Demi melindungi cintanya, dia harus membuat sebuah keputusan yang sulit untuk di mengerti orang lain. Menyembunyikan pernikahannya dan tinggal terpisah dari istrinya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan itu selain dirinya, si gadis dan asisten pribadinya. Sangat tidak masuk akal memang, namun semua itu Kevin lakukan semata-mata hanya demi melindungi gadis tercintanya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Jessica memutuskan sambungan telfonnya dengan tersenyum. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dia baru saja berbincang-bincang dengan Jae Eun melalui telefon. Jessica sangat merindukan bibinya tersebut karna sudah lebih dari satu minggu mereka tidak bertemu karna Jae Eun sedang berada di luar kota.
Kemudian menggulirkan pandangannya pada langit malam yang tampak gelap dan suram. Tak ada satu pun Bintang yang terlihat di langit, Bulan bersembunyi di balik awan hitam.
Sejak sore langit memang tak bersahabat sama sekali, dan hujan lebat yang mengguyur kota baru berhenti sekitar tiga puluh menit lalu. Hujan tidak menyisahkan apapun selain langit muram tanpa bintang.
Jledeerrr ....
"Aaahhh ...," Jessica memekik kencang saat sebuah petir tiba-tiba menyambar, kilatan cahaya putihnya membuat langit gelap menjadi terang selama beberapa saat.
Jlederrr ...
"Aaahhh ...," Jessica kembali berteriak saat petir kembali menyambar. Tubuhnya gemetar ketakutan dan keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.
Jlederrr ....
"Eomma ... hiks, aku takut," Jessica mulai terisak, air matanya jatuh tanpa mampu dia cegah. Wajah cantiknya tampak sembab.
Petir dan gelap adalah kelemanannya. Bukan lagi rahasia bila Jessica sangat takut pada petir dan kegelapan. Dulu saat masih kecil Ibunya selalu menenangkannya setiap kali ada petir atau pun terjadi pemadaman listrik. Dan setelah Ibunya tiada, Jae Eun yang selalu melakukannya tapi sayangnya saat ini wanita itu tidak ada bersamanya.
Sementara itu. Kevin yang baru saja pulang dari kantor dikejutkan oleh teriakkan dan Jeritan Jessica. Cemas terjadi apa-apa pada wanitanya, dia pun bergegas.
"Sica ...."
Dan setibanya di kamar, Kevin melihat Jessica yang sedang meringkuk ketakutan dengan wajah berlinang air mata. Dan jeritan Jessica kembali menggema setiap kali terdengar suara petir menyambar. Kevin menghampiri wanita itu dan merengkuhnya. "Tentanglah, Sayang. Aku ada di sini, kau jangan takut lagi," bisik Kevin sambil mengusap punggung Jessica dengan gerakkan naik turun.
Kevin menggunakan kepala Jessica sebagai bantalan kepalanya. Perlahan Jessica pun mulai tenang. Wanita itu tidak lagi ketakutan meskipun petir terus menyambar saling bersahutan. Pelukkan Kevin membuatnya menjadi lebih tenang sekarang.
Setelah di rasa mulai tenang. Kevin melepaskan pelukkannya, jari-jarinya menghapus jejak air mata di pipi Jessica sambil tersenyum kecil. "Kau sudah merasa lebih baik?" Jessica mengangguk, Kevin menarik lengan Jessica dan membawa wanita itu kembali ke dalam pelukkannya. "Maaf, jika saja aku pulang lebih awal, kau tidak akan ketakutan seperti ini. Maaf, Sayang," liriknya penuh sesal. Jessica menggeleng, lagi pula siapa yang bisa memprediksi cuaca yang sulit di tebak.
"Aku sudah tidak apa-apa, sebaiknya kau mandi dulu, pasti tubuhmu rasanya sangat tidak nyaman."
"Kau yakin tidak apa-apa aku tinggal sendiri?" Jessica menggeleng "Baiklah, sebaiknya kau segera tidur, ini sudah larut malam." Kevin mencium kening Jessica dan pergi begitu saja. Kemudian Jessica membaringkan tubuhnya, matanya benar-benar terasa berat dan dalam hitungan detik saka dia sudah pergi ke alam mimpi.
🌹🌹🌹
"YEEEE! AKU MENANG LAGI, YUHUUUU,"
Justin hanya bisa menunduk lesu. Lagi-lagi dia dikalahkan dalam permainan kartu oleh Leon dan Daniel, dan sesuai perjanjian, yang kalah harus menerima hukuman dan menjadi perempuan selama satu minggu penuh. Dan dalam hatinya Justin tak henti-hentinya merutuki kebodohannya, seharusnya dia tidak mengikuti taruhan bodoh itu.
"Hyung, kau tidak melupakan perjanjian kita bukan? Satu minggu kau harus menjadi gadis, dan mulai malam ini namamu bukan lagi Justin tapi Jinna." Seru Leon dengan senyum penuh kemenangan.
"Dan ini semua atribut yang harus kau pakai selama satu minggu ini, kawan. Ada wig, hils, dress, pakaian dalam dan tak ketinggalan dua buah payudara palsu. Ingat , namamu bukan lagi Justin, tapi Jinna." Daniel datang sambil membawa sebuah kotak yang didalamnya berisi penuh semua atribut yang harus Justin pakai.
"Iya-iya, aku tau, tidak usah diingatkan lagi." Justin menyambar kotak itu dan membawanya ke dalam kamarnya. Dan Justin tidak menduga jika hal buruk akan menimpa hidupnya. Dalam hatinya Justin bersumpah jika suatu saat nanti dia akan membalas mereka berdua yang lebih parah dari ini.
🌹🌹🌹
BRUGGG....
Tubuh pria itu tersungkur di lantai dengan luka di sekujur tubuhnya. Dihadapannya , duduk seorang pria dengan wajah angkuhny, tatapan setajam elang. Pria itu bangkit dari kursinya dan menghampiri pria malang itu yang terlihat begitu tidak berdaya.
"Uhhhh," rintih kesakitan keluar dari sela-sela bibirnya ketika pria itu mencengkram rahangnya dengan kuat . "A-apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Kevin Zhang?" tanya pria itu terbata.
Kemudian Kevin menyibak poninya dan menarik turun sebuah benda hitam yang menutupi mata kirinya. "Kau mengingat bekas luka ini?" tanya Kevin dengan tatapan dinginnya. "Atau perlu aku ingatkan?" sinis Kevin menyeringai.
Kedua mata pria itu membelalak melihat Kevin memainkan sebilah pisau yang tampak berkilauan di sekitar wajah dan matanya. "Aaarrrkkhhh," teriakan kesakitannya menggema dan memenuhi di seluruh penjuru ruangan saat belati itu menyayat wajahnya dan luka memanjang pada mata kirinya. Luka yang sama seperti luka pada wajah Kevin meskipun luka itu didapatkan dengan cara berbeda.
"Bagaimana? Kau sudah mengingatnya? Apa kau fikir aku tidak tau jika kau terlibat dalam insiden yang menimpaku beberpa minggu yang lalu. Sebelum keadaan yang kau alami lebih buruk dari ini, sebaiknya katakan siapa dalang di balik insiden yang menimpaku jika tidak maka pistol ini yang akan berbicara." Ujung pistol Kevin menempel pada kening pria itu.
"A-ampun, Tuan. Ba-baiklah, aku akan memberi taumu tapi jangan membunuhku. Jerry Zhang, dialah yang menyuruh kami."
"Bagus, seperti dugaanku. Sepertinya tikus itu benar-benar perlu di beri pelajaran. Kai, Jimin, urus manusia tak berguna ini."
"Baik, Boss."
🌹
"Huang Zitao, kau sudah bosan hidup ya? Jauhkan melon dan mentimun itu dadiku atau kau akan mati."
Suara Jessica menggema memenuhi seluruh penjuru ruangan. Lagi-lagi Tao membuatnya kesal dan marah setengah mati. Entah kenapa Tao tidak pernah lelah untuk mengerjai Jessica dan membuatnya kesal. Sekali lagi Tao memaksa Jessica untuk memakan mentimun dan melon yang jelas-jelas tidak dia sukai sama sekali.
"Sudahlah, Nunna-ya, langsung bunuh saja Panda menyebalkan itu. Aku mendukungmu," seru Lay tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Diamlah kau, Pikun, memangnya siapa yang memintamu untuk bicara? Kau dan Panda ini tidak ada bedanya." Sahut Jessica sinis.
Tak ingin kesalnya semakin memuncak karna kejahilan Tao. Segera Jessica meninggalkan dapur dan pergi kekamarnya yang ada di lantai dua. Wanita itu merebahkan tubuhnya pada tempat tidur super nyaman miliknya dengan posisi terlentang. Wajahnya menghadap langit-langit kamarnya, tiba-tiba dia sangat merindukan Kevin.
Jessica tidak mengerti dirinya akhir-akhir ini. Dia memiliki mood yang selalu berubah-ubah. Terkadang dia merasa begitu bosan dan malas untuk melakukan apapun, tak jarang dia menghabiskan harinya di kamar dengan berbaring di atas tempat tidur saja. Dia selalu mual setiap kali mencium aroma parfum ataupun malanan yang baunya sangat menyengat.
"Pasti makan sesuatu yang asam akan sangat menyegarkan," ucapnya bergumam. Jessica meraih ponselnya yang ada di atas nakas dan mencari kontak ponsel Kevin. Jessica ingin supaya Kevin membelikannya buah-buahan asam ketika pulang. Tapi ponsel Kevin malah tidak bisa di hubungi.
Jessica mendesah berat. "Sepertinya memang harus aku sendiri yang pergi dan membelinya," gumam Jessica. Tentu tidak sendiri, dia akan membaw Tao dan Lay untuk pergi bersamanya. Meskipun sikap mereka sering kali menyebalkan tapi dia juga tidak tega bila mereka selalu di hukum karna dirinya.
.
.
.
BERSAMBUNG.