⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.
Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.
Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.
Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.
Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.
Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.
Aiko dihadapkan pada pilihan.
bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4
"Kau baik-baik saja, Aiko?" Suara serak ayahnya, Hiroshi, memecah keheningan, membuat Aiko tersentak dan terpaksa membuka mata. Arwah ganjil itu sudah kembali mundur ke belakang Ren.
"A-aku tidak apa-apa, Ayah," jawab Aiko terbata-bata, wajahnya kini terlihat pucat dengan keringat dingin di dahinya.
Gerakan tubuh Aiko yang gemetar rupanya tidak luput dari pandangan tajam Ren Tachibana. Sejak awal memasuki ruangan, Ren sudah memperhatikan gerak-gerik putri tunggal Kurogawa ini. Di matanya, Aiko tampak sangat rapuh, ketakutan, dan tidak cocok berada di dunia bawah.
Ren mengira, gadis di hadapannya ini sedang ketakutan setengah mati karena mengetahui reputasinya sebagai "Serigala Putih" yang kejam dan tak kenal ampun. Tatapan mata Ren semakin dingin, menyiratkan rasa remeh sekaligus tidak peduli. Bagi Ren, ketakutan gadis ini justru menguntungkan, karena dengan begitu Aiko tidak akan berani mencampuri urusannya nanti.
"Senang bertemu denganmu, Nona Aiko," ucap Ren akhirnya, memecah kecanggungan dengan suara beratnya yang datar tanpa nada ramah sedikit pun.
Aiko perlahan mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam milik Ren. Untuk sesaat netra mereka saling berpandangan. Di depan matanya ada seorang pria hidup yang memancarkan aura kematian, sementara di belakang pria itu, kematian yang sesungguhnya sedang mengintai dengan penuh dendam.
Aiko menelan ludahnya dengan susah payah. Isyarat ibunya telah membawanya ke sini, tepat di hadapan monster yang dikelilingi oleh jeritan orang mati.
Keheningan kembali merayap di antara meja kayu besar itu setelah Ren menyelesaikan kalimat sapaannya yang dingin. Suasana di dalam ruangan terasa semakin berat, Hiroshi Kurogawa berdeham pelan, mencoba memecah ketegangan antar dua klan yang sebenarnya masih saling menaruh curiga.
"Mari kita langsung pada intinya, Tachibana," ucap Hiroshi, menyandarkan punggungnya yang ringkih ke sandaran kursi. "Aku tahu kau adalah pria yang sibuk, begitu juga denganku yang tidak memiliki banyak sisa waktu di dunia ini. Pernikahan ini akan mengikat Kurogawa-gumi dan Tachibana-gumi. Wilayah selatan Kyoto yang selama ini menjadi sengketa akan resmi kuserahkan ke bawah kendalimu sebagai hadiah pernikahan."
Ren tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik Daichi yang berdiri di belakangnya, yang langsung merespons dengan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat. Penawaran Hiroshi jelas sangat menggiurkan bagi klan kecil seperti Tachibana-gumi yang sedang merangkak naik. Wilayah selatan adalah jalur logistik strategis yang selama ini dikuasai ketat oleh klan besar.
"Sebuah penawaran yang terlalu murah hati untuk klan sebesar Kurogawa," sahut Ren, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tidak mencapai matanya. "Namun, aku tidak terbiasa menerima sesuatu secara cuma-cuma, Kumicho. Apa kompensasi yang kau inginkan dari klan kecilku?"
*Kumicho. (Panggilan untuk ketua sindikat kejahatan di jepang )*
Hiroshi menatap Ren dalam-dalam. Di dalam kepalanya, bayangan masa lalu saat ia ikut terlibat dalam kehancuran keluarga Tachibana kembali berputar. Rasa bersalah yang ia pendam bertahun-tahun kini mewujud dalam bentuk perlindungan untuk putri tunggalnya.
"Sederhana saja," jawab Hiroshi, suaranya mendadak berubah menjadi sangat serius. "Jaga Aiko. Pastikan tidak ada satu pun orang dari dunia bawah yang berani menyentuhnya atau menyakitinya. Jika suatu hari nanti ada badai besar yang menghantam dunia kita... posisikan dirimu sebagai perisai di depannya. Hanya itu yang kuminta."
Ren melirik ke arah Aiko yang sejak tadi kembali menundukkan kepala. Di mata Ren, permintaan Hiroshi terdengar seperti naluri protektif seorang ayah yang berlebihan. Ia tidak pernah menduga bahwa di balik permintaan itu, Hiroshi sedang memasang taruhan nyawa agar Ren tidak membalaskan dendam masa lalunya kepada Aiko kelak.
"Aku adalah pria yang selalu menghargai kesepakatan bisnis," kata Ren datar. "Selama faksi Kurogawa tidak mencampuri urusan internalku, keselamatan putrimu akan menjadi prioritasku setelah dia resmi menyandang nama Tachibana."
Aiko yang mendengar pembicaraan itu hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja. Mereka sedang membicarakan hidupnya seolah-olah dirinya adalah sebidang tanah atau komoditas bisnis yang bisa dipindahtangankan dengan selembar kertas kontrak. Yang membuat hatinya semakin gelisah adalah keberadaan makhluk-makhluk tak kasat mata di belakang Ren.
Arwah dengan wajah hancur itu kini merangkak di lantai, mendekati kaki Ren, lalu mendongak menatap Aiko dengan mata melotot. "Dia berbohong... tangan itu akan mencekikmu juga... darah... semua tempat ini akan dipenuhi darah..." ratap arwah itu berulang kali dengan suara yang menyayat hati.
Aiko memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan mengembuskannya perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia harus kuat. Ibunya memintanya masuk ke dunia ini pasti bukan tanpa alasan. Jika ia tumbang bahkan sebelum pernikahan dimulai, maka ia tidak akan pernah menemukan jawaban atas kutukan yang menyiksa garis keturunan keluarganya.
Setelah hampir satu jam pembicaraan formal yang kaku mengenai tanggal pernikahan dan urusan administratif klan selesai dibahas, Hiroshi tampak kelelahan. Batuk ringannya mulai kembali terdengar.
"Aiko," panggil Hiroshi pelan. "Antar calon suamimu keluar menuju halaman depan. Aku perlu beristirahat."
Aiko tersentak, namun ia segera menguasai dirinya. Ia berdiri dari bantal duduknya, merapikan lipatan kimono hitamnya dengan gerakan anggun yang terlatih sejak kecil. "Baik, Ayah."
Ren ikut berdiri, diikuti oleh Daichi. Pria bertubuh tinggi itu membungkuk hormat sekilas kepada Hiroshi sebelum melangkah mengikuti Aiko yang berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu geser ruang kerja.
Koridor kayu kediaman Kurogawa terasa sangat panjang dan sepi di sore hari. Hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang bergesekan pelan dengan lantai kayu. Aiko berjalan di depan, sementara Ren melangkah di belakangnya. Daichi sengaja berjalan agak jauh di belakang mereka, memberikan ruang pribadi bagi calon sepasang suami istri tersebut.
Hawa dingin yang dibawa oleh arwah-arwah yang mengikuti Ren masih terasa mengalir di sepanjang koridor, namun Aiko sudah mulai bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia fokus menatap lurus ke depan, mengabaikan bayangan hitam yang sesekali berkelebat di langit-langit kayu kuno rumahnya.
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk bersikap formal jika kau memang ketakutan," suara berat Ren tiba-tiba memecah kesunyian di koridor tersebut.
Langkah kaki Aiko terhenti secara refleks. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, mendongak untuk menatap wajah Ren yang jauh lebih tinggi darinya. "Apa maksudmu, Tuan Tachibana?"
Ren melangkah maju satu kali, memperkecil jarak di antara mereka. Ren menatap Aiko dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara.
"Sejak aku melangkah masuk ke rumah ini, tubuhmu tidak berhenti gemetar. Wajahmu pucat, dan kau bahkan tidak berani menatap mataku saat di ruang tamu tadi," ucap Ren dengan nada suara yang rendah namun menusuk. "Kurogawa-gumi mungkin klan terbesar di wilayah ini, tapi putri tunggalnya ternyata hanyalah seorang gadis rumahan yang rapuh. Jika kau berpikir pernikahan ini akan berjalan seperti dongeng romantis, sebaiknya kau bangun dari mimpimu sekarang juga."
Ren memajukan wajahnya sedikit, memberikan tatapan matanya yang tajam ke arah mata Aiko. "Tachibana-gumi adalah tempat yang keras. Aku tidak punya waktu untuk mengurus istri yang cengeng dan merepotkan. Jadi, jika kau merasa tidak sanggup, menangislah pada ayahmu sekarang dan mintalah dia membatalkan perjodohan ini."
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren