Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 5 Petarung Darah Merah
Rendhang akhirnya memenuhi desakan para pendukungnya, yaitu mengeluarkan ilmu Pasukan Tiga Jarum. Itupun setelah ia terkena sabetan rantai membara milik Dodhong yang membuat punggungnya menderita luka bakar.
“Pasukan Jarum Pertama!” pekik Rendhang sambil mengibaskan tangannya di depan dengan jari-jari menghentak.
Seeets!
Sekelompok jarum yang menyala merah melesat berombongan. Jarum-jarum keluar dari logam tebal pelindung tangan. Jarum membara yang jumlahnya puluhan itu ternyata treknya tidak lurus, tetapi terbang melengkung.
Crakr!
Dodhong tidak mau menerima serangan begitu saja. Ia menggunakan rantai membaranya menyapu rombongan jarum yang mengarahnya. Itu berhasil menyapu semua jarum. Memang tidak kena semua, tetapi angin tenaga yang menyertai rantai menghempaskan semua jarum.
Seeets!
Kehancuran rombongan jarum itu disusul oleh kedatangan rombongan jarum yang lain tapi serupa.
Trekr!
Kali ini, serangan rombongan jarum kedua tidak dapat dihindari oleh Dodhong. Puluhan jarum itu menancap di badan baju zirah logamnya. Hanya menancap, tidak sampai tembus.
Sret!
Dengan menggunakan pedangnya, Dodhong membabat jarum-jarum membara itu sehingga zirahnya kembali bersih dari jarum.
“Lihat! Pasukan Jarum Pertama tidak ada apa-apanya! Hahaha!” teriak pendukung Dodhong kepada pendukung Rendhang, lalu tertawa menertawakan.
“Itu baru Pasukan Jarum Pertama!” balas penonton pendukung Rendhang sewot.
“Pasukan Jarum Kedua!” pekik Rendhang di bawah sana.
Seeets! Seeets!
Kali ini, Rendhang mengibaskan kedua tangannya secara bersamaan. Maka, dari dalam batang logam pelindung berkeluaran melesat jarum-jarum yang lebih bersinar merah. Jadi ada dua rombongan jarum yang terbang melesat dengan trek melengkung, menyerang Dodhong dari dua arah.
Crakrr!
Dodhong masih mengandalkan rantai membaranya untuk menangkal serangan jarum bersinar merah itu.
Pada saat yang sama, ia pun harus menangkal rombongan jarum bersinar merah kedua.
Tring ting ting!
Pada saat yang sama, tangan kanan Dodhong memainkan pedangnya dengan cepat sambil badannya bergerak menjauh, jika kemungkinan ada jarum yang lolos.
Rantai membara Dodhong bergerak melingkar-lingkar menghalau rombongan jarum bersinar merah, tetapi hasilnya tidak sama. Meski sebagian besar jarum terhalau, tetapi ada sebagian kecil yang terus lolos menyerang Dodhong.
Hal yang sama terjadi pula terhadap rombongan jarum kedua yang dihalau oleh gerakan pedang yang cepat. Sebagian kecil juga ada yang lolos dan menyerang langsung.
Trek!
Terdengar jelas suara sejumlah jarum menancap di zirah logam Dodhong. Belum lagi Dodhong membersihkan jarum-jarum yang menancap di perut dan lambung zirahnya, sudah terdengar pekikan Rendhang.
“Pasukan Jarum Ketiga!”
Seeets! Seeets!
Rendhang telah melepaskan rombongan jarum tingkat ketiga. Kali ini yang keluar adalah jarum-jarum bersinar hijau.
“Hiaatt!” pekik Dodhong sambil memainkan rantai membaranya dengan lebih liar.
Crakr crakr crakr!
Rantai membara itu meliuk-liuk di udara dan menyapu dua rombongan jarum sinar hijau sekaligus di udara. Uniknya, rombongan jarum sinar itu tidak langsung terhempas, tetapi dibuat mengikuti tarian rantai di udara yang menimbulkan suara rantai yang berisik.
“Wuahahaha! Hebaaat!” teriak pendukung Dodhong yang suka melihat pertunjukan memukau itu.
Di saat Dodhong sibuk menaklukkan Pasukan Jarum Ketiga dengan permainan rantai baranya yang seperti pita sirkus, dia lupa akan jarum-jarum bersinar merah yang masih menancap di zirah.
Tlak!
Tiba-tiba terdengar suara seperti sebuah benda logam yang rengkah. Dodhong cepat melirik pakaian zirahnya.
Plakl! Plakl!
Kejap berikutnya, tiba-tiba zirah Dodhong pada bagian badan pecah meledak, membuatnya termundur dua tindak dalam kondisi badan depan telah tersingkap.
Pecahnya zirah Dodhong membuat permainan rantai membaranya juga terganggu. Akibatnya, rantai yang meliuk-liuk di udara yang membuat rombongan jarum sinar hijau mengikutinya menari, jadi lepas kendali. Akibatnya, rombongan jarum sinar hijau terbang lepas dan bebas.
Rombongan Pasukan Jarum Ketiga melesat terbang menjauh di bawah kendali tenaga dalam Rendhang.
Dodhong patut terkejut saat melihat rombongan jarum yang menjauh itu telah berbelok lalu melesat cepat laksana pasukan lebah kepadanya.
Dodhong memutuskan melepas kedua senjatanya dan langsung melakukan gerakan bertenaga dalam tinggi.
Suass!
Belum lagi rantai dan pedang Dodhong sampai ke lantai, Dodhong telah memunculkan dinding perisai sinar ungu.
Puluhan jarum sinar hijau terhenti oleh dinding sinar ungu, tetapi tidak sampai jatuh.
Ditempatnya, Rendhang dalam pose sedang melakukan gerakan mendorong, seperti mendorong tembok yang tidak terlihat, sementara Dodhong berdiri dengan kuda-kuda nan kokoh di belakang dinding perisainya.
Penonton disuguhkan adu kekuatan antara Pasukan Jarum Ketiga dengan Dinding Samudera Kelima.
Di saat menyaksikan adu kekuatan tersebut, di pinggiran atas, Purwasaga dikejutkan oleh sebuah tangan yang mendarat dan menetap di bahu kirinya. Sebuah tangan bercahaya ungu muda, yang menandakan itu tangan wanita Negeri Elindra.
Purwasaga segera menengok ke kanan karena pemilik tangan ungu itu ada di sisi kanannya.
Puk!
Terkejut Purwasaga karena wajahnya langsung menabrak daging empuk saat menengok, sampai-sampai wajahnya agak terpantul.
Purwasaga segera memusatkan netranya. Ia melihat busungan dada besar milik perempuan yang ketinggiannya sejajar dengan kepalanya. Itu membuatnya harus mendongak saat menengok demi melihat wajah pemilik dada yang terbungkus rapi itu.
Purwasaga mendapati satu wajah cantik, tapi besar dan lebar, serta unik karena rambut alis dan kepalanya berwarna biru terang. Wanita berpakaian warna putih-biru itu memberi senyum lebar dengan bibir merah bergincunya.
“Kau tampan, Lelaki Manusia,” sapa wanita besar dan tinggi itu sambil menarik bahu kiri Purwasaga yang dirangkulnya.
Posisi yang sempit dengan penonton lain, membuat Purwasaga tidak bisa mengelak ketika pipi kanannya kembali merapat pada dada besar si wanita. Wanita itu bersikap biasa saja, layaknya seorang teman akrab atau kekasih.
“Si-siapa kau?” tanya Purwasaga agak tergagap.
“Perkenalkan, namaku Lintha. Namamu siapa?” jawab si wanita yang kekencangan kulit wajahnya menunjukkan ia masih muda.
“Aku Purwasaga,” jawab Purwasaga, tanpa menolak tangan Lintha di bahunya atau menolak dada besar yang merapat di kepalanya.
“Kau mau ikut Pertarungan Darah Biru, Purwasaga?” tanya Lintha sambil memandang ke dasar arena.
Purwasaga tidak langsung menjawab. Ia ingat perkataan Azhmar yang menyuruhnya untuk membuktikan kehebatan Bangsa Penjaga Biru.
“Hal terburuk apa yang akan aku alami jika turun bertarung?” tanya Purwasaga dengan pandangan tetap ke arah dasar arena.
“Kau akan dibawa ke Kamar Beku,” jawab Lintha.
“Tempat apa itu?”
“Tempat untuk membuat orang tetap hidup.”
“Lalu apa yang aku dapatkan jika aku menang?”
“Uang dan nama.”
“Bagaimana caranya agar aku dapat menjadi petarung di Pertarungan Darah Biru?”
Namun, belum lagi Lintha menjawab, tiba-tiba….
“Aaakk!” jerit Dodhong kencang ketika pada akhirnya perisai sinar ungunya mampu ditembus oleh rombongan jarum sinar hijau yang memaksa.
Jeritan itu keluar ketika jarum-jarum menusuk masuk ke badan Dodhong yang sudah tidak dilindungi oleh Zirah Dewa Perang.
Ngoook!
Tiba-tiba terdengar suara “ngoook” yang kencang, bersamaan munculnya cahaya merah pada seluruh sisi arena.
Clap!
Pada saat itu pula, tiba-tiba ada dua sosok lelaki berpakaian kuning-kuning muncul begitu saja. Keduanya memegang ujung-ujung sebuah tandu berwarna kuning juga.
Kemunculan kedua lelaki berseragam itu membuat Purwasaga agak terkejut. Sementara penonton lain sudah sering melihat kemunculan kedua lelaki berseragam yang seperti muncul dari dimensi lain.
Kedua lelaki tersebut meletakkan tandunya di sisi Dodhong yang sudah terkapar mengejang dengan kulit berubah berwarna kehijau-hijauan. Lalu, dengan gerakan cepat tapi kompak, mereka mengangkat tubuh Dodhong dan meletakkannya di tandu yang tergolong berukuran besar.
Setelah itu, mereka mengangkat tandu dan membawanya lari menabrak dinding arena. Keduanya masuk menghilang tanpa meninggalkan jejak. Lagi-lagi Purwasaga terkejut melihat kejadian itu.
“Yiiiaaarrr!” teriak Rendhang sambil mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya, mengekspresikan kemenangannya. Itu membuat rambut ketiaknya yang berwarna cokelat terpampang luas.
“Yiiiaaarrr!” Para pendukung Rendhang ikut bersorak unik seperti itu sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
“Siapa lagi?!” teriak Rendhang sambil memandang berputar.
“Di sini!” teriak Lintha tiba-tiba, yang segera menarik perhatian Rendang dan semua penonton, yang makan dan yang berdiri di tembok pagar.
Lintha yang berbadan tinggi besar itu tiba-tiba mencengkeram sabuk di pinggang belakang Purwasaga. Dia mengangkat Purwasaga dengan enteng, membuat si pemuda agak panik.
“Petarung Darah Merah ingin menantang Petarung Darah Biru!” seru Lintha.
Kejap berikutnya dia melempar tubuh Purwasaga jatuh ke dalam arena yang dalam.
“Aaa!” pekik Purwasaga saat meluncur menuju dasar arena. (RH)
hahhhh