NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARAH DI BALIK GULUNGAN PERKAMEN

Pukul dua pagi. Dentuman petir yang menggelegar di atas langit Aethelgard menyambar begitu keras hingga pondok kayu kecil itu bergetar. Riezky tersentak dari tidurnya, napasnya memburu, dan dadanya terasa panas—seolah aliran listrik di langit tadi barusan menyulut sesuatu di dalam darahnya. Keringat dingin membasahi keningnya. Ia tidak bisa lagi memejamkan mata; setiap kali ia mencoba, bayangan api merah dan panah bayangan itu kembali muncul.

Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Lyra, Riezky beranjak dari dipannya. Ia berjalan menuju ruang tengah, berniat mengambil segelas air untuk menenangkan kerongkongannya yang kering. Namun, langkahnya terhenti.

Di atas meja kayu tua, sebuah lilin kecil menyala remang-remang. Alih-alih tidur di teras seperti yang disepakati, Valerius justru duduk di sana. Sang penggambar peta itu tidak sedang mendengkur; ia justru sedang merenung, matanya terpaku pada sebuah gulungan perkamen tua yang sangat lebar, jemarinya menelusuri garis-garis tinta yang tampak rumit dan memudar.

"Paman? Kenapa belum tidur?" tanya Riezky pelan, memecah kesunyian malam.

Valerius sedikit tersentak, lalu menoleh. Ia tersenyum tipis, meski wajahnya terlihat lelah. "Ah, Riez. Petir tadi cukup untuk membangunkan orang mati, apalagi orang tua sepertiku. Lagipula, peta-peta ini selalu punya cara untuk mengajakku bicara di tengah malam. Mereka seolah berbisik tentang tempat-tempat yang belum sempat kusentuh."

Riezky menarik kursi dan duduk di hadapan Valerius. "Kau selalu seserius ini dengan kertas-kertas itu?"

"Tergantung apa yang digambarkannya," jawab Valerius misterius. Ia kemudian melipat petanya sedikit dan menatap Riezky. "Tapi kau... kau tidak bangun hanya karena petir, kan? Ada sesuatu yang mengganggumu."

Riezky terdiam sejenak, menatap telapak tangannya sendiri.

"Paman, soal yang tadi pagi... di pantai. Aku tidak hanya mengeluarkan api. Saat makhluk itu menyerang, aku merasa seolah-olah aku bisa merasakan detak jantung bumi yang sangat panas. Dan terkadang, ada percikan biru yang terasa seperti sengatan lebah di ujung jariku. Aku tidak bisa mengontrolnya. Itu mengalir begitu saja, seperti air bah yang menjebol bendungan."

Mata Valerius membelalak.

Ia meletakkan perkamennya dan condong ke arah Riezky. "Percikan biru? Kau bilang ada api merah dan petir biru dalam satu tubuh?"

Riezky mengangguk ragu. Mendengar pengakuan langsung dari mulut Riezky membuat Valerius terdiam cukup lama. Ia mengelus janggutnya, raut wajahnya berubah dari penasaran menjadi sangat serius.

"Riez, dengar," ucap Valerius dengan suara rendah. "Aku sudah berkeliling ke banyak tempat, melihat berbagai jenis pengguna energi elemental. Tapi dua elemen yang bertolak belakang ada di satu orang? Itu bukan sekadar sihir biasa. Itu adalah anomali... atau mungkin warisan yang sangat kuat."

Valerius kemudian menarik sebuah peta lokal Aethelgard yang lebih detail. Jemarinya menunjuk ke sebuah titik di jantung hutan yang sangat lebat, jauh dari jalur nelayan manapun.

"Jika kau ingin hidup lebih lama tanpa membakar dirimu sendiri atau ibumu, kau butuh bantuan," kata Valerius. "Di tengah hutan ini, tersembunyi sebuah tempat yang disebut The Obsidian Grove. Di sana tinggal seorang tua eksentrik yang dikenal sebagai Eldrin. Warga desa menganggapnya gila, tapi aku tahu dia adalah satu-satunya orang di pulau ini yang mengerti tentang 'bahasa' energi liar."

Valerius menatap Riezky dengan mantap. "Besok, kita tidak akan sekadar menggambar peta baru. Kita akan pergi ke sana. Kau harus belajar mengendalikan apa yang ada di dalam dirimu sebelum 'seeker' lain datang mencarimu."

Riezky menelan ludah. Nama Eldrin terdengar asing dan sedikit mengerikan, namun ia tahu Valerius benar. Ia tidak bisa terus-menerus mengandalkan keberuntungan dan amarah.

"Baiklah, Paman. Kita temui penyihir itu," ucap Riezky mantap.

Pagi harinya, sisa-sisa badai semalam hanya menyisakan tanah yang becek dan aroma tanah basah yang segar. Riezky sudah rapi dengan tas punggungnya, berdiri di ambang pintu pondok sementara Lyra sedang sibuk menyiapkan bekal sederhana dari gandum kering.

Riezky berdehem, mencoba memecah suasana canggung sebelum ia benar-benar melangkah pergi. Ia tahu ibunya pasti khawatir setengah mati.

"Bu," panggil Riezky pelan.

Lyra menoleh, tangannya berhenti membungkus makanan. Tatapannya sendu, menatap putranya seolah-olah ini adalah hari terakhir ia bisa melihat Riezky sebagai "nelayan biasa".

"Ibu tahu, kau harus pergi bersama Tuan Valerius, kan?" bisik Lyra.

Riezky melangkah mendekat, lalu dengan gaya khasnya, ia menyeringai lebar—mencoba mengembalikan suasana jail yang biasanya mereka miliki.

"Iya, Bu. Aku harus belajar sama kakek tua gila di tengah hutan itu," ucap Riezky sambil sedikit tertawa. "Paman Valerius bilang kalau aku bisa mengontrol api dan petir ini, nanti hidup kita bakal lebih gampang. Bayangkan saja, kalau tanganku sudah terlatih, aku tidak perlu lagi bawa kayu bakar. Cukup tempelkan jari, sup ikan Ibu langsung mendidih!"

Lyra tersenyum tipis, meski matanya masih berkaca-kaca. Ia tahu Riezky sedang berusaha menghiburnya.

"Dan satu lagi, Bu," lanjut Riezky sambil mengedipkan satu matanya. "Kalau aku sudah jago kontrol petir, aku tidak perlu susah-susah tarik jaring seharian. Cukup celupkan jari ke laut, semua ikan perak itu bakal pingsan dan mengapung sendiri ke perahu kita. Kita bisa jadi nelayan paling kaya di Aethelgard tanpa perlu berkeringat!"

"Hush! Bicara apa kau ini, nanti semua ikan di laut habis kau setrum!" balas Lyra sambil memukul pelan bahu Riezky dengan kain lap. Tawanya kecilnya pecah, dan ketegangan di wajahnya sedikit memudar.

Riezky memegang tangan ibunya dengan lembut. "Aku hanya mau mencari tahu kenapa aku bisa begini, Bu. Aku tidak mau kalau setiap kali aku marah, perahu kita jadi abu. Aku pergi sebentar untuk belajar cara 'mematikan saklar' ini."

Valerius yang sudah menunggu di dekat pagar kayu berteriak sambil memanggul tasnya. "Ayo, Pangeran Nelayan! Kalau kau terus-terusan melucu, Malakai sang Penenun Mantra itu keburu pensiun sebelum kita sampai!"

Riezky mengangguk pada ibunya, memakai tasnya dengan mantap, lalu melangkah keluar.

"Hati-hati, Riez! Jangan bakar janggut penyihir itu!" teriak Lyra dari kejauhan.

"Siap, Bu! Aku usahakan janggutnya aman!" balas Riezky sambil melambaikan tangan, memulai langkah pertamanya menembus lebatnya hutan Aethelgard menuju The Obsidian Grove.

Hutan The Obsidian Grove bukan sekadar kumpulan pepohonan; tanahnya yang berwarna hitam mengkilap seperti kaca dan akar-akarnya yang melilit membuat perjalanan ini menjadi medan tempur yang melelahkan. Namun, bagi Riezky yang terbiasa melompat dari karang ke karang sambil memikul jaring berat, jalur ini terasa seperti jalanan sore di dermaga.

Ia berjalan dengan santai, bersiul kecil sambil memutar-mutar kail emas di jemarinya. Sebaliknya, di belakangnya, suara napas yang berat terdengar seperti suara ikan paus yang terdampar.

"Paman, kau yakin tidak butuh kupanggul?" goda Riezky tanpa menoleh. "Atau mungkin kau mau aku membakar sedikit semak-semak ini biar jalanmu lebih mulus? Tapi ya... kau mungkin ikut terpanggang sedikit."

Valerius berhenti sebentar, bersandar pada sebatang pohon dengan wajah yang merah padam. Ia mengelap keringat di dahinya dengan lengan baju yang kusam. "Diam kau... anak muda... sombong," ucapnya terengah-engah. "Peta ini... tidak bilang... kalau tanjakan ini didesain oleh iblis. Napasku tertinggal di bawah bukit tadi."

Riezky tertawa lebar. "Makanya, kalau sedang menggambar peta, sertakan juga bagian 'jalur untuk orang tua'. Biar kau tidak tersiksa begini."

Tawa Riezky terhenti seketika. Telinganya yang tajam menangkap suara gesekan daun yang tidak alami dari arah semak belukar di depan mereka. Bukan satu, tapi lima... tidak, enam orang.

"Paman, tahan napasmu sebentar. Kita punya tamu," bisik Riezky.

Dari balik bayang-bayang pohon raksasa, sekelompok pria dengan pakaian kulit hewan yang kasar muncul. Mereka bukan Razor Jaws; mereka adalah Bandit Hutan, kelompok liar yang lebih kejam karena terbiasa hidup dengan hukum rimba. Mereka membawa parang berkarat dan gada kayu yang dipenuhi duri besi.

​"Wah, lihat ini," pimpinan bandit yang bertubuh kurus menyeringai. "Dua penjelajah nyasar. Tas kulitmu terlihat mahal, Kakek Tua. Dan kau, Nak... baju penjelajahmu terlalu bagus untuk dikubur di tanah hitam ini."

​Valerius baru saja hendak merogoh sesuatu dari kantong jubahnya, namun Riezky sudah melangkah maju dengan tenang.

​"Paman, istirahat saja dulu. Hitung saja berapa bandit yang akan lari sambil menangis nanti," ucap Riezky santai.

​Pimpinan bandit itu meraung dan menebaskan parangnya. Riezky bergerak seperti bayangan; ia tidak membawa senjata, tapi teknik bertarungnya sangat efisien. Ia berkelit ke samping, lalu menghantam ulu hati bandit itu dengan telapak tangan kosong. Saat tiga bandit lainnya mengepung, Riezky mulai merasakan aliran panas yang familiar di ujung jari-jarinya.

​Kali ini, ia mencoba menahannya. Ia tidak membiarkan apinya meledak hebat, melainkan memadatkannya tepat di sepuluh ujung jarinya.

​Bzzzt! Cesh!

​Riezky hanya memberikan sentuhan kecil pada bahu salah satu bandit. Seketika, pria itu memekik saat lubang gosong terbentuk di bajunya, diikuti sengatan listrik biru yang membuat seluruh tubuhnya kaku dan gemetar.

​Riezky mulai bergerak lebih cepat, melakukan sentuhan-sentuhan ringan yang fatal. Ia menepis pergelangan tangan bandit yang memegang senjata, meninggalkan bekas bakar yang berasap.

Ia menyentuh dada bandit lainnya, membuatnya terpental dengan kilatan biru yang menyambar pelipisnya.

​"Apa kau... apa kau iblis?!" teriak salah satu bandit saat melihat kawan-kawannya tumbang hanya dengan sentuhan jari tanpa luka berdarah sedikit pun.

​"Bukan, aku cuma penjelajah magang yang sedang mencari arah," sahut Riezky dingin. Ia menjentikkan jarinya ke udara, melepaskan percikan statis yang cukup terang untuk membutakan mata mereka sejenak. "Mau lanjut, atau mau kusegel mulut kalian dengan ini?"

​Melihat pemuda itu berdiri tenang dengan ujung jari yang masih mengeluarkan asap tipis, nyali para bandit itu ciut. Mereka menyeret teman-teman mereka yang pingsan dan lari terbirit-birit masuk ke dalam lebatnya hutan.

​Suasana kembali sunyi. Riezky meniup ujung jarinya, lalu berbalik menatap Valerius.

​Valerius berdiri mematung. Kekaguman terpancar jelas di wajahnya yang letih. "Luar biasa..." gumamnya. "Kau... kau baru saja memadatkan energi itu ke ujung jari secara spontan? Riz, penjelajah mana pun di benua ini akan membayarmu mahal untuk kemampuan compression seperti itu. Kau melakukannya seolah-olah itu hanya permainan anak kecil."

​Riezky mengangkat bahunya, mencoba bersikap biasa saja meski dadanya sedikit berdebar. "Rasanya seperti memegang belut listrik, Paman. Sedikit geli di jari, tapi sepertinya cukup efektif untuk mengusir hama."

​Valerius menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar. "Baju baru, kekuatan baru.

Sepertinya pilihanku membawamu memang tidak salah. Ayo, kita sudah hampir sampai di wilayah Penyihir itu. Tapi ingat, jangan coba-coba melakukan 'sentuhan' itu pada janggutnya jika kau masih ingin punya kepala."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!