NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

*****

"Dika," panggil Dinda pelan, menoleh ke arah adiknya yang meringkuk di sofa panjang ruangan itu. "Tidur di kasur penunggu sana, Dik. Kamu dari kemarin belum memejamkan mata."

Dika yang baru saja hendak menyandarkan kepalanya langsung duduk tegak. "Enggak, Kak. Aku jagain kalian. Kakak yang harusnya tidur, kaki Kakak masih diperban gitu."

"Dika, dengerin Kakak," suara Dinda melembut namun penuh penekanan. "Kamu harus sekolah besok. Kalau kamu sakit, siapa yang bakal bantu Kakak? Istirahatlah, sebentar saja. Kakak janji akan bangunin kalau ada apa-apa."

Dika menghela napas panjang. Ia tahu jika kakaknya sudah menggunakan nada itu, ia tidak bisa membantah. Dengan enggan, remaja itu merebahkan tubuhnya di kasur tambahan. "Bangunin ya, Kak. Benar-benar bangunin kalau Dita gerak sedikit saja."

Dinda hanya mengangguk kecil sambil mengusap kepala adiknya. Tak butuh waktu lama bagi Dika untuk terlelap karena kelelahan yang luar biasa. Tak lama kemudian, Dinda pun ikut terlelap dalam posisi duduk, menyandarkan kepalanya di tepi ranjang Dita.

***

Aroma antiseptik rumah sakit yang tajam perlahan mulai membaur dengan kehangatan sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden ruang VVIP. Di dalam ruangan itu, keheningan malam mulai mencair. Dinda masih duduk di kursi samping tempat tidur, tangannya masih menggenggam jemari mungil Dita. Matanya sembab, namun ada ketenangan yang terpancar setelah melihat napas adiknya mulai teratur.

Pukul 06.30 WIB, sebuah gerakan kecil di atas ranjang membuat Dinda terjaga. Ia merasakan jari-jari kecil yang ia genggam bergerak lemah. Dinda mendongak dan matanya langsung bertemu dengan mata sayu Dita yang perlahan terbuka.

"Kak... Dinda?" suara itu sangat tipis, hampir seperti bisikan angin.

"Dita! Sayang, kamu bangun? Ada yang sakit? Bilang sama Kakak, mana yang sakit?" Dinda panik sekaligus lega. Ia segera menekan tombol panggil suster.

Dita menggeleng pelan. "Laper, Kak..."

Air mata haru jatuh di pipi Dinda. "Iya, sebentar ya. Kakak minta makanannya sekarang."

Kondisi Dita pagi ini tampak jauh lebih baik secara ajaib. Rona merah mulai muncul di pipinya yang semula sepucat kertas. Dinda tidak tahu bahwa obat-obatan yang masuk ke selang infus Dita semalam adalah pasokan khusus yang dipesan langsung oleh Alan dari jaringan medis pribadinya—obat langka yang harganya setara dengan gaji Dinda selama setahun di pabrik.

Tak lama kemudian, seorang suster masuk membawa baki besar. "Selamat pagi, Nona Anindita. Wah, sudah bangun ya? Ini ada sarapan bubur ayam spesial, jus jeruk, dan buah."

Suster itu kemudian meletakkan dua baki tambahan di meja makan kecil. "Ini untuk Anda, Nona Dinda, dan untuk adiknya yang satu lagi."

Dinda mengernyit heran melihat porsi yang sangat mewah dan lengkap, jauh dari standar sarapan rumah sakit kelas biasa. "Suster, maaf, tapi kami tidak memesan makanan sebanyak ini. Biayanya..."

"Sudah termasuk dalam fasilitas ruangan ini, Nona. Jangan khawatir, silakan dinikmati. Semuanya harus dihabiskan agar Anda juga sehat," jawab suster itu dengan senyum ramah, sengaja menyembunyikan identitas sang pemberi perintah sesuai instruksi ketat Allandra Ryuga.

Dika terbangun karena suara bising piring. Ia langsung melompat dari kasurnya dan menghampiri ranjang Dita. "Dita! Kamu sudah sadar?"

Dita tersenyum tipis melihat wajah panik abang kembarnya. "Dika berisik..."

"Ah, kamu sudah bisa meledek, berarti sudah sehat!" Dika tertawa kecil, meski matanya berkaca-kaca. Ia melihat Dita mulai menyuap bubur yang diberikan Dinda dengan lahap. Melihat adiknya kembali memiliki nafsu makan adalah pemandangan paling indah bagi Dika pagi itu.

***

"Dika, kamu juga makan. Itu suster bawain banyak sekali," ujar Dinda sambil terus menyuapi Dita.

Dika hanya mengambil sepotong roti dan memakannya cepat. Pikirannya tidak tenang. Ia melihat kemewahan ruangan ini dan tahu bahwa ini semua adalah "jerat" dari pria bernama Alan. Ia harus segera bergerak.

"Kak, aku keluar sebentar ya? Mau cari udara segar di taman bawah. Kepalaku agak pening kena bau obat terus," pamit Dika.

"Jangan jauh-jauh, Dik. Jangan lupa bawa HP," pesan Dinda.

Begitu keluar dari area rumah sakit, Dika tidak menuju taman. Ia mulai berjalan cepat menyusuri jalanan kota yang mulai ramai. Ia mengabaikan rasa perih di otot-ototnya. Misinya hari ini adalah mencari pekerjaan yang bisa memberinya uang tunai dengan cepat. Ia harus mencicil "hutang" pada Alan secepat mungkin.

Ia melewati beberapa ruko, restoran, hingga bengkel, namun tak ada tanda-tanda lowongan. Hingga akhirnya, langkahnya terhenti di depan sebuah toko kelontong besar yang juga merangkap sebagai agen sembako. Di pintunya tertempel kertas lusuh: "DIBUTUHKAN TENAGA SERABUTAN. KUAT ANGKAT BARANG. JUJUR."

Dika menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk. Di balik meja kasir, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal sedang menghitung catatan.

"Permisi, Pak. Saya mau melamar kerja yang di depan," ucap Dika tegas.

Pria itu mendongak, menatap Dika dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu? Mau jadi kuli angkut? Badanmu kurus begitu, apa kuat?"

"Saya kuat, Pak. Kemarin saya baru saja angkut kentang puluhan karung di pasar induk. Bapak bisa tes saya sekarang," tantang Dika.

Pria itu, Pak Galih, mengusap dagunya. "Boleh saja. Tapi saya butuh KTP untuk data."

Dika terdiam sejenak. "Saya... saya belum punya KTP, Pak. Umur saya baru tujuh belas bulan depan. Saya masih pelajar SMA kelas tiga."

Pak Galih langsung menggelengkan kepala. "Waduh, nggak bisa, Le. Saya nggak mau dituduh mempekerjakan anak di bawah umur. Apalagi kamu masih sekolah. Fokus sekolah saja sana."

"Pak, saya mohon!" suara Dika meninggi, penuh desakan. "Adik saya sedang di rumah sakit. Saya butuh uang untuk biaya obatnya. Saya janji akan bekerja lebih baik dari siapapun. Saya bisa masuk setelah pulang sekolah, dan kalau hari libur saya bisa kerja sehari penuh. Tolong, Pak. Beri saya kesempatan."

Pak Galih tertegun. Ia melihat binar di mata Dika—sebuah binar keputusasaan yang bercampur dengan harga diri yang tinggi. Ia teringat akan dirinya sendiri puluhan tahun lalu, saat ia harus mengadu nasib di Jakarta tanpa membawa apapun selain baju di badan untuk menghidupi ibunya yang sakit.

"Siapa namamu?" tanya Pak Galih, suaranya melunak.

"Andika, Pak."

Pak Galih menghela napas, lalu melepaskan kacamatanya. "Badanmu memang kurus, tapi matamu keras kepala sekali. Begini saja, Andika. Saya kasih masa percobaan satu minggu. Kamu bantu angkut beras dan minyak ke truk pengiriman. Kamu boleh datang jam dua siang setelah pulang sekolah sampai jam delapan malam. Hari Minggu masuk pagi."

Mata Dika berbinar. "Benar, Pak? Terima kasih! Terima kasih banyak, Pak Galih!"

"Jangan berterima kasih dulu. Kerjanya capek. Kalau kamu bolos sekolah, saya langsung pecat. Paham?"

"Paham, Pak! Saya janji tidak akan mengecewakan Bapak," Dika membungkuk dalam-dalam.

**

Dika kembali ke rumah sakit dengan langkah yang jauh lebih ringan. Meskipun gajinya nanti mungkin tidak akan langsung bisa melunasi tagihan VVIP Dita, setidaknya ia merasa telah memulai perjuangannya sendiri. Ia tidak akan membiarkan harga diri keluarganya dibeli oleh Allandra Ryuga.

Sesampainya di kamar, ia mendapati Dinda sedang merapikan tempat tidur. Dita sudah tertidur kembali, namun wajahnya tampak jauh lebih tenang.

"Dari mana saja kamu, Dik? Udara segarnya lama sekali," goda Dinda pelan agar tidak membangunkan Dita.

"Jalan-jalan sebentar, Kak. Sambil mikir," jawab Dika singkat. Ia belum mau memberi tahu kakaknya soal pekerjaan itu. Ia tahu Dinda pasti akan melarangnya karena ingin Dika fokus pada ujian akhir.

Dika duduk di samping kakaknya. "Kak, kalau nanti Dita sudah boleh pulang, kita langsung balik ke kontrakan ya? Jangan dengar kata-kata orang kaya itu."

Dinda menatap adiknya, lalu mengangguk perlahan. "Iya, Dik. Kita akan pulang ke rumah kita."

Namun, di dalam hati Dinda, ada keraguan yang menyiksa. Ia melihat fasilitas di ruangan ini, ia melihat betapa cepatnya kondisi Dita membaik karena penanganan dokter ahli. Apakah ia sanggup mengorbankan nyawa adiknya demi harga diri? Dan di sisi lain, ia teringat tatapan Alan semalam—tatapan yang membuatnya merasa seolah-olah pria itu mengetahui sesuatu yang sangat rahasia tentang dirinya.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!