NovelToon NovelToon
Wajah Lain Di Balik Topeng

Wajah Lain Di Balik Topeng

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Putri asli/palsu / Fantasi Wanita
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senjaku02

Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

  Pagi itu, ruang makan keluarga Harvey bertambah satu orang yang sangat berharga.

  Baskara dan Adeline duduk berdekatan, mata mereka tak lepas dari Aurora, putri kandung mereka yang selama ini seolah menjadi bayangan asing di antara mereka putri yang dulu tertukar, tapi kini kembali dalam pelukan nyata.

  Adeline dengan lembut menyendok kan ayam goreng ke piring Aurora, wajahnya memancarkan kasih sayang tak terkira. "Sayang, makan yang banyak, ya," ucapnya penuh sayang, suaranya bergetar menahan haru.

  Aurora membalas dengan senyum polos dan mata berbinar, "Terima kasih, Ma." Detik-detik itu bagai melambat. 

  Adeline merasakan dadanya sesak, ingin menangis sekaligus tertawa bahagia. Ini bukan sekadar sarapan pagi, melainkan pemulihan sebuah keluarga yang hampir terkoyak oleh waktu dan takdir.

  "Rasanya enak banget, Ma... Aku bahkan lupa kapan terakhir kali makan ayam," suara Aurora yang sederhana itu menusuk hati Baskara dan Adeline, membuat mata mereka berembun.

  Dalam diam, mereka saling menatap penuh janji tak terucap akan melindungi dan membahagiakan anak mereka dengan seluruh jiwa. 

  Tak ada lagi kesalahan yang boleh menghapus momen berharga ini. Hari ini, hidup mereka baru benar-benar mulai kembali.

  Semua tatapan tertuju pada kejadian itu Anjani, Aruna, dan Kaynen Askara Harvey. Reaksi mereka berbeda, dengan berat hati Aruna dan Kaynen mengalir niat untuk merangkul dan menyayangi adik kandung mereka yang baru. 

  Namun, di tengah derasnya arus perhatian itu, Anjani merasakan badai yang murka, matanya membara penuh dengki. 

  Sejak kedatangan Aurora, ia merasa dunianya direnggut paksa kasih sayang orang tua seakan menguap, bahkan kamar yang selama ini menjadi singgahannya direbut begitu saja.

  'Awas, aku tak akan diam saja. Kamu akan merasakan balasannya,' desisnya dalam hati dengan kepalan tangan gemetar menahan amarah. 

  Aurora menangkap pandangannya yang tajam, senyum tipis menguntai di sudut bibirnya seperti duri yang siap melukai.

  'Ini baru permulaan, Anjani. Apa pun yang seharusnya milikku, akan kuambil kembali,' bisiknya dalam hati, bertekad melahap segala halangan yang menghadang.

...****************...

  Anjani tidak sempat menyelesaikan sarapannya. Janji dengan teman-temannya sudah menunggu, membuatnya buru-buru meninggalkan meja makan dan melangkah cepat menuju kamar. 

  Namun sesampainya di sana, ia dihantam kegelisahan saat hendak memakai kalung pemberian orang tuanya tak kunjung ditemukan di dalam kotak. 

  Semua barang-barangnya memang baru dipindahkan oleh pembantu pagi itu, dari kamar lama ke kamar baru yang baru ia tempati sejak semalam.

  Tapi kini, ruang yang semula dipenuhi hangatnya tawa dan kebahagiaan sarapan berubah menjadi ladang kekacauan. 

  "Ma, Pa, ini... Bagaimana?" suara Anjani pecah, nadanya bergetar penuh ketakutan. Saat kakinya baru turun dari tangga. 

  Baskara dan yang lain yang baru saja selesai makan sontak berbalik, menatap tajam ke arahnya, mencoba menangkap makna dari kepanikan itu. 

  "Apa maksudmu? Terjadi apa?" tanya Baskara dengan suara tegas, tetapi ada tanda cemas yang tak bisa ia sembunyikan.

  Kegelisahan Anjani merayap semakin dalam. Ada sesuatu yang hilang lebih dari sekadar kalung. Sebuah pertanyaan besar mulai menggantung di udara, mengoyak tenangnya pagi itu menjadi badai yang tak terduga.

  "Pa, kalung pemberian kalian... hilang." Suara Anjani terputus-putus oleh sesenggukan, air matanya tumpah deras membasahi pipi yang mulai membiru. 

  Setiap orang di ruangan itu terpaku, hati mereka luluh melihat penderitaannya. Namun, di sudut sana, ada sepasang mata yang memandangnya dengan dingin, penuh kejengkelan seolah semua tangisan ini hanyalah sandiwara murahan di pagi buta. 

  "Kalung itu bisa hilang gimana? Kamu taruh di mana?" tanya Adeline, nada suaranya tajam, memburu jawaban di tengah suasana tegang.

  Anjani menelan ludah, suaranya bergetar serak saat berkata, "Aku simpan di kotak di kamarku... Kalian ingat tadi malam kan kamar ku yang lama diambil Aurora, sebagian barang belum sempat ku pindah. Kalung itu masih di sana, dan baru pagi ini di antar sama pembantu."

  Matanya tak bisa lepas dari sosok Aurora, seakan memberitahu semua orang jika Aurora lah yang mengambilnya. Hening menggantung, seperti gelap yang menelan segala harapan di pagi itu.

  Dalam hati Anjani membara, 'Rasakan! Aku akan buat mereka membencimu, mengusir mu dari rumah ini sekalipun aku harus melakukan dengan cara kejam untuk melakukannya.'

  “Kamu sudah tanya ke pembantu yang memindahkan barang-barangmu?” tanya Baskara dengan nada yang menusuk, seperti ingin segera menggali kebenaran di balik hilangnya kalung itu.

  “Sudah, Pa... tapi mereka semua bilang tidak tahu apa-apa tentang kalungku,” jawab Anjani dengan suara serak. 

  matanya memancarkan kesedihan yang dalam seolah kehilangan itu bukan hanya soal barang, tapi juga harapan yang mulai pudar.

  Lalu, semua mata tertuju ke Aurora, menatapnya penuh kecurigaan yang tak bisa disembunyikan. Aurora bisa merasakan beban tatapan itu menghantamnya. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu mereka menuduhnya. 

  “Sejak awal aku memang nggak suka dia masuk rumah ini,” Aruna menyindir tajam, sinis menatap Aurora. “Belum genap sehari, sudah ada yang hilang. Bagaimana kalau dia terus tinggal di sini? Bisa-bisa semuanya lenyap tanpa jejak.” 

  Aruna baru saja berusaha merangkai benang kasih sayang untuk adik kandungnya yang baru di temukan, seperti ia menyayangi Anjani, tapi malah tersandung curiga yang menyakitkan.

  “Benar, apa kamu yang mencurinya?” Kaynen melotot, nadanya dingin penuh tuduhan yang menusuk lebih dalam daripada pisau.

  Mata Aurora berkaca-kaca, wajahnya memanas oleh luka yang tak kasat mata. “Aku tahu aku hidup susah selama ini. Tapi aku tidak pernah diajari mencuri,” suaranya bergetar, penuh kepedihan. “Kenapa kalian tega menuduh aku seperti itu? Apa aku seburuk itu di mata kalian?” Kata-katanya seperti dentuman petir di tengah keheningan ruang itu. 

  Sebuah seruan jiwa yang terluka, berharap ada sebersit keadilan dan rasa kemanusiaan di tengah badai prasangka yang menggulung.

  “Tapi kalungku hilang setelah kamu mengambil kamarku!” Cicit Anjani. 

  suara kecilnya nyaris tenggelam oleh beban yang menghimpit dada, kepalanya tertunduk dalam-dalam, seolah ingin menenggelamkan diri dari dunia yang kini begitu kejam. 

  Baskara melangkah maju, tatapannya membara penuh tekad. “Sudahlah, kita periksa kamar Aurora sekarang. Kalau memang kalung itu ada di sana, Aurora harus menerima konsekuensinya.” Suaranya tegas, tanpa memberi ruang untuk bantahan.

  Semua beralih mengikuti Baskara menuju kamar yang dulu milik Anjani. Aurora berdiri di belakang mereka, matanya menusuk tajam punggung yang menjauh, penuh kebencian yang membakar jiwa.

  Sementara itu, Anjani mendekat dengan senyum tajam tersungging di bibirnya, langkahnya ringan tapi penuh ancaman. 

  “Inilah akibatnya berani menginjakkan kaki di rumah ini dan merebut kamar milikku,” bisiknya di telinga Aurora, dingin seperti bisikan maut yang menusuk hingga ke tulang.

  Setelah itu Anjani berlalu, langkah kakinya menggema meninggalkan ruangan itu, menyisakan keheningan yang pekat. 

  Aurora menatap kepergiannya dengan senyum miring penuh tantangan, matanya menyala nyala api. “Kamu salah lawan, Anjani,” bisiknya dengan dingin, seperti ancaman yang terpatri di udara, menegaskan bahwa pertarungan ini baru saja dimulai.

1
MataPanda?_
terus kak semangat trus..
selalu d berikan kesehatan😄
Senjaku02: Aamiin. terimakasih ☺️
total 1 replies
MataPanda?_
trus semangat kak up banyak"😄
Senjaku02: siap🫡
total 1 replies
Nadira ST
🥰🥰🥰🥰🥰🥰💪💪💪💪💪💪💪
Nadira ST
kereeennnn🥰🥰🥰🥰🥰🥰💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕☕
Allea
kirain mo bilang besok kamu akan dikembalikan ke keluarga kandungmu ternyata bukan
Allea
maaf thor drak hazel apa dark hazel
Senjaku02: dark hazel. maaf kalau typo😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!