"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
"Rangga, duduk," perintah Pak Bambang tegas. Matanya beralih ke Emily. "Emily, duduk. Meysa, duduk. Atau saya hukum kalian bertiga!"
Seluruh kelas bersorak."Huuuuu,"
Rangga mendorong bangkunya dengan kasar. lalu duduk dengan kedua tangannya bersilang di dada, dan matanya menatap papan tulis kosong seolah papan itu adalah musuh terbesarnya.
"BANYAK TINGKAH SIH!" sindir Renal dari bangku tengah. Suaranya cukup keras untuk didengar seluruh kelas, dan beberapa mahasiswa terkikik menahan tawanya..
Rangga tidak menoleh. Ia hanya mengangkat bahu malas. "Whatever, Nal."
Pak Bambang menghela napas panjang, menggeser kacamatanya, lalu membuka buku catatan tebal di hadapannya.
"Baiklah, hari ini kita akan membahas tentang hukum pidana. Pasal-pasal yang mengatur tentang... ancaman dan kekerasan dalam rumah tangga."
Pelajaran berlangsung sekitar dua puluh menit. Pak Bambang sedang asyik menerangkan tentang sanksi pidana bagi pelaku kekerasan dalam hubungan pernikahan ketika tiba-tiba...
Gedebuk.
Suara itu datang dari bawah....
Meysa mengernyit. Ia mengira hanya imajinasinya. Tapi kemudian lampu di atas kepalanya mulai bergoyang dengan cepat.
"Gempa!" teriak semuanya.
Seketika, ruangan berubah menjadi pusaran panik.
"Keluar! Semua keluar! Jangan dorong-dorongan!" teriak Pak Bambang.
Tapi tidak ada yang mendengar.
Pintu kelas yang tidak terlalu lebar itu tiba-tiba menjadi titik kemacetan. Tubuh-tubuh berdesakan, berhimpitan, berusaha menjadi yang pertama keluar. Siku-siku menusuk punggung. Bahu mendorong bahu. Suara teriakan dan amarah bercampur menjadi satu.
"Buruan maju, Gue gak mau mati disini!"
"Jangan dorong Gue!"
"Awas kaki gue!"
Meysa berhasil mencapai pintu. Tapi ketika ia hendak melompat melewati ambang pintu, seseorang bertubuh besar dari kelas sebelah mendorongnya dari samping.
Tiba-tiba tubuh Meysa ditarik kuat oleh seseorang, hingga kedekapannya.."Takutttt!" lirih Meysa sambil memeluknya.
Wajah pria itu sangat dekat dengan wajahnya. Matanya teduh, tidak panik seperti yang lain..
"Tenang, Cha, kamu aman sama aku" ucap Renal.
lalu Meysa mendongak."MAS, RENAL!"
Di tengah kepanikan yang membabi buta itu, waktu terasa berhenti hanya untuk mereka berdua. Meysa bisa merasakan detak jantung Renal yang cepat.
Dari sudut ruangan yang lain, Rangga yang tengah sibuk mencari istrinya, seketika matanya melihat Meysa..
"Cha?" panggilnya, sambil berlari
Rangga berhenti sejenak. Seluruh tubuhnya membeku seperti terkena kutukan. Matanya terpaku pada pemandangan di hadapannya, istrinya berada dalam dekapan laki-laki lain, dan mereka saling menatap seperti tidak ada orang lain di dunia ini.
Darahnya mendidih.
Gempa mulai reda. Goyangan berhenti. Lampu berhenti bergoyang. Lantai kembali diam.
Tapi di dalam dada Rangga, justru gempa yang lebih dahsyat belum juga berhenti..
"Renal."
Renal melepaskan pelukannya dari Meysa dan menoleh dan menyeringai, Renal yang hendak melangkah
Tiba-tiba..
Dhug!
Tinju Rangga mendarat tepat di pipi kiri Renal. Kepala Renal tersentak ke samping, tubuhnya terhuyung mundur dan jatuh tersungkur di antara bangku-bangku kayu yang berserakan.
Meysa menjerit.
Mahasiswa yang masih tersisa di ruangan itu terkejut. Beberapa berteriak, beberapa mundur ketakutan, beberapa hanya bisa terdiam membeku menyaksikan pertarungan yang tidak pernah mereka duga.
"Rangga! Berhenti!" lerai Meysa.
Tapi Rangga tidak mendengarnya. Ia meraih kerah baju Renal dan menariknya berdiri, lalu meninju lagi, sisi wajah yang sama, membuat bibir Renal menganga dan darah menetes dari sudut mulutnya.
"Lo—" Rangga menggertakkan gigi."Berani lo melindungi Meysa?"
Renal tidak membalas. Ia hanya menatap Rangga dengan mata sayu, tangannya terangkat mencoba melindungi wajahnya.
"Sakit, Ga... berhenti..."
"Berhenti? Lo mau gue berhenti?" Rangga mengangkat tinjunya lagi, telapak tangannya sudah memerah.
"RANGGA!" bentak Meysa.
Rangga menghentikan tinjunya di udara.
Ia menoleh.
"Cukup," ucap Meysa, suaranya bergetar tapi tetap kuat.
Rangga melepaskan kerah baju Renal. Tubuh Renal jatuh kembali ke lantai. Wajahnya babak belur pipi kiri membengkak, bibir bawah pecah di dua tempat, dan darah mengalir dari hidungnya membasahi kemeja putihnya.
Rangga berdiri, masih dengan napas tersengal. Tinjunya masih terkepal. Seluruh tubuhnya bergetar.
"Apa-apaan kamu?" Meysa menarik dasi kemeja Rangga"Dia cuma nolongin aku, Karena aku kehimpit pintu."
Rangga terdiam dengan menatap Meysa, tatapannya penuh dengan amarah, bibirnya yang gemetar menahan segala sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.
"Aku cuma—" Rangga mencoba bersuara, tapi kata-katanya mati di tenggorokan.
"Kamu cuma apa?" potong Meysa dingin. Tangannya masih menarik dasi Rangga."Kamu cuma mau tunjukin kalau kamu laki-laki paling kuat di sini?"
Dari koridor, terdengar suara langkah kaki berpacu mendekat.
Januar muncul. Disusul Abimanyu yang terengah-engah, kacamatanya miring di batang hidung. Kemudian Dimas, dan di belakang mereka, Aqeela dan Wulandari berlari bersama, saling bertaut tangan seolah takut kehilangan satu sama lain.
"Anjir!" teriak Januar begitu melihat Renal tergeletak di lantai dengan wajah babak belur. "Apa yang terjadi?"
Dimas langsung berlutut di samping Renal. Matanya memeriksa luka di wajah sahabatnya.
"Renal, lo denger gue?" tanya Dimas, sambil menepuk-nepuk pipinya.
Renal mengangguk pelan. Bibirnya bergerak, tapi hanya desahan sakit yang keluar.
Aqeela dan Wulandari menghampiri Meysa. Tanpa bicara, Aqeela menarik tangan Meysa, seperti menarik seseorang keluar dari pusaran air yang hendak menenggelamkannya.
"Ayo, Cha," ajak Aqeela. "Jangan di sini, biarin itu masalah mereka, jangan ikut-ikutan"
Meysa menurut. Ia membiarkan kedua sahabatnya menariknya menjauh dari Rangga. Pasalnya Aqeela dan Wulandari tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
Abimanyu membantu Dimas mengangkat Renal. Tubuh Renal terasa berat, tapi mereka berdua bergotong royong, satu tangan di bahu, satu tangan di pinggang, berusaha tidak menekan bagian yang luka.
"Kita bawa ke UKM," ucap Abimanyu. "Duuuhhhh, kalian bikin ulah apalagi sih, capek gue liatnya."
aku suka cerita nya tetap lanjutin ya 🥲
haha puas banget liat si Mak Lampir gak diterima
sumpah bab paling benci di sini 😭
kenapa harus begitu tor ceritanya gak sanggup aku liat Meysa kalo dia tau kebenaran tentang si Rangga dan Mak Lampir itu 😭
jangan mau lah ga masa masih OON Mulu kapan smart nya sih