NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 (Antara logika dan air mata)

Kevin mengembuskan napas panjang, meletakkan ponsel privatnya di atas meja kerja kayu dengan ketukan yang bergaung pelan di keheningan ruangannya. Jam dinding di apartemen pribadinya telah menunjuk pukul dua lewat lima belas menit dini hari. Di seberang meja, Marvel yang malam itu memilih menginap di apartement Kevin, karena merasa terlalu lelah untuk pulang, tampak masih terjaga dengan segelas kopi hitam di tangannya. Ia menatap Kevin dengan kening berkerut dalam, menyadari ada perubahan atmosfer yang drastis setelah panggilan telepon dari Mike baru saja terputus.

"Ada apa, Kev? Kenapa wajahmu mendadak tegang begitu setelah ditelepon Mike?" tanya Marvel, menurunkan gelas kopinya.

Kevin memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. "Mike baru saja memerintahkan untuk membatalkan kehadiran Alisha di acara wisuda dua bulan nanti. Dia ingin aku mengurus proses kelulusan Alisha secara privat di rumah, tanpa perlu datang ke gedung aula universitas."

"Apa?!" Marvel seketika menegakkan punggungnya, matanya membelalak tidak percaya. "Dia gila? Kev, wisuda itu adalah momen sekali seumur hidup untuk mahasiswi seperti Alisha. Dia sudah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah kehamilan mudanya, dan sekarang Mike mau merampas hari bahagianya begitu saja?"

"Kakek Surya baru saja bermimpi buruk, Vel. Sebuah firasat yang sama persis seperti malam kecelakaan mendiang ayah Mike sepuluh tahun lalu," ungkap Kevin dengan suara yang merendah, sarat akan keseriusan. "Ditambah dengan laporan pergerakan Rendy yang kembali ke Jakarta, Mike tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun di area publik yang terbuka seperti aula kampus."

Marvel terdiam sejenak, memahami ketakutan dan trauma masa lalu yang membayangi keluarga Raharja. Namun, sebagai seorang pria yang lebih dinamis, Marvel menggelengkan kepalanya tanda keberatan dengan keputusan sepihak sahabatnya itu.

"Aku tahu Mike trauma, aku tahu Rendy berbahaya, tapi mengurung Alisha di dalam sangkar emas terus-menerus juga bukan jawaban, Kev," protes Marvel dengan nada tegas. "Alisha itu manusia, dia punya perasaan. Menghilangkan momen wisudanya justru akan membuat psikologisnya tertekan, dan itu tidak baik untuk kehamilannya."

Marvel memajukan tubuhnya, menatap Kevin lekat-lekat. "Aku punya ide yang lebih baik. Kenapa kita tidak memperbanyak penjagaan saja saat wisuda nanti? Kita sewa satu barisan pengawal elite tambahan untuk menyamar sebagai tamu dan staf keamanan kampus. Lagipula, hari itu Mike juga pasti akan datang mendampingi Alisha secara langsung, bukan? Siapa yang berani menyentuh Nyonya Raharja jika sang tirani sendiri berdiri di sampingnya dengan pengawalan berlapis?"

Kevin terdiam, menimbang ide dari Marvel. Secara logika taktis, ide Marvel sangat masuk akal. Mengamankan area publik memang sulit, namun bukan hal yang mustahil bagi kekuatan finansial dan jaringan yang dimiliki Raharja Group. "Ide yang bagus, Vel. Tapi masalahnya... meyakinkan Mike untuk mengubah keputusannya saat dia sedang dalam mode protektif ekstrem adalah hal yang hampir mustahil."

"Kita lihat saja besok pagi," gumam Marvel, menatap sisa kopi hitamnya dengan pandangan yang ikut menegang. "Mike mungkin bisa mengabaikan logika kita, tapi dia tidak akan pernah bisa mengabaikan air mata istrinya."

Esok paginya di kediaman utama Menteng, sinar matahari yang cerah menyiram ruang makan dengan kehangatan yang kontras dengan ketegangan tersembunyi. Mike sudah duduk rapi dengan kemeja kerjanya, sementara Alisha baru saja selesai menyendokkan bubur ayam hangat ke mangkuk suaminya. Pagi ini, rasa mual Alisha sedikit berkurang, membuat wajah cantiknya tampak lebih segar.

Mike menatap Alisha yang sedang duduk di sampingnya, lalu meraih jemari lentik istrinya di atas meja. Tatapan mata elang Mike yang biasanya dingin, kini memancarkan kegelisahan yang amat halus.

"Alisha," panggil Mike lembut, suaranya bariton dan terdengar begitu berhati-hati.

"Iya, Mike? Ada apa?" Alisha menoleh, memberikan senyuman manisnya yang jernih.

"Bagaimana... bagaimana perasaanmu jika seandainya kamu tidak perlu datang ke acara wisuda di aula kampus nanti?" tanya Mike, meneliti setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya. "Aku bisa meminta Kevin mengatur agar rektor dan jajaran dekanat datang ke rumah ini untuk menyerahkan ijazah dan pemindahan tali togamu secara privat di sini, bersamaku dan Kakek Surya."

Mendengar pertanyaan itu, senyuman di bibir Alisha seketika membeku. Sendok di tangannya perlahan diletakkan kembali ke atas tatakan. Matanya yang jernih menatap Mike dengan pancaran rasa tidak percaya yang bercampur dengan kekecewaan yang mendalam.

"Kenapa, Mike?" bisik Alisha, suaranya mendadak berubah menjadi lirih. "Kenapa aku tidak boleh datang ke wisudaku sendiri?"

Mike mempererat genggaman tangannya, mencoba memberikan pemahaman tanpa ingin membuat istrinya panik tentang ancaman Rendy. "Situasi di luar saat ini sedang tidak menentu setelah kasus Paman Hardi, Sayang. Aula universitas adalah tempat yang terlalu terbuka untuk umum. Aku hanya ingin memastikan keselamatanmu dan calon anak kita. Di rumah ini, semuanya jauh lebih aman."

Air mata yang sejak tadi ditahan Alisha akhirnya menetes juga di pipinya. Ia menarik tangannya dari genggaman Mike, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya bergetar pelan, memperlihatkan rasa sedih yang amat luar biasa.

"Mike... kamu tahu seberapa keras aku berjuang untuk sampai di titik ini?" ucap Alisha di sela-sela tangisnya, suaranya terdengar begitu parau dan menyayat hati. "Empat tahun aku belajar, begadang setiap malam, melewati masa-masa sulit saat Ibu sakit, dan terakhir berjuang menyelesaikan skripsi ini di tengah rasa mual kehamilanku. Impian terbesar dari setiap mahasiswi biasa sepertiku adalah bisa berdiri di atas panggung itu, dipanggil namanya di depan teman-teman, dan memakai toga bersama sahabat-sahabatku."

Alisha mendongak, menatap mata Mike dengan pandangan yang dipenuhi air mata kebahagiaan yang kini berubah menjadi air mata kesedihan. "Aku tahu kamu ingin melindungiku, aku tahu duniamu penuh dengan bahaya. Tapi jika untuk menjadi Nyonya Raharja aku harus kehilangan seluruh momen berharga dan impian masa mudaku, lalu apa bedanya aku dengan tawanan di dalam sangkar emas yang indah ini, Mike?"

Kalimat terakhir Alisha bagaikan sebuah hantaman telak yang meremukkan dada bidang Mike Raharja. Pria yang tak pernah gentar menghadapi ancaman pembunuhan atau kebangkrutan bisnis itu seketika merasa dunianya runtuh hanya karena melihat air mata dan mendengar kepedihan dari bibir istrinya.

Melihat Alisha yang menangis terisak, Mike tidak tahan lagi. Ia langsung bangkit dari kursinya, berlutut di samping kursi Alisha, lalu menarik tubuh ramping istrinya masuk ke dalam pelukan hangatnya. Ia mendekap Alisha dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alisha yang hangat sembari membisikkan kata-kata maaf berkali-kali.

"Maafkan aku, Alisha... Maafkan aku," bisik Mike dengan nada suara yang bergetar hebat, melepaskan seluruh keangkuhan tiraninya di depan sang ratu. "Jangan menangis, Sayang. Air matamu adalah satu-satunya kelemahanku yang tidak akan pernah bisa kuhadapi."

Alisha menyembunyikan wajahnya di dada bidang Mike, menumpahkan seluruh rasa sedihnya di sana. Di tengah ruang makan Menteng yang sunyi pagi itu, Mike Raharja menyadari satu kebenaran baru. Ia mungkin bisa membangun benteng perlindungan setinggi langit di sekitar istrinya, namun jika benteng itu justru meremukkan jiwa dan impian wanita yang dicintainya, maka ia telah gagal menjadi seorang suami yang sesungguhnya. Konflik antara logika perlindungan ekstrem dan kebahagiaan tulus sang istri kini telah resmi dimulai di dalam hati sang tirani korporat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!