Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Kopi
Nayla kembali ke meja kerjanya dengan langkah sedikit tergesa. Meskipun berusaha terlihat tenang, sebenarnya jantungnya masih berdebar. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris, dan sekarang dia harus berhadapan langsung dengan Tristan Alrish, CEO yang selama ini hanya dikenalnya melalui berita dan berbagai artikel bisnis.
Di mata Nayla, Tristan memang memiliki aura yang berbeda dari kebanyakan orang yang pernah ditemuinya. Pria itu terlihat sangat berwibawa, tenang, dan karismatik. Cara berbicaranya singkat, tetapi setiap kalimat terdengar tegas. Bahkan ketika hanya berjalan melewati koridor, keberadaannya seolah membuat suasana di sekitarnya berubah.
Nayla merasa sedikit gugup. Namun di saat yang sama, dia juga merasa beruntung. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan bekerja langsung untuk seorang CEO perusahaan sebesar Nebula.
"Aku harus profesional," gumamnya kepada diri sendiri.
Nayla kemudian menuju pantry untuk membuat kopi. Dia masih mengingat penjelasan Zay mengenai kebiasaan Tristan. Pria itu tidak menyukai kopi yang terlalu manis, tetapi juga tidak menyukai rasa pahit yang berlebihan. Nayla berdiri di depan mesin kopi sambil berpikir cukup lama.
"Jangan terlalu pahit, jangan terlalu manis."
Dia mencoba membuat takaran yang menurutnya pas. Setelah selesai, Nayla mencicipinya sedikit.
"Sepertinya ini sudah cukup."
Dia kemudian mengambil cangkir tersebut dengan hati-hati. Sepanjang perjalanan menuju ruangan Tristan, Nayla terus mengingat pesan Zay mengenai atasannya.
Jangan terlambat. Jangan mengganggu ketika beliau sedang bekerja. Pastikan semua jadwal tercatat, dan yang paling penting, jangan membuat kesalahan.
Nayla menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu.
Tok! Tok!
"Masuk!"
Nayla membuka pintu perlahan. Tristan masih duduk di belakang meja kerjanya. Beberapa dokumen terbuka di hadapannya, sementara layar komputer menampilkan sejumlah laporan perusahaan.
"Kopinya, Pak."
Tristan tidak langsung menoleh. "Letakkan di meja!"
"Baik."
Nayla berjalan mendekati meja dengan hati-hati. Namun ketika tinggal beberapa langkah lagi, ujung sepatunya tanpa sengaja tersangkut bagian karpet yang sedikit terlipat.
Tubuh Nayla kehilangan keseimbangan. Cangkir yang dibawanya ikut miring.
"Ah!"
Kopi panas tumpah ke bagian depan kemejanya. Nayla refleks melepaskan cangkir tersebut.
Prang!
Cangkir pecah di lantai. Kopi berceceran di atas karpet. Nayla berdiri terpaku selama beberapa detik.
"Astaga..."
Dia buru-buru mundur karena bagian pakaiannya terasa panas. Wajahnya langsung pucat karena panik.
"Maaf, Pak! Saya—"
Tristan langsung berdiri. "Jangan bergerak dulu!"
Dia berjalan cepat menghampiri Nayla. "Kau terkena kopi panas?"
Nayla mengangguk gugup. "Sedikit, Pak."
Tristan memperhatikan wajah Nayla yang terlihat panik. Atensinya segera tertuju ke bagian tubuh Nayla yang terkena kopi. Jantungnya lagi-lagi berdegup kencang. Bagaimana tidak? Karena basah dan mungkin bahan baju yang murah, membuat bentuk belahan dada Nayla terlihat jelas. Dari sana Tristan juga bisa melihat warna bra Nayla.
Nayla buru-buru memegangi bagian dadanya. Dia tak sempat memikirkan rasa malu, karena dadanya terasa perih.
Wajah Tristan memerah padam. Dia mencoba bersikap normal.
"Pergi ke wastafel. Dinginkan bagian yang terkena kopi dengan air mengalir!"
Nayla mengangguk cepat. "Baik."
Dia bergegas menuju wastafel kecil yang tersedia di dalam ruangan. Tristan kemudian mengambil jas luarnya yang tergantung di kursi.
"Gunakan ini untuk menutupi pakaianmu sementara."
Nayla terkejut. "Pak, tidak perlu..."
"Gunakan saja!" Tristan memaksa. Karena dia tak mau terus melihat bagian pribadi Nayla terekspos di depan matanya. Nada Tristan terdengar tegas, sehingga Nayla akhirnya menerima jas tersebut.
"Terima kasih." Nayla segera menyampirkannya untuk menutupi bagian pakaian yang terkena kopi. Setelah memastikan tidak ada cedera serius, dia kembali mendekati Tristan dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya tidak sengaja."
Tristan melirik pecahan cangkir di lantai. "Cangkir bisa diganti."
"Tapi karpetnya..."
"Bisa dibersihkan."
Nayla terdiam. "Biar saya yang bersihkan ya, Pak. Saya akan ambil--"
"Tidak perlu! Kita punya cleaning service!" potong Tristan.
"Bapak tidak marah kan?" tanya Nayla ragu.
"Aku marah. Tapi aku malas membuang waktuku untuk itu. Keluarlah dan kembali bekerja!"
"Terus kopinya? Mau aku buatkan yang baru?"
"Nggak usah!"
Kalimat sederhana itu membuat Nayla sedikit terkejut. Dia lantas hanya bisa menundukkan kepala.
Tristan kembali ke mejanya. "Nanti minta staf kebersihan membersihkan ini!"
"Baik."
Nayla masih berdiri di tempatnya.
Tristan meliriknya. "Ada lagi?"
Nayla menggeleng cepat. "Tidak ada, Pak."
Dia kemudian berbalik hendak keluar.
"Nayla."
Nayla kembali menoleh.
"Ya?"
"Besok tidak perlu terburu-buru ketika membawa sesuatu. Kau lebih baik terlambat beberapa detik daripada menjatuhkan barang lagi!" ucap Tristan tegas.
Nayla kembali menundukkan kepala. "Baik, Pak."
Setelah Nayla keluar, Tristan kembali duduk. Pandangannya sempat tertuju pada pintu yang baru saja tertutup.
Dia mengembuskan napas. Sekretaris baru itu benar-benar membuatnya tidak karuan. Bahkan saat di hari pertama.
"Fokus, Tristan! Aku harus profesional. Jika dia semakin berbahaya, mungkin lebih baik aku pecat saja," gumam Tristan.
Tristan mengambil berkas di depannya, berusaha kembali berkonsentrasi. Namun beberapa saat kemudian, pikirannya kembali teringat pada kejadian tadi. Dia menggeleng.
"Fokus!"
Sementara itu, Nayla kembali ke meja sekretaris dengan wajah memerah karena malu. Dia meletakkan tasnya, kemudian memeriksa pakaiannya.
Untungnya, tidak ada luka serius. Hanya noda kopi yang cukup besar. Nayla menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Baru hari pertama sudah bikin masalah."
Dia membayangkan apa yang mungkin dipikirkan Tristan tentang dirinya. Pasti CEO itu menganggapnya ceroboh.
Nayla menghela napas panjang. "Aku harus lebih hati-hati."
Beberapa menit kemudian, Zay datang membawa beberapa dokumen.
"Nayla, ini—"
Zay berhenti ketika melihat jas Tristan berada di pundak Nayla.
"Apa yang terjadi?"
Nayla tersenyum kaku. "Saya menjatuhkan kopi."
Zay memandangnya, kemudian melihat ke arah ruangan Tristan.
"Jangan bilang kau menumpahkan kopi ke Pak Tristan?"
"Enggak!"
Nayla buru-buru menggeleng. "Kopinya tumpah ke saya sendiri."
Zay terlihat lega. "Syukurlah."
"Tapi cangkirnya pecah."
Zay menghela napas. "Tidak masalah. Pak Tristan tidak terlalu mempermasalahkan benda seperti itu."
Nayla mengangguk. "Beliau bahkan memberikan jasnya agar pakaian saya tidak terlalu terlihat berantakan."
Zay menatap jas tersebut sebentar. "Pak Tristan memang jarang marah, tapi ingat! Kalau dia marah, maka kesalahanmu sangat fatal."
Nayla mengangguk. "Saya akan lebih hati-hati."
Zay kemudian menyerahkan dokumen. "Kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu. Hari pertama memang biasanya terasa berat."
Setelah Zay pergi, Nayla kembali bekerja. Dia mulai memeriksa agenda Tristan untuk sore hari dan memastikan seluruh jadwal sudah tercatat. Nanti malam, dia harus mendampingi Tristan melakukan pertemuan dengan investor asing.
"Bagaimana aku pergi dengan pakaian begini?" keluh Nayla.