Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Insiden Buruk
Kamar Zivanna bersama dengan Dikta seperti biasa akan terasa begitu sangat sunyi, meski ada dua insan yang berada di atas ranjang yang tidur saling punggung-punggungan tetapi kamar itu tampak seperti tidak ada penghuninya.
Zivanna dan Dikta belum sama-sama tertidur, sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing, Dikta mungkin tidak pernah tegas dalam pernikahannya dan hanya membiarkan saja Zivanna yang dikorbankan. Padahal Zivanna bukanlah orang yang menginginkan semuanya dan justru dia juga menjadi korban.
Keduanya sama-sama menghela nafas dan bahkan sama-sama serentak membalikan tubuh sehingga adanya pertemuan di antara mereka, saling berhadapan dengan wajah sama-sama kaget, sama-sama mata terbuka dan pasti tidak menyangka jika mereka bisa saling melihat seperti itu.
Dikta dan Zivanna sama-sama gugup dengan keduanya kesulitan menelan ludah. Kecagungan terjadi sampai akhirnya adanya salah tingkah di antara keduanya membuat keduanya perlahan membalikkan tubuh kembali pada posisi awal mereka.
Zivanna dan Dikta kembali sama-sama menghela nafas, bisa-bisanya mereka tampak gugup seperti itu.
*******
Pagi hari seperti biasa, Zivanna menjalankan tugasnya sebagai seorang Dokter, Zivanna saat ini berada di dalam ruangan Rain, memberi obat dengan rutin itu seperti biasanya.
"Dokter, kenapa kepala Rain belakangan ini sering sakit?" tanyanya membuat Zivanna menatap serius kepada pasien anak kecil tersebut.
"Benarkah! Kalau begitu nanti Dokter akan tanyakan dulu kepada Dokter Dikta dan semoga saja tidak apa-apa dan diberikan obat agar tidak sakit lagi," jawab Zivanna.
"Memang Dokter tidak tahu apa yang terjadi pada kepala Rain?" tanyanya terlihat membutuhkan jawaban secepatnya.
"Tidak sayang, kan belum diperiksa secara langsung, kamu harus bersabar ya," jawab Zivanna.
"Baik Dokter," jawabnya dengan tersenyum.
"Ya sudah, Rain sebaiknya istirahat. Dokter tinggal sebentar untuk memeriksa pasien yang lain, jika membutuhkan apa-apa. Rain bisa cari Dokter," ucap Zivanna.
"Baik Dokter cantik," sahut Rain tampak tersenyum.
Zivanna mengusap pucuk kepala anak kecil tersebut dan kemudian langsung pergi, ketika Zivanna sudah berada di luar, terlihat wajahnya tampak begitu sedih.
"Ya Allah, kasihan sekali Rain, dia pasti berpikir bahwa dia sudah semua dan siapa sangka bawa aja permasalahan yang terjadi pada saraf otaknya," batin Zivanna benar-benar kasihan pada Rain.
Di tengah kesedihannya terlihat beberapa suster berlari membuat Zivanna kebingungan saat memasuki salah satu ruang perawatan yang dia ketahui ruangan siapa itu.
"Suster, kenapa pasien kamar 14?" tanya Zivanna menahan Suster yang berlari panik menyusul teman-temannya.
"Kondisinya tiba-tiba drop," jawab suster tersebut membuat Zivanna ikut panik dan akhirnya mereka berdua buru-buru memasuki ruang perawatan tersebut.
Pasien itu adalah pasien korban kecelakaan yang ditolong oleh Zivanna dan Dikta. Mereka membawa ke rumah sakit setelah melakukan pertolongan pertama dan alhamdulillah kondisi pasien itu membaik dan bahkan hari ini dijadwalkan telah pulang.
Tetapi tiba-tiba saja kondisinya drop dan padahal sejam yang lalu Zivanna baru saja memeriksa pasien tersebut
Suster dan Zivanna sudah masuk ke dalam ruangan pasien, Suster memerintahkan kepada keluarga pasien yang saat ini terlihat panik dan juga menangis untuk menunggu di luar.
Zivanna tidak menyangka pasien tersebut tiba-tiba saja kejang-kejang dengan matanya memutih, di sana juga ada Rania yang sudah melakukan pertolongan kepada pasien tersebut yang kebetulan di Suster yang terlihat panik.
"Astagfirullah.... kenapa pasien seperti ini?" tanyanya tidak menyangka.
"Kamu menyuntikkan antibiotik padanya?" tanya Rania panik
Zivanna menganggukkan kepala karena memang itu harus dilakukan.
"Kenapa memberi antibiotik yang salah dan sementara pasien masih dibawah 9 tahun dan memiliki alergi," ucap Rania.
Zivanna ternyata melakukan kesalahan, pasien tersebut semakin parah dan suster yang sudah berada di ruangan itu sudah memasang monitor jantung. Kondisi pasien itu semakin memucat
"Panggil Dokter Dikta!" tegas Rania memerintahkan dengan panik.
Ada hal-hal ya memang tidak bisa dilakukan dokter sembarangan untuk pasien tersebut. Dikta profesional dan segala sesuatu harus sesuai dengan perintahnya.
Zivanna semakin bingung, matanya berkaca-kaca dengan kepanikan, tangannya memegang tangan anak kecil tersebut yang semakin dingin.
"Ya Allah bagaimana ini? Apa yang harus hamba lakukan?" Zivanna seperti biasa jika panik maka otaknya tidak akan berfungsi dan justru semakin takut.
Rania sudah mengambil tindakan melihat kondisi pasien semakin memburuk.
Suara mesin jantung terus memberi informasi bahwa kondisi pasien benar-benar tidak stabil, tekanan darahnya menurun, tensinya bahkan terus menurun, detak jantungnya tidak normal.
Akhirnya Dikta memasuki ruangan tersebut, dengan cepat memeriksa kondisi pasien dari detak jantung sampai memeriksa bola matanya.
Bib....bib....bib...bib....bib... Bib....
Suara monitor jantung terdengar membuat mata Zivanna melihat bagaimana garis yang awalnya berliku-liku itu menjadi lurus. Zivanna semakin panik dengan menutup mulutnya menggunakan tangannya.
Dikta mengambil tindakan terakhir dengan memompa jantung pasien tersebut menggunakan tangannya, suasana di dalam ruangan itu semakin menegangkan. Sampai akhirnya seketika menjadi sepi.
"Catat kematiannya!" lirih Dikta dengan suara begitu pelan.
Air mata Zivanna jatuh, pasien kecelakaan pada akhirnya meninggal di saat kondisinya sudah baik-baik saja dan tiba-tiba drop. Tubuhnya seketika menjadi lemah, posisi berdirinya bahkan tidak seimbang dan Untung saja ada dinding sebagai penopang yang membuatnya tidak jadi jatuh membuat Dikta menoleh ke arahnya.
Zivanna melihat beberapa suster melepas semua alat ngedit pada tubuh anak kecil itu dan menutup tubuh anak kecil tersebut menggunakan kain putih.
"Kamu sampaikan kepada keluarga pasien dengan kondisi anak mereka," ucap Dikta memberi perintah kepada Rania yang membuat Rania yang menganggukkan kepala dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
Baru beberapa detik Zivanna mendengar suara teriakan histeris dari orang tua pasien dan akhirnya memasuki ruangan tersebut.
Zivanna menyaksikan bagaimana ibu pasien memeluk putranya dengan menyebut nama putranya yang telah tiada.
Zivanna semakin sedih, semakin takut dan merasa bersalah dengan apa yang terjadi, melihat dan menyaksikan di depan matanya membuat Zivanna memegang dadanya yang terasa begitu sesak.
"Ayo!" ajak Dikta untuk mengajak istrinya keluar agar tidak mengganggu duka keluarga itu.
Zivanna masih bengong dan mungkin tidak menyangka jika pasien itu meninggal, Dikta menghela nafas dengan menggenggam tangan istrinya membawanya pergi keluar dari ruangan tersebut. Dikta bisa merasakan dingin dan bergetarnya tangan Zivanna.
"Kenapa anakku bisa meninggal?"
"Kenapa seperti ini?"
"Kenapa!"
Suara tangis wanita itu terus saja terdengar sampai keluar dari ruangan tersebut yang benar-benar tidak menyangka jika putranya akan tiada dan padahal hari ini rencananya akan pulang, suasana benar-benar sangat mencekam. Air mata Zivanna bahkan sejak tadi tidak berhenti jatuh, bukan siapa-siapanya tetapi tetap saja dia merasa sedih dan tidak menyangka jika anak yang telah dia selamatkan pada akhirnya juga pergi untuk selamanya.
Bersambung...