Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. Tugas di Chengdu
Hujan turun di Kota Chengdu selama tiga hari berturut-turut, bukan hujan deras yang bisa membanjiri jalan, melainkan hujan gerimis tipis yang membuat batu-batu di gang sempit menjadi licin dan membuat bau lumpur bercampur dengan bau darah dari rumah jagal di ujung pasar, sebuah bau yang sudah terlalu akrab bagi Tang Hyun karena di Klan Tang dia diajarkan bahwa darah memiliki banyak jenis bau, dan bau darah orang yang mati karena racun berbeda dengan bau darah orang yang mati karena pedang, lebih manis, lebih lengket, dan lebih lama bertahan di udara.
Dia datang ke Chengdu dengan identitas palsu sebagai pedagang obat keliling dari Sichuan, mengenakan jubah coklat kusam, topi bambu yang menutupi setengah wajahnya, dan membawa keranjang kayu berisi botol-botol kecil yang katanya berisi jamu untuk pegal linu, padahal di dalamnya ada racun yang bisa membunuh satu keluarga dalam satu malam jika dicampur ke dalam air sumur.
Tugasnya sederhana, begitu kata Tetua Ketiga sebelum dia berangkat: "Ada seorang pedagang sutra bernama Liu Cheng, dia menolak membayar upeti kepada Klan Tang selama tiga bulan, dan dia juga menyebarkan rumor bahwa racun kita bisa ditawar dengan uang. Bunuh dia. Buat itu terlihat seperti sakit biasa. Jangan tinggalkan jejak."
Sederhana, tetapi tidak mudah, karena Liu Cheng bukan orang bodoh, dia memiliki dua puluh pengawal, rumahnya dijaga siang dan malam, dan dia sudah mempekerjakan seorang tabib dari Sekte Pengobatan untuk memeriksa semua makanan dan minumannya setiap hari, karena dia tahu bahwa di dunia ini, orang yang melawan Klan Tang biasanya mati dengan cara yang aneh.
Tang Hyun menghabiskan lima hari pertama hanya untuk mengamati, duduk di kedai teh di seberang rumah Liu Cheng, berpura-pura membaca buku sambil menghitung berapa kali penjaga berganti shift, siapa yang membawa makanan, dan jam berapa Liu Cheng keluar untuk menemui kliennya, dan dia menemukan satu hal yang menarik, setiap hari ketiga Liu Cheng akan pergi ke kuil kecil di luar kota untuk berdoa, sendirian, dengan hanya dua pengawal, karena dia percaya bahwa dewa akan melindunginya.
"Kepercayaan adalah racun yang paling manis," gumam Tang Hyun sambil menyeruput teh yang sudah dingin, "karena akan membuat orang lengah."
Malam sebelum hari ketiga, Tang Hyun menyusup ke sumur di belakang kuil itu, bukan untuk meracuninya, karena itu terlalu mencolok, melainkan untuk menaruh satu tetes "Senandung Kematian" di dinding batu sumur, tetes yang tidak akan larut ke dalam air tetapi akan menempel di ember kayu yang digunakan untuk mengambil air, dan ketika ember itu diangkat, racunnya akan menempel di tangan orang yang mengangkatnya.
Sempurna, tidak ada yang bisa melacaknya kembali ke Klan Tang.
Keesokan paginya, hujan masih turun, dan Tang Hyun berdiri di bawah pohon besar tidak jauh dari kuil, mengenakan jubah anti air dan menunggu, dan tepat ketika matahari berada di atas kepala, kereta Liu Cheng datang, dua pengawal di depan, Liu Cheng di dalam dengan wajah pucat karena sudah tiga hari dia merasa tidak enak badan.
Tang Hyun tidak melakukan apa-apa, dia hanya menonton, karena racun sudah bekerja, dan sekarang dia hanya perlu menunggu tujuh hari.
Tapi dunia tidak pernah semudah itu, karena di hari kelima, ketika Liu Cheng sudah mulai batuk darah dan berbaring di tempat tidur, seorang tamu tak diundang datang ke Chengdu, seorang murid dari Sekte Pengobatan bernama Mo Wen, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang terkenal karena bisa mendiagnosis racun hanya dengan mencium napas pasien.
"Ini bukan penyakit biasa," kata Mo Wen setelah memeriksa Liu Cheng, "ini racun. Racun yang bekerja lambat, dan aku pernah membaca tentang ini di catatan kuno. Ini disebut Senandung Kematian."
Kata-kata itu membuat seluruh rumah Liu Cheng panik, dan dalam waktu satu jam, pengumuman ditempel di seluruh kota: "Siapa pun yang melihat pedagang obat mencurigakan, laporkan. Hadiah seribu tael emas."
Tang Hyun mendengar berita itu di kedai teh dan langsung membuang keranjangnya ke sungai, karena dia tahu bahwa sekarang dia sedang diburu.
Malam itu, dia dipaksa untuk berubah rencana, karena jika dia menunggu tujuh hari, maka Mo Wen akan menemukan penawarnya, dan tugasnya akan gagal, dan gagal dalam tugas dari Tetua Ketiga berarti kematian yang lebih buruk daripada mati di tangan musuh.
Jadi dia memutuskan untuk masuk langsung, di malam hari, ketika hujan paling lebat dan penjaga paling mengantuk.
Rumah Liu Cheng dijaga ketat, tetapi Tang Hyun adalah anak Klan Tang, dan di Klan Tang mereka diajarkan bahwa tidak ada tembok yang tidak bisa ditembus jika kau punya cukup kesabaran dan cukup racun, sehingga dia menggunakan bubuk tidur yang dia sebarkan melalui ventilasi, menunggu selama satu jam sampai semua penjaga tertidur, lalu dia memanjat tembok dan masuk melalui jendela kamar Liu Cheng.
Liu Cheng sudah setengah sadar, wajahnya biru, dan dia batuk setiap beberapa detik, dan ketika dia melihat Tang Hyun, matanya melebar karena takut.
"Siapa... siapa kau?" tanyanya dengan suara serak.
"Utusan," jawab Tang Hyun pelan sambil mengeluarkan jarum dari lengan bajunya, "dari orang yang kau hina."
"Tolong... aku punya uang... banyak uang..."
"Uang tidak bisa membeli nyawa di Klan Tang," kata Tang Hyun, dan dia menusukkan jarum itu ke titik di leher Liu Cheng, titik yang akan mempercepat kerja racun dan membuatnya mati dalam satu jam tanpa rasa sakit.
Liu Cheng menggeliat sekali, lalu tubuhnya menjadi lemas, dan napasnya berhenti.
Tang Hyun memeriksa nadi, memastikan dia benar-benar mati, lalu dia keluar melalui jalan yang sama, dan sebelum pergi dia menaruh selembar daun bunga plum di meja, tanda dari Klan Tang, agar semua orang tahu siapa yang melakukan ini.
Dia kembali ke penginapan sebelum fajar, dan ketika dia membuka pintu, Tang So-yeon sudah duduk di dalam, menunggu.
"Kau terlambat dua jam," katanya datar.
"Tugasnya berubah," jawab Tang Hyun sambil melepas jubah basahnya, "ada tabib dari Sekte Pengobatan. Aku harus masuk langsung."
Tang So-yeon menatapnya, "Dan?"
"Selesai," jawab Tang Hyun, "Liu Cheng mati satu jam yang lalu."
Tang So-yeon mengangguk, "Bagus. Besok kita kembali ke Klan."
Namun keesokan paginya, sebelum mereka sempat pergi, rumah mereka dikepung oleh dua puluh orang dari Sekte Pengobatan dan beberapa pengawal bayaran, dipimpin oleh Mo Wen, yang wajahnya penuh amarah.
"Keluar!" teriak Mo Wen, "Kami tahu kalian dari Klan Tang! Serahkan pembunuhnya!"
Tang Hyun dan Tang So-yeon keluar, dan suasana langsung tegang, karena semua orang tahu bahwa jika pertarungan pecah di tengah kota, maka Pemerintahan Chengdu akan turun tangan, dan itu akan menjadi masalah besar bagi Klan Tang.
"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan," kata Tang Hyun dengan wajah polos, "kami hanya pedagang obat."
"Bohong!" teriak Mo Wen, "Aku mencium bau racun di tubuhmu! Bau Senandung Kematian!"
Tang So-yeon melangkah maju, "Kalau kau punya bukti, tunjukkan. Kalau tidak, maka minggir. Kami tidak punya waktu untuk bermain dengan anak-anak."
Mo Wen marah dan langsung menyerang, dan pertarungan pecah di tengah jalan, tetapi Tang So-yeon terlalu cepat, dalam waktu tiga menit dia sudah melumpuhkan enam orang tanpa membunuh satu pun, karena membunuh di kota berarti perang, dan Klan Tang belum siap untuk perang.
"Kita pergi," kata Tang So-yeon sambil menarik lengan Tang Hyun, dan mereka berdua melompat ke atap dan menghilang di antara gang-gang sempit, meninggalkan Mo Wen berteriak marah di bawah.
Mereka berhasil keluar dari Chengdu tanpa tertangkap, tetapi berita tentang "pembunuhan oleh Klan Tang" menyebar lebih cepat daripada mereka, dan ketika mereka kembali ke Klan, Tetua Ketiga sudah menunggu di aula.
"Kau melakukan pekerjaan dengan baik," kata Tetua Ketiga, "dan kau juga membuat masalah. Sekte Pengobatan sekarang menuntut penjelasan."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Tang Hyun.
"Kita tidak melakukan apa-apa," jawab Tetua Ketiga sambil tersenyum, "karena tidak ada bukti. Dan karena dunia murim tahu bahwa Klan Tang tidak pernah meninggalkan bukti."
Setelah itu, Tang Hyun dipromosikan lagi, sekarang dia resmi menjadi "Tangan Bayangan" Klan Tang, julukan untuk pembunuh yang bekerja di luar klan, dan mulai hari itu, dia tidak lagi hanya berlatih, dia mulai menerima tugas sungguhan, satu atau dua kali dalam sebulan, selalu di kota yang jauh, selalu dengan target yang berbeda, selalu tanpa jejak.
Awalnya dia merasa bersalah, karena setiap kali dia membunuh, dia akan melihat wajah Gu Cheol di dalam dirinya, anak yang dulu tidak bisa melindungi siapa pun, tetapi lama-lama rasa bersalah itu hilang, digantikan oleh rasa dingin dan efisien, karena dia belajar bahwa di dunia ini, jika kau tidak membunuh, maka kau yang akan dibunuh.
Suatu malam, tiga bulan setelah tugas di Chengdu, Tang Hyun menerima tugas baru, kali ini targetnya adalah seorang pejabat tinggi di istana, seseorang yang menghalangi perdagangan obat Klan Tang ke ibu kota.
"Tidak ada waktu," kata Tetua Ketiga, "kau harus pergi malam ini."
Tang Hyun mengangguk dan bersiap, tetapi sebelum dia pergi, Tang So-yeon menghentikannya di pintu.
"Kau yakin bisa melakukannya?" tanyanya.
"Aku sudah melakukannya," jawab Tang Hyun.
"Bukan itu maksudku," kata Tang So-yeon pelan, "aku bertanya, apakah kau masih bisa tidur setelah melakukannya?"
Tang Hyun terdiam, karena dia tidak tahu jawabannya, lalu dia berkata, "Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tidur tanpa mimpi."
Tang So-yeon tidak mengatakan apa-apa lagi, dia hanya memberinya sebuah botol kecil, "Ini penawar untuk racun yang kau gunakan. Jaga dirimu."
Tang Hyun pergi malam itu, dan tugasnya berhasil lagi, kali ini tanpa ada yang tahu siapa pelakunya, dan ketika dia kembali, dia mendapati bahwa namanya sudah mulai disebut di dunia bawah tanah Jianghu, "Anak Racun Klan Tang", "Bayangan Ungu", "Orang yang tidak pernah gagal".
Reputasi itu membuatnya terkenal, tetapi juga membuatnya kesepian, karena semakin tinggi dia naik, semakin sedikit orang yang berani berbicara dengannya tanpa takut.
Satu-satunya orang yang masih berbicara dengannya seperti biasa adalah Tang Ling dan Tang So-yeon, dan bahkan Tang Ling mulai menjaga jarak, karena dia takut.
Hanya Tang So-yeon yang tidak, dan itu membuat Tang Hyun bingung.
Suatu malam, setelah menyelesaikan tugas di kota lain, dia kembali dan menemukan Tang So-yeon duduk di atap paviliunnya, menunggu.
"Kenapa Nona masih di sini?" tanya Tang Hyun.
"Karena aku khawatir kau tidak kembali," jawab Tang So-yeon jujur.
"Kenapa?"
"Karena aku sudah kehilangan terlalu banyak orang," kata Tang So-yeon, "dan aku tidak ingin kehilangan orang lain lagi."
Tang Hyun duduk di sampingnya, "Aku bukan orang baik, Nona."
"Aku tahu," jawab Tang So-yeon, "tapi kau orang yang jujur. Dan di tempat ini, kejujuran lebih langka daripada racun."
Mereka duduk diam di bawah bulan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tang Hyun merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, dia masih manusia.
Keesokan harinya, surat datang dari Sekte Emei, isinya singkat: "Baek Seolhwa menantang Tang Hyun untuk duel di Gunung Emei, satu bulan dari sekarang. Jika kau tidak datang, Klan Tang akan dianggap pengecut."
Tang Hyun membaca surat itu dan melipatnya, "Aku akan pergi."
"Kenapa?" tanya Tang So-yeon.
"Karena aku ingin tahu," jawab Tang Hyun, "apakah aku masih bisa bertarung tanpa membunuh."
Dan dengan itu, persiapan untuk perjalanan ke Gunung Emei dimulai, sebuah perjalanan yang semua orang tahu akan mengubah segalanya, karena Baek Seolhwa bukan hanya lawan, dia adalah cermin, cermin yang akan menunjukkan kepada Tang Hyun seberapa jauh dia sudah jatuh.
Malam sebelum berangkat, Tang Hyun berdiri di depan cermin dan menatap wajahnya sendiri, wajah yang sudah tidak ada rasa takut, hanya ada ketenangan yang berbahaya.
"Gu Cheol sudah mati," gumamnya, "yang ada sekarang hanya Tang Hyun."
Dan di luar jendela, angin membawa bau bunga plum, bau yang indah dan beracun, sama seperti dirinya.