NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Di sebuah gedung dengan ballroom yang mewah, gemerlap lampu kristal yang menggantung di atasnya memantulkan cahaya keemasan yang megah.

Malam ini suasana penganugrahan dan diskusi kebudayaan tingkat tinggi terasa prestisius, karena ruangan ini di penuhi jajaran tamu penting.

Di dominasi oleh perwakilan diplomatik asing dari delegasi UNESCO, serta para peneliti Internasional dengan setelan jas formal yang rapi.

Di tengah itu banyak suara bisik-bisik dengan dominasi oleh bahasa asing dan tata krama diplomatik yang kaku, karena menggunakan aksen bahasa Indonesia.

Malam ini Asri kini berdiri sangat memikat, sesekali memperkenalkan bahasa dan sejarah Indonesia pada delegasi UNESCO.

Penampilannya sangat mempesona dengan balutan kebaya kutu baru berbahan brukat warna Violet, rambutnya di cepol dengan sapuan makeup yang tipis dan presisi di wajahnya.

Aura kecantikan yang sangat mempesona, seolah sudah melupakan trauma akan malam-malam menjijikan itu.

*"This is Gunung Padang located in Cianjur, West Java, and researchers estimate it to be the oldest compared to the pyramids, although this is still being debated." *("Ini adalah (gunung padang) yang terletak di Cianjur Jawa Barat, dan peneliti memperkirakan menjadi yang tertua di bandingkan piramida, meski hal ini masih di perdebatkan.")

Asri tengah menjelaskan dengan dua wanita delegasi UNESCO yang berasal dari Perancis, meski begitu bahasa yang di gunakan menggunakan bahasa Inggris.

"Oh That's Good, Miss." ("Oh, itu bagus, Nona.")

"Yes, it is very interesting, the history of your country." ("Ya sangat menarik, sejarah negaramu.")

Mereka semua memuji soal penjelasan yang Asri berikan, kehadiran Asri di dekat meja pameran replika artefak purbakala menarik perhatian besar.

Tak lama kemudian, salah satu anggota perwakilan Kementerian Kebudayaan menghampiri Asri.

Pria paruh baya yang terlihat dengan wibawanya, tubuhnya nampak mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan motif parang cokelat keemasan nampak tersenyum lebar.

Pria itu mengulurkan tangannya menjabat tangan Asri.

"Selamat malam, Saudari Asri. Riset Anda mengenai jalur cagar budaya nusantara benar-benar luar biasa," puji perwakilan kementerian itu dengan nada suara yang hangat dan penuh rasa hormat.

Asri tersenyum, lalu melepaskan jabat tangannya.

"Oh ya, saya sangat bangga mendengar itu, Pak Budi." Asri menjawab dengan senyum tak kalah hangat.

"Pihak kementerian sangat bangga memiliki peneliti muda berbakat seperti kamu. Kita harus membahas lebih lanjut mengenai rencana pelestariannya bersama tim ahli minggu depan."

Asri yang mendengar itu, langsung tak hentinya mengucap rasa syukur dalam hati----seolah hasil kerja kerasnya selama ini terbayar sudah.

Di sekeliling mereka, beberapa delegasi asing memperhatikan interaksi itu----namun ada juga yang berbisik-bisik dan tak terlalu menganggap.

Di tengah perbincangan itu, di tengah penjelasan Asri mengenai penjelasannya untuk di teliti.

Seketika terhenti saat seorang pria bertubuh tegap dengan wibawanya melangkah mendekati perwakilan menteri.

Mayor Angga Pratama.

Malam ini Angga mengenakan kemeja batik lengan pendek motif geometris bernuansa cokelat tua, bawahnya mengenakan celana bahan warna hitam resmi.

"Mohon izin, Pak," ucap Angga sembari mengangkat tangan kanannya sedikit, mencoba membuka pembicaraan dengan perwakilan kementerian tersebut.

Angga menghampiri perwakilan menteri kebudayaan demi menyampaikan sebuah pesan penting atau sekadar memberikan penghormatan protokoler.

Pandangan Asri bertemu dengan mayor Angga, melihat pria yang telah menodainya----tubuhnya terasa kaku dengan gemetar.

Asri yang awalnya senyum seketika berubah pucat pasi, seolah kehilangan seluruh kebanggan dalam hitungan detik.

Tiba-tiba ingatannya mendadak kembali ke malam itu-----malam di mana langkah kaki di taman, cengkraman kasar pada pergelangan tangannya.

Hingga tubuhnya terhempas sampai kepalanya terbentur bangku taman, bahkan saat di kamar hotel hubungan badan yang menyiksa---dengan aroma alkohol yang menyeruak tajam.

Semua trauma yang sesaat perlahan menghilang, kini bangkit kembali---berdiri tegak di depannya.

Pria yang menodainya malam itu, bukan mengenakan kaos warna hijau army, melainkan mengenakan batik dan tengah berbicara dengan wakil kementerian.

"Ya allah kenapa dia ada disini...," batin Asri bicara lirih.

Kini, lututnya terasa lemas. Tubuhnya gemetar hebat di balik balutan kebawa warna violetnya.

Pria asing yang menodainya dengan keji malam itu, hari ini berdiri tepat di depannya.

Angga yang sedang berbicara dengan anggota kementerian, tanpa sengaja ekor matanya beralih melirik wanita di hadapannya.

Keningnya langsung berkerut menatap wanita di depannya ini, perwira muda itu menatap Asri dengan sedikit aneh seperti ketakutan.

"Kok aku kaya kenal ya," pikirnya bicara pada hatinya.

Angga menatap Asri dengan pandangan mata yang menyipit tajam, seolah menyorot tatapan yang seolah sedang mengingat sesuatu.

Deg.

Degup jantung berdetak cepat saat menatap Asri, ingatan samar tentang bidadari mengenakan kemeja putih malam itu kembali berputar liar di kepalanya.

"Cantik sih, terus pinter juga. Tapi kok ketakutan gitu ya?" tanya Angga dalam batinnya, keningnya juga berkerut.

"Mbak...kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Angga perlahan, namun wajahnya seperti penuh selidik.

Pertanyaan Angga justru seperti sebuah pedang yang siap menusuk dada Asri, ketakutan teramat hingga tubuhnya gemetar.

Asri tak sanggup lagi berdiri disana, menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menghindari kontak mata dengan Angga maupun perwakilan kementrian budaya.

Asri tak sanggup harus berhadapan dengan mata pria yang telah merenggut paksa kehormatannya, pikirannya mencoba mencari alasan untuk lari pada situasi yang sulit ini.

"Mohon... mohon maaf sebesar-besarnya, Pak." Asri bicara membuat Anggota kementrian budaya menatapnya, begitu juga dengan Angga.

"Tiba-tiba... asam lambung saya kambuh dengan sangat hebat. Saya harus segera pergi ke dokter untuk memeriksa kondisi saya..." lanjut Asri dengan suara bergetar ketakutan.

"Loh Mbak Asri biar saya----" ucapan dari perwakilan kementerian itu terputus, tatkala tanpa menunggu balasan Asri langsung membalikan tubuhnya.

Angga menatap punggung Asri, perlahan menghilang---entah kenapa kali ini hatinya merasa terikat dengan wanita tadi.

Asri langkahnya tertatih di atas sepatu hak tinggi, dirinya menerobos kerumunan tamu meninggalkan acara penting itu.

Segera Asri menelepon Putri untuk menjemputnya.

Air mata yang sejak tadi di tahan kini sudah luruh, membasahi pipinya----saat ini pikirannya mau melarikan diri sejauh mungkin----dari sosok pria yang baru saja merenggut mahkotanya dengan paksa, meski itu tanpa sengaja.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!