena kau mencoba meracuni Presiden Gu." lanjut Yang Zhen.

Wush!

Sosok Yang Zhen tiba-tiba menghilang dari pandangan dan muncul tepat di hadapan Zhao Tian dalam sekejap mata. Tangannya yang berlapis elemen tanah mendarat telak di dada kiri Patriark tersebut.

Brak!

Tulang rusuk Zhao Tian patah berderak dan tubuhnya terlempar sejauh belasan meter. Ia berguling-guling di atas es sambil memuntahkan darah segar berulang kali.

Ribuan penonton di tribun menahan napas mereka dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada yang berani bersuara melihat seorang Patriark agung dipermainkan layaknya boneka rusak.

"Bangunlah, Rubah Tua." panggil Yang Zhen dengan nada mengejek. "Jangan bilang kau sudah menyerah hanya dengan dua serangan ringan seperti itu."

Zhao Tian memaksakan dirinya untuk bangkit dengan lutut yang bergetar hebat. Kebencian di matanya kini telah sepenuhnya tergantikan oleh kengerian absolut.

"Kau bukan manusia..." bisik Zhao Tian dengan napas tersengal-sengal. "Iblis... kau adalah iblis yang menyamar menjadi murid!"

"Iblis adalah julukan yang terlalu kasar, Patriark Zhao." Yang Zhen merapikan kerah bajunya dengan santai. "Aku lebih suka dipanggil sebagai guru privat yang sedang mendidik murid nakal."

Zhao Tian menggeram putus asa dan merangkai segel tangan terakhirnya. Ia berniat meledakkan Inti Emas di Dantiannya untuk menghancurkan seluruh akademi ini bersama dirinya.

"Mati! Kita semua akan mati bersama!" raung Zhao Tian gila.

Tubuh Zhao Tian mulai memancarkan cahaya biru yang sangat menyilaukan dan panas secara bersamaan. Ia siap melakukan bunuh diri spiritual untuk menciptakan ledakan besar.

"Gawat! Dia ingin meledakkan Dantiannya!" teriak Master Feng panik dari kursi VVIP. "Semua guru, segera buat perisai pelindung maksimal!"

Kekacauan kembali terjadi di tribun penonton saat para guru berlarian mencoba membangun barikade Qi. Jika Inti Emas meledak, setengah dari kota ini bisa rata dengan tanah.

Namun Yang Zhen sama sekali tidak terlihat panik. Ia hanya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah penuh belas kasihan palsu.

"Kau bahkan tidak tahu cara bunuh diri yang benar." gumam Yang Zhen pelan.

Bum!

Yang Zhen menghentakkan kedua kakinya dan melesat ke udara layaknya anak panah yang lepas dari busurnya. Ia terbang menembus cahaya biru yang menyilaukan itu tanpa ragu sedikit pun.

"Terlambat, Bocah! Selamat datang di neraka!" tawa Zhao Tian menyambut kedatangan Yang Zhen.

"Aku sudah pernah ke sana, dan pemandangannya sangat membosankan." bisik Yang Zhen tepat di telinga Zhao Tian.

Jleb!

Dua jari Yang Zhen yang berlapis elemen air dan tanah menembus perut Zhao Tian tepat di titik Dantiannya. Gerakannya begitu cepat dan presisi hingga Zhao Tian tidak sempat berkedip.

Proses ledakan Inti Emas itu seketika terhenti. Cahaya biru yang menyilaukan perlahan meredup dan tersedot kembali ke dalam tubuh sang Patriark.

Krak!

Suara benda keras yang hancur terdengar sangat jelas dari dalam perut Zhao Tian. Yang Zhen baru saja meremukkan Inti Emas milik Patriark tersebut menggunakan kekuatan fisiknya yang brutal.

"Apa yang kau lakukan..." suara Zhao Tian keluar seperti bisikan angin yang sekarat.

"Aku baru saja mencabut taringmu secara permanen." jawab Yang Zhen sambil menarik jarinya dari perut Zhao Tian. "Inti Emasmu telah hancur berkeping-keping."

Mata Zhao Tian membelalak sempurna sebelum akhirnya bergulir ke atas. Seluruh kultivasi yang ia kumpulkan selama puluhan tahun musnah dalam satu jentikan jari.

Bruk.

Tubuh Zhao Tian ambruk ke lantai es layaknya seonggok daging tak bernyawa. Ia tidak mati, namun kini ia hanyalah seorang pria tua cacat yang bahkan lebih lemah dari warga biasa.

Yang Zhen mendarat dengan anggun di sebelah tubuh lumpuh tersebut. Ia memutar tubuhnya dan menatap ke arah kursi VVIP dengan senyum lebar yang sangat puas.

"Pertunjukannya sudah selesai, Tuan-tuan." ucap Yang Zhen dengan suara lantang. "Silakan bawa sampah ini dan adili dia sesuai hukum kota."

Hening.

Tidak ada sorak-sorai kemenangan, hanya ada kebisuan panjang yang dipenuhi rasa takut dan kekaguman. Kepala Akademi, Patriark Su Tian, dan Chen Fei menatap Yang Zhen dengan perasaan campur aduk.

Seorang murid berumur lima belas tahun di Tahap Pengumpulan Qi baru saja mempermainkan kultivator Inti Emas hingga cacat seumur hidup. Sejarah Kota Awan Merah telah resmi terbelah menjadi dua era pada hari ini.

Wang Hao yang mengintip dari balik puing-puing tribun perlahan berdiri. Ia mengepalkan tangannya ke udara dengan air mata bangga yang mengalir di pipi gemuknya.

"Itu sahabatku! Kalian lihat itu?! Dia sahabatku!" teriak Wang Hao kegirangan memecah keheningan stadion.

Su Lin yang berdiri di tribun VVIP juga menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Tanpa sadar, seulas senyum tulus yang sangat indah terbentuk di bibirnya.

"Kau selalu bisa membuat sesuatu yang mustahil terlihat seperti lelucon murahan, Yang Zhen." batin Su Lin penuh kekaguman.

Yang Zhen membalas teriakan Wang Hao dengan lambaian tangan santai. Ia kemudian menendang pelan tubuh Zhao Tian yang pingsan ke arah para prajurit militer yang mulai turun ke arena.

"Pastikan dia tetap hidup." perintah Yang Zhen kepada Kapten Liu yang berlari mendekat. "Kematian terlalu mewah untuk orang yang telah mencoba membunuh teman-temanku."

Kapten Liu mengangguk hormat dan segera memerintahkan anak buahnya untuk meringkus Patriark yang sudah tak berdaya itu. Sisa loyalis Keluarga Zhao yang masih hidup langsung menyerahkan senjata mereka tanpa perlawanan.

Dominasi tirani Keluarga Zhao akhirnya runtuh berkeping-keping di bawah kaki seorang pemuda yang dulu mereka anggap sebagai sampah.

1
Sansalina
Mulai 👍👍👍
Sansalina
Gas Thorrr👍👍👍
Sansalina
Takutnya muridku mati konyol sebelum menguasai es dengan sempurna💪💪💪
alexander
bagus ceritanya
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Buktikan 👍👍👍
Sansalina
Bantai nih keluarganya👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Belum tahu dia👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt 👍👍👍
Sansalina
Gas Thprrr💪💪💪
Dianrp
💪💪💪💪💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!