NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

POV: WAHYU

Malam setelah percakapan di taman itu, Wahyu duduk di meja belajarnya dalam keadaan yang tidak biasa.

Laptopnya terbuka tapi tidak ada yang dikerjakan.

Buku-buku tersusun rapi di samping tapi tidak ada yang dibaca.

Dia hanya duduk, dengan satu cangkir kopi yang sudah dingin di tangan, menatap layar laptop yang menampilkan cursor berkedip di dokumen kosong.

Pikirannya tidak kacau seperti yang mungkin dia bayangkan setelah sebuah percakapan seperti tadi sore. Justru sebaliknya—pikirannya terasa lebih sunyi dari biasanya. Seperti setelah mengeluarkan sesuatu yang sudah terlalu lama tersimpan, ada ruang kosong yang menyenangkan, bukan mengancam.

Aku juga menyukaimu.

Dia sudah mengatakannya.

Keluar begitu saja—bukan karena dia merencanakan untuk mengatakannya hari itu, bukan karena ada script yang sudah dia siapkan. Tapi karena Riani berbicara dengan cara yang membuat Wahyu tidak bisa terus menyimpan jawaban yang sudah ada itu.

Dan setelah mengatakannya, dunia tidak runtuh.

Itu yang paling mengejutkan.

Wahyu selalu berasumsi bahwa membiarkan seseorang terlalu dekat—membiarkan dirinya mengakui bahwa seseorang penting untuknya—akan terasa seperti kerentanan yang menyakitkan. Seperti membuka diri untuk disakiti lagi.

Tapi tadi sore, yang dia rasakan justru berbeda.

Bukan aman—karena Wahyu tahu bahwa tidak ada yang bisa menjamin keamanan dalam hal seperti ini. Tapi sesuatu yang lebih realistis dari aman: sesuatu yang terasa seperti keputusan yang dibuat dengan sadar, bukan hanyutan.

Dia memilih untuk mengakuinya.

Dan pilihan itu terasa seperti miliknya sendiri.

Wahyu meletakkan cangkir kopinya. Membuka browser, mengetik nama firma hukum tempat ayahnya didampingi—bukan karena ada informasi baru yang perlu dicari, tapi karena itu kebiasaan yang sudah otomatis: setiap kali pikirannya terlalu penuh dengan satu hal, dia alihkan ke hal lain yang bisa dia kontrol.

Tapi kali ini, dia menutup browser lagi.

Membiarkan pikirannya tetap di mana adanya.

Karena ini—perasaan ini, percakapan tadi sore, pengakuan yang keluar dari mulutnya sendiri—adalah hal yang perlu dia duduki sebentar. Bukan dihindari. Bukan dialihkan.

Pelan-pelan, kata Riani.

Wahyu bisa melakukan itu.

Pelan-pelan adalah bahasa yang dia pahami.

Keesokan paginya, Wahyu bangun lebih awal dari biasanya—jam lima kurang, sebelum alarm berbunyi. Langit di luar masih gelap, suara ayam berkokok dari entah di mana, aroma subuh yang khas masuk melalui celah jendela kamarnya.

Dia berbaring sebentar setelah bangun, tidak langsung bergerak—kebiasaan yang baru berkembang beberapa minggu terakhir. Dulu dia langsung bangun dan langsung bekerja, tidak ada transisi. Tapi Riani pernah bilang tentang pentingnya "waktu bangun yang tidak terburu-buru" dan entah kapan kata-kata itu tertanam.

Dia meraih ponselnya.

Tidak ada pesan dari Riani semalam setelah mereka berpisah di taman—dan itu tidak mengkhawatirkannya. Riani paham kapan harus memberikan ruang dan kapan harus ada, dan itu adalah salah satu hal yang membuat Wahyu bisa bernapas di sekitarnya.

Tapi ada email baru dari firma Sinar Keadilan—dokumen translation pertama yang sudah dia selesaikan kemarin mendapat feedback positif, dan ada tawaran proyek kedua yang lebih besar.

Wahyu membuka email itu, membaca dengan seksama.

Proyek kedua: dua puluh lima halaman kontrak joint venture internasional. Deadlinenya sepuluh hari. Honornya—Wahyu menghitung—sekitar tiga juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.

Dia membalas dengan persetujuan dan konfirmasi jadwal.

Lalu meletakkan ponsel, bangkit dari kasur.

Hari ini Jumat. Ada kuliah pagi—Hukum Tata Negara jam tujuh. Lalu siang ada kelas Filsafat Hukum. Sore bisa mulai translation project kedua.

Jadwal yang padat tapi tidak sepresurus dua bulan lalu.

Karena sekarang ada firma hukum yang membayar jauh lebih baik, dan Wahyu sudah mulai mengurangi project acak dari platform freelance. Makannya lebih teratur—setidaknya dua kali sehari dengan lauk yang lebih dari sekadar tempe goreng. Tidurnya masih tidak cukup, tapi sudah lebih baik dari empat jam semalam.

Perubahan-perubahan kecil.

Mungkin Riani benar tentang banyak hal.

Setelah kuliah Hukum Tata Negara selesai pukul sepuluh, Wahyu berjalan keluar dari gedung kampus tiga—kampus yang jarang dia tinggalkan kecuali ada keperluan di kampus lain.

Tapi hari ini, kakinya berjalan ke arah motor dengan tujuan yang sudah dia putuskan sejak semalam.

Kampus satu.

Bukan karena ada urusan BEM. Bukan karena ada keperluan formal.

Hanya karena—dan ini adalah hal baru yang masih terasa sedikit asing—dia ingin ke sana.

Wahyu tiba di kampus satu pukul setengah sebelas. Dia tahu dari percakapan kemarin bahwa Riani ada kelas Komunikasi Bisnis sampai jam sebelas di gedung B.

Dia tidak pergi ke depan kelas menunggu—itu terlalu dramatis untuk selera Wahyu. Dia pergi ke kantin, memesan kopi hitam dan sepiring nasi goreng—sarapan yang terlambat—dan duduk di meja sudut.

Membuka laptopnya, mulai membaca materi untuk ujian minggu depan.

Pukul sebelas lewat lima menit, ponselnya bergetar.

Riani: "Wahyu, kamu di kampus 1?"

Wahyu melihat layar dengan sedikit terkejut. "Kamu tahu dari mana?"

Tiga titik.

Riani: "Dinda lihat motor kamu di parkiran. Dia langsung WA aku 😂 Kamu di mana?"

Wahyu hampir tersenyum.

Wahyu: "Kantin. Makan."

Riani: "Tunggu aku ya. Lima menit."

Empat menit kemudian, Riani muncul di pintu kantin—tas di pundak, rambut dikuncir setengah, wajahnya sedikit berkeringat seperti baru berjalan cepat.

Matanya menemukan Wahyu, dan ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang hangat.

Dia berjalan mendekat, duduk di kursi seberang Wahyu.

"Kamu ke sini untuk apa?" tanyanya, tapi nada suaranya bukan curiga—lebih ke arah penasaran yang menyenangkan.

"Makan," jawab Wahyu datar.

"Di kampus tiga tidak ada kantin?"

"Ada."

"Tapi kamu ke sini."

"Iya."

Riani menatapnya sebentar.

Lalu tersenyum—senyum kecil yang tidak dia paksakan, yang muncul begitu saja.

"Oke," ujarnya, tidak mengejar lebih jauh.

Dia memanggil pelayan, memesan minuman dan makanan ringan.

Mereka duduk dalam diam yang sudah sangat familiar—diam yang tidak butuh diisi dengan kata-kata, yang terasa cukup dengan kehadiran masing-masing.

Tapi kali ini ada dimensi tambahan di diam itu—sesuatu yang baru ada sejak kemarin sore. Bukan canggung. Lebih seperti kesadaran bersama tentang sesuatu yang sudah diakui dan belum sepenuhnya tahu akan ke mana, tapi tidak dalam keadaan terburu-buru untuk menemukan jawabannya.

"Wahyu," Riani bersuara setelah beberapa menit.

"Hmm."

"Aku mau bilang sesuatu. Dan kamu tidak perlu merespons apa pun kalau tidak mau."

Wahyu mengangkat kepala dari layar laptopnya.

Riani menatapnya dengan ekspresi yang serius tapi tidak berat.

"Kemarin aku bilang banyak hal. Dan kamu juga. Dan aku tidak mau kamu bangun pagi ini dengan pikiran bahwa sekarang ada ekspektasi besar yang harus kamu penuhi." Riani berbicara pelan tapi jelas. "Tidak ada. Kita tetap sama seperti kemarin sebelum percakapan itu. Cuma sekarang kita tahu sedikit lebih banyak tentang satu sama lain."

Wahyu menatap Riani.

"Kamu tidak perlu terburu-buru menjadi sesuatu yang belum siap," lanjut Riani. "Dan aku tidak akan menekan. Yang penting aku tahu kamu ada dan kamu tahu aku ada. Sisanya kita lihat."

Wahyu diam beberapa saat.

Lalu berkata, "Kamu selalu tahu apa yang perlu dikatakan."

"Tidak selalu. Tapi aku belajar dari banyak kesalahan."

"Kesalahan apa?"

Riani menggeleng pelan. "Nanti cerita. Kalau waktunya tepat."

Wahyu mengangguk. Tidak mendesak.

Mereka kembali dalam keheningan yang nyaman.

Dan untuk pertama kalinya, Wahyu duduk di kantin kampus satu bukan karena ada urusan BEM atau keperluan formal.

Hanya karena ada seseorang di sini yang ingin dia temui.

Dan ternyata, alasan sesederhana itu sudah cukup.

Siang harinya, Wahyu kembali ke kampus tiga untuk kelas Filsafat Hukum.

Sebelum masuk kelas, dia membuka WhatsApp dan mengetik pesan ke Riani.

Wahyu: "Terima kasih untuk tadi."

Riani: "Untuk apa?"

Wahyu: "Untuk tidak membuatnya rumit."

Balasan Riani datang dalam sepuluh detik.

Riani: "Itu yang kamu butuhkan. Bukan sesuatu yang rumit."

Wahyu menyimpan ponsel, masuk ke kelas.

Dosen mulai berbicara tentang teori keadilan Rawls—tentang veil of ignorance, tentang prinsip-prinsip yang akan dipilih orang jika mereka tidak tahu posisi mereka di masyarakat.

Wahyu mencatat. Menyimak. Berpikir.

Tapi di sela-sela itu, ada sesuatu yang baru bergema di dalam kepalanya—sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan Rawls atau teori hukum apapun.

Bahwa mungkin, setelah bertahun-tahun membangun tembok, bukan tembok yang membuatmu aman.

Tapi seseorang yang memilih untuk tetap di luar tembokmu, tidak memaksa masuk, hanya hadir—sampai suatu hari kamu sendiri yang membuka pintunya.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!