NovelToon NovelToon
Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: premier MT

Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Gerbang Galaksi

Bab 12: Gerbang Galaksi yang Tanpa Sengaja Terbuka

Sejak hasil ujian kebugaran itu diumumkan, Mu Chen merasa semakin percaya diri. Ia sadar bahwa meski tidak bisa menggunakan energi seperti orang lain, tubuhnya memiliki kelebihan tersendiri. Maka setiap pagi, ia memutuskan untuk berolahraga — bukan latihan kultivasi, melainkan gerakan-gerakan sederhana yang biasa ia lakukan di dunianya: lari, jongkok, lompat tali, dan gerakan peregangan.

"Kalau di dunia asalku, olahraga membuat tubuh sehat dan kuat. Mungkin di sini juga bisa, siapa tahu bisa membantu mengendalikan sedikit saja Air Timah Surgawi di dalam tubuhku," pikirnya sambil mulai bergerak di halaman belakang asrama.

Hari itu cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang, dan udara dipenuhi energi langit yang mengalir tenang. Mu Chen bergerak dengan penuh semangat, bahkan tanpa sadar ia mulai mempercepat gerakannya dan menambah intensitasnya — berjalan cepat, lalu berlari, kemudian melompat-lompat sambil memutar tubuhnya.

 

Yang tidak ia sadari: setiap kali ia bergerak dengan semangat dan napasnya menjadi teratur, batu giok Yin-Yang di dadanya perlahan mulai bergetar. Gerakan tubuhnya yang terus berulang seolah menciptakan getaran yang sesuai dengan frekuensi energi di dalam tulang belakangnya.

Di dalam kesadarannya, ia bisa merasakan bahwa ruang Dantiannya — lautan Air Timah Surgawi yang luas itu — mulai bergetar perlahan. Biasanya ia berusaha menutupnya rapat-rapat, tapi hari ini karena terlalu asyik berolahraga, ia tidak memikirkannya sama sekali.

"Hah... rasanya segar sekali! Gerakan ini membuat aliran darah lancar, dan udara di sini terasa sangat enak dihirup!" serunya sambil terus bergerak.

Semakin lama ia berolahraga, semakin kuat getaran itu. Dan tiba-tiba — sesuatu yang tidak terduga terjadi!

Di tengah lautan Air Timah Surgawi yang berkilau seperti bintang-bintang, di titik paling tengah ruang yang tak bertepi itu, mulai muncul cahaya yang semakin terang. Cahaya itu berputar membentuk lingkaran besar, lalu perlahan berubah menjadi bentuk seperti gerbang raksasa yang terbuat dari cahaya perak kebiruan, dihiasi pola-pola yang menyerupai galaksi yang berputar.

"Ini... apa ini?!" gumamnya kaget, berhenti bergerak seketika.

Ia mencoba berkonsentrasi penuh, dan bisa melihat dengan jelas: gerbang itu berukuran tak terkira, seolah-olah tidak ada batasnya. Di permukaannya tertulis huruf kuno yang berkilau: Gerbang Jalan Bintang.

Dan yang paling menakjubkan — di balik gerbang itu, ia bisa melihat pemandangan yang tidak ada habisnya: ruang angkasa yang gelap namun dipenuhi jutaan bintang, awan debu berwarna-warni, dan aliran energi yang mengalir seperti sungai tak berujung.

 

Tiba-tiba, gerbang itu bergetar sekali lagi, dan perlahan terbuka sedikit!

Seketika itu juga, aliran energi yang jauh lebih murni dan padat daripada yang ada di Benua Xuanhuang mulai mengalir masuk melalui celah gerbang itu — jatuh langsung ke dalam lautan Air Timah Surgawi miliknya.

"Wah! Energinya jauh lebih kental dan murni! Seperti air mineral yang sangat jernih dibandingkan air sungai biasa!" serunya dalam hati.

Namun ada satu hal aneh lainnya: energi ini tidak hanya mengalir masuk, tapi juga membawa sedikit gambaran pemandangan dan pengetahuan yang samar-samar terlintas di benaknya. Ia bisa melihat bintang-bintang yang jauh, dunia-dunia yang tidak diketahui, dan aliran energi yang bekerja menurut aturan yang berbeda dari dunia ini.

Di luar tubuhnya, gejala yang sama seperti hari itu muncul lagi — tapi kali ini lebih lembut dan stabil.

Awan di langit mulai berputar membentuk pola pusaran yang indah, berwarna-warni seperti pelangi yang berkelap-kelip. Angin berhembus lembut membawa aroma yang sangat segar, dan semua energi di sekitar sekte bergerak dengan teratur menuju satu titik — tubuh Mu Chen — tapi kali ini tidak menimbulkan kekacauan.

Para tetua yang merasakan perubahan itu segera terbang ke udara, wajah mereka penuh keheranan:

"Ini berbeda dari yang kemarin! Energinya mengalir dengan sangat teratur, dan kualitasnya... jauh lebih tinggi!"

"Sumbernya masih sama — di dekat asrama murid tamu!"

 

Di dalam halaman belakang, Mu Chen masih berdiri diam dengan mata terpejam. Ia bisa merasakan gerbang itu tetap terbuka sedikit, dan energi terus mengalir masuk dengan kecepatan yang terkendali.

Namun saat ia mencoba mendekat dan melihat lebih jelas ke balik gerbang — ia merasa pusing tiba-tiba, dan gerbang itu perlahan menutup kembali dengan sendirinya.

"Aduh... terlalu jauh untuk dilihat. Sepertinya pikiranku belum cukup kuat untuk melihat lebih jelas," gumamnya sambil mengusap pelipisnya.

Ia membuka matanya kembali, dan melihat Tetua Qingyun serta Tetua Agung Mo Feng sudah berdiri tidak jauh darinya, menatapnya dengan pandangan yang penuh rasa ingin tahu.

"Mu Chen! Apakah kau merasakan sesuatu yang aneh tadi?" tanya Tetua Qingyun dengan hati-hati.

Mu Chen menggaruk kepalanya dan menjawab dengan jujur:

"Saya cuma berolahraga biasa saja, lalu tiba-tiba merasakan getaran di dalam tubuh. Di dalam ruang Dantian saya, muncul gerbang besar yang terbuat dari cahaya. Ia terbuka sedikit, dan ada energi yang masuk — jauh lebih bagus daripada yang ada di sini. Tapi saat saya mau melihat lebih jelas, ia menutup lagi."

Kedua tetua saling pandang, napas mereka tertahan.

"Gerbang... di dalam Dantian yang terbentuk dari Tulang Bintang Galaksi..." gumam Tetua Agung perlahan. "Dalam catatan kuno yang paling jarang, tertulis bahwa Tulang Bintang ini bukan hanya tempat penyimpanan — ia adalah jembatan yang menghubungkan dunia ini dengan ruang asalnya, tempat bintang-bintang itu terbentuk."

 

Ia kemudian menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti Mu Chen:

"Tulangmu terbentuk dari debu bintang dan inti galaksi. Jadi secara alami, ia memiliki hubungan dengan tempat asalnya. Saat kau bergerak dengan napas yang teratur dan pikiran yang tenang — meski hanya berolahraga biasa — kau tanpa sadar menciptakan keselarasan yang cukup untuk membuka sedikit gerbang penghubung itu."

Mu Chen mendengarkan dengan seksama, lalu tiba-tiba matanya berbinar:

"Jadi maksudnya... gerbang itu seperti jendela kecil yang menghubungkan ke ruang angkasa luar? Dan saya bisa mendapatkan energi yang lebih baik dari sana?"

"Tepat sekali," jawab Tetua Qingyun sambil tersenyum. "Tapi hati-hati. Energi dari sana jauh lebih padat dan kuat. Jika gerbang dibuka terlalu lebar, tubuhmu yang meski kuat pun bisa kewalahan menampungnya. Ini harus dikendalikan secara perlahan."

Mu Chen mengangguk paham, lalu tersenyum lebar:

"Baiklah! Kalau begitu, olahraga saya bukan hanya membuat tubuh sehat, tapi juga membantu membuka gerbang ini sedikit demi sedikit! Ini seperti latihan sambil menambal jalan, bukan?"

Namun tiba-tiba perutnya berbunyi keras "KRUUUKKK!" — suara yang tidak pernah berubah, meski sekarang ia bisa mendapatkan energi dari tempat yang jauh.

Ia tertawa kikuk dan menepuk perutnya:

"Tapi satu hal yang pasti — energi sebaik apa pun tidak bisa menggantikan rasa lapar! Kalau begitu saya berhenti dulu, dan pergi ke dapur. Siapa tahu hari ini bisa saya buat nasi goreng spesial sebagai perayaan penemuan baru!"

Kedua tetua pun tertawa mendengarnya. Seperti biasa, meski menemukan hal yang luar biasa dan misterius, hal yang paling utama di pikiran Mu Chen tetaplah hal-hal sederhana yang membuatnya nyaman.

 

Sejak hari itu, Mu Chen rutin berolahraga setiap pagi. Perlahan namun pasti, ia mulai memahami sedikit demi sedikit cara mengatur napas dan gerakan agar gerbang galaksi itu bisa terbuka sedikit lebih lama — mendapatkan energi yang lebih murni tanpa menimbulkan kekacauan lagi. Dan tentu saja, setiap sesi olahraga selalu diakhiri dengan makanan lezat yang ia buat sendiri 😄

1
premier MT
mantap
Riekcy Rachmat
lanjut trus🙏
Riekcy Rachmat
menarik sekali, semoga updatenya banyak nnti
Riekcy Rachmat
😄😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!