Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.
Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Minggu-minggu berlalu dalam ketegangan yang kian terasa. Arkan semakin waspada. Ia mulai membatasi pergerakan anggota organisasi, memperketat keamanan di setiap wilayah, dan terus memantau gerak-gerik Raka.
Namun, Raka ternyata sangat pandai bersandiwara. Di depan Arkan, ia tetap bersikap setia, hormat, dan patuh seolah tidak ada apa-apa. Ia bahkan sering datang ke kediaman kami, membawa laporan dan hadiah, bersikap ramah padaku, membuat Arkan semakin sulit menemukan bukti nyata pengkhianatannya.
Pagi itu, Arkan menerima pesan mendesak dari Raka. Pesan itu dikirim melalui saluran rahasia khusus pemimpin. Raka melaporkan bahwa ia telah menemukan markas persembunyian sisa-sisa anggota Serigala Putih yang masih tersisa.
Ia bilang mereka sedang merencanakan serangan besar, dan ia butuh bantuan langsung Arkan untuk menghancurkan mereka sebelum sempat bergerak.
"Arkan, ini kabar bagus," kataku saat membaca pesan itu di layar ponsel terenkripsi Arkan.
"Kalau benar mereka sudah ketahuan, lebih baik kita habisi sekarang juga. Daripada mereka menyerang kita tiba-tiba."
Namun, Arkan hanya diam. Ia menatap layar ponsel itu dengan keraguan yang mendalam. Ia memegang dagunya, berpikir keras.
"Ada yang salah, Liora," ucapnya pelan. "Serigala Putih sudah hancur. Sisa-sisanya seharusnya sudah bersembunyi jauh, tidak berani menampakkan wajah.
Kenapa tiba-tiba mereka berani berkumpul lagi? Dan kenapa Raka yang menemukannya, tepat saat kita sedang menyelidiki dirinya?"
Arkan menatapku lekat-lekat, matanya tajam seolah bisa melihat kebenaran.
"Ini terlalu kebetulan, Sayang. Aku curiga ini jebakan. Raka tahu kita curiga padanya, jadi dia membuat alasan ini agar aku keluar dari markas, agar aku berada di tempat yang dia tentukan, di tempat yang dia kuasai sepenuhnya."
"Kalau begitu... kau tidak akan pergi?" tanyaku lega.
Arkan menggeleng, namun raut wajahnya justru semakin serius.
"Jika aku menolak pergi, dia akan tahu aku benar-benar curiga. Dia akan segera memberontak dan menyerang kita sebelum kita siap.
Aku harus pergi, Liora. Aku harus datang ke tempat itu, mempertemukannya langsung, dan membuktikan kebenarannya. Aku harus memancing dia keluar dari persembunyiannya."
"Arkan, itu berbahaya! Kalau benar itu jebakan, mereka pasti sudah menyiapkan ribuan senjata untuk membunuhmu," seruku cemas, langsung memegang lengannya.
Arkan tersenyum tenang, ia mengusap rambutku dengan lembut. "Jangan khawatir. Aku tidak akan pergi sendirian. Aku akan membawa pasukan elit terbaikku, orang-orang yang benar-benar setia dan terlatih.
Dan aku sudah memerintahkan Damar untuk bersiap di jarak dekat dengan pasukan cadangan. Begitu ada gerakan mencurigakan, mereka akan segera masuk menyelamatkan."
Ia menarik napas panjang, lalu menatapku dengan sorot mata yang berat. "Tapi ada satu hal lagi, Liora. Risiko terbesar bukanlah nyawaku. Risiko terbesarnya adalah kau."
"Aku?" tanyaku bingung.
"Ya. Raka tahu betul bahwa aku tidak bisa dikalahkan begitu saja. Dia tahu aku kuat. Dia tahu pasukanku hebat. Jadi, cara satu-satunya untuk menjatuhkanku adalah lewat kau. Dia tahu kau adalah kelemahanku.
Saat aku pergi nanti, kemungkinan besar dia akan mengirim orang lain untuk menyerang rumah ini, untuk menculikmu saat aku sedang tidak ada di sini."
Darahku serasa berhenti mengalir. Aku baru menyadari betapa berbahayanya posisiku. Aku adalah istri pemimpin, aku adalah harta paling berharga, dan aku adalah sasaran empuk bagi siapa saja yang ingin melawan Arkan.
"Arkan... apa yang harus aku lakukan?" suaraku bergetar.
Arkan memegang kedua bahuku, menatapku tegas namun penuh kasih sayang.
"Dengarkan aku baik-baik. Selama aku pergi, kau tidak boleh keluar dari kamar utama kita. Kamar itu dilengkapi sistem keamanan khusus, pintunya terbuat dari baja, dan hanya bisa dibuka dari dalam atau dengan sidik jariku.
Di dalam sana ada persediaan makanan, air, dan senjata. Di samping tempat tidur ada tombol darurat. Jika ada bahaya, tekan itu, dan seluruh pasukan di rumah ini akan langsung bergerak melindungimu. Aku juga meninggalkan dua pengawal terbaikku, orang yang sudah bersamaku belasan tahun, mereka akan menjaga pintu kamar dari luar. Tidak ada siapa pun yang boleh masuk, kecuali aku sendiri."
Aku mengangguk cepat, air mata mulai menggenang. "Aku janji, Arkan. Aku akan aman. Kau juga harus hati-hati, ya? Pulanglah dengan selamat."
Arkan menarikku ke dalam pelukan eratnya, mencium kening, dahi, hingga bibirku dengan penuh rasa tak ingin berpisah.
"Aku berjanji. Aku akan pulang. Karena aku tidak bisa hidup tanpamu, Liora. Ingat, apa pun yang terjadi, percayalah padaku. Aku akan selalu ada untukmu."
Siang itu juga, Arkan berangkat menuju wilayah timur, tempat yang ditentukan Raka. Ia membawa dua puluh orang pasukan elit terbaiknya, semua orang yang setia mati. Aku menunggunya pergi dari jendela lantai atas, hatiku terasa berat dan gelisah seolah ada firasat buruk yang tak bisa kujelaskan.
Sesuai perintah Arkan, aku langsung masuk ke kamar utama kami dan mengunci pintu baja itu dari dalam.
Suara mekanisme penguncian yang berat terdengar bergema, memastikan aku aman di dalam sana.
Aku duduk di tepi tempat tidur, memegangi dadaku yang berdebar kencang. Di dalam kamar ini, aku merasa aman, tapi rasa cemas akan keselamatan Arkan membuatku tidak tenang sedikit pun.
Dua jam berlalu hening. Tidak ada kabar, tidak ada pesan. Aku mencoba menghubungi Arkan, tapi ponselnya mati. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba, aku mendengar suara letupan keras dari luar rumah. Suara tembakan!
Jantungku melompat ke tenggorokan. Aku bangkit berdiri, berlari ke arah jendela yang tertutup kaca anti peluru tebal. Dari sana, aku bisa melihat halaman depan rumah yang biasanya damai kini berubah menjadi medan pertempuran.
Ada puluhan orang berseragam hitam menyerbu masuk, bertempur melawan pasukan keamanan rumah kami. Darah berceceran, suara teriakan dan tembakan bersahutan.
Musuh benar-benar datang! Arkan benar, mereka menyerang saat dia sedang pergi.
Aku mundur terhuyung ke belakang, tangan gemetar meraih tombol darurat di samping tempat tidur.
Aku menekannya berkali-kali, berharap bantuan datang, berharap Arkan tahu apa yang terjadi.
Suara pertempuran semakin mendekat, terdengar jelas dari luar pintu kamarku. Aku mendengar suara benturan keras, teriakan, lalu suara tubuh yang jatuh.
"Liora! Istri Arkan! Keluar! Kami tahu kau ada di dalam!" teriak suara kasar dari balik pintu baja itu. Suara itu bukan suara orang yang kukenal. Itu suara orang asing, orang yang mengerikan.
Aku menutup mulutku rapat-rapat, menahan isak tangis. Aku tidak boleh keluar. Aku harus bertahan di sini sampai Arkan pulang.
Namun, musuh ternyata sudah bersiap matang. Aku mendengar suara benda berat ditarik, lalu suara gerinda mesin yang keras dan menusuk. Mereka mencoba memotong pintu baja itu!
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Aku mundur sampai menyandar ke dinding paling belakang kamar, mengambil senjata yang disiapkan Arkan di laci meja samping.
Aku memegang senjata itu dengan tangan gemetar, meskipun aku tidak pernah menggunakannya sebelumnya. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan membiarkan mereka membawaku. Aku tidak akan menjadi beban bagi Arkan.
Pintu baja itu mulai berasap, perlahan lubang kecil mulai terbentuk. Di balik lubang itu, aku melihat sepasang mata jahat yang menatapku penuh kemenangan.
"Dapat! Sudah ketemu mangsanya," bisik suara itu penuh kejam.
Di saat yang sama, jauh di tempat lain, di gudang tua di wilayah timur tempat Arkan pergi, pertempuran yang jauh lebih besar dan berdarah sedang terjadi. Arkan yang menyadari itu jebakan, bertempur sendirian melawan ratusan pasukan Raka dan Viktor.
Meski Arkan hebat, meski pasukannya gagah berani, jumlah musuh terlalu banyak, dan mereka sudah bersiap dengan senjata berat.
Arkan terluka. Ia terperangkap. Dan saat itu juga, Raka tertawa puas sambil menunjukkan layar ponselnya pada Arkan.
Di layar itu, terlihat gambar ruang kamarku, terlihat aku yang ketakutan di pojok ruangan, terlihat musuh yang hampir berhasil membobol pintu.
"Lihatlah, Arkan! Lihatlah istrimu! Sementara kau mati di sini, istri cantikmu akan kami nikmati pelan-pelan!" ejek Raka kejam.
Mata Arkan memerah karena amarah yang tak terbayangkan. Ia mengaum keras, kekuatan gila keluar dari tubuhnya yang terluka itu.
"KAU BERANI MENYAKITI LIORA! AKU AKAN MEMBUNUHMU SEMUA! AKU AKAN MEMBUNUHMU SEMUA!!"
Namun, amarah saja tidak cukup saat peluru musuh sudah mengarah tepat ke dadanya.
Raja Bayangan yang tak terkalahkan itu kini berada di ambang kematian, terjebak dalam jebakan yang dibuat oleh pengkhianatan orang yang ia percaya. Dan Liora, istrinya, sedang berjuang mati-matian di rumah untuk tidak jatuh ke tangan musuh.
Ini adalah momen tergelap dalam sejarah Bayangan Hitam. Kekuasaan runtuh, kepercayaan dikhianati, dan cinta kami diuji di ambang kematian.
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍