NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Midnight Ceremony

14 Juni 2025.

Prom Night sekolah Alana diadakan di Luxe Horizon Hotel.

Ballroom hotel itu sudah disulap menjadi tempat yang glamor. Chandelier kristal raksasa yang menggantung tinggi, memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan. Di setiap sudut, meja bundar dihiasi karangan bunga mawar putih, lilin tinggi, dan kristal kecil yang memantulkan cahaya. 

Lampu sorot warna emas perlahan bergerak mengikuti musik pop yang diaransemen menjadi lebih classy dari live band jazzy.

Suasana malam itu sangat ramai. Perempuan tampil dengan gaun panjang, make up profesional, rambut ditata salon. Laki-laki memakai jas dan tuksedo. Mereka terlihat menikmati acara ini.

Ada yang berdansa di tengah, mengambil foto di photobooth, mencicipi berbagai makanan yang disiapkan, atau berdiri di sudut ruangan, meminum wine sambil mengobrol dengan temannya. 

Seperti biasa, Alana menjadi pusat perhatian tanpa berusaha. Gaun hitam elegannya menyatu dengan vibe ballroom. Dia berdiri tenang, tidak banyak bicara, hanya memandang kerumunan dengan tatapan datar yang sulit dibaca.

“Alana!” Kayla mendekat dengan dengan wajah ceria. 

Alana hanya menoleh, tidak menjawab.

Kayla memberikan satu gelas wine pada Alana.

Alana menerimanya.

“Seru banget acaranya. Iya, kan?” 

Wajah Alana tetap datar. “Biasa aja.”

“Kelihatannya lo nggak terlalu menikmati acara ini?”

Alana menghela napas, terlihat cukup muak. “Harusnya acara ini jadi acara yang high class. Tapi lo lihat…”

Alana menunjuk beberapa orang yang sudah mabuk di sudut ruangan. “... Harusnya mereka ke club kalau mau mabuk-mabukan.”

Alana menatap ke sisi lain. Ada beberapa cewek yang sedang saling memamerkan dress yang mereka pakai. “Merasa paling cantik padahal warna dressnya tabrakan sama warna kulit.”

Alana menatap ke meja-meja buffet yang penuh dengan makanan, dimana beberapa orang sedang mencoba semua makanan hingga perutnya terlihat sedikit membesar.  “Makan kayak babi. Rakus.”

Kayla hanya tersenyum tipis, mendengarkan ucapan Alana.

“Sikap norak mereka kotorin acara ini,” ucap Alana lagi. Suaranya terdengar semakin tajam.

Kayla tersenyum. “Udah, daripada lo bete, mending kita minum.”

Kayla mengangkat gelas wine di tangannya.“Cheers.”

Gelas mereka saling beradu menimbulkan bunyi kecil.

Alana meminum wine itu dengan santai. Begitu juga dengan Kayla.

Tidak lama kemudian, semua orang mulai berkumpul di depan panggung, menunggu hitung mundur menuju midnight ceremony. Musik melambat, berubah menjadi irama yang lebih megah.

Alana tetap berdiri di tempatnya, bersama Kayla.

“Ready, everyone?” teriak MC.

Sorak-sorai memenuhi ballroom. Kayla terlihat tersenyum cerah, seperti biasa, kontras sekali dengan Alana yang berdiri dengan postur tenang dan wajah datar elegan.

Lalu hitungan dimulai.

“TEN!”

Semua orang mengangkat tangan ke atas.

“NINE!”

Confetti shooter di kiri-kanan panggung bersiap.

“EIGHT!”

Alana menarik napas tipis. Ada sensasi aneh di perutnya, seperti gelombang halus.

“SEVEN!”

Kayla bersandar sedikit ke arahnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tenggelam oleh keramaian.

“SIX!”

Ruangan terasa bergerak.

“FIVE!”

Sebuah denyut tumpul memukul bagian belakang kepalanya. Pandangan Alana mulai terasa berat.

“FOUR!”

Cahaya lampu gantung terlihat lebih terang dari seharusnya, menusuk matanya.

“THREE!”

Jantung Alana berdetak lebih cepat secara tidak normal.

“TWO!”

Tangannya refleks memegang sisi meja kecil di belakang mereka.

Kayla menoleh padanya.

“ONE!”

Pada detik terakhir, tepat ketika semua orang bersorak dan confetti meledak dengan suara keras, kepala Alana terasa dihantam penuh.

Semuanya berputar.

Suara musik terdengar jauh, seperti datang dari ujung terowongan. Lampu-lampu menari liar di kelopak matanya, dan tubuhnya terasa hangat berlebihan, tidak nyaman. Napasnya mulai tercekat.

Alana menoleh pada Kayla. Perempuan itu tampak diam menatap dirinya. 

Dalam pandangannya yang mulai kabur, Alana melihat Kayla tersenyum miring.

...***...

Rayyan masuk ke kamar Thomas. Ruangan itu dipenuhi tiga monitor besar yang menyala bersamaan, wallpaper terminal hijau terus berjalan dengan script. Ada laptop open source di sampingnya, kabel berserakan seperti sarang laba-laba, router kecil dengan lampu LED berkedip, dan papan tulis hitam berisi diagram jaringan, alamat IP, dan catatan debugging.

Thomas duduk di depan monitor tanpa menoleh. 

Rayyan menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

“Gue udah takedown beberapa video yang tersebar di grup,” ucap Thomas.

Rayyan mengerutkan kening. “Beberapa?" 

Thomas mengangguk. "Pas gue mau takedown, ternyata video-video itu udah di-takedown dulu sama orang lain.”

Rayyan menghela napas lega, tapi juga mengerutkan kening. “Siapa?" 

Thomas mengedikkan bahu. “Gue nggak dapet jejak apapun dari orang yang berhasil takedown video-video itu."

Rayyan mengerutkan kening.

“Tapi, gue udah cari siapa pelaku yang sebar video itu,” ucap Thomas yang membuat Rayyan menoleh  sempurna padanya.

Thomas mendengus sinis. "Kurang ajar banget. Dia nge-spoof identitasnya. IP-nya aja nggak stabil, berubah tiap 0,3 detik.”

Rayyan menatap layar monitor yang menunjukkan titik merah yang berpindah tempat dengan cepat.

“Terus gimana? Lo bisa cari tau?" 

Thomas menoleh pada Rayyan, tersenyum bangga. “Lo dateng ke orang yang tepat.”

Thomas kembali menghadap ke layar. Tangannya sibuk mengetikkan perintah di laptop, tapi bibirnya menjelaskan dengan santai.

“Singkatnya gini, proxy yang dipakai pelaku itu rakitan sendiri. Satu node-nya error, jamnya nggak sinkron. Detik-nya beda sedikit sama server dunia,” ucap Thomas menjelaskan.

Rayyan mengerutkan kening. “Terus?”

“Terus itu bikin packet leak. Bocoran kecil dari data kiriman mereka. Dari situ gue bisa lihat endpoint terakhir, perangkat asli yang dipakai ngirim.”

Rayyan mencengkram lututnya. “Dan?”

Thomas menelan ludah. “Endpoint itu… ponsel.”

Rayyan menegang.

“Kamera ponsel itu ngirim videonya dari satu lokasi yang fixed. GPS-nya memang dimatiin, tapi WiFi fingerprint-nya ketangkep.”

Rayyan mengerutkan kening. “Fingerprint?”

Thomas mengangguk. “Setiap router punya ‘sidik jari’, kombinasi MAC Address, sinyal, frequency drift. Itu nggak bisa dipalsuin. Ponsel itu ngirim video dari satu router yang unik banget.”

Thomas menekan banyak tombol di keyboard sebentar, lalu satu titik merah muncul.

Rayyan menatapnya. Napasnya tertahan.

Thomas menunjukkan sebuah rumah. “Lokasinya ada di rumah ini.”

Rayyan mengerutkan kening, mengamati lokasi rumah itu.

“Dan…” 

Thomas membuka file lain. Layar berkedip sebentar sebelum satu data besar muncul.

Rayyan menatap monitor itu tanpa berkedip.

DEVICE NAME: Kayla 

“Pelakunya itu Kayla,” lanjut Thomas.

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Rayyan tidak langsung bicara. Rahangnya mengeras.

Rayyan mengerutkan kening. “Kayla… Kayla yang biasanya sama Lana?”

Thomas menelan ludah, lalu mengangguk. “Gue udah cross-check ke database publik, cocok. Dia… Kayla yang kita tahu.”

Rayyan menyandarkan punggung ke kursi. Matanya kosong sesaat mencerna informasi yang baru didapatkannya.

Sesaat kemudian, Rayyan teringat sesuatu. Tangannya bergerak cepat meraih ponsel. Layar menyala.

Rayyan membuka satu chat dari nomor tak dikenal dan mendorong ponsel itu ke arah Thomas.

Lo suka hadiah dari gue?

Rayyan menatap Thomas. “Gue nggak ada masalah apapun sama Kayla. Kok bisa Kayla ngirim chat kayak gini ke gue?”

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Chillzilla: nanti kak🤗
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!