NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Ulang Tahun

Pagi di kantor berjalan seperti biasa, terlalu biasa. Ravindra sedang menandatangani berkas ketika ponselnya bergetar di sisi meja. Nama Mama muncul. Ia mengangkatnya tanpa banyak pikir.

“Kamu nggak lupa kan, besok ulang tahun Tafana?” suara itu ringan, seolah mengingatkan jadwal servis mobil.

Ravindra menelan ludah. Bagaimana bisa lupa, dia saja baru tahu tanggalnya.

"Oh iya Ma. Aku sudah siapkan hadiahnya," jawab pria itu, berbohong tentu saja. Ia bahkan tidak terpikirkan apa yang perlu dipersiapkan.

“Kamu harus senangkan dia ya. Itu hari lahirnya.”

“Iya, Ma,” jawab Ravindra refleks.

Telepon ditutup. Ruangan kembali dipenuhi dengung AC dan ketukan keyboard sekretaris di luar. Ravindra menatap map di depannya, tapi huruf-hurufnya mendadak tidak menyusun arti.

Besok. Kata itu menggantung. Ia menunggu sesuatu muncul. Ide, dorongan, antusiasme. Tidak ada.

Ia mencoba mengingat. Warna kesukaan Tafana? Kepalanya kosong.

Cake favorit? Ia teringat kue apa pun yang pernah diletakkan di meja makan, semuanya terasa sama, dilahapnya juga.

Hadiah?

Ia menyadari satu hal yang membuat dadanya mengeras: ia tidak tahu satu pun hal kecil yang membuat istrinya benar-benar bahagia. Bukan bahagia karena dikejutkan, bukan bahagia karena menghargai usahanya. Bahagia yang personal.

Ravindra meraih jaket. Ia butuh keputusan cepat.

Toko perhiasan menyambutnya dengan cahaya putih dan etalase yang rapi. Aman. Netral. Mahal. Ia tidak perlu tahu selera siapa pun. Ia menunjuk sebuah gelang dengan batu merah tua. Red ruby. Elegan. Pantas untuk istrinya. Penjual tersenyum, membungkusnya dengan pita. Ravindra mengangguk, dan selesai.

Saat berbalik, matanya tertahan pada etalase lain. Gelang yang sama, desainnya serupa, tapi batunya biru. Blue sapphire. Dingin. Lebih berani.

Ia berdiri sedikit lebih lama dari yang perlu, merasakan tarikan aneh di dadanya. Ia teringat Yunika. Tanpa bertanya, tanpa menimbang, ia meminta yang itu juga.

Dua kotak diletakkan di tangannya. Beratnya berbeda, meski nilainya hampir sama. Ravindra keluar dari toko dengan langkah pasti, seolah tidak baru saja membagi sesuatu yang seharusnya utuh: satu hadiah untuk kewajiban, satu lagi untuk keinginan.

-oOo-

Mereka bertemu malam itu, untuk makan malam romantis di restoran yang ditentukan Yunika.

Perempuan itu tampak elegan dengan gaun keemasan, duduk hening sambil memotong steak.

Ravindra baru saja menyeruput wine-nya ketika Yunika berkata ringan, terlalu ringan.

“Aku boleh ketemu istri kamu?”

Ravindra menoleh cepat. Alisnya terangkat, lalu turun lagi. “Tidak perlu,” jawabnya refleks. Terlalu cepat, defensif.

Yunika tidak tersinggung. Ia malah tersenyum kecil, seperti sedang mengingatkan hal sepele yang terlupa. “Dikenalkan sebagai teman lama aja. Toh kamu nggak bohong, kan?”

Kata bohong itu disebut pelan, tapi tepat. Ravindra menghela napas. Ia menatap garpu dan pisau yang ia genggam, merasa dadanya sedikit mengencang. “Ini… bukan waktunya,” katanya akhirnya. “Ulang tahun Tafana besok.”

“Oh.” Yunika mengangguk pelan. Sejenak ia diam, lalu mendekatkan kepalanya, suaranya diturunkan. “Kalau begitu, bagaimana kalau aku bantu?”

Ravindra mengangkat wajahnya. “Bantu apa?”

“Siapkan ulang tahunnya. Kamu pasti kerepotan, kamu mana tahu tentang persiapan ulang tahun begini.” Yunika berkata seperti itu hal paling wajar.

“Aku nggak berharap apa-apa. Cuma mau dikenalkan sebagai teman lama yang kebetulan bisa bantu, itu kan fakta.” Ia tersenyum lagi, kali ini lebih hangat. "Demi Tafana, agar kejutannya sukses.”

Ada sesuatu dalam cara Yunika mengatakannya yang membuat Ravindra melembut. Tidak memaksa. Tidak menuntut. Seolah Yunika sedang menyingkirkan dirinya sendiri demi orang lain. Ia membayangkan Tafana tersenyum, kejutan kecil yang rapi. Dan Yunika terasa dewasa dengan sikap mengalahnya, tidak egois.

“Kalau kamu keberatan, nggak apa-apa. Tapi aku rasa justru ini momen yang sangat tepat. Saat senang, orang cenderung terbuka,” tambah Yunika, cepat, seakan memberi jalan mundur. Tapi matanya tetap di sana. Menunggu.

Ravindra mengangguk pelan. “Baiklah. Aku… hargai itu.”

Di balik senyum Yunika, ada keputusan yang sudah dibuat. Ini bukan soal membantu. Ini tentang upaya menyusup, perlahan, resmi, dan tak bisa ditarik kembali. Dua orang berdiri di parkiran yang sama, menyepakati hal yang sama, dengan makna yang sepenuhnya berbeda.

-oOo-

Keesokan harinya, rencana dijalankan. Ravindra sengaja bolos kerja demi persiapan ini.

Toko kue itu ramai dan hangat. Ravindra berdiri di depan etalase, mengernyit, sementara Yunika jongkok sedikit agar sejajar dengan deretan kue.

“Yang cokelat terlalu pasaran,” katanya. “Yang stroberi terlalu manis.” Ia menoleh. “Ini, burnt cheesecake. Unik, manis dan gurih sekaligus.” Jarinya menunjuk satu kue dengan hiasan sederhana. Ravindra mengangguk tanpa banyak debat. Semua terasa mudah.

Di toko perlengkapan pesta, mereka tertawa kecil saat memilih topi pesta yang aneh-aneh. Lalu sempat bertengkar kecil soal warna balon yang dibeli. Akhirnya mereka membeli dua warna, pink dan emas.

Mereka pun memilih berbagai dekorasi. Backdrop warna emas berpadu rosegold, balon-balon foil berbentuk lucu. Juga lilin LED yang menurut Yunika perlu diborong karena romantis.

“Kamu dari dulu nggak jago beginian,” kata Yunika dengan nada menggoda yang akrab.

Ravindra senang, rasanya seperti kembali ke masa sekolah. Masa dimana mereka seringkali terlibat dalam tim yang sama, dalam lomba classmeeting, atau dalam tugas kelompok belajar. Ada rasa yang serupa.

Di rumah, mereka menempel dekor di satu sisi tembok. Ravindra memegang selotip, Yunika mengatur jarak. “Miring,” katanya. “Sedikit lagi.”

Mereka bergerak seperti pernah sering melakukannya. Kerja kelompok yang tidak butuh komando. Tawa mereka terdengar ringan, mengisi ruang yang biasanya sunyi.

Ravindra melangkah mundur, menilai hasilnya. Dadanya hangat. Ini benar, pikirnya. Ini terasa hidup. Ada rasa pulang yang aneh, seolah ia melakukan sesuatu yang tepat.

Yunika mengusap telapak tangannya yang lengket, menatap dekor itu dengan senyum tipis. Di kepalanya, rumah ini perlahan menjadi familiar. Bukan sebagai tamu, sebagai bagian. Ia tahu ini salah, dan justru karena itulah kebahagiaan ini terasa paling nyata.

-oOo-

Mobil Sierra berhenti tepat di depan rumah. Tafana turun sambil masih membalas pesan di ponsel, kepalanya penuh tenggat dan daftar produksi. Rumah tampak gelap, sunyi seperti biasa. Ia sempat berpikir Ravindra belum pulang.

Begitu pintu dibuka, lampu menyala serempak.

“Surprise—”

Balon berwarna pink lembut dan emas menghiasi backdrop yang memenuhi satu sisi tembok. Kue ulang tahun yang cantik di meja makan. Ravindra berdiri di tengah ruang tamu dengan senyum yang rapi, sedikit tegang. Tafana tertegun, napasnya tertahan sepersekian detik, lalu matanya menangkap sosok lain di sisi Ravindra.

Seorang perempuan. Cantik dengan gaya yang percaya diri. Berdiri seolah ia memang pantas berada di sana.

“Selamat ulang tahun, Tafana,” kata Ravindra cepat, seperti takut momen itu retak.

Tafana tersenyum. Refleks. Terlatih. “Kamu ngapain gelap-gelapan,” katanya ringan, lalu menoleh pada perempuan itu.

“Oh—” Ravindra bergerak setengah langkah. “Ini Yunika. Sahabat aku sejak SMP.”

“SMP?” ulang Tafana pelan.

"Iya, aku cuma bantu Ravin persiapkan kejutan ulang tahun kamu. Dia nggak mengerti hal-hal kayak begini," jelas Yunika, tertawa kecil.

“Jangan remehkan aku, Nika,” balas Ravindra, bibirnya merengut. "Aku bisa sendiri, cuma takut hasilnya kurang maksimal."

Nama kecil. Nada akrab yang tak perlu dijelaskan.

Tafana menangkap semuanya dalam sekali pandang, kedekatan yang tidak dibangun kemarin sore. Ia terkejut, tentu. Tapi ia menegakkan bahu, memilih berdiri di tempat yang lebih tinggi dari kecemburuan.

“Aku Tafana,” katanya ramah. “Terima kasih sudah membantu.”

“Happy birthday,” Yunika tersenyum hangat. “Ravin berusaha keras buat kamu.”

Tafana mengangguk.

Ini hari ulang tahunku, katanya dalam hati. Aku tidak akan merusaknya dengan kecurigaan.

Ia tidak mau menjadi istri yang membatasi suami berteman dengan perempuan. Ia ingin menjadi wanita berkelas, dan ia percaya dirinya mampu.

Mereka duduk berempat dan bernyanyi, meniup lilin, hingga kue dipotong. Tawa terdengar, ringan dan menyenangkan.

Sierra lebih banyak diam, matanya bergerak cepat, membaca jarak, intonasi, bahasa tubuh.

Ia tertawa di waktu yang tepat, tapi instingnya berdiri siaga.

Foto diambil. Ravindra di satu sisi, Yunika di sisi lain. Tafana di tengah, tersenyum paling tenang.

Kado dibuka. Gelang red ruby berkilau di telapak tangannya. Indah, cocok dengan Tafana.

“Terima kasih,” kata Tafana tulus. Ravindra mengangguk, lega.

Di balik perayaannya, ada hal janggal yang luput oleh pandangan Tafana: Ulang tahun ini sempurna. Dan justru karena itu, kejam.

Ia tidak tahu tentang gelang biru. Ia tidak tahu seberapa jauh Yunika sudah melangkah. Tapi ia tahu satu hal yang terasa jelas saat malam menutup rumah itu: ini bukan lagi rumah yang hanya ia tinggali.

Tidak ada drama. Hanya pengkhianatan yang dilakukan dengan sangat sopan.

1
Arin
Ternyata kenalan Tafana gak kaleng-kaleng, direktur tempat Yunika bekerja. Jika nanti perselingkuhan terkuak, habislah dia. Semoga di pecat dari tempat kerjanya
amilia amel
yessss...
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
kalea rizuky
lama ketauan cpet donk
kalea rizuky
moga cpet cerai males uda selingkuh tidur bareng jalang ogah klo. balik
nuraeinieni
bagus tuh tafana,kasi pelajaran sama pelakor biar merasa bersalah dan ketakutan.
Ni nyoman Sukarti
lanjut thor.... penasaran nih...😄🤭
nuraeinieni
bagus tuh tafana,bila perlu hampiri mereka dan ucapkan selamat atas selingkuhan mereka.
amilia amel
Alhamdulillah.... Tafana sudah tau dengan mata kepala sendiri
amilia amel
dahlah lepaskan Tafana saja
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
Arin
Kalau memang gak bisa tumbuhin rasa cinta sama Tafana..... udah ceraikan saja. Bersatulah situ sama selingkuhan mu. Biar tau kelakuan cintamu yang suka celap celup sama orang lain juga. Gedeg lihat laki model gini. Bikin naik darah....
nuraeinieni
ayo sierra bantu tafana selidiki hubungan yunika dgn ravind buar mereka terciduk sama tafana.
amilia amel
lepaskan salah satunya, jangan serakah
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅
nuraeinieni
dasar buaya buntung,obral janji,pembohong,bodoh,mau saja di kadalin sama pelakor.
Arin
Suami model gini boleh di getok pake palu gak sih kepalanya. Pura-pura lupa apa memang lupa ada istri dirumah. Kalau memang pilih Yunika, ya harus lepas salah satunya. Jangan main di belakang kayak gini. Perhatian dan semua tindakan sayang dibesarin buat selingkuhan....
amilia amel
jangan sampai Darren jatuh cinta sama yunika.... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Arin
Wanita manipulatif gini di perjuangin hadeuh🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️Ya udahlah namanya juga cinta keblinger. Udah punya istri, masih saja jalan dengan cinta pertama belum kelar
nuraeinieni
semoga saja nih yunika mencerita kan kebohonganya pada darren.
nuraeinieni
bodoh sekali ravindra,terlalu cepat percaya tanpa menyelidikinya,yunika berhasil membodohi ravindra,tp ingat yunika,sepandai pandainya kamu menyimpan rahasia,suatu saay akan terbongkar.
amilia amel
hemmmmm
nuraeinieni
modus ya darren,,,😃menyuruh yunika nginap di tempatmu,,,😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!