Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sreeet.
Pintu gerbang besi tua itu bergeser membuka perlahan menimbulkan suara derit yang sangat memekakkan telinga.
Mobil van hitam yang dikendarai Clara langsung masuk ke dalam bangunan garasi yang gelap dan berdebu tebal.
Brak.
Clara mematikan mesin mobil dan langsung menarik rem tangan kencang kencang.
"Kita sudah sampai di tempat aman, kalian bisa bernapas lega sekarang," ujar Clara sambil melepas sabuk pengamannya.
Bayu merosot pelan dari jok belakang dengan wajah meringis menahan sakit di sekujur punggungnya.
"Tempat apa ini? Rasanya bau debu dan oli bekas sangat menyengat di sini," keluh Bayu memegangi pinggangnya yang kaku.
"Ini bengkel milik temanku yang sedang pergi ke luar kota selama seminggu penuh," jawab Clara santai sambil menyalakan lampu gantung beruap kuning.
"Tidak ada orang yang akan mencarinya ke tempat terpencil seperti pinggiran kota ini."
Anya segera membuka pintu samping van dan turun membawa kotak P3K berukuran sedang.
Gadis berkacamata itu bergegas menghampiri Bayu lalu menarik lengan pemuda itu pelan pelan.
"Kemari duduklah di kursi kayu itu, biar aku periksa lagi luka sayatan di lenganmu," perintah Anya dengan nada suara yang galak namun penuh perhatian.
Bayu menuruti perkataan Anya dan duduk lemas di atas kursi kayu tua yang berderit pelan.
"Pelan pelan Nona Kacamata, dagingku rasanya mau copot gara gara melompat dari lantai empat puluh lima," gerutu Bayu sambil mendesis kesakitan.
"Makanya jangan suka bertindak bodoh seperti pahlawan kesiangan," omel Anya sambil meneteskan cairan antiseptik dingin ke atas luka Bayu.
Ssst.
"Aduh! Sumpah itu perih sekali seperti disiram air cabai," teriak Bayu menarik tangannya refleks.
"Diam atau aku tambah dua kali lipat perbannya," ancam Anya memelototkan matanya tajam.
Clara berjalan mendekati meja kerja berantakan di sudut ruangan sambil membawa sebuah laptop hitam miliknya.
Ia membuka layar laptop itu dan langsung mengetikkan serangkaian kode sandi dengan jari jarinya yang lentik.
Cl-clack.
Layar monitor kecil itu langsung menyala menampilkan peta digital wilayah perbatasan kota.
"Aku berhasil meretas ulang jalur komunikasi satelit yang dipakai oleh pasukan Kobra Mandiri tadi," kata Clara membuka pembicaraan serius.
Bayu yang sedang diobati langsung mengalihkan pandangannya ke arah layar laptop Clara.
"Apa yang kamu temukan di sana?" tanya Bayu penasaran.
"Sinyal GPS dari dokumen yang dibawa oleh Sang Penghapus Jejak ternyata masih aktif bergerak," jawab Clara menyipitkan matanya.
"Mereka sedang menuju ke landasan helikopter tua di bukit perbatasan utara."
Anya selesai melilitkan perban putih di lengan Bayu lalu ikut berdiri mendekati meja Clara.
"Bukit perbatasan utara? Bukankah daerah itu sangat sepi dan jauh dari permukiman warga?" tanya Anya mengerutkan keningnya heran.
"Tepat sekali, tempat itu sangat sempurna untuk melakukan pembunuhan atau penyergapan tanpa ada saksi mata," sahut Clara dingin.
Bayu mengepalkan kedua tangannya merasakan sisa sisa energi di dalam tubuhnya mulai pulih perlahan.
[Mode pendinginan tersisa 5 menit.]
"Waktu istirahatku tinggal sebentar lagi, kita harus segera bersiap berangkat ke sana," ucap Bayu bangkit berdiri dari kursi kayunya.
"Tunggu dulu cowok udik, jangan terburu buru masuk ke sarang macan," cegah Clara menghentikan langkah Bayu.
"Ada sesuatu yang sangat ganjil dari pergerakan sinyal GPS milik mereka."
Bayu menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan Clara yang mendadak serius.
"Ganjil bagaimana maksudmu?" tanya Bayu meminta penjelasan lebih lanjut.
"Kecepatan perpindahan sinyal itu terlalu konstan dan lambat untuk ukuran pelarian darurat," jawab Clara mengetuk ngetuk meja dengan jarinya.
"Seolah olah... mereka memang sengaja membiarkan kita melacak keberadaan mereka."
Anya menutup mulutnya karena terkejut mendengar analisis logis dari sang informan bawah tanah.
"Maksudmu itu adalah sebuah jebakan?" tanya Anya dengan suara bergetar pelan.
"100% itu pasti jebakan mematikan yang sudah disiapkan khusus untuk menyambut kedatangan Bayu," tegas Clara tanpa ragu sedikit pun.
Bayu terdiam sejenak mencerna informasi penting tersebut di dalam kepalanya.
"Kalau itu memang jebakan, kenapa mereka harus repot repot melakukannya?" batin Bayu merenung dalam diam.
"Karena mereka tahu kamu memiliki relik waktu yang sangat berbahaya bagi organisasi mereka," jawab Clara seolah bisa membaca pikiran Bayu.
"Mereka ingin memancingmu keluar ke tempat terbuka agar bisa melenyapkanmu sekali pukul."
Bayu tersenyum tipis mendengar penjelasan Clara yang terdengar masuk akal di telinganya.
"Baguslah kalau begitu, aku juga tidak perlu repot repot mencari keliling kota untuk menghabisi mereka," ucap Bayu dengan sorot mata penuh percaya diri.
"Kamu ini benar benar gila atau punya keinginan mati yang kuat ya," omel Anya memukul pelan bahu Bayu dengan gulungan perban sisa.