''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pintu ruang rapat tertutup rapat. Keheningan segera menyergap, menyisakan aroma kopi susu yang kini mendingin di atas meja. Aku tidak bergeming. Tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada isak tangis yang tertahan, pun tidak ada dadaku yang sesak seperti lima tahun lalu.
Aku hanya duduk diam, menatap lurus ke arah dinding putih di hadapanku.
Luka itu sudah kukubur dalam-dalam, tepat di malam saat aku mematahkan kartu SIM-ku di teras rumah eyang. Aku sudah selesai dengan urusan tangisan. Bagiku, air mata adalah simbol kelemahan yang hanya akan membuatku terseret kembali ke masa lalu yang berlumpur.
Aku menarik napas panjang, lalu dengan tenang merapikan berkas-berkas di atas meja. Kantong kertas berisi croissant dari Farez kuambil, lalu kubuang ke tempat sampah di sudut ruangan tanpa ragu sedikit pun.
"Cinta tidak akan memberiku makan, Farez. Tapi karier ini yang menghidupi Ibu," bisikku pada kesunyian.
Aku melangkah keluar dari ruang rapat dengan dagu tegak. Sepanjang lorong kantor, staf yang berpapasan denganku menyapa dengan hormat, dan aku membalasnya dengan anggukan profesional. Inilah Rana yang sekarang. Rana yang emosinya sedatar garis horisontal, yang pikirannya hanya berisi target perusahaan dan omzet butik Ibu.
"Mbak Rana, ada kiriman bunga di meja," lapor Maya saat aku sampai di depan kubikelku.
Aku melirik sebentar ke arah buket mawar putih yang besar itu. Tanpa membaca kartu ucapannya, aku tahu itu dari siapa. "May, kamu suka bunga kan? Ambil saja. Taruh di vas meja depan atau bawa pulang sekalian."
"Eh? Tapi ini dari Pak Farez, Mbak. Ada pesannya juga," Maya tampak ragu.
"Saya tidak butuh pesan apa pun yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Tolong fokus ke laporan Abiwangsa saja," jawabku dingin sambil masuk ke ruanganku.
Di dalam ruangan, aku langsung membuka laptop. Jemariku menari lincah di atas papan ketik, menyusun strategi untuk bulan depan. Pikiranku terfokus sepenuhnya pada angka dan grafik. Bagiku, keberhasilan adalah satu-satunya bentuk balas dendam terbaik terhadap takdir yang pernah menghancurkanku.
Ibuku adalah segalanya. Melihatnya tersenyum di butik, melihatnya bisa tidur nyenyak tanpa perlu menangisi pengkhianatan Ayah, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Jika harga yang harus kubayar untuk ketenangan itu adalah dengan membunuh perasaanku pada Farez, maka aku akan melakukannya berulang kali.
Aku tidak peduli seberapa keras Farez mencoba mengetuk pintu hatiku. Bagiku, dia hanyalah pengingat tentang masa lalu yang tidak ingin kukunjungi lagi. Aku sudah berdamai dengan luka itu bukan dengan cara memaafkan, tapi dengan cara melupakannya dan fokus pada masa depan yang sedang kubangun dengan tangan sendiri.
Biarkan saja Farez dengan rasa penasarannya, atau dengan usahanya yang sia-sia. Karena di dunia Rana Anindita Putri yang sekarang, hanya ada dua prioritas: Ibu dan kesuksesan. Sisanya? Hanya debu yang akan hilang tersapu waktu.
Malam itu, aku pulang dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Namun, langkahku melambat saat melewati ruang tengah menuju kamar. Lampu meja di sudut ruangan masih menyala, membiaskan cahaya kuning temaram yang jatuh tepat di atas meja gambar Ibu.
Aku mendekat dengan langkah sangat pelan. Di sana, Ibu tertidur dengan posisi kepala bersandar di atas lipatan lengannya. Beberapa lembar sketsa desain baju untuk koleksi butik bulan depan tersebar di sekitarnya. Pensil warna masih terselip di sela jarinya yang mulai tampak menua.
Aku berdiri mematung, menatap wajah Ibu dalam diam.
Wajah itu tampak begitu tenang. Garis bibirnya rileks, deru napasnya teratur dan ringan. Untuk sesaat, aku merasakan kehangatan menjalar di dadaku. Ini adalah pemandangan yang dulu terasa mustahil untuk kudapatkan.
Pikiranku terlempar kembali ke lima tahun lalu, di tahun pertama pelarian kami. Setiap malam, rumah kontrakan kecil kami selalu dipenuhi oleh suara yang paling kubenci di dunia: isak tangis Ibu yang tertahan. Ibu sering tertidur karena kelelahan menangis, dan bahkan dalam tidurnya pun, wajahnya tampak meringis kesakitan. Tubuhnya sering tersentak, seolah-olah pengkhianatan Ayah terus mengejarnya hingga ke alam mimpi.
Dulu, aku hanya bisa meringkuk di balik pintu kamar Ibu, ikut menangis tanpa suara sambil merutuki ketidakberdayaanku.
Tapi lihatlah sekarang.
Perlahan, aku mengambil selimut tipis dari sofa dan menyampirkannya ke bahu Ibu. Beliau hanya mengerang kecil tanpa terbangun. Aku menatap sketsa di bawah lengannya—sebuah gaun cantik dengan potongan elegan. Itulah bukti ketangguhan kami. Kami tidak lagi hidup dari belas kasihan atau kebohongan laki-laki. Kami hidup dari imajinasi dan kerja keras tangan Ibu.
"Kita sudah sampai di sini, Bu," bisikku lirih, hampir tak terdengar. "Ibu tidak perlu menangis lagi. Rana nggak akan biarkan siapa pun merusak ketenangan Ibu lagi. Termasuk dia."
Sambil mematikan lampu meja, aku memantapkan hati. Kedamaian di wajah Ibu malam ini adalah alasan kenapa aku harus tetap menjadi Rana yang dingin dan profesional di kantor. Aku tidak boleh membiarkan perasaan lama pada Farez mengacaukan dinding perlindungan yang kubangun susah payah untuk Ibu.
Jika Farez adalah bagian dari masa lalu yang penuh air mata itu, maka dia tidak punya tempat di masa kini yang sudah tenang ini. Aku rela dianggap tak punya hati, asalkan Ibu bisa terus tidur dengan wajah setenang ini setiap malam.
Aku melangkah menuju kamarku sendiri dengan satu janji baru: Besok, aku akan menghadapi Farez dengan lebih tangguh lagi. Bukan karena aku membencinya, tapi karena aku lebih mencintai kedamaian Ibu daripada perasaanku sendiri.