Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang Membuat Gugup
Dua hari setelah percakapan mereka melalui pesan singkat, Arman kembali menghubungi Sulis. Kali ini bukan untuk memesan katering dalam jumlah besar, melainkan hanya satu porsi makan siang. Namun ada satu permintaan yang membuat Sulis terdiam sejenak.
"Kalau Mbak Sulis nggak sibuk, boleh sekalian makan bareng?"
Sulis membaca pesan itu beberapa kali. Entah mengapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Padahal itu hanya makan siang biasa. Tidak ada yang istimewa. Namun setelah mempertimbangkannya beberapa saat, ia akhirnya mengiyakan.
Menjelang siang, Sulis datang membawa beberapa kotak makanan hasil masakannya sendiri. Arman menyambutnya dengan senyum hangat yang kini mulai terasa akrab.
"Wah, aromanya enak banget."
"Belum dicoba udah dipuji."
"Karena saya hafal, masakan Mbak Sulis nggak pernah gagal."
Sulis tertawa kecil. Sudah lama tidak ada seseorang yang membuatnya tersenyum sesering itu.
Mereka memilih makan di balkon apartemen. Cuaca hari itu cerah dengan angin yang berembus pelan. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Suasana terasa nyaman. Arman membantu menata makanan di atas meja kecil, sementara Sulis menuangkan minuman ke dalam gelas.
Percakapan mereka mengalir dengan ringan. Mereka membahas pekerjaan masing-masing, pelanggan katering yang semakin banyak, hingga berbagai cerita lucu dari rumah sakit tempat Arman bekerja. Arman selalu tahu cara membuat suasana tetap santai. Ia tidak pernah memaksa Sulis membicarakan rumah tangganya atau hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Justru karena itulah Sulis merasa semakin betah berbincang dengannya.
"Kalau usaha katering terus berkembang begini, nanti bisa buka rumah makan sendiri," kata Arman sambil mengambil sepotong ayam.
Sulis tersenyum. "Aamiin. Tapi masih jauh."
"Nggak juga."
"Kenapa yakin banget?"
Arman menatapnya sambil tersenyum. "Karena yang masak orangnya pekerja keras."
Ucapan sederhana itu membuat Sulis salah tingkah. Ia buru-buru menunduk dan mengambil sendok, berusaha menyembunyikan senyum yang muncul di wajahnya.
Makan siang berlangsung hangat. Tidak ada keheningan yang canggung. Tidak ada percakapan yang terasa dipaksakan. Semuanya mengalir begitu saja, seolah mereka sudah saling mengenal jauh lebih lama daripada kenyataannya.
Saat Sulis hendak mengambil gelas yang berada di tengah meja, pada saat yang sama Arman juga mengulurkan tangan ke arah yang sama. Tanpa sengaja, tangan mereka bersentuhan.
Hanya sesaat.
Namun keduanya langsung berhenti bergerak.
Sulis refleks menarik tangannya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Arman pun merasakan hal yang sama. Ia berdeham pelan untuk menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.
"Maaf."
"Eh, nggak apa-apa."
Mereka saling tersenyum canggung sebelum kembali melanjutkan makan. Namun suasana terasa sedikit berbeda setelah itu.
Arman berusaha tetap terlihat santai, meski pikirannya tidak lagi tenang. Sentuhan singkat itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun entah mengapa ia terus mengingatnya. Mungkin karena akhir-akhir ini ia memang terlalu sering memikirkan Sulis. Atau mungkin karena perasaan yang tumbuh di dalam dirinya semakin sulit untuk disangkal.
Sementara itu, Sulis berusaha menganggap kejadian tadi sebagai hal biasa. Kecelakaan kecil yang bisa terjadi pada siapa saja. Namun jauh di dalam hatinya, ia menyadari satu hal. Sudah sangat lama ia tidak merasa senyaman ini saat berada di dekat seseorang. Tidak perlu takut salah bicara. Tidak perlu khawatir akan bentakan. Tidak perlu hidup dalam kecemasan yang terus-menerus.
Setelah makan siang selesai, Sulis membantu membereskan meja. Arman beberapa kali melarangnya.
"Udah, biar saya saja."
"Nggak enak."
"Yang masak juga Mbak Sulis."
Namun Sulis tetap membantu membawa piring ke dapur. Entah sejak kapan kebersamaan mereka terasa begitu alami. Padahal mereka baru saling mengenal beberapa minggu. Tetapi setiap percakapan terasa ringan dan menyenangkan.
Di dapur apartemen, Sulis mencuci tangannya di wastafel sementara Arman mengeringkan piring yang sudah dicuci. Pemandangan itu sebenarnya sangat sederhana. Namun bagi Arman, ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Apartemen yang biasanya terasa sepi mendadak terasa lebih hidup.
"Mas Arman tinggal sendirian?" tanya Sulis.
Arman mengangguk. "Iya."
"Nggak kesepian?"
Arman tertawa kecil. "Kadang."
"Kenapa belum menikah?"
Pertanyaan itu membuat Arman tersenyum.
"Banyak yang nanya begitu."
"Termasuk saya sekarang."
"Belum ketemu yang cocok mungkin."
Jawaban itu terdengar ringan. Namun entah mengapa membuat Sulis mendadak salah tingkah. Ia segera mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
Mereka kembali duduk di balkon. Matahari mulai bergerak turun dan cahaya sore menyinari gedung-gedung tinggi di kejauhan. Suasana terasa damai. Sangat berbeda dengan rumah Sulis yang akhir-akhir ini selalu dipenuhi ketegangan.
"Anak-anak gimana kabarnya?" tanya Arman.
Wajah Sulis langsung berubah sedikit. Kerinduan terlihat jelas di matanya.
"Baik."
"Kangen pasti."
"Banget."
Sulis lalu menunjukkan beberapa foto Dito dan Rara yang tersimpan di ponselnya. Arman memperhatikan satu per satu dengan senyum hangat.
"Mereka lucu."
Saat membicarakan anak-anaknya, wajah Sulis tampak jauh lebih hidup. Senyumnya lebih tulus dan matanya berbinar. Tanpa sadar, Arman semakin kagum melihatnya.
Di mata Arman, Sulis bukan hanya seorang perempuan yang sedang menghadapi masalah rumah tangga. Ia adalah seorang ibu yang kuat. Perempuan yang tetap bekerja keras meski hidupnya sedang berantakan. Perempuan yang terus berusaha tersenyum demi anak-anaknya. Dan semakin lama mengenalnya, semakin sulit bagi Arman untuk menjaga perasaannya tetap biasa saja.
Sebaliknya, Sulis tidak menyadari apa yang sedang terjadi di dalam hati Arman. Ia hanya merasa nyaman. Sangat nyaman. Bahkan mungkin terlalu nyaman. Karena sudah lama tidak ada seseorang yang memperlakukannya dengan begitu baik. Irwan dulu pernah seperti itu. Bahkan jauh lebih perhatian. Namun semua kenangan itu kini terasa seperti cerita dari kehidupan yang berbeda.
Menjelang sore, Sulis akhirnya berpamitan pulang. Pesanan untuk esok hari masih banyak yang harus disiapkan. Arman mengantarnya sampai ke depan pintu.
"Hati-hati di jalan."
"Iya."
"Kalau capek jangan dipaksa kerja terus."
Sulis tersenyum kecil. "Siap, Pak Perawat."
Mereka tertawa bersama.
Setelah pintu lift tertutup dan Sulis menghilang dari pandangan, Arman masih berdiri beberapa saat di koridor. Ada rasa kosong yang tiba-tiba muncul. Padahal mereka baru menghabiskan beberapa jam bersama. Namun waktu terasa berjalan terlalu cepat.
Di dalam lift, Sulis juga tersenyum sendiri mengingat berbagai percakapan mereka hari itu. Sudah lama ia tidak tertawa sebanyak itu. Sudah lama pula ia tidak merasa dihargai hanya karena menjadi dirinya sendiri.
Namun Sulis segera menepis pikiran-pikiran yang mulai muncul. Ia tidak ingin memikirkan hal yang terlalu jauh. Bagaimanapun juga, hidupnya masih rumit. Masalah rumah tangganya belum selesai. Dan statusnya pun belum berubah.
Meski demikian, takdir sering kali berjalan tanpa meminta izin. Tanpa mereka sadari, setiap pertemuan kecil yang terjadi perlahan menumbuhkan sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang awalnya hanya berupa rasa nyaman, lalu berubah menjadi perhatian, dan sedikit demi sedikit bergerak menuju perasaan yang lebih dalam.
Perasaan yang suatu hari nanti akan mengubah hidup mereka selamanya.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .