Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Balik Tirai
"Cukup! Sempurna sekali, Glen, Melanie!" suara tepuk tangan Bu Sofia memecah keheningan yang sempat mencekam seisi ruangan. "Lihat semuanya? Itu yang dinamakan dinamika panggung. Ketegangan yang kalian bangun terasa sampai ke kursi belakang. Luar biasa."
Begitu instruksi selesai, cengkeraman tangan Glen di pergelangan tangan Melanie terlepas. Pria itu mundur satu langkah, kembali menegakkan tubuhnya yang tinggi dengan gerakan yang teramat tenang. Dalam sekejap mata, binar kebencian yang berkobar di matanya meredup, digantikan oleh ekspresi datar nan dingin yang biasa ia tunjukkan di koridor kampus. Seolah-olah badai emosi yang baru saja terjadi di atas panggung hanyalah seutas benang yang dengan mudah ia putus.
Namun tidak bagi Melanie.
Melanie masih berdiri terpaku di tempatnya, memegangi pergelangan tangannya yang terasa agak hangat bekas sentuhan Glen. Jantungnya berdegup begitu kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Ia menatap Glen dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena syok. Detik itu juga, ia tahu sangat tahu bahwa apa yang menjalar dari tatapan Glen tadi sama sekali bukan sekadar akting yang dipelajari dari buku-buku tebal sastra. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap di sana.
"Kalian berdua boleh kembali ke tempat," kata Bu Sofia sembari mencatat sesuatu di papan nilainya.
Glen membungkuk hormat sekilas kepada dosen teater itu, lalu berbalik tanpa memandang Melanie lagi. Ia berjalan menuruni panggung dengan langkah mantap, menghampiri Thone yang sudah menatapnya dengan mulut setengah terbuka karena kagum.
Melanie menarik napas pendek, mencoba menstabilkan kakinya yang terasa lemas saat melangkah turun dari panggung. Begitu ia kembali duduk di sebelah Diandra, sahabatnya itu langsung menyambar lengannya dengan heboh, meski suaranya tetap dijaga agar tidak mengganggu jalannya kelas.
"Mel! Ya ampun, kamu hebat banget!" bisik Diandra dengan mata berbinar-binar. "Tadi itu gila sih, aku sampai merinding lihat tatapannya Kak Glen ke kamu. Dia seperti mau memakanmu hidup-hidup! Kamu kok bisa tidak pingsan ditatap sedekat itu sama cowok tertampan di Airrawan?"
Melanie hanya memaksakan sebuah senyuman tipis, matanya menatap lurus ke arah lantai kayu. "Aku... aku hanya kaget saja, Di. Tidak menyangka dia bakal sedalam itu memainkan perannya."
"Tapi jujur ya, aura Kak Glen tadi menakutkan sekali," tambah Diandra, bulu kuduknya tampak meremang mengingat adegan tadi.
"Beruntung itu cuma tuntutan naskah cerita Mawar Pilihan Mama. Kalau di dunia nyata ada cowok menatapku seperti itu, aku pasti langsung kabur pulang ke rumah."
Tuntutan naskah... Kalimat Diandra terus berputar di kepala Melanie seperti kaset rusak selama sisa jam kuliah berlangsung. Melanie mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya terlalu sensitif. Glen tidak mengenalku. Kami baru bertemu kemarin di perpustakaan. Bagaimana mungkin dia membenciku? batinnya berusaha mencari logika rasional. Namun, rasa sesak yang tertinggal di dadanya menolak untuk pergi.
Ketika bel berbunyi menandakan jam kuliah gabungan itu berakhir, ruangan teater langsung riuh oleh suara geseran kursi dan obrolan mahasiswa yang bersiap pulang atau pindah ke kelas lain. Melanie bergerak cepat merapikan barang-barangnya ke dalam tas. Ia ingin segera keluar dari ruangan ini, menjauh dari atmosfer menyesakkan yang melibatkan pria bernama Glen itu.
"Di, kamu duluan ke kantin ya? Aku mau ke toilet sebentar, mau cuci muka," ujar Melanie pada Diandra yang masih sibuk memoles lipstik di depan cermin kecilnya.
"Oh, oke. Jangan lama-lama ya, Mel. Aku tunggu di meja dekat pohon beringin biasa," sahut Diandra tanpa curiga.
Melanie mengangguk, lalu melangkah keluar dari ruang teater. Namun, alih-alih pergi ke toilet umum yang ramai di lantai satu, ia memilih berjalan ke arah koridor belakang gedung teater yang buntu, tempat yang biasanya sepi karena hanya digunakan sebagai ruang penyimpanan properti rusak. Ia hanya butuh waktu beberapa menit untuk menyendiri dan menghirup udara segar tanpa harus berpura-pura ceria di depan orang lain.
Lorong belakang itu tampak temaram, hanya diterangi oleh cahaya matahari siang yang mengintip dari celah ventilasi atas. Melanie menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, memejamkan mata perlahan sembari mengembuskan napas panjang.
"Apakah panggungnya belum cukup luas untukmu, Nona Melanie?"
Sebuah suara berintonasi berat dan tenang memecah kesunyian koridor buntu itu.
Melanie tersentak dan langsung membuka matanya. Di ujung lorong, bersandar pada sebuah lemari kayu tua yang tak terpakai, berdiri Glen. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Melanie dengan senyuman tipis yang sangat familier senyuman misterius dari buku dongeng yang ia tunjukkan di perpustakaan kemarin.
"K-kamu..." Melanie melangkah mundur satu langkah, punggungnya merapat pada permukaan dinding yang dingin. "Sejak kapan kamu di sini?"
Glen tidak menjawab pertanyaan itu. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan mendekati Melanie. Setiap ketukan sepatu Glen di atas lantai semen koridor terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sesuatu yang berbahaya.
"Aktingmu tadi cukup bagus untuk ukuran seseorang yang tidak menyukai perannya," ujar Glen, suaranya bergema lembut namun tajam di lorong yang sempit itu. "Aira adalah gadis yang malang. Dia mengira dunia ini penuh dengan mawar yang indah, tanpa menyadari bahwa tanah tempatnya berpijak sudah dipenuhi oleh racun."
Melanie memberanikan diri, menatap lurus ke dalam sepasang manik hitam pria di hadapannya. Rasa penasaran dan ketakutannya kini bercampur menjadi satu keberanian yang nekat. "Glen, tatapanmu di panggung tadi... itu bukan tentang Danuel dan Aira, kan?"
Glen menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Melanie. Ia sedikit memiringkan kepalanya, menatap Melanie seolah wanita itu adalah teka-teki yang sangat mudah ia pecahkan. "Lalu menurutmu, itu tentang apa?"
"Kamu membenciku," cetus Melanie langsung, suaranya bergetar namun tegas. "Aku tidak tahu apa salahku padamu, tapi caramu menatapku tadi... kamu benar-benar membenciku di dunia nyata. Kenapa?"
Mendengar pertanyaan frontal dari Melanie, senyuman tipis di bibir Glen mendadak lenyap. Ekspresinya berubah menjadi sedingin es, dan garis rahangnya mengeras seketika. Untuk beberapa detik, keheningan di antara mereka terasa begitu mencekam hingga suara bising dari koridor utama kampus sama sekali tidak terdengar.
Glen maju satu langkah lagi, memangkas jarak hingga ia bisa mencium aroma parfum melati yang lembut dari tubuh Melanie. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke sisi kepala Melanie, berbisik dengan nada suara yang begitu rendah, dingin, dan bebas dari gaya bahasa teatrikal dongengnya, sebuah suara asli yang penuh dengan dendam yang tertahan lama.
"Kamu pintar, Melanie. Lebih pintar dari yang kukira," bisik Glen, membuat bulu kuduk Melanie meremang hebat. "Anggap saja ini adalah awal dari sebuah cerita fiksi yang panjang. Di mana sang pangeran tidak datang untuk menyelamatkan sang putri... melainkan untuk memastikan bahwa istananya runtuh tanpa menyisakan satu batu pun."
Sebelum Melanie sempat mencerna atau membalas kalimat mengerikan itu, Glen sudah menarik dirinya menjauh. Ia berbalik dengan jubah hitam tasnya yang tersampir di bahu, berjalan meninggalkan koridor belakang tanpa menoleh lagi.
Melanie perlahan merosot, bersandar pada dinding dingin koridor sembari mendekap dadanya yang bergemuruh hebat. Di bawah temaramnya cahaya lorong belakang kampus, ia akhirnya menyadari satu hal: Glen bukan sedang bermain peran dari buku yang dibacanya. Pria itu sedang menuliskan sebuah takdir kehancuran untuk hidup Melanie, dan Melanie sama sekali tidak tahu dari mana semua kebencian itu bermula.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...