Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Jawaban dari kegelisahan
Hari itu, Aura menjalani aktivitasnya seperti biasa di rumah. Setelah membereskan beberapa urusan rumah tangga dan memeriksa berkas rencana Creative Space miliknya, ia mencoba menyibukkan diri agar tidak larut dalam lamunan.
Namun, sejujurnya hatinya merasa sangat tidak tenang. Reaksi Fadil tadi pagi yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa terus membayangi pikirannya.
Mungkinkah suaminya itu bisa melupakan Kak Keisya secepat itu setelah membaca semua kebenaran tragis yang tertulis di buku harian? Atau justru Fadil hanya berpura-pura tenang di hadapannya karena tidak ingin menyakiti hatinya yang kini sudah sah menjadi istrinya?
Semua sangkaan dan pertanyaan yang tak bertepi itu terus bergulir di dalam benak Aura, menciptakan kebingungan yang tak kunjung menemukan jawaban.
Hingga ketika waktu menjelang sore, suasana di luar rumah perlahan berubah. Langit yang tadinya cukup cerah mendadak tertutup gulungan awan hitam yang pekat.
Sejauh mata memandang, suasana alam begitu gelap dan mencekam. angin kencang mulai bertiup, menggoyangkan dahan-dahan pohon di halaman depan.
Mengingat jemuran baju hari ini cukup banyak di area belakang, Aura pun bergegas turun dari lantai dua untuk membantu Mbok Nah.
"Neng Aura, biar Mbok saja! Langitnya sudah gelap banget ini," seru Mbok Nah setengah berlari mendekati tali jemuran.
"Gak apa-apa, Mbok. Kalau dikerjakan berdua kan lebih cepat," sahut Aura seraya dengan cekatan menurunkan pakaian-pakaian yang sudah kering ke dalam keranjang.
Begitu baju terakhir berhasil diangkat dan dibawa masuk ke dalam area laundry, hujan deras pun seketika tumpah dari langit.
Gemuruh angin dan suara hantaman air di atas atap terdengar begitu riuh, diselingi dentuman petir yang cukup besar yang membuat jendela kaca bergetar.
Entah mengapa, seiring dengan makin derasnya hujan, rasa khawatir di hati Aura makin menjadi-jadi. Biasanya Fadil selalu tiba di rumah tepat pukul empat sore jika tidak ada janji bertemu klien di luar kantor.
Namun sekarang jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit, dan sosok suaminya belum juga memunculkan batang hidungnya.
"Mungkin jalannya macet karena hujan deras," batin Aura mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia lalu duduk di sofa ruang keluarga, sambil menatap rintik air yang membasahi kaca jendela.
Lima menit berlalu... sepuluh menit... hingga jarum jam merambat makin jauh dan menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit, tapi Fadil belum juga pulang.
Rasa cemas yang sedari tadi ditahannya kini tak lagi bisa dibendung. Aura kemudian meraih ponselnya di atas meja rias, lalu mencoba memanggil nomor telepon seluler Fadil.
Tutt... Tutt... Tutt...
Nada sambung terdengar cukup lama, namun panggilan itu tak kunjung diangkat hingga terputus secara otomatis. Aura mencoba menelepon sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban.
"Ke mana Mas Fadil? Kenapa ponselnya tidak diangkat?" gumam Aura gelisah seraya meremas ponselnya.
Tepat di saat kecemasannya berada di puncak, suara deru mesin mobil yang amat dikenalinya terdengar memasuki area garasi rumah. Lampu sorot mobil menyinari celah gorden ruang depan.
"Alhamdulillah... Akhirnya Mas Fadil pulang," seru Aura bernapas lega.
Kendati merasa lega, Aura tidak segera berlari ke pintu depan untuk menyambut kedatangan suaminya seperti yang biasa ia lakukan. Ada rasa canggung yang mendadak menyeruak mengingat misteri sikap Fadil tadi pagi.
Kini Aura memilih melangkah menuju dapur untuk memasak air panas. Ia berniat membuatkan secangkir teh jahe hangat agar suaminya tidak terpapar angin sore dan masuk angin setelah menembus hujan deras.
Saat Aura sedang sibuk menyeduh cangkir dan menyiapkan bahan minuman hangat di meja konter dapur, tiba-tiba suara panggilan Fadil memecah keheningan dari arah ruang tamu utama.
"Aura...."
Suara itu terdengar cukup berat dan berwibawa, hingga menggema di lorong rumah.
"Ya, Mas!" jawab Aura pelan dari dapur. Ia berpaling ke arah Mbok Nah yang sedang mengelap piring lalu berkata, "Mbok, tolong lanjutkan menyeduh air hangatnya ya. Saya hampiri Mas Fadil dulu."
"Baik, Neng," sahut Mbok Nah.
Aura merapikan dress rumahnya, lalu melangkah keluar dari area dapur menuju ruang tamu yang luas. Namun, setelah hampir sampai di tempat suaminya berada, langkah kaki Aura mendadak terhenti total. Seluruh persendiannya seakan melumpuh seketika.
Di sana, di tengah ruang tamu utama yang megah, Fadil tengah berdiri dengan bajunya yang sedikit basah oleh bintik air hujan. Dan di samping pria itu, berdiri seorang wanita bergaun longgar dengan wajah yang pucat, kurus, serta menunduk dalam-dalam.
Teg!!
Wanita itu adalah Keisya, kakak kandung Aura yang selama beberapa bulan ini menghilang tanpa jejak.
Mata Aura membelalak lebar, bibirnya bergetar hebat saat suara parau meluncur dari tenggorokannya yang mendadak kering.
"K-Kakak...?"
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣