Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Gaya Lan Suya
Gao Rui tetap duduk tenang di kursinya, seolah tidak tertarik pada pembicaraan di meja sebelah. Namun kenyataannya, setiap kata yang mereka ucapkan ia tangkap dengan jelas.
Ia sedikit menundukkan kepala, menyesap teh perlahan, berusaha menyamarkan perhatiannya. Tubuhnya dibuat serileks mungkin, seakan ia hanya seorang tamu biasa yang sedang menikmati malamnya.
“…Fang Yi, kau ini benar-benar beruntung,” ujar salah satu pria di meja itu sambil tertawa.
Nama itu membuat telinga Gao Rui sedikit terangkat.
“Fang Yi…” batinnya mengulang.
Dari ucapan itu, akhirnya ia mengetahui nama pria yang sejak tadi berbicara dengan nada penuh kesombongan tersebut. Fang Yi… dan dari cara mereka berbicara, jelas pria itu berasal dari keluarga Fang.
Gao Rui tidak bergerak. Namun fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada mereka.
Salah satu rekan Fang Yi kembali berbicara, nadanya terdengar penasaran.
“Tapi bukankah tanah yang ada di pusat kota itu adalah tanah warisan mendiang orang tuamu?”
Fang Yi mendengus ringan, lalu menjawab dengan santai,
“Tentu saja.”
“Kalau begitu…” pria itu melanjutkan, “berarti kau sudah mengubah kepemilikan tanah itu menjadi atas namamu?”
Fang Yi tersenyum tipis. Senyum yang tampak penuh arti.
“Sudah.”
Jawaban singkat itu langsung disambut tawa oleh orang-orang di meja tersebut. Suasana mereka semakin santai, seolah hal yang mereka bicarakan bukan sesuatu yang serius.
Gao Rui sedikit mengerutkan kening. Namun pembicaraan itu belum berhenti.
Salah satu pria lain menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu bertanya dengan nada setengah bercanda,
“Lalu bagaimana kau meyakinkan kakak-kakak dan adik-adikmu untuk menyerahkan tanah warisan itu?”
Fang Yi terdiam sejenak… lalu tiba-tiba tertawa.
“Hahaha!”
Tawanya terdengar ringan, namun entah mengapa terasa tidak menyenangkan.
“Meyakinkan?” ulangnya. “Aku tidak perlu meyakinkan siapa pun.”
Orang-orang di sekitarnya tampak penasaran.
Fang Yi kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menurunkan suaranya, namun masih cukup jelas untuk didengar Gao Rui.
“Aku hanya memalsukan tanda tangan mereka.”
Sejenak… suasana menjadi hening. Namun tak lama kemudian.....
“Hahaha! Kau ini benar-benar licik!”
“Tidak kusangka kau sampai sejauh itu!”
Tawa kembali pecah di meja itu, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Fang Yi hanya tersenyum santai, seolah hal itu adalah sesuatu yang patut dibanggakan.
“Ada sebuah surat” lanjutnya, “yang terlihat seolah-olah mereka semua telah menandatanganinya. Dengan itu… surat kepemilikan tanah itu sah menjadi atas namaku.”
Ia mengangkat cangkirnya, meneguk minuman dengan tenang.
“Dan sekarang… aku hanya perlu menjualnya dengan harga setinggi mungkin.”
Di meja sebelah, tangan Gao Rui yang memegang cangkir teh berhenti sejenak. Alisnya mengerut semakin dalam.
“…Memalsukan tanda tangan…”
Pikirannya langsung berputar cepat.
Jika apa yang dikatakan Fang Yi benar… maka kepemilikan tanah itu jelas bermasalah. Secara hukum, itu bukan sepenuhnya milik Fang Yi. Dan yang lebih penting.....
“…Kelompok Harta Langit akan membelinya.”
Tatapan Gao Rui sedikit menajam. Itu berarti, jika transaksi ini tetap berjalan, maka kelompok milik Lan Suya akan membeli tanah yang statusnya tidak bersih. Risikonya jelas.
Di masa depan, jika keluarga Fang yang lain mengetahui hal ini dan menuntut, masalah besar bisa terjadi. Bukan hanya kehilangan tanah, tapi juga merusak reputasi.
Gao Rui perlahan menurunkan cangkir tehnya ke meja.
“Ini bukan hal kecil…” batinnya.
Ia kembali bersandar santai, menjaga ekspresinya tetap tenang. Dari luar, tidak ada yang akan menyangka bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang begitu serius.
Namun di dalam… pikirannya sudah mulai menyusun langkah.
“Haruskah aku memberi tahu Bibi?”
Ia terdiam sejenak. Tatapannya melirik sekilas ke arah meja Fang Yi, lalu kembali lurus ke depan.
“…Atau… ada cara lain?”
Gao Rui menarik napas perlahan, menjaga ritme pernapasannya tetap stabil. Pikirannya mulai berputar.
Ia mencoba membayangkan… apa yang akan dilakukan orang lain jika berada di posisinya sekarang. Situasi seperti ini jelas bukan sesuatu yang pernah ia hadapi sebelumnya. Ini pertama kalinya ia terlibat dalam sesuatu yang begitu rumit. Bukan sekadar pertarungan kekuatan, tapi permainan kepentingan dan tipu daya.
Tatapannya sedikit menunduk.
“Guru…” batinnya lirih.
Sosok Boqin Changing langsung muncul di benaknya. Bagaimanapun juga, gurunya adalah salah satu pemilik Harta Langit. Seseorang yang telah melewati berbagai intrik dunia persilatan dan dunia luar. Jika orang seperti dirinya berada di posisi ini… apa yang akan ia lakukan?
Sejenak Gao Rui membayangkannya. Namun hampir seketika ia menggeleng pelan.
“Tidak… itu tidak bisa dijadikan acuan.”
Ia terlalu mengenal gurunya. Jika ada seseorang yang dengan sengaja berniat buruk terhadap sesuatu yang menjadi miliknya… maka kemungkinan besar Boqin Changing tidak akan ragu memberi pelajaran. Dan “pelajaran” dari gurunya bukan sesuatu yang ringan.
Membunuh… adalah kemungkinan yang sangat nyata. Atau setidaknya… mematahkan tulang-tulang orang-orang itu hingga mereka tidak akan pernah berani mengulanginya lagi.
Gao Rui menghela napas tipis.
“Itu tidak baik…” pikirnya.
Lalu pikirannya beralih.
“Bagaimana dengan Bibi Lan Suya…?”
Matanya sedikit menyipit. Di balik sikap santainya, Lan Suya adalah seseorang dengan pemikiran yang matang. Ia bukan tipe yang langsung menggunakan kekuatan. Tidak… wanita itu lebih berbahaya dari itu.
Ia menyerang dari sisi yang tidak terlihat. Psikologis, manipulasi, dan kecerdikan.
Gao Rui mengingat kembali cara Lan Suya berbicara, cara ia menghadapi orang-orang, bagaimana ia bisa membuat lawan tanpa sadar masuk ke dalam perangkap yang ia siapkan.
“…Jika Bibi yang menghadapi ini…”
Kemungkinan besar, ia tidak akan langsung membongkar semuanya. Ia akan memutar keadaan… membuat Fang Yi sendiri yang terjebak oleh kebohongannya. Sebuah cara yang bersih… namun mematikan.
Perlahan, sebuah keinginan muncul di dalam diri Gao Rui.
“Mencoba… cara itu.”
Sesuatu yang baru baginya.
Ia selalu mengandalkan kekuatan dan insting. Namun kali ini… mungkin ia harus mencoba sesuatu yang berbeda.
Tatapannya sedikit berubah.
“Bisakah aku… meniru gaya Bibi?”
Namun sebelum ia sempat benar-benar menentukan langkah berikutnya—
“Pelan sedikit…”
Suara dari meja sebelah terdengar tiba-tiba. Salah satu pria di sana menurunkan suaranya, lalu berkata dengan nada mengingatkan,
“Jangan terlalu keras. Bagaimanapun juga… ada orang lain di tempat ini.”
Ia melirik ke arah Gao Rui. Tatapan itu singkat… namun cukup jelas.
Gao Rui tetap diam. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun, seolah ia sama sekali tidak menyadari pembicaraan mereka.
Namun di meja itu, Fang Yi mengikuti arah pandangan rekannya. Matanya jatuh pada sosok Gao Rui yang tampak tenang, duduk sendiri sambil meminum teh. Sejenak… lalu ia tertawa.
“Hah!”
Tawanya ringan, penuh meremehkan.
“Tenang saja,” katanya santai. “Di sini hanya ada seorang bocah.”
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, senyumnya melebar tipis.
“Tidak perlu khawatir.”
Fang Yi tentu lupa. Siapapun yang duduk di ruang makan Penginapan Teratai Emas… bukanlah orang biasa.
Tempat ini bukan sekadar penginapan. Ini adalah simbol status. Hanya orang-orang dengan kekayaan luar biasa atau latar belakang yang tidak sederhana yang rela membayar harga selangit hanya untuk menikmati makanan dan layanan di sini. Bahkan sekadar duduk di ruangan ini… sudah cukup menjadi bukti bahwa seseorang bukanlah sosok yang bisa diremehkan.
Namun Fang Yi tetap tertawa. Menganggap Gao Rui hanyalah bocah biasa yang kebetulan berada di tempat mewah ini.
Gao Rui yang melihat itu tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. Namun di dalam hatinya… sebuah keputusan telah dibuat.
“Baiklah…” batinnya tenang.
Ia akan mencoba. Mencoba gaya Lan Suya. Perlahan, ia meletakkan cangkir tehnya. Gerakannya santai, tanpa tergesa. Ia berdiri dari kursinya, lalu melangkah dengan tenang menuju meja Fang Yi dan rekan-rekannya.
Setiap langkahnya stabil. Seolah ia benar-benar tidak memiliki rasa ragu sedikit pun. Padahal sejak awal… ia sudah tahu. Orang-orang ini… berada di ranah kultivasi di bawah dirinya.
Jika sesuatu terjadi. Jika pembicaraan berubah menjadi benturan fisik maka hasilnya sudah jelas. Ia tidak akan kalah. Namun kali ini… ia tidak ingin menggunakan kekuatan. Ia ingin bermain… dengan cara lain.
Gao Rui berhenti di samping meja itu. Tatapannya menyapu satu per satu wajah mereka, lalu berhenti pada Fang Yi. Bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang sulit ditebak maknanya.
“Bolehkah aku duduk di sini?” ucapnya ringan.
Seketika suasana di meja itu berubah. Beberapa pria saling pandang, jelas kebingungan. Seorang bocah… dengan sikap setenang ini? Bahkan berani menghampiri mereka?
Namun Fang Yi justru menunjukkan reaksi berbeda. Matanya sedikit menyipit, seolah menemukan sesuatu yang menarik.
“…Silakan,” katanya akhirnya.
Gao Rui tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung menarik kursi dan duduk dengan santai, seolah ia memang sudah seharusnya berada di sana.
Keheningan pun jatuh. Orang-orang di meja itu tidak berbicara. Mereka menunggu. Menunggu… apa yang akan dilakukan bocah ini.
Gao Rui mengambil jeda sejenak. Ia tidak terburu-buru. Ia bahkan sempat menuangkan teh untuk dirinya sendiri, lalu meminumnya perlahan.
Satu tegukan. Dua tegukan. Baru setelah itu, ia mengangkat pandangannya kembali ke arah Fang Yi. Tatapannya tenang. Namun entah kenapa… terasa menekan.
“Kudengar…” ia membuka ucapannya perlahan, suaranya datar namun jelas terdengar oleh semua orang di meja itu, “kau ingin menjual tanahmu kepada kelompok Harta Langit?”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa peringatan. Tanpa basa-basi. Dan seketika, wajah Fang Yi membeku.
Senyumnya menghilang. Jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya. Sebuah firasat buruk… muncul tanpa bisa ia tahan. Ruangan yang tadinya terasa biasa… kini mendadak menjadi sempit.
Matanya menatap Gao Rui dengan lebih dalam. Bocah ini… bukan sembarang bocah.
Fang Yi tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Gao Rui, seolah sedang menimbang sesuatu. Udara di sekitar meja itu terasa sedikit menegang, namun pria itu justru menyandarkan tubuhnya dengan santai. Senyum tipis kembali muncul di bibirnya… kali ini lebih hati-hati.
“Hmm…” gumamnya pelan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Gao Rui, ia justru memiringkan kepala sedikit.
“Siapa namamu, nak?”
Nada suaranya terdengar ringan, namun jelas mengandung maksud lain. Ia ingin mengetahui… siapa sebenarnya bocah di hadapannya ini.
Gao Rui tidak terkejut. Ia sudah memperkirakan arah pembicaraan akan berubah seperti ini. Senyumnya tetap tenang.
“Namaku… Gao Rui.”
Jawaban itu singkat. Tanpa tambahan apa pun. Namun mata Fang Yi sedikit menyipit.
“Gao Rui…” ulangnya pelan.
Nama itu… terasa familiar. Sangat familiar. Seolah ia pernah mendengarnya di suatu tempat. Namun semakin ia mencoba mengingat… semakin samar bayangan itu. Tidak ada potongan jelas yang bisa ia tangkap.
“Di mana aku pernah mendengarnya…” batinnya.
Namun pada akhirnya, ia menggeleng tipis. Ia memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Senyumnya kembali, kali ini sedikit lebih dingin.
“Gao Rui,” katanya sambil menatap lurus ke arah pemuda itu. “Ini bukan urusanmu.”
Nada suaranya berubah. Tidak lagi santai seperti sebelumnya.
“Ini adalah urusan orang dewasa,” lanjutnya, sedikit menekankan kata-katanya. “Sebaiknya kau tidak ikut campur.”
Beberapa orang di meja itu mengangguk kecil. Mereka jelas setuju. Bagaimanapun juga, di mata mereka… Gao Rui tetaplah seorang bocah.
Namun Gao Rui justru tersenyum. Bukan senyum tersinggung. Bukan pula senyum menantang. Melainkan… senyum santai yang seolah sudah memahami segalanya.
“Sejujurnya…” ucapnya pelan, “aku memang tidak berniat ikut campur.”
Ia berhenti sejenak. Sengaja memberi jeda. Tatapannya beralih dari satu orang ke orang lain di meja itu, lalu kembali pada Fang Yi.
“Tapi…” lanjutnya ringan, “sepertinya aku tidak punya pilihan.”
Alis Fang Yi sedikit berkerut.
“Tidak punya pilihan?” ulangnya.
Gao Rui mengangguk kecil.
“Ya,” katanya.
Lalu, tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, ia menambahkan....
“Karena… aku adalah pemilik kelompok Harta Langit.”
Hening. Benar-benar hening. Seolah waktu berhenti sejenak. Ekspresi orang-orang di meja itu langsung berubah. Mata mereka membesar. Wajah yang sebelumnya santai kini membeku. Bahkan ada yang tanpa sadar menegakkan punggungnya.
“Apa…?”
Salah satu dari mereka hampir bersuara, namun segera menahan diri. Tatapan mereka semua kini tertuju pada Gao Rui.
hartanya banyak 🤣🤣🤣
saking polosnya...
seluruh kota gempar.
bisnis lansuya melejit...
nama gou rui kembali bergema...