Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Berbeda
Pagi itu terasa tidak biasa.
Ryan berdiri di depan bengkelnya.
Namun kali ini—
ia tidak langsung bekerja.
Matanya tertuju ke jalan.
Menunggu.
Bukan karena ragu.
Tapi karena ia tahu—
hari ini akan berbeda.
Tak lama kemudian—
mobil hitam itu kembali muncul.
Berhenti tepat di depan bengkel.
Beberapa karyawan langsung melirik.
“Bang… itu orang kemarin lagi,” bisik salah satu dari mereka.
Ryan tidak menjawab.
Ia melangkah maju.
Pintu mobil terbuka.
Pria itu keluar.
Tetap rapi.
Tetap tenang.
Dan kali ini… terlihat lebih serius.
“Kamu siap?” tanyanya tanpa basa-basi.
Ryan mengangguk.
“Ke mana?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Ke tempat di mana kemampuanmu benar-benar dihargai.”
Jawaban yang tidak langsung.
Namun cukup membuat Ryan mengerti—
ini bukan hal kecil.
Ryan menoleh ke arah bengkelnya.
Melihat karyawannya.
Tempat itu… hasil kerja kerasnya.
Namun ia juga tahu—
ia tidak bisa berhenti di sana.
“Jaga bengkel,” katanya pada salah satu anak buahnya.
“Iya, Bang.”
Tanpa ragu—
Ryan masuk ke mobil itu.
Dan mobil pun melaju.
Perjalanan cukup lama.
Mereka keluar dari area yang biasa Ryan kenal.
Jalanan mulai berubah.
Lebih luas.
Lebih bersih.
Dan lebih… eksklusif.
Ryan hanya diam.
Mengamati.
Menyerap semuanya.
Beberapa menit kemudian—
mobil itu masuk ke sebuah area besar.
Gerbang tinggi terbuka otomatis.
Di dalamnya—
sebuah bangunan luas berdiri.
Modern.
Mewah.
Dan jelas—
ini bukan tempat sembarangan.
Ryan turun dari mobil.
Matanya menyapu sekeliling.
Beberapa mobil mahal terparkir rapi.
Orang-orang dengan pakaian formal berjalan hilir mudik.
Suasana terasa berbeda.
Lebih serius.
Lebih profesional.
“Selamat datang,” kata pria itu.
Ryan menoleh.
“Tempat apa ini?”
Pria itu berjalan pelan.
Memberi isyarat agar Ryan ikut.
“Tempat di mana mesin bukan sekadar alat… tapi kebanggaan.”
Ryan mengernyit.
Namun tetap mengikuti.
Mereka masuk ke dalam.
Dan saat pintu terbuka—
Ryan terdiam.
Di dalamnya—
deretan mobil sport berdiri rapi.
Mengkilap.
Elegan.
Dan… mahal.
Sangat mahal.
Cahaya lampu memantul di permukaannya.
Seolah setiap mobil punya cerita sendiri.
Ryan melangkah pelan.
Matanya tidak bisa menyembunyikan ketertarikan.
Namun ia tetap tenang.
“Ini…” gumamnya.
Pria itu memperhatikan reaksinya.
“Kamu pernah kerja dengan mobil seperti ini?”
Ryan menggeleng.
“Belum.”
“Takut?”
Ryan langsung menjawab,
“Tidak.”
Jawaban cepat.
Tanpa ragu.
Pria itu tersenyum.
“Bagus.”
Mereka berhenti di depan salah satu mobil.
Warnanya gelap.
Desainnya agresif.
Dan aura yang ditampilkan…
berbeda.
“Ini proyek pertamamu,” kata pria itu.
Ryan menatap mobil itu.
Diam.
Namun matanya fokus.
“Apa masalahnya?”
Pria itu melipat tangan.
“Mesin tidak stabil saat kecepatan tinggi.”
Ryan sedikit mengangguk.
“Sudah ada yang coba?”
“Banyak.”
Jawaban itu singkat.
Namun artinya jelas—
tidak ada yang berhasil.
Ryan mendekat.
Tangannya menyentuh bodi mobil itu.
Dingin.
Namun penuh tenaga yang tersembunyi.
Ia membuka kap mesin.
Melihat ke dalam.
Dan untuk sesaat—
ia tersenyum tipis.
Bukan karena mudah.
Tapi karena… tertantang.
“Boleh saya kerjakan di sini?” tanyanya.
“Semua sudah disiapkan,” jawab pria itu.
Ryan mengangguk.
Lalu berkata pelan,
“Saya coba.”
Beberapa orang mulai memperhatikan.
Mekanik lain.
Teknisi.
Bahkan beberapa orang berpakaian formal.
Tatapan mereka sama—
penasaran.
“Siapa dia?”
“Anak bengkel?”
“Serius dia yang dipilih?”
Bisikan mulai terdengar.
Namun Ryan tidak peduli.
Ia sudah terbiasa diremehkan.
Dan ia juga tahu—
jawaban terbaik bukan kata-kata.
Tapi hasil.
Ryan mulai bekerja.
Peralatan di tempat itu jauh lebih lengkap.
Lebih canggih.
Namun itu tidak membuatnya canggung.
Sebaliknya—
ia justru lebih leluasa.
Tangannya bergerak.
Cepat.
Namun tetap terkontrol.
Matanya fokus.
Menganalisis setiap detail.
Beberapa orang mulai diam.
Memperhatikan lebih serius.
Karena perlahan—
mereka mulai sadar.
Ryan bukan mekanik biasa.
Di kejauhan—
pria itu berdiri.
Melihat semuanya.
Dengan senyum tipis.
“Dia cocok…” gumamnya.
Seolah telah menemukan sesuatu yang ia cari sejak lama.
Sementara itu—
Ryan masih bekerja.
Namun kali ini—
bukan hanya untuk menyelesaikan masalah.
Tapi untuk membuktikan—
bahwa ia pantas berada di tempat ini.
Dan bahwa…
ini hanyalah awal.