NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8.Bahagia diatas kesusahan korban keusilan.

Sore itu, suasana di ruang makan vila terasa tenang dan damai. Cahaya matahari yang mulai meredup masuk melalui celah jendela, menyinari meja makan yang sudah terhidang dengan makanan sederhana namun lezat. Ivy duduk dengan santai, sesekali mengaduk sup di piringnya, namun tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan tangan, lalu tak lama kemudian melepaskan tawa yang terdengar lepas dan berderai. Tawanya bergema di ruangan itu, membuat Bibi Nora yang sedang menyajikan minuman menoleh dengan wajah penuh kebingungan.

Bibi Nora meletakkan teko airnya, lalu duduk di hadapan Ivy sambil mengamati ekspresi wajah gadis itu. “Ada apa ini, non Ivy? Kenapa tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sendirian? Apakah ada hal lucu yang terlintas saat keluar?” tanyanya dengan nada penasaran, sedikit khawatir jangan-jangan rasa sakit di kepala Ivy kembali muncul dan memengaruhi pikirannya.

Ivy masih menahan sisa tawanya, bahunya sesekali bergetar, lalu ia menggeleng cepat sambil mengusap sudut matanya yang sedikit basah karena tertawa. “Tidak ada apa-apa, Bi. Benar-benar tidak ada yang khusus,” jawabnya singkat, namun senyum liciknya belum sepenuhnya hilang dari bibirnya. Ia tidak ingin menceritakan apa yang baru saja ia lakukan pagi tadi, takut Bibi Nora akan mengomelinya karena berani mempermainkan orang asing yang mungkin memiliki kekuasaan besar.

Melihat jawaban Ivy yang tidak jelas, Bibi Nora tidak memaksanya untuk bercerita lebih lanjut. Ia hanya mengangguk pelan, lalu melanjutkan percakapan pada hal lain. “Ngomong-ngomong, hari ini kau tidak turun ke desa seperti biasanya. Apakah tubuhmu masih terasa pegal dan butuh istirahat lebih lama?” tanyanya dengan nada lembut yang penuh perhatian.

Ivy mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. “Memang masih terasa sedikit kaku, Bi. Jadi aku memutuskan untuk beristirahat hari ini saja. Tapi besok pagi aku pasti akan pergi ke sana lagi. Besok adalah jadwal rutin mengajari anak-anak desa membaca, menulis, dan berhitung. Mereka sudah menunggu, dan aku tidak ingin mengecewakan mereka,” jawabnya dengan nada antusias, matanya kembali bersinar membayangkan tawa dan keceriaan anak-anak desa itu.

Di tempat yang sangat berbeda, suasana terasa sangat gelap, dingin, dan menyesakkan. Matahari sudah terbenam sepenuhnya, meninggalkan langit yang hanya diterangi remang-remang cahaya bintang yang tertutup rimbunnya dedaunan pohon hutan. Rama Cahya dan Larry masih terus berjalan menyusuri jalan setapak yang semakin sempit dan tidak teratur, terperosok ke dalam tanah becek, serta melewati semak belukar yang menggores kulit dan pakaian mereka.

Kedua pria yang biasanya selalu tampil rapi, bersih, dan wangi itu kini terlihat sangat berantakan. Jas mahal mereka penuh lumpur, sepatu kulit yang mengkilap kini kotor dan terkelupas, serta keringat dingin membasahi seluruh tubuh mereka yang kelelahan. Rama berhenti melangkah, lalu memegang lututnya yang terasa nyeri karena terus berjalan tanpa henti selama berjam-jam. Ia menarik napas panjang dan berat, dadanya naik turun dengan cepat.

Dengan suara yang terdengar parau dan penuh curiga, ia menoleh ke arah Larry yang juga terlihat sangat lelah. “Larry… coba kau pikir baik-baik. Apakah kita benar-benar tersesat begitu saja, atau justru kita dipermainkan oleh gadis yang kita temui tadi pagi?” tanyanya perlahan, namun nada bicaranya sudah terasa dingin dan mengancam.

Larry tertegun, wajahnya langsung memucat. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum canggung sambil menelan ludah. Tubuhnya sedikit gemetar merasakan amarah yang mulai meledak dari tuannya. “Sepertinya… sepertinya benar begitu, Tuan. Kita mungkin telah ditipu olehnya,” jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Mendengar pengakuan itu, kesabaran Rama yang sudah menipis seketika habis. Amarahnya meluap seperti air bendungan yang jebol. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mendekat dan mengayunkan kakinya, menendang pantat Larry hingga pria itu terhuyung ke depan dan jatuh tercebur masuk ke dalam aliran sungai kecil yang airnya tidak terlalu dalam namun cukup dingin.

Byuur...

“Dasar bodoh!” bentak Rama dengan suara menggelegar di tengah keheningan hutan. Ia berdiri tegak, kedua tangannya diletakkan di pinggang, matanya melotot tajam menatap Larry yang terendam air hingga ke pinggang. “Hanya karena ucapan gadis kampung yang terlihat polos, kau langsung percaya dan menuntunku masuk ke dalam hutan ini? Aku juga tidak kalah bodohnya karena mau mengikuti saja tanpa berpikir logis. Lihat keadaan kita sekarang! Sudah berjam-jam berjalan tapi tidak menemukan tanda-tanda pemukiman apa pun!”

Larry segera bangkit dengan tergesa-gesa, tubuhnya basah kuyup dan menggigil kedinginan. Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap wajah tuannya. “Maafkan saya, Tuan. Saya salah. Saya tidak menyangka dia akan berani membohongi kita,” jawabnya dengan nada penuh penyesalan dan ketakutan.

“Sudah cukup! Jangan banyak alasan lagi!” potong Rama dengan tegas. “Segera naik dan kita segera keluar dari hutan ini. Kita harus berbalik arah dan mencari jalan atau tempat untuk berteduh malam ini. Jika kita terus berjalan ke depan, kita hanya akan semakin tersesat dan bisa terjebak semalaman di sini.”

Mereka pun segera berbalik arah, melangkah dengan langkah yang lebih hati-hati dan lebih lambat. Kali ini Rama berjalan di depan, mengandalkan instingnya untuk mencari jalan yang lebih terbuka. Perjalanan pulang itu terasa lebih berat dan melelahkan karena tubuh mereka sudah kehabisan tenaga, ditambah rasa dingin yang mulai merayap masuk ke dalam tulang.

Setelah berjalan hampir dua jam lagi, akhirnya mereka melihat cahaya remang-remang dari kejauhan. Semakin dekat mereka melangkah, suara gonggongan anjing dan cahaya lampu minyak mulai terlihat jelas. Hati mereka yang sudah hampir putus asa seketika terasa lega. Akhirnya, mereka tiba di tepi sebuah pemukiman yang sepi namun teratur—itulah Desa Gemilang yang sedari tadi mereka cari.

Rama berhenti sejenak di pinggir jalan, menatap ke arah desa yang tampak damai dan tertidur lelap di malam itu. Wajahnya masih terlihat tegang dan marah, namun di balik tatapan tajamnya, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh. Jika aku bertemu gadis itu disini mati dia,berani membohongi orang yang bahkan tidak dikenalnya, dan melakukannya dengan sangat tenang dan meyakinkan, batinnya. Kita belum selesai, gadis. Besok aku akan mencarimu dan melihat seberapa berani dirimu sebenarnya.

Larry pun menyapa warga desa disana, mereka menyembunyikan identitas mereka sebagai orang yang menyuruh beberapa pria kemarin mengusir mereka.

Larry mengaku orang kota yang tersesat, sampai masuk kedalam hutan untuk mencari bantuan karena mobil mereka mogok di jalan besar.

Tanpa curiga mereka berdua di terima warga desa dengan ramah untuk bermalam di desa mereka.

Sedangkan di vila yang tidak jauh dari situ, Ivy sudah terlelap dalam tidurnya yang nyenyak, tanpa menyadari bahwa perbuatannya itu telah membangkitkan emosi Rama yang bisa membuat semua orang ketakutan. Masa depan mereka yang tak terduga pun baru saja dimulai.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!