Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja Dan Ratu Sehari
Setelah kemarin mereka menikah. Kini, saatnya mereka melakukan resepsi di rumah Safira.
Sejak subuh tadi, Safira telah di make-up sedemikian rupa. Dan kini, saatnya dia memasang sunting.
"Berat ya kak," keluh Safira pada asisten dari tukang make-up.
"Memang berat kak. Nanti, jika merasa pusing, panggil kami aja ya," sahut perempuan itu, tetap menancapkan beberapa sunting lagi.
Beberapa saat kemudian, Safira mendapatkan pesan dari Bagas. Jika ia dan rombongan sudah berangkat dari rumahnya.
Dan, Safira memberitahu hal tersebut sama salah satu adiknya, yang memang sejak tadi ada di kamar, guna menyuapi sarapan untuknya.
Seperti halnya resepsi di tempat lain. Tamu undangan mulai menikmati setiap suguhan yang telah disediakan oleh si punya rumah.
Malik, walaupun cacat, dia pun tak kalah sibuk. Sebelum pengantin pria tiba, dengan bantuan tongkatnya, dia mencek satu-persatu persiapan yang belum lengkap.
Tak hanya Malik. Banyak juga, sepupu-sepupu mereka yang datang membantu. Bahkan, banyak tetangga yang suka rela membagika keringat mereka.
Tak lama kemudian, pengantin pria beserta rombongannya tiba. Ketika Safira keluar, untuk menyambut suaminya. Orang-orang mulai berdecak kagum.
Namun, yang namanya manusia, ada saja bagian yang tak kena di hatinya. Mereka ada yang menilai, jika Safira menang hanya dengan bantuan make-up saja.
Karena sejatinya Nadia lebih pantas untuk Bagas. Apalagi ketika melihat rumah Safira yang hanya semi permanen. Mungkin, salah satu tempat mewah di rumah itu, ialah kamar pengantin.
Dan ada pula yang beranggapan jika Safira memang jodoh yang Allah atur untuk Bagas. Buktinya, bahkan hubungan delapan tahun dengan Nadia berakhir sia-sia.
Diantara kerumunan itu, salah satu sepupu Nadia datang.
Dan kenapa Nadia tak datang. Ya, karena memang tidak di undang. Baik Hayati atau Yusuf mulai menjauh dari keluarga itu. Mereka gak mau, jika mengundang mereka, akan menyebabkan kekacauan di hari bahagia anaknya.
"Bu, pilihan ibu ibu memang tepat sekali," ujar Sulis anak pertama Yusuf dan Hayati.
"Iya, dia dari wajahnya aja, dia kalem dan teduh gitu," anak kedua menimpali.
"Alhamdulillah, semoga mereka menjadi pasangan yang sakinah mawadah dan warohmah," lirih Hayati penuh harap.
✨✨✨
Di tempat lain, Nadia menatap foto yang baru saja di kirimkan oleh sepupunya.
Air matanya lolos begitu saja.
Tenyata, cemburu dan cinta itu masih ada. Buktinya, dia kecewa. Kecewa pada Bagas, dan kecewa pada kedua orang tuanya.
"Biarkan ku buktikan padamu, kalo cinta ku, memang sebesar itu," gumam Nadia, mengelus wajah Bagas, yang terlihat tersenyum lepas.
Ketukan di pintu kamar, membuat Nadia tersentak. Dia buru-buru menghapus air matanya. Dan membuka kamar, yang memang sejak tadi di kunci.
"Cepetan keluar, saudara jauh ayahmu mau ketemu," cetus Hesti dengan muka masam.
"Perjodohan lagi?" tebak Nadia.
"Iya, pokoknya kamu harus menolaknya. Dia itu penyakitan, lagipula dia hanya sarjana, kerja pun hanya di bengkel warisan keluarga, gak menjamin," papar Hesti memperingati Nadia.
"Kenapa gak kalian aja yang menolaknya? Bukannya, jodohku, ada di tangan kalian?"
Hesti sontak memukuli bahu Nadia.
"Kalo kami yang menolak, hubungan kekeluargaan kita putus. Itu aja, harus dijelaskan," omel Hesti geram.
Mau tak mau, Nadia ke ruang tamu.
Benar, disana terlihat seorang pria yang di temani oleh sepasang paruh baya. Dan Nadia, mengenali mereka bertiga.
"Nak, Nadia kemari lah," ibu dari pria itu, menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Nadia mendekat. Namun, dia memilih duduk di sofa yang berhadapan dengan ketiga orang itu.
Dan Nadia sempat melirik, perubahan mimik wajah dari perempuan itu.
"Nah, ini Nadia. Coba tanyakan langsung padanya," cetus Anwar tersenyum pada ketiga tamunya.
Dan Nadia tahu, senyum itu bentuk ancaman dari orang tuanya.
"Jadi, kedatangan kami kesini, ingin mempererat hubungan kekeluargaan kita, dengan cara meminang nak Nadia. Apakah, nak Nadia mau, menerima pinangan anak semata wayang kami?" perempuan itu, menunjuk ke arah anaknya yang duduk di antara ia dan suaminya.
"Maaf, untuk hal itu lebih baik tanyakan langsung pada orang tuaku. Karena sejujurnya aku pernah di lamar oleh lelaki yang kucintai. Tapi, mereka menolak, dengan alasan yang gak masuk akal," terang Nadia, menunduk. Tanpa menatap seorang pun yang ada disana.
"Nadia," gumam, Hesti yang ada di samping Nadia, langsung mencubit pahanya.
"Maksudnya? Kamu menyerahkan keputusan ini, pada kedua orang tuamu?" perempuan itu bertanya balik. Dia bahkan mengabaikan tentang Nadia yang sempat di lamar.
"Kalian bicarakan saja, aku masuk dulu," pamit Nadia tanpa menjawab pertanyaan tadi.
Kini tinggal lah, Hesti dan Anwar untuk menghadapi tamunya.
"Jadi gimana Anwar? Kamu gak mungkin lupa kan? Bagaimana aku membantumu dimasa lalu," ujar lelaki, ayah dari pria yang hendak melamar Nadia.
Anwar menelan ludah dengan susah payah.
"U-untuk itu, biarkan aku bicarakan terlebih dulu," ujar Anwar, sungkan.
✨✨✨
Dan kini, sang tamu telah pergi. Tinggal lah, mereka di rumah.
"Kenapa kamu mempermalukan kami Nadia?" tanya Anwar.
Posisi mereka bertiga ada di kamar Nadia.
"Mempermalukan? Bahkan itu bukan apa-apa, dibandingkan sikap kalian pada orang tua bang Bagas tempo hari," balas Nadia, tersenyum sinis.
"Kami ini orang tuamu loh. Dan sekarang, menyamakan kami dengan orang-orang itu?" Hesti menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu gak tinggal disana aja? Kenapa masih disini?" sambungnya geram.
"Kalo begitu, lamar bang Bagas untukku. Agar aku benar-benar meninggalkan kalian, dan menetap disana," balas Nadia menatang.
"Oo Tuhan ... Kenapa kamu jadi gila sih Nadia? Lelaki itu sudah jadi suami orang. Bahkan, hari ini, hari bahagia," Anwar memijit dahinya pusing. "Dan satu lagi, jika memang benar-benar dia mencintaimu. Seharusnya dia tidak menikah secepat itu Nadia."
Nadia terdiam. Kali ini, ucapan ayahnya sedikit menyentak relung hatinya.
"Dia masih mencintaiku? Bahkan tatapan itu masih sama," batin Nadia mulai berperang.
"Bang Bagas bukan begitu. Dia menikah, hanya ingin membuatku cemburu. Dia sedang marah, ya ... Dia hanya marah," racau Nadia dengan berlinang air mata.
"Udah gila kamu Nadia. Apa sih yang di berikan Bagas, sampai-sampai kamu bodoh begini," bentak Hesti menyentil dahi Nadia.
Dan kini, tinggal lah, Nadia seorang diri.
Meratapi nasibnya yang masih menjadi misteri.
kebiasaan ih