Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xinghuang, Hamba Bersalah
Bab 18
“Xinghuang, Hamba Bersalah”
Panggilan " Ayah…" yang lirih itu, seketika menarik kesadaran Su Yelan kembali.
Jantungnya berdegup keras.
Tidak salah lagi…
anak itu adalah putra Yan Yuxing.
Namun, siapa ibunya?
Pertanyaan itu seperti pisau yang mengiris diam-diam.
Yan Yuxing berdiri di sampingnya, suaranya tenang namun penuh wibawa,
" Su Yelan, kau telah menyembuhkan mataku setelah enam tahun dalam kegelapan."
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
" Keahlianmu tidak perlu diragukan lagi."
Lalu, dengan nada yang lebih dalam, ia melanjutkan,
" Sekarang… periksalah anak itu. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi."
Kalimat itu sederhana.
Namun semua orang di Istana Harmoni langsung menangkap maknanya.
Ia sedang mengangkat posisi Su Yelan di atas semua tabib istana.
Dan bahkan, di atas kaisar kecil itu sendiri.
Para pelayan dan kasim menunduk lebih dalam.
Tatapan mereka pada Su Yelan berubah.
Dari sekadar penasaran menjadi penuh hormat.
Su Yelan melangkah maju.
Langkahnya ringan.
Namun hatinya berat.
Setiap langkah terasa seperti mendekati jurang masa lalu.
Ia berhenti di sisi ranjang naga.
Menatap wajah kecil itu.
Wajah yang begitu lembut.
Begitu familiar.
Ingatan lama perlahan muncul.
Dulu ia melahirkan seorang anak.
Seorang putra.
Dan di leher kecil itu
ada tanda lahir berbentuk seperti tetes air, cokelat pucat, sebesar ujung kuku,
Tangannya mulai gemetar.
Antara harapan dan ketakutan.
Perlahan
ia menunduk.
Menahan napas.
Dan melihat tanda itu.
Dunia seakan berhenti berputar.
Air matanya langsung menggenang.
Longguan (Mata Air Naga)
Itu anaknya.
Anaknya yang ia kira telah mati.
Masih hidup.
Masih… ada di dunia ini.
Dada Su Yelan sesak.
Namun ia menggigit bibirnya.
Menahan diri.
Ia tidak boleh kehilangan kendali di sini.
Tidak boleh membiarkan siapa pun tahu.
Ia cepat-cepat menunduk, menyeka sudut matanya secara halus.
Lalu duduk di samping ranjang.
Tangannya yang sedikit gemetar meraih pergelangan tangan kecil itu.
Hangat.
Hidup.
Nyata.
Ia meletakkan dua jarinya di nadi anak itu.
Merasakan denyut halus yang berirama.
Lima menit terasa seperti seumur hidup.
Akhirnya
ia menarik tangannya.
Dan berkata pelan,
" Kaisar kecil hanya terserang angin dingin. Tidak ada bahaya besar."
Beberapa tabib kekaisaran saling berpandangan.
Salah satu dari mereka maju.
Seorang pria tua dengan janggut putih panjang.
" Kami juga mendiagnosis demikian," katanya hati-hati.
" Namun setelah tiga hari minum obat… tidak ada perubahan."
Ia menatap Su Yelan.
" Karena Nona adalah murid Tabib Ilahi Mo Qingyuan… tentu Anda memiliki pandangan lain?"
Nada suaranya halus.
Namun jelas
ia sedang menguji.
Su Yelan mengenali orang itu.
Seorang tabib senior.
Berpengalaman.
Namun… terlalu ingin membuktikan diri.
Ia tidak tersinggung.
Hanya tersenyum tipis.
" Penyakit terbagi dua," katanya tenang.
" Ada yang berasal dari tubuh."
" Dan ada yang berasal dari hati."Ia melirik ke arah anak kecil itu.
Tatapannya melembut tanpa disadari.
" Kaisar memang terkena angin dingin."
" Namun yang membuatnya tidak kunjung sembuh… adalah sesuatu yang terpendam lama di
dalam hatinya."
Ruangan menjadi sunyi.
" Lalu bagaimana mengobatinya?" tanya tabib tua itu lagi.
" Temukan penyebabnya," jawab Su Yelan.
" Dan sembuhkan dari akarnya."
Jawaban itu
sederhana.
Namun dalam.
Para tabib terdiam.
Namun sebelum mereka bisa berkata lebih jauh suara dingin Yan Yuxing terdengar.
" Cukup."
Ia melangkah maju.
Aura kekuasaannya langsung memenuhi ruangan.
" Kalian tidak perlu ikut campur lagi."
" Mulai sekarang, kesehatan kaisar akan ditangani oleh Su Yelan."
Para tabib terkejut.
Salah satu dari mereka berani berbicara,
" Xinghuang… kami telah lama melayani di sini. Jika semuanya diserahkan pada orang luar,
bukankah itu?"
" Orang luar?"Suara Yan Yuxing langsung memotong.
Dingin.
Tajam.
" Apakah kau meragukan pilihanku?"
Keringat dingin langsung muncul di dahi mereka.
Namun pria itu masih mencoba,
" Kami hanya khawatir"
" Cukup."
Nada Yan Yuxing berubah berat.
Menekan.
" Apakah kalian pikir…aku akan mencelakai putraku sendiri?"
Kalimat itu
seperti palu.
Menghantam semua orang.
Tak ada yang berani bicara lagi.
Satu per satu
para tabib mundur.
Kepala tertunduk.
Setelah ruangan menjadi lebih lengang
Yan Yuxing memanggil,
" Jin Zhongli."
Seorang kasim tua segera maju.Usianya sekitar lima puluh tahun.
Wajahnya penuh pengalaman.
Namun saat ini
ia terlihat tegang.
" Xinghuang."
Ia menunduk dalam.
" Apa yang terjadi?" tanya Yan Yuxing dingin.
" Mengapa kaisar jatuh sakit?"
Jin Zhongli menjawab hati-hati,
" Yang Mulia terlalu memikirkan negara… tidur larut, bangun pagi… ditambah cuaca buruk
beberapa hari ini…"
Ia menelan ludah.
" Sehingga tubuhnya melemah…"
Alis Yan Yuxing berkerut.
" Kalau hanya angin dingin… mengapa obat tidak bekerja?"
Nada suaranya berubah.
Lebih tajam.
Lebih menekan.
Jin Zhongli langsung gemetar.
Ia jatuh berlutut.
" Xinghuang… hamba bersalah!"
Keringat dingin menetes di dahinya.
Ia tahu
ini bukan sekadar pertanyaan.
Ini adalah ujian kesetiaan.
Yan Yuxing menatapnya dari atas.
Dingin.
Tanpa emosi.
" Bersalah?"
" Apa kesalahanmu?"
Jin Zhongli menunduk lebih dalam.
" Hamba… gagal merawat Yang Mulia dengan baik…"
Suasana membeku.
Namun suara Yan Yuxing kembali terdengar
kali ini lebih pelan.
Namun justru lebih menakutkan.
" Dulu… aku mempercayakan kaisar kepadamu."
" Karena aku pikir… kau setia."
Ia melangkah mendekat.
Setiap langkah
seperti menekan jantung semua orang di ruangan itu.
" Namun sekarang"
" kau membiarkan dia sakit… tanpa perbaikan selama berhari-hari."
Ia berhenti.
Tatapannya dingin seperti es.
" Orang seperti itu… tidak pantas tetap di sini."
Wajah Jin Zhongli langsung pucat.
" Xinghuang, ampun.."
Namun sebelum ia selesai
sebuah suara kecil terdengar.
Lemah.
Namun jelas.
" Ayah…"
Semua orang menoleh.
Kaisar kecil itu
berusaha bangkit dari ranjang.
Tubuhnya gemetar.
Namun matanya
penuh harapan.
" Ini… bukan salah Kasim Agung…"
Ia menarik napas dengan susah payah.
" Tolong… jangan menghukum mereka…"
Suara itu pelan.
Namun setiap katanya
menusuk hati.
Su Yelan yang berdiri di samping ranjang
membeku.
Melihat anaknya berlutut di ranjang dingin demi melindungi orang lain, hatinya terasa hancur.
Tanpa sadar
tangannya mengepal.
Air mata hampir jatuh lagi.
Namun ia menahannya.
Dengan susah payah.
Karena ia tahu ia tidak punya hak…
untuk menangis di hadapan anaknya sendiri.