Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika ternyata aku, bagaimana?
Aroma desinfektan yang menyengat membuat indra penciuman Ibas terasa tidak nyaman. Dahinya agak berkerut, tak lama sepasang matanya pun terbuka dengan perlahan.
"Alhamdulillah. Akhirnya, kamu sadar juga, Bas," kata Saraswati dengan penuh kelegaan.
"Aku kenapa, Bun?" tanya Ibas.
"Kamu tadi pingsan, Nak. Makanya, Ayah sama Bunda bawa kamu ke rumah sakit. Kata dokter, kamu menderita radang usus buntu dan harus segera di operasi."
Mendengar itu, Ibas tampak menghela napas berat. Pantas perutnya sesakit itu. Ternyata dia menderita radang usus buntu.
"Akhir-akhir ini, makanmu nggak teratur, ya?" tanya Saraswati dengan nada lembut.
Ibas hanya tersenyum. Dan, senyuman itu cukup sebagai jawaban.
"Bas, kamu harus jaga kesehatan. Jangan drop kayak gini lagi. Bunda sama Ayah khawatir." Nada suara Saraswati sedikit bergetar. Dia berusaha menahan tangis yang hampir tumpah.
Sejak Aliya pergi, Ibas benar-benar berubah. Putranya tak lagi banyak tertawa. Putranya tak lagi banyak bicara. Tubuh Ibas juga semakin kurus. Makannya pun semakin tidak teratur.
Semua hal itu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi seorang Ibu.
"Aku nggak apa-apa. Bunda sama Ayah nggak perlu terlalu mikirin aku. Mungkin, sekarang aku lagi kena musibah aja. Itu hal biasa, Bun. Namanya juga manusia, kan?"
Ibas berusaha untuk menenangkan kekhawatiran sang Ibu. Dielusnya punggung tangan sang Ibu kemudian menciumnya agak lama.
******
Hari ini, kebetulan Aufar datang untuk membantu teman yang baru saja membuka usaha. Setelah selesai, dia langsung bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk Ibas yang katanya sedang sakit.
Dengan sedikit cemas, Aufar segera menuju ke ruang perawatan Ibas sambil membawa beberapa buah dan juga makanan untuk Paman dan Bibinya.
"Bas, gimana keadaan Lo?" tanya Aufar.
"Gue oke," jawab Ibas. Suaranya lemah. Dia baru saja selesai melakukan operasi beberapa jam yang lalu.
"Om, Tante... Apa kabar?" Kini, Aufar beralih kepada Paman dan Bibinya. Ia mencium punggung tangan orangtua Ibas secara bergantian.
"Alhamdulillah, sehat, Nak," jawab Ikhsan mewakili. "Kamu sendiri gimana?"
"Aku juga baik. Alhamdulillah," jawab Aufar.
"Kok, kamu bisa ada di sini?" celetuk Saraswati bertanya.
"Tadi, habis bantuin teman yang baru buka usaha, Tante. Makanya, pas dengar kabar kalau Ibas masuk rumah sakit aku langsung ke sini."
"Makasih ya, Far," ucap Saraswati dengan senyuman.
Meski, Aufar sudah tak punya orangtua lagi, namun sang keponakan masih saja peduli pada anggota keluarga yang lain. Padahal, sudah lama Aufar memilih hidup sendiri dan tak mau merepotkan siapa-siapa.
Dia berusaha sendiri.Apapun kesulitan yang dia hadapi, biasanya akan dia lalui tanpa merepotkan siapapun.
"Sama-sama, Tante."
"By the way, Lo tinggal dimana sekarang?" tanya Ibas. "Lo nggak balik ke LN lagi?"
"Untuk sekarang, gue lebih milih tinggal di Indonesia dulu, Bro. Toh, kontrak kerja gue di sana juga udah selesai."
"Jadi, Lo tinggal dimana?" Ibas mengulang lagi pertanyaannya. "Kenapa nggak tinggal di rumah aja? Masih banyak kamar kosong, kok."
Aufar diam selama beberapa detik. Tatapannya terlempar ke arah Paman dan Bibinya.
"Gue tinggal di kota sebelah, Bas."
"Loh, kenapa jauh banget? Kenapa nggak tinggal di sini aja, sih?"
"Gue mau cari suasana baru. Sekarang, gue udah beli rumah di dekat pantai. Suasana di sana jauh lebih tenang. Dan, gue suka. Beda sama di sini yang jauh lebih berisik dan banyak polusi."
"Rumah dekat pantai?" Ibas tersenyum kecil. "Kayaknya, seru tuh. Kapan-kapan, gue main ke rumah Lo, ya!"
Tatapan Aufar kembali jatuh ke Paman dan Bibinya sebelum tersenyum lalu berkata, "boleh, dong."
Wajah Ikhsan dan Saraswati terlihat cukup tegang. Jika Ibas benar-benar berkunjung ke tempat tinggal Aufar, maka kemungkinan besar, Ibas akan menemukan Aliya.
Pasalnya, Aufar tinggal di dekat Aliya adalah permintaan dari mereka. Keduanya merasa khawatir jika melepaskan Aliya terlalu jauh. Itu sebabnya, mereka meminta tolong pada Aufar agar mengikuti dan menjaga Aliya.
Setidaknya, sampai Aliya menemukan pasangan hidupnya yang baru. Tanpa mereka ketahui jika ternyata sang keponakan sebenarnya menaruh rasa terhadap mantan menantu mereka sejak lama sekali.
"Far, Lo pernah dengar kabar soal Aliya, nggak?"
Degh!
Jantung Aufar tersentak saat mendengar pertanyaan Ibas yang tiba-tiba. Jarinya bahkan tak sengaja tersayat pisau saat sedang mengupas apel untuk Ibas.
Saraswati dan Ikhsan sedang pulang ke rumah untuk mengambil beberapa barang. itu sebabnya, hanya Aufar yang kini menjaga Ibas di ruangan itu.
"Nggak, nggak pernah," jawab Aufar berbohong.
"Oh," sahut Ibas terdengar kecewa. "Jari Lo... nggak apa-apa, kan?" lanjutnya bertanya.
"It's oke. Cuma luka kecil," sahut Aufar dengan perasaan tak enak dalam hatinya. Dia meletakkan apel itu diatas piring kemudian berjalan ke arah kamar kecil yang ada di ruangan itu untuk membersihkan lukanya.
Tak berselang lama, dia kembali keluar dan melanjutkan untuk mengupas buah apel tadi.
"Far, gue kangen banget sama Aliya," celetuk Ibas tiba-tiba.
Hal itu semakin membuat suasana hati Aufar jadi tak nyaman. Entah kenapa, dia merasa bersalah. Namun, di sisi yang lain, dia juga merasa jika hal yang dia lakukan sudah benar.
Melindungi Aliya dari Ibas sudah menjadi tugasnya. Aufar tak mau jika Ibas hadir kembali hanya untuk menorehkan luka diatas luka yang sebelumnya bahkan belum sembuh.
"Mending, Lo lupain Aliya aja. Biarin dia cari kebahagiaannya sendiri."
"Tapi, gue nggak bisa," lirih Ibas.
Aufar diam untuk beberapa detik. Tatapannya tertuju pada sang sepupu yang tampak benar-benar menyesali perbuatannya pada Aliya.
"Bas, Lo pernah mikir gini nggak... Barangkali yang Lo rasain ke Aliya itu bukan perasaan cinta tapi sekadar perasaan bersalah aja."
"Nggak," geleng Ibas. "Gue yakin kalau perasaan gue ke Aliya beneran cinta, Far. Bukan sekadar rasa bersalah."
"Terus, Nadia gimana?" tanya Aufar kemudian.
"Gue sama dia udah putus. Jadi, jangan sangkut pautin dia lagi sama gue," jawab Ibas. "Sekarang... gue benar-benar cuma mau fokus sama Aliya aja."
"Tapi, kalau ternyata Aliya juga lagi dideketin sama cowok lain... gimana?"
Ibas menoleh. Kedua tangannya tampak mengepal erat.
"Gue siap saingan sama cowok itu," jawab Ibas penuh tekad.
"Lo yakin, Lo bisa menang?"
"Yakin," angguk Ibas. "Selama cowok itu bukan Lo, gue pasti nggak bakalan nyerah, Far. Aliya... Cuma bisa jadi milik gue."
Tubuh Aufar menegang. Dia memberanikan diri untuk menanyakan satu pertanyaan lagi.
"Gimana kalau cowok itu ternyata gue?"
Degh!
Mata Ibas seketika memerah. Dia menatap Aufar dalam-dalam.
"Far, gue tahu tipe cewek Lo. Dan, Aliya nggak masuk dalam kriteria Lo. Lagipula... Lo nggak mungkin tega ngerebut Naqiyah dari gue, kan? Dia cinta pertama gue, Far."
👍😮👍👍👍💪
Jangan sampai Aliya balikan sama Ibas.Seperti memperlakukan barang untuk uji coba, setelah dengan mantannya tidak enak mau coba istri yang telah dibuang dan dihina seperti barang dagangan dengan satu milyar, Alhamdulillah Aliya hanya mengambil 200 juta.
untung mantan istri cintanya tulus dan mulus jadi gampang rujuknya