Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. 3 pilar yang runtuh
Langit di atas Ibukota Imperial tidak lagi menunjukkan warna biru. Awan kelabu yang menggantung rendah berputar membentuk pusaran raksasa tepat di atas Aula Harmoni Tertinggi, seolah-olah langit sendiri sedang menahan napas menyaksikan kedatangan seseorang yang akan mengubah sejarah.
Lin Xiu melangkah. Setiap sepatunya yang menginjak pualam putih memicu suara dentuman kecil yang bergema hingga ke sudut-sudut paling tersembunyi di istana. Dia tidak terburu-buru. Dia membawa berat masa lalu—tiga belas tahun duka, dendam yang dipendam dalam kesunyian, dan janji untuk menuntut keadilan bagi jiwa-jiwa yang tidak sempat tumbuh dewasa.
Pelataran ini adalah saksi bisu ribuan tahun sejarah, namun hari ini, pelataran ini akan menjadi saksi kehancuran otoritas tertingginya.
Saat Lin Xiu mencapai jarak seratus meter dari tangga agung, udara tiba-tiba memadat. Suhu turun drastis hingga embun membeku di udara. Tiga pilar cahaya—merah menyala, biru sedingin es, dan emas yang megah—turun dari langit, menghantam bumi dengan kekuatan yang membuat pondasi istana bergetar hebat.
Ketika cahaya itu memudar, muncullah tiga sosok. Mereka bukan manusia biasa. Mereka adalah **Tiga Tetua Langit**.
Tetua Tian, yang memegang tongkat perak, memiliki janggut putih yang panjangnya mencapai pinggang. Matanya berkilat dengan petir statis. "Lin Xiu," suaranya bukan sekadar suara, melainkan getaran frekuensi yang mampu meremukkan gendang telinga manusia biasa. "Kau telah berjalan melewati garis yang seharusnya tidak pernah kau sentuh."
Lin Xiu berhenti. Dia mendongak, matanya yang berwarna emas murni menatap ketiga monster tua itu seolah mereka hanyalah patung batu yang tak berharga.
"Kalian berbicara tentang garis?" Lin Xiu menjawab, suaranya tenang, namun mengandung beban ribuan ton yang menindas atmosfer di sekitar mereka. "Kalianlah yang menggambar garis itu di atas mayat orang-orang yang kucintai. Tiga belas tahun lalu, kalian duduk di kursi tinggi ini, menyesap teh, dan membiarkan perintah pembakaran panti asuhan itu ditandatangani. Bagi kalian, itu mungkin hanya administrasi. Bagiku, itu adalah akhir dunia."
"Itu adalah pengorbanan demi stabilitas negeri!" Tetua Di, sang pria berotot raksasa, meraung. Suaranya memicu gempa bumi lokal. "Satu panti asuhan kecil dibandingkan dengan kedaulatan kekaisaran? Kau bodoh, Lin Xiu!"
"Stabilitas?" Lin Xiu tertawa. Tawanya dingin, tajam, dan penuh dengan kepedihan yang mendalam. "Jika kedaulatan dibangun di atas darah orang yang tidak bersalah, maka kedaulatan itu sudah busuk sejak fondasi pertamanya. Hari ini, aku datang untuk mencabut pembusukan itu."
Tanpa peringatan, Tetua Xuan, si pria dengan pedang biru es, bergerak. Kecepatannya tidak masuk akal—dia melintasi seratus meter dalam sekejap mata. Bilah pedangnya, yang ditempa dari kristal abadi, mengiris ruang dan menciptakan celah dimensi yang menghisap energi di sekitarnya.
"Tamatlah riwayatmu!" teriak Tetua Xuan.
Namun, Lin Xiu tidak bergerak. Dia bahkan tidak menggeser kakinya sedikit pun. Ketika ujung pedang itu hampir menyentuh tenggorokannya, Lin Xiu hanya mengangkat jari telunjuknya.
*Ting!*
Sebuah dentingan kecil terdengar. Jari Lin Xiu menahan mata pedang yang mampu membelah gunung itu dengan mudah. Tidak ada getaran. Tidak ada percikan api. Hanya keheningan yang mutlak.
Wajah Tetua Xuan berubah pucat pasi. Dia mencoba mendorong pedangnya lebih dalam, namun energi pedangnya seolah diserap oleh lubang hitam di jari Lin Xiu. "Bagaimana mungkin...?! Kekuatan ini... ini bukan Ranah Dewa!"
"Ini adalah akhir dari kesombonganmu," jawab Lin Xiu.
Dengan sentikan jarinya, pedang kristal itu hancur menjadi debu. Kejutan energinya meledak balik, merambat melalui lengan Tetua Xuan, menghancurkan meridiannya satu per satu dengan presisi seorang dokter yang sedang membedah daging busuk.
"Aaaaaaakkkkkhhh!" Tetua Xuan terpelanting jauh, tubuhnya gemetar hebat sebelum akhirnya jatuh tak bernyawa di atas lantai pualam.
Tetua Tian dan Tetua Di terbelalak. Selama seratus tahun, mereka belum pernah melihat seseorang yang mampu menghancurkan salah satu dari mereka dengan satu sentikan jari.
"Bersama-sama!" teriak Tetua Tian.
Keduanya mengerahkan seluruh kekuatan mereka—energi petir yang menghanguskan dan energi bumi yang meremukkan. Langit di atas mereka mulai runtuh, menumpahkan beban energi yang cukup untuk memusnahkan satu kota besar. Lin Xiu berdiri di tengah-tengah kehancuran itu, tubuhnya mulai memancarkan cahaya keemasan yang menelan seluruh warna di dunia.
"Kalian menyebut diri kalian Tetua Langit?" Lin Xiu berbisik, namun suaranya terdengar seperti vonis dari takdir. "Bahkan langit pun akan berlutut di hadapanku."
Lin Xiu mengepalkan tangannya. Seluruh pusaran energi yang dikerahkan oleh kedua tetua itu mendadak berhenti di udara, tertahan oleh aura yang tidak kasat mata. Kemudian, dengan satu gerakan tangan yang anggun namun mematikan, Lin Xiu membalikkan telapak tangannya ke bawah.
*BOOOM!*
Tekanan gravitasi yang tak terbayangkan menimpa kedua tetua itu. Lantai pualam di bawah mereka pecah hingga ke inti tanah. Dalam hitungan detik, tubuh mereka dipaksa berlutut, tulang-tulang mereka berderit, lalu hancur di bawah beban aura Lin Xiu sendiri.
"Ini... ini adalah kekuasaan..." gumam Tetua Tian saat tubuhnya mulai luluh lantak menjadi debu.
Lin Xiu tidak melihat lagi ke arah mereka. Dia berjalan melewati sisa-sisa abu yang tertiup angin, menuju pintu raksasa Aula Harmoni Tertinggi. Tidak ada lagi rintangan. Tidak ada lagi yang berani menghalangi.
Di depan pintu emas yang megah itu, Lin Xiu berhenti sejenak. Dia menarik napas dalam, merasakan kalung giok di dalam sakunya yang bergetar hebat—seolah-olah kunci itu sudah tidak sabar untuk membuka kebenaran yang terkubur selama tiga belas tahun.
"Waktunya untuk mengakhiri sandiwara ini," bisik Lin Xiu.