Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjutan
Kata itu tidak hilang.
“Jangan datang ke sana.”
Bukan sekadar bayangan.
Bukan juga sekadar ingatan yang tertinggal.
Itu peringatan.
Dan Kirana melihatnya dengan jelas.
Napasnya tertahan.
Tangannya yang tadi di atas meja… perlahan mengepal.
“Lo yakin?” suara Risa memotong.
Kirana berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Refleksi itu hilang.
Layar kembali normal.
Wei masih menatapnya, menunggu jawaban.
Dan di detik itu
Kirana tahu.
Ini bukan lagi tentang apa yang dia rasakan.
Tapi tentang apa yang dia pilih untuk percayai.
Dia menelan pelan.
Lalu
“Iya,” katanya.
Tetap.
Tidak berubah.
Risa langsung tersenyum. “Fix ya. Kita ke sana.”
Wei mengangguk. “Gue urus tiketnya.”
Percakapan berlanjut.
Ringan.
Penuh rencana.
Tapi bagi Kirana
setiap kata terdengar seperti gema.
Jauh.
Tidak benar-benar sampai.
Karena di dalam kepalanya
kalimat itu masih berputar.
Jangan datang ke sana.
Sore itu, saat semua orang mulai pulang
Kirana tetap duduk di mejanya.
Lampu kantor sudah setengah dimatikan.
Suasana mulai sepi.
Wei sudah pamit lebih dulu.
Risa juga.
Tinggal dia.
Dan suara AC yang berdengung pelan.
Kirana menutup laptopnya.
Layar menjadi hitam.
Dan seperti sebelumnya
refleksi muncul.
Tapi kali ini
dia tidak menunggu.
“Kamu kenapa bilang gitu?”
Suaranya pelan.
Langsung.
Tidak ragu.
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu
Li Wei muncul.
Tidak utuh.
Tidak seterang sebelumnya.
Lebih samar.
Seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di tempat ini.
Tatapannya tetap sama.
Dalam.
Tapi ada sesuatu yang berbeda
lebih… mendesak.
“Jangan ke sana,” katanya lagi.
Sekarang bersuara.
Nyata.
Kirana berdiri.
Langsung.
Kursinya sedikit bergeser ke belakang.
“Kenapa?” tanyanya.
Lebih tajam.
Lebih hidup.
Li Wei tidak langsung jawab.
Tatapannya turun sebentar.
Lalu kembali ke mata Kirana.
“Karena itu bukan tempat yang sama seperti yang kamu lihat.”
Kalimat itu menggantung.
Tidak menjelaskan
tapi justru membuat semuanya terasa lebih berat.
Kirana mendekat sedikit.
Meski tahu—
ini bukan dunia yang sama.
“Lo bilang itu tempat kita ketemu,” katanya pelan.
Li Wei menggeleng.
“Bukan.”
Satu kata.
Dan itu cukup untuk membuat sesuatu di dalam Kirana runtuh lagi.
“Tempat itu… cuma pintu.”
Sunyi.
Kirana tidak bergerak.
“Tapi yang kamu lihat di sana nanti…” lanjut Li Wei, “…bukan cuma aku.”
Udara terasa lebih dingin.
Kirana mengerutkan kening.
“Terus apa?”
Li Wei diam.
Lebih lama dari sebelumnya.
Dan kali ini
diamnya terasa seperti sesuatu yang dia tahan.
“Yang lain,” katanya akhirnya.
Pendek.
Terlalu pendek.
Tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Kirana meremang.
“Yang lain siapa?”
Tidak ada jawaban.
Hanya tatapan.
Dan itu
lebih menakutkan dari penjelasan apa pun.
Kirana menggeleng kecil.
Frustrasi mulai muncul di raut wajah Kirana
“Kalau kamu nggak mau aku ke sana… kenapa kamu muncul lagi?”
Pertanyaan itu keluar.
Lebih emosional.
Lebih jujur.
Li Wei tidak mundur.
Tidak menghindar.
“Karena kamu tetap bakal datang.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti dugaan.
Lebih seperti kepastian.
Dan Kirana tahu
itu benar.
Sunyi turun lagi.
Lebih berat sekarang.
Lebih dalam.
“Kalau aku tetap pergi?” tanya Kirana.
Li Wei menatapnya.
Lebih lama.
Lalu berkata
“Kali ini… aku mungkin nggak bisa narik kamu keluar.”
Jantung Kirana langsung berhenti sejenak.
Bukan karena takut.
Tapi karena dia mengerti
ini bukan peringatan biasa.
Ini batas.
Dan kalau dia melewatinya
tidak semua hal bisa kembali seperti sebelumnya.
Tapi anehnya kirana masih bersikeras , tidak mundur,dengan menatap Li wei.
Dan bertanya pelan
“Habis itu… kita masih bisa ketemu?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi justru itu
yang paling berbahaya.
Karena di dalamnya
Kirana sudah mulai memilih.