Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vonis Sang Kakek dan Kenyataan Pahit
Ruang kerja utama di lantai teratas gedung Salvatore Tower malam itu terasa begitu mencekam.
Ruangan yang luasnya hampir menyerupai aula itu didesain dengan penampilan maskulin yang kaku dan gelap.
Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni tua berwarna hitam legam, sementara lantai marmer impor dari Italia memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang sengaja diredupkan.
Di balik dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit, panorama gemerlap lampu malam kota Bogota terhampar luas.
Namun, kemegahan metropolitan itu sama sekali tidak mampu mengusir suasana dingin dan pekat yang melingkupi sang pemilik ruangan.
Elvano Lucane Salvatore duduk membeku di balik meja kerja marmer hitamnya.
Pria berusia tiga puluh tahun itu memiliki garis wajah yang terlampau sempurna namun sekaligus mengerikan untuk dipandang terlalu lama.
Hidungnya mancung tajam, alisnya tebal membingkai sepasang mata berwarna cokelat gelap yang memancarkan aura dingin yang mematikan.
Tubuh tegapnya yang berbalut setelan jas tiga potong buatan penjahit terbaik London bersandar kaku pada kursi kulit mahalnya.
Di atas meja, tepat di bawah sorot lampu meja yang minim, tergeletak selembar kertas putih berlogo rumah sakit internasional paling eksklusif di Bogota.
Dokumen medis itu baru saja diantar oleh dokter pribadi keluarga beberapa menit yang lalu.
Mata gelap Elvano menatap tajam satu titik yang tercetak tebal di bagian kesimpulan analitik kertas tersebut.
Oligoozoospermia Ekstrem (Probabilitas Fertilitas: <0,01%).
Mandul.
Kata itu menggema di dalam kepala Elvano bagai lonceng kematian.
Untuk seorang pria biasa, diagnosis itu mungkin hanya sebuah pukulan emosional.
Namun bagi Elvano, kata itu adalah sebuah aib, cacat fatal yang bisa meruntuhkan seluruh kerajaan yang telah dibangunnya dengan darah dan air mata.
Di mata dunia luar, Elvano adalah seorang CEO muda genius yang menguasai berbagai bisnis legal mulai dari properti hingga jaringan klub malam papan atas di Kolombia.
Namun di balik kedok formal itu, ia adalah sang 'Bos Besar'.
Pemimpin tertinggi dari bisnis gelap klan mafia Salvatore yang mengontrol perputaran uang bawah tanah di seantero ibu kota.
Bagaimana mungkin seorang bos mafia yang ditakuti, yang sanggup melenyapkan nyawa musuhnya tanpa mengedipkan mata, ternyata dikhianati oleh sistem reproduksi tubuhnya sendiri?
Tangan Elvano yang besar dengan urat-urat yang menonjol perlahan meremas kertas dokumen tersebut hingga membentuk gumpalan tak beraturan.
Rahangnya mengeras, bergelatuk menahan amarah yang mendidih di dalam dadanya.
Ia merasa harga dirinya sebagai seorang pria sejati telah diinjak-injak oleh takdir.
Selama ini, ia kerap melampiaskan hasrat biologisnya dengan bermain banyak wanita cantik di ruang VIP klub malam miliknya, bertingkah arogan seolah dunia berada di bawah kendalinya.
Namun lembaran kertas ini baru saja menamparnya dengan kenyataan pahit bahwa ia tidak lebih dari sebuah pohon besar yang mandul dan tak akan pernah berbuah.
Sebelum Elvano sempat mencerna emosi di kepalanya, ponsel khusus yang tergeletak di atas meja bergetar hebat.
Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama tunggal yang seketika membuat suasana ruangan yang sudah dingin menjadi semakin mencekam.
Grandfather.
Elvano mematangkan tatapannya sejenak sebelum menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Ia tidak bersuara, menunggu sang penelepon memulai.
"Aku sudah menerima salinan hasil tes medismu dari dokter keluarga, Elvano," suara bariton yang berat, parau, namun penuh akan perintah langsung terdengar dari seberang saluran.
Itu adalah suara Domenico Salvatore, kakek Elvano sekaligus pemimpin tertinggi klan Salvatore yang saat ini menetap di kediaman utama mereka di Sisilia.
Elvano mengepalkan tangan kirinya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dokter mengatakan itu adalah kondisi genetik yang langka, Kek. Saya sedang mencari alternatif pengobatan terbaik di Jerman—"
"Aku tidak butuh alasan medis!" potong Domenico dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.
"Klan Salvatore tidak dibangun di atas ruang laboratorium atau obat-obatan kimia! Kekuasaan kita di Asia, seluruh aset legal dan ilegal yang saat ini berada di tanganmu, membutuhkan garis keturunan yang sah untuk mempertahankannya. Musuh-musuh kita di Bogota dan Singapura sudah mulai mencium bahwa kau tidak memiliki pewaris. Seorang pemimpin tanpa keturunan adalah pemimpin yang lemah, Elvano. Kau hanya menjadi target empuk yang menunggu waktu untuk digulingkan!"
"Saya bisa mengendalikan bisnis ini bahkan tanpa perlu seorang anak, Kek. Tidak ada satu pun tikus di Bogota yang berani menyentuh takhta saya," balas Elvano, suaranya merendah, penuh dengan ancaman berbahaya yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi lawan.
Domenico justru terkekeh sinis di seberang telepon. "Jangan biarkan keangkuhanmu membutakan logikamu, Elvano. Aturan keluarga kita sudah mengikat sejak ratusan tahun lalu. Tanpa pewaris darah daging Salvatore langsung darimu, kau tidak punya hak atas takhta tertinggi bisnis ini."
Suara di seberang telepon mendadak berhenti sejenak, memberikan jeda yang menegangkan sebelum Domenico menjatuhkan vonisnya yang paling kejam.
"Dengar baik-baik, Elvano. Aku memberimu waktu tepat satu tahun dari sekarang. Kau harus segera menikah dengan wanita pilihanmu, atau pilihan keluarga, dan wanita itu harus mengandung cicitku. Berikan aku seorang pewaris klan Salvatore!"
"Kek, Anda tahu sendiri hasil tes medis saya—"
"Aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya!" bentak Domenico, suaranya menggelegar memotong kalimat Elvano.
"Gunakan teknologi, cari wanita subur mana pun di dunia ini, atau lakukan mukjizat sekalipun! Jika dalam waktu dua belas bulan dari sekarang tidak ada bayi laki-laki berdarah Salvatore yang lahir dari rahim istrimu, aku sendiri yang akan turun tangan. Aku akan mencabut seluruh kekuasaanmu di Bogota, mengasingkanmu, dan mengalihkan seluruh takhta bisnis serta kerajaan mafia ini kepada sepupumu, Matteo!"
Klik.
Sambungan telepon diputus secara sepihak dari Sisilia.
Ruangan kembali hening, namun keheningan itu kini terasa mencekam bagai sebelum badai besar meruntuhkan bumi.
Elvano menurunkan ponselnya dengan gerakan lambat.
Ancaman sang kakek bukan sekadar gertakan sambal.
Matteo, sepupunya yang licik dan haus darah, sudah lama mengincar posisinya sebagai penguasa Bogota.
Jika takhta itu jatuh ke tangan Matteo, tidak hanya bisnis mereka yang akan hancur, tetapi nyawa Elvano sendiri pun akan berada di ujung tanduk.
Mafia tidak pernah membiarkan mantan penguasa hidup dengan tenang.
Frustrasi, amarah, dan rasa tidak berdaya yang amat sangat berbaur menjadi satu, menghantam dada tegap Elvano.
Ia melirik gelas kristal berisi cairan wiski amber yang belum sempat ia sentuh di sudut meja.
Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, Elvano menyambar gelas tersebut dan melemparnya sekuat tenaga ke arah dinding mahoni di depannya.
PRANG!
Gelas kristal itu hancur berkeping-keping. Serpihan kacanya terlontar ke segala arah, sementara cairan wiski mahal itu mengalir turun membasahi dinding kayu yang gelap, tampak menyerupai tetesan darah yang pekat di bawah temaram lampu.
Elvano berdiri dari kursinya, napasnya memburu kasar.
Ia berjalan mendekati dinding kaca besar, menatap tajam ke luar, ke arah bentangan gedung-gedung pencakar langit Bogota yang seolah berada di bawah telapak kakinya.
Di luar sana, ia adalah raja yang tak tertandingi. Namun di dalam ruangan ini, ia hanyalah seorang pria yang terpojok oleh takdirnya sendiri.
Bagaimana mungkin ia bisa memberikan seorang anak dalam waktu satu tahun jika tubuhnya sendiri divonis mandul?
Menikah dengan wanita mana pun hanya akan berujung pada kegagalan yang memalukan saat wanita itu tak kunjung hamil.
"Sialan!" umpat Elvano dengan suara rendah yang bergetar penuh dendam.
Ia mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana, memandangi pantulan dirinya sendiri di kaca.
Matanya memancarkan kegelapan yang semakin pekat.
Tuntutan kekuasaan kini mendesak lehernya seperti tali gantungan yang perlahan mengetat.
Elvano tahu, ia harus menemukan cara, atau ia akan kehilangan segalanya.
Namun di tengah kegelapan yang mengurung pikirannya malam itu, ia belum menyadari bahwa takdir telah mempersiapkan sebuah jawaban tak terduga..