Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Comedian posing as a motorcycle gang member
Suasana pagi itu di apartemen milik Leo terasa sedikit berbeda. Cahaya matahari menyeruak masuk dari celah tirai, menyinari sudut-sudut ruangan yang biasanya tenang. Aera sudah terbangun sejak fajar. Rasa cemas dan lega bercampur aduk di dalam dadanya. malam sebelumnya Aera baru saja mendapatkan harapan baru setelah berbicara dengan sang Oma, sosok yang menjadi pelabuhan terakhirnya setelah berbagai peristiwa kelam yang ia lalui.
Aera sudah berkemas. Hanya satu koper kecil berisi barang-barang pribadinya yang esensial. Ia berdiri di depan cermin besar di lorong apartemen, memastikan penampilannya rapi. Ia mengenakan atasan krem sederhana dan celana panjang senada. Rambutnya diikat rapi. Ia ingin terlihat pantas saat bertemu dengan supir yang akan membawanya ke rumah Oma.
Tepat saat ia hendak mengecek ponselnya, pintu utama apartemen terbuka. Leo masuk dengan terburu-buru, membawa beberapa dokumen dan kantong plastik berisi sarapan. Langkahnya terhenti seketika di ambang pintu saat melihat Aera yang sudah siap dengan koper di samping kakinya.
Leo mematung, matanya membelalak kaget. Ia menatap Aera dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu beralih ke koper kecil tersebut. "Aera? Kamu mau ke mana pagi-pagi begini? Kenapa sudah rapi sekali?" tanya Leo dengan nada panik yang tertahan. Ia meletakkan sarapan itu di meja makan dengan dentuman pelan.
Aera tersenyum tipis, berusaha menenangkan Leo yang tampak bingung sekaligus khawatir. "Leo, maaf kalau aku mengejutkanmu. Semalam... aku sudah bicara dengan Oma. Dia memintaku tinggal bersamanya. Dan sekarang, supir pribadinya sedang dalam perjalanan menjemputku."
Leo terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang. Apartemen ini, tempat di mana Aera bersembunyi selama beberapa hari terakhir, adalah properti miliknya. Aera sudah menjadi bagian dari rutinitasnya, dan mendengar gadis itu akan pergi begitu saja membuatnya merasa kehilangan, meski ia tahu itu yang terbaik untuk keselamatan Aera.
"Kenapa terburu-buru? Kamu bahkan belum sarapan," ucap Leo, suaranya sedikit meninggi, tanda ia tidak bisa menyembunyikan rasa keberatannya.
"Oma sudah menunggu, Leo. Aku tidak ingin membuatnya cemas lagi. Terima kasih banyak untuk semuanya. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa bantuanmu di sini," balas Aera tulus.
Bel pintu berbunyi. Aera menarik napas panjang. Itu pasti supir Oma.
Saat pintu dibuka, seorang pria paruh baya berseragam rapi berdiri dengan sikap hormat. Ia membungkukkan badan. "Nona Aera, saya diutus oleh Nyonya Besar untuk menjemput Anda."
Aera mengangguk dan meraih kopernya. Leo berdiri di samping Aera, menatap supir itu dengan tatapan tajam dan penuh selidik. Sebagai seseorang yang terbiasa hidup dalam kewaspadaan tinggi, Leo tidak mudah percaya pada orang asing, apalagi untuk urusan membawa Aera pergi dari tempat persembunyiannya.
"Siapa namamu?" tanya Leo ketus kepada supir itu.
"Nama saya Pak Haris, Tuan Muda," jawab supir itu tenang tanpa sedikit pun terganggu dengan nada bicara Leo.
Leo tidak puas. Ia melirik Aera seolah ingin memberi kode agar Aera membatalkan rencananya, namun Aera sudah melangkah keluar. Leo akhirnya memutuskan untuk bersikap proaktif. Ia segera berbalik, mengambil kunci motornya yang tergeletak di atas meja, dan bergegas mengikuti mereka.
Setelah memastikan Aera duduk dengan aman di kursi belakang mobil sedan mewah hitam milik Oma, Leo segera berlari menuju motornya sendiri yang terparkir di basement. Ia tidak bisa membiarkan Aera pergi begitu saja tanpa pengawasan. Bagaimana jika ini jebakan? Bagaimana jika orang-orang yang mengejar Aera tahu rencana ini? pikir Leo sambil menyalakan mesin motornya.
Mobil yang membawa Aera mulai meluncur keluar dari gerbang apartemen. Leo menunggu beberapa detik, memberikan jarak agar ia tidak terlalu mencolok. Ia mengikuti mobil hitam itu dengan menjaga jarak aman, melewati lalu lintas kota yang mulai padat.
Perjalanan itu terasa sangat panjang bagi Leo. Setiap kali mobil di depannya melambat, detak jantungnya meningkat. Ia terus memerhatikan mobil itu, memastikan tidak ada kendaraan lain yang mencurigakan yang mengikuti mereka. Ia melihat ke spion berkali-kali, memastikan bahwa ia sendiri tidak sedang diikuti.
Selama perjalanan, ia membayangkan apa yang akan terjadi jika ini memang jebakan. Ia mengepalkan tangannya kuat pada setir. Baginya, Aera sudah seperti tanggung jawab yang harus ia lindungi. Ia masih teringat jelas bagaimana hancurnya Aera saat ia pertama kali membawanya ke apartemen, bahwa meski lukanya belum sembuh, Aera akhirnya bisa bernapas dengan lega karena tahu ke mana ia harus pulang. Leo tidak akan membiarkan kelegaan itu direnggut kembali.
Mobil itu akhirnya keluar dari jalan protokol dan memasuki kawasan perumahan yang asri dan sangat terjaga. Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah gerbang besi besar yang tampak kokoh. Leo meminggirkan motornya cukup jauh, di balik pohon besar agar tidak terlihat dari gerbang.
Gerbang terbuka, dan mobil itu masuk. Leo menarik napas panjang, mencoba meredam kecemasannya. Ia melihat dari kejauhan saat gerbang itu tertutup kembali. Di dalam sana, Aera akan aman. Setidaknya, ia berharap demikian.
Leo tidak langsung pergi. Ia tetap diam di atas jok motornya, mematikan mesin, dan mengamati keadaan sekitar selama beberapa saat. Setelah yakin tidak ada tanda-tanda bahaya, ia baru menyandarkan punggungnya di kursi. Ia merasa sedikit lega, namun tetap waspada. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan singkat untuk Aera, menanyakan apakah ia sudah sampai dengan selamat.
Tak lama, ponselnya bergetar. Sebuah balasan dari Aera.
"Aku sudah sampai, Leo. Oma menyambutku dengan sangat hangat. Terima kasih sudah mengantarku secara diam-diam. Aku tahu kamu ada di belakang tadi."
Leo tersenyum tipis. Ia akhirnya memutar balik motornya, meninggalkan kawasan tersebut. Kini ia tahu, tugasnya menjaga Aera secara langsung di apartemen telah selesai, namun tugasnya untuk memastikan Aera tetap aman, tetap berlanjut dari jauh. Ia akan selalu memastikan bahwa tidak ada lagi orang yang bisa melukai Aera, sebagaimana yang ia janjikan pada dirinya sendiri sejak pertama kali membantu gadis itu.
...----------------...
Sebening embun pagi yang membasahi halaman, Zayyan yang sudah rapi dengan almamater kampusnya hanya bisa menatap heran pada sang ayah. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya itu selalu saja menangis setiap kali melihat kuburan kucing yang berada di halaman depan rumahnya. Iya benar, hanya kuburan kucing yang sudah ada sejak Zayyan kecil dan ritual menangis di depan kuburan itu selalu ayahnya lakukan setiap hari.
"Kuburan kucing di-tangisin mulu, Ayah lebih sayang sama anak atau sama kucing, sih?" tanya Zayyan, mencoba mencairkan suasana dengan nada bercanda yang memang sudah menjadi bahasa cinta keluarga mereka.
"Jelas Ayah lebih sayang sama kucing," jawab sang ayah tanpa menoleh, masih asyik menyeka sudut matanya dengan sapu tangan yang ia keluarkan dari saku kemeja.
Zayyan tertawa renyah. Ia sudah hapal betul watak ayahnya. Di rumah mereka, tawa adalah menu sarapan wajib. Meskipun sang ayah terlihat dramatis dengan ritual kuburan kucingnya, semua orang tahu itu hanyalah bumbu kehidupan.
"Yaelah, Yah. Kucing itu sudah lewat ke alam baka dua puluh tahun lalu, masa iya saingan cinta Zayyan sama kucing purba?" Zayyan mendekat, lalu dengan sengaja menepuk pundak ayahnya dengan keras. "Sudah, lah. Nanti kalau Zayyan sukses, Zayyan beliin kucing baru yang bisa diajak debat biar Ayah ada teman."
Tiba-tiba, muncul Ibu dari arah dapur membawa nampan berisi teh hangat dan gorengan. "Sudah, sudah. Jangan ributin kucing. Kucing itu dulu satu-satunya makhluk yang mau dengerin curhat Ayahmu waktu dia gagal melamar Ibu karena salah bawa bunga."
"Wah, buka kartu nih Ibu!" sahut sang Ayah, seketika mengubah ekspresi wajahnya dari melankolis menjadi ceria kembali. "Itu bukan salah bawa bunga, Bu. Itu namanya inovasi. Siapa tahu ada cewek yang lebih suka dikasih kangkung daripada mawar."
Zayyan terpingkal. Ia hampir saja menyemburkan teh yang baru ia seruput. "Kangkung? Yah, pantas aja Ibu dulu sempat ragu mau nikah sama Ayah."
Keluarga Zayyan memang unik. Mereka adalah keluarga yang selalu menemukan cara untuk menertawakan diri sendiri. Bagi mereka, hidup ini terlalu singkat untuk dibawa serius, bahkan untuk urusan kesedihan sekalipun. Tawa Zayyan perlahan mereda, meski sudut bibirnya masih tertarik membentuk senyum geli. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja, lalu berdiri seraya menepuk celana jeans yang dikenakannya untuk membersihkan sisa remah gorengan.
"Yah, Bu, Zayyan berangkat ke kampus dulu ya," pamitnya sambil meraih tas ransel yang sedari tadi bersandar di kaki kursi.
Ia menyalami tangan Ayah dan Ibu bergantian. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah Ayah yang masih tampak santai. "Nanti kalau ada yang mau melamar lagi, jangan bawa kangkung ya, Yah. Bawa bunga beneran saja, biar Ibu nggak ragu lagi!"
Zayyan menutup pintu rumah dengan hati yang ringan, membawa kehangatan tawa pagi itu bersamanya menuju kampus.
Udara pagi masih terasa segar saat Zayyan memacu motornya menuju gerbang kampus. Setelah candaan ringan di rumah tadi, hatinya terasa jauh lebih enteng. Baginya, memulai hari dengan tawa adalah kunci agar tidak cepat pusing menghadapi dosen yang hobinya memberikan revisi di luar nalar.
Begitu sampai di area parkir khusus mahasiswa, mata Zayyan langsung tertuju pada deretan motor gede yang terparkir rapi—atau lebih tepatnya, berantakan dengan gaya. Di sana, sudah ada tiga sosok yang sangat ia kenal. Wain, Davin, dan tentu saja, Leo. Mereka adalah anggota inti geng motor Alaxtar, sebuah nama yang seharusnya terdengar sangar dan ditakuti, namun faktanya lebih sering terdengar seperti grup lawak yang kebetulan hobi motoran.
"Woi, Bos Besar datang!" seru Wain sambil melepas helmnya dengan gaya dramatis, seolah-olah ia sedang melakukan adegan film aksi.
Zayyan memarkir motornya di sebelah motor sport milik Leo, lalu berjalan mendekat sambil terkekeh. "Berisik lo, Wain. Pagi-pagi bukannya nyiapin mental buat kuis, malah latihan teater di parkiran."
Davin, yang sedang sibuk merapikan rambutnya menggunakan spion motor, menyahut, "Mental kita udah disiapin, Yan. Masalahnya, kuisnya nggak siap nerima otak jenius kita. Makanya kita milih buat estetik dikit sebelum masuk kelas."
Leo, sang ketua geng Alaxtar yang biasanya paling pendiam dan berwibawa, hanya bisa memijat pelipisnya. Ia duduk di atas jok motor, menatap ketiga temannya dengan tatapan pasrah.
"Gue nggak tahu kenapa gue mutusin buat ngajak kalian gabung di Alaxtar. Harusnya gue cari anggota yang bisa diajak serius, bukan yang hobi ngebanyol tiap detik."
"Ya elah, Leo," ujar Zayyan sambil menepuk bahu ketua gengnya itu. "Justru karena kita nggak serius, Alaxtar jadi punya sisi humanis. Lo mau geng motor kita ditakutin orang karena galak? Enggak, kan? Kita mau ditakutin karena kalau kita lewat, orang-orang bakal mikir, Wah, itu kelompok pelawak yang kebetulan bawa motor mahal."
Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Begitulah dinamika mereka. Di luar, orang melihat Alaxtar sebagai geng motor yang cukup disegani karena solidaritasnya yang kuat dan tunggangan mereka yang mumpuni. Namun, jika orang-orang tahu bahwa rapat internal mereka sering kali berisi debat kusir tentang siapa yang paling cocok dijadikan meme minggu ini, mungkin citra sangar itu akan runtuh seketika.
"Ngomong-ngomong," Wain memulai topik baru dengan wajah yang dibuat seserius mungkin. "Tadi gue liat di grup angkatan, katanya dosen mata kuliah hari ini baru aja putus sama pacarnya. Kita harus ekstra hati-hati. Jangan sampai ada yang berani nanya hal-hal aneh, atau kita bakal kena imbasnya."
"Tunggu, serius lo?" tanya Davin dengan mata membelalak.
"Kalau gitu, gue harus hapus niat gue buat izin ke toilet dengan alasan mau beli gorengan. Bisa-bisa gue disuruh bikin makalah 50 halaman tentang sejarah minyak goreng."
Leo mendengus, berusaha menahan tawa. "Tuh kan. Perbincangan kita selalu berakhir ke arah yang nggak masuk akal. Lagian, kenapa juga lo harus jujur mau beli gorengan? Izin aja mau ke perpustakaan."
"Mana bisa, Leo!" sela Zayyan cepat. "Muka Davin itu terlalu gorengan-banget buat jadi anak perpus. Kalau dia bilang ke perpus, dosen pasti curiga dia mau jualan gorengan di antara rak buku."
Ledakan tawa kembali pecah. Suasana parkiran yang biasanya tegang karena banyak mahasiswa yang sedang menghafal materi, mendadak jadi panggung pertunjukan bagi mereka berempat.
Bagi Zayyan, kehadiran teman-temannya ini adalah pelarian terbaik dari segala tekanan hidup. Meski mereka anggota geng motor yang punya tanggung jawab besar, di antara mereka, tidak ada jabatan. Yang ada hanyalah solidaritas dan guyonan yang selalu berhasil mencairkan suasana.
"Eh, nanti habis kelas, kita nongkrong di bengkel biasa, ya?" ajak Leo sambil berdiri dan membetulkan jaket kulitnya yang menjadi ciri khas Alaxtar. "Ada yang harus gue omongin soal rencana touring minggu depan."
"Touring?" Wain membelalakkan matanya. "Boleh bawa boncengan? Kalau nggak, gue males ikut. Gue nggak mau jadi satu-satunya orang yang motornya cuma diisi angin ban sama helm."
"Lo bawa boneka aja, Wain," celetuk Davin. "Biar dikira lo lagi bawa pacar imajiner. Lumayan buat bahan ketawaan di jalan."
"Sialan lo!" Wain mengejar Davin yang langsung lari menjauh sambil tertawa kencang.
Leo menatap Zayyan, lalu menggelengkan kepala. "Gue kadang capek, Yan. Tapi jujur, gue nggak bisa bayangin kalau hari-hari gue di kampus cuma isinya belajar dan dengerin dosen ngomong tanpa ada mereka berdua."
Zayyan tersenyum tulus. Ia tahu persis apa yang dirasakan Leo. Menjadi ketua di Alaxtar memang punya beban tersendiri, namun memiliki kawan seperti Wain dan Davin yang selalu bisa menjaga ritme kebahagiaan adalah anugerah.
"Dunia ini udah cukup serius, Leo," ucap Zayyan pelan. "Kadang-kadang, kita emang butuh jadi pelawak di balik jaket motor ini supaya kita nggak gila sama ekspektasi orang lain. Yuk, cabut kelas. Gue nggak mau ketinggalan drama dosen putus cinta itu."
Mereka berempat pun berjalan beriringan menuju gedung fakultas. Langkah mereka mantap, gaya mereka keren, namun pembicaraan mereka masih saja seputar siapa yang paling berani menantang dosen untuk beradu pantun di akhir kelas.
Di mata orang lain, mungkin mereka adalah geng motor yang tampak dingin. Namun, bagi mereka, kampus adalah panggung, dan Alaxtar adalah kelompok pelawak yang siap menghibur hari dengan cara mereka sendiri.