Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30: Rumor yang Membara dan Pemerintah yang Teruji
Dua minggu setelah kabar kehamilan Liana mulai menyebar, situasi di Eldoria semakin memanas. Rumor sudah tidak hanya beredar di istana dan desa-desa sekita, kabar itu telah menyebar ke seluruh penjuru kerajaan, bahkan sampai ke perbatasan dengan dunia manusia.
Di kota besar Eldoria Prima, ribuan rakyat berkumpul di depan istana dengan spanduk dan papan tulis yang menunjukkan rasa kecewa mereka. Beberapa meminta agar Leonard segera menikahi Liana dan mengakui anaknya, sebagian lain bahkan meminta agar dia melepaskan jabatan raja karena dianggap telah merusak martabat kerajaan.
"RAJA HARUS MENANGGUNG TANGGUNG JAWAB!" teriak rakyat dengan suara yang bergema kuat.
"AKUI ANAK MU DAN NIKAHI IBUNYA!"
Leonard berdiri di balkon istana, melihat kerumunan rakyat yang marah dengan wajah yang penuh dengan kesedihan namun juga tekad yang kuat. Tubuhnya sudah sangat lemah akibat stres yang luar biasa, dia sering merasa sakit perut, sulit tidur, dan berat badannya turun drastis. Namun dia tetap berdiri dengan tegak, karena dia tahu bahwa sebagai raja, dia harus menghadapi segala tantangan yang datang.
"Saudara-saudaraku!" suara Leonard bergema dengan kuat meskipun tubuhnya terlihat sangat lelah.
"Aku mengerti perasaan kalian yang kecewa dan marah. Namun aku bersumpah di depan semua orang bahwa aku tidak pernah melakukan apa-apa yang salah! Semua ini adalah kebohongan yang dibuat oleh orang yang memiliki niat jahat terhadap kerajaan dan keluarga ku!"
Namun sebagian besar rakyat tidak mau mendengarkan penjelasannya. Mereka sudah terlanjur terpengaruh oleh rumor yang menyebar dengan sangat cepat dan tidak bisa mempercayai kata-kata Leonard lagi. Beberapa orang bahkan mulai melempar batu kecil ke arah balkon, membuat para pengawal segera mengeluarkan senjata untuk mengamankan area.
"Yang Mulia Raja, sebaiknya Anda masuk saja dalam waktu yang singkat," ucap Marcus dengan khawatir, melihat batu yang hampir mengenai Leonard.
"Rakyat sedang dalam keadaan emosional dan bisa saja melakukan hal yang tidak terkendali."
Leonard mengangguk dengan berat hati dan masuk ke dalam istana. Dia merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri, meskipun dia telah bekerja keras untuk melayani rakyat dengan sebaik-baiknya, satu kabar bohong saja sudah bisa membuat semua kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun hancur berkeping-keping.
Di dalam ruang kerja, para menteri kerajaan berkumpul dengan wajah yang penuh dengan keprihatinan. Mereka telah berdebat selama berjam-jam tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi situasi yang semakin memburuk.
"Yang Mulia Raja, kita tidak bisa terus seperti ini," ucap Menteri Urusan Dalam Negeri dengan suara yang tegas.
"Ekspor dan perdagangan kita dengan dunia manusia sudah mulai terganggu. Banyak pedagang yang menunda kunjungan mereka karena khawatir akan ketidakstabilan di kerajaan."
"Dan beberapa desa di daerah pedalaman sudah mulai menunjukkan tanda-tanda tidak puas," tambah Menteri Urusan Desa.
"Mereka merasa bahwa kerajaan telah kehilangan arah dan tidak bisa lagi menjaga kedamaian."
Leonard merasa kepalanya mulai pusing mendengar semua laporan itu. Dia mencoba untuk tetap tenang dan berpikir dengan jernih, namun tubuhnya yang sudah sangat lemah membuatnya sulit untuk fokus. Dia merasa seperti sedang bertempur sendirian melawan badai yang sangat besar.
"Aku akan terus melakukan penyelidikan sampai menemukan kebenaran," ucap Leonard dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap penuh tekad.
"Aku tidak akan menyerah dan membiarkan orang yang jahat memenangkan pertempuran ini!"
Sementara itu, Liana semakin menunjukkan wajah aslinya yang sombong dan dominan. Dia mulai menggunakan fasilitas istana seolah-olah dia sudah menjadi ratu, memerintahkan pelayan sesuai keinginannya, dan bahkan mulai mengeluarkan perintah yang tidak sesuai dengan aturan kerajaan.
"Siapkan makanan khas favoritku untuk makan malam," perintahnya kepada kepala dapur dengan suara yang menyakitkan telinga.
"Dan pastikan tidak ada makanan yang aku tidak suka di meja makan!"
Kepala dapur yang telah bekerja di istana selama puluhan tahun merasa sangat terkejut dan marah dengan sikapnya. Namun dia tidak berani melakukan apa-apa karena takut akan konsekuensi yang mungkin terjadi.
Seraphina melihat semua ini dengan sangat puas. Rencana kedua nya telah berhasil melampaui ekspektasinya, rakyat marah pada Leonard, situasi ekonomi mulai terganggu, dan Alexandria masih tinggal di desa Oakhaven dengan tidak ingin kembali. Sekarang dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencana terakhirnya yang akan membuatnya menjadi ratu Eldoria.
"Segera atau lambat, semua yang kamu miliki akan menjadi milikku, Leonard," bisik Seraphina dengan senyum jahat saat melihat Leonard yang sedang bekerja dengan kondisi tubuh yang sangat lemah.
"Dan ketika itu terjadi, aku akan memastikan bahwa Alexandria dan anaknya tidak akan pernah bisa kembali lagi!"
Di desa Oakhaven, kabar tentang kerusuhan di kota besar dan kondisi Leonard yang semakin lemah juga terdengar. Alexandria merasa hatinya seperti sedang dicabik-cabik mendengar berita tersebut, meskipun dia masih merasa sakit dan kecewa, dia tidak bisa melihat Leonard dalam kesusahan seperti itu.
"Pak Mentari, apakah benar bahwa Leo sedang dalam kondisi yang sangat buruk?" tanya Alexandria dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran.
Pak Mentari mengangguk dengan berat hati. "Ya, Yang Mulia Ratu. Dari kabar yang kami terima, tubuhnya sudah sangat lemah akibat stres dan dia hampir tidak bisa makan apa-apa. Rakyat yang marah juga membuat situasi semakin sulit baginya."
Alexandria merasa air mata mulai mengalir dari matanya. Dia melihat Darius yang sedang bermain dengan teman-teman desa di halaman, dan dia tahu bahwa putranya juga merindukan ayahnya dengan sangat dalam. Meskipun rasa sakit dan kecewa masih ada di dalam hatinya, rasa cinta dan kekhawatiran yang dia miliki terhadap Leonard mulai muncul kembali.
Namun sebelum dia bisa memutuskan apa yang harus dilakukan, seorang utusan dari istana datang dengan membawa surat darurat dari Leonard. Dalam surat itu, Leonard mengatakan bahwa dia masih mencintainya dengan sepenuh hati, bahwa semua yang terjadi adalah kebohongan, dan bahwa dia sangat merindukan Alexandria serta Darius.
"Aku tidak bisa terus seperti ini tanpa kamu, Alex," tulis Leonard dalam surat itu.
"Aku akan melakukan segala yang bisa untuk membuktikan kesucianku. Hanya kamu yang bisa memberikan kekuatan padaku untuk terus bertahan."
Alexandria menangis sambil membaca surat itu berkali-kali. Hatinya sangat bingung, dia ingin mempercayai Leonard dan kembali padanya, namun rasa sakit dan kecewa yang dia alami masih terlalu besar untuk bisa segera hilang.
Di istana, Leonard menghabiskan malam hari sendirian di kamar utama mereka. Dia memegang baju tidur Alexandria yang masih berbau aroma tubuhnya yang akrab, dan dia berdoa dengan sungguh-sungguh agar Sang Kuasa memberinya kekuatan untuk menemukan kebenaran dan membujuk Alexandria untuk kembali.
"Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Alex," bisiknya dengan suara yang penuh dengan kesedihan dan harapan.
"Tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku adalah pria yang sama yang kamu cintai dulu..."