NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Bawah Hujan Meteor

​Malam itu, langit di atas SMA Wijaya Kusuma tampak lebih jernih dari biasanya. Berita di televisi dan media sosial telah heboh sejak sore tentang fenomena hujan meteor Lyrids yang akan mencapai puncaknya pada dini hari. Bagi sebagian besar siswa, ini adalah momen romantis untuk berburu foto estetik. Namun bagi Satria dan Arini, setiap fenomena langit yang luar biasa selalu membawa "getaran" yang berbeda pada frekuensi ghaib mereka.

​Sejak insiden Sang Maestro di ruang musik, Arini menjadi lebih peka terhadap perubahan energi di sekitarnya. Ia tidak lagi hanya melihat wujud, tapi mulai bisa merasakan warna dari emosi yang menggantung di udara.

​"Sat, lihat ke atas," bisik Arini.

​Mereka berdua kini berada di atap gedung tertinggi sekolah, sebuah area yang biasanya terkunci namun berhasil mereka akses berkat "bantuan" Ucok yang mencuri kunci dari ruang penjaga. Satria menggelar tikar tipis di atas beton. Di samping mereka, Meneer Van De Berg berdiri dengan anggun, menatap langit seolah mengenang malam-malam di masa kolonial.

​“Di masa saya, bintang-bintang tampak lebih dekat, Noni Arini. Kami menggunakannya untuk navigasi, bukan sekadar objek wisata,” ujar sang Meneer dengan nada nostalgia.

Pukul 22.00. Satu per satu garis cahaya mulai meluncur di langit hitam. Meteor-meteor itu tampak seperti goresan perak yang membelah keheningan. Namun, bagi mata indigo Satria dan Arini, garis-garis itu tidak hanya putih. Ada semburat cahaya biru dan emas yang berjatuhan, seolah-olah energi alam semesta sedang menyentuh lapisan tipis yang memisahkan dunia manusia dengan dimensi astral.

​“Aduh! Sat! Lihat! Itu ada bintang jatuh yang warnanya ungu!” seru Ucok sambil melompat-lompat di pinggiran atap. “Boleh saya tangkap nggak? Buat main kelereng ghaib pasti keren!”

​"Jangan, Cok! Itu energi murni, tangan lo bisa gosong," larang Satria.

​Arini bersandar di bahu Satria, matanya tak lepas dari langit. "Sat, kamu pernah mikir nggak? Kenapa kita yang dipilih buat liat semua ini? Kadang aku merasa... dunia ini terlalu berisik sejak aku bisa liat mereka."

​Satria terdiam sejenak, ia memainkan jemarinya di udara, seolah mencoba menangkap debu kosmik yang jatuh. "Gue dulu juga sering protes sama Tuhan, Rin. Kenapa gue harus liat muka pucat Mbak Suryani atau amarah Sang Kolektor tiap hari. Tapi sekarang, liat lo ada di sini, gue mulai paham."

​"Paham apa?"

​"Kalau gue nggak punya kemampuan ini, mungkin gue nggak akan pernah bisa jagain lo pas Sang Kolektor nyulik sukma lo. Mungkin gue cuma bakal jadi cowok biasa yang nggak tau kalau pacarnya lagi dalam bahaya besar."

​Arini tersenyum, wajahnya bersemu merah di bawah cahaya bintang. "Pacar? Emang kita udah jadian?"

​Satria tersedak ludahnya sendiri. "Eh... anu... maksud gue... ya, kan kita partner. Partner itu kan... levelnya lebih dari temen, kan?"

​“CIEEEEE! BOS SATRIA GUGUP! MUKANYA MERAH KAYAK BANASPATI!” ledek Ucok yang langsung disusul tawa melengking Mbak Suryani yang tiba-tiba muncul dari balik tangki air.

Tiba-tiba, suasana yang tadinya ceria berubah menjadi sangat hening. Hujan meteor yang tadinya meluncur cepat mendadak tampak bergerak dalam slow motion. Suara angin di atas gedung berhenti total.

​Dari tengah pusaran cahaya di langit, turun sesosok entitas yang belum pernah mereka temui. Wujudnya bukan hantu, melainkan cahaya yang berbentuk manusia, transparan dan dipenuhi bintik-bintik bercahaya seperti galaksi kecil.

​“Para Penyeimbang...” suara entitas itu terdengar merdu, seperti denting lonceng perak.

​Meneer Van De Berg segera berlutut, diikuti oleh Mbak Suryani yang tampak sangat hormat. Bahkan Ucok langsung tiarap di atas tikar.

​"Siapa Anda?" tanya Satria sambil berdiri melindungi Arini.

​“Aku adalah Astral Observer. Aku hanya muncul saat langit membuka gerbangnya. Aku datang untuk memberikan peringatan, sekaligus harapan.”

​Entitas itu mendekat, membuat suhu di atap menjadi sejuk dan menenangkan. “Cahaya di dalam diri gadis ini tumbuh terlalu cepat. Kegelapan akan selalu tertarik pada cahaya yang paling terang. Kalian telah menutup satu celah, namun Sang Kolektor hanyalah satu dari sekian banyak penjaga pintu yang haus akan kekuatan indigo.”

​Arini menggenggam tangan Satria erat-kanak. "Apa yang harus kami lakukan?"

​“Jangan biarkan ikatan di antara kalian retak. Kekuatan kalian bukan pada kemampuan masing-masing, melainkan pada sinkronisasi jiwa kalian. Selama kalian bersatu, dimensi ini akan tetap aman.”

Sang Penjaga Bintang mengangkat tangannya. Dua butir cahaya kecil meluncur dari langit dan mendarat di telapak tangan Satria dan Arini. Cahaya itu perlahan memadat menjadi dua buah cincin sederhana yang terbuat dari bahan yang tampak seperti batu meteorit hitam dengan guratan perak.

​“Ini adalah Star Link. Jika salah satu dari kalian dalam bahaya besar, cincin ini akan memberikan getaran yang melampaui batas dimensi. Gunakan dengan bijak.”

​Setelah memberikan pesan itu, entitas tersebut perlahan memudar, kembali menyatu dengan hujan meteor yang kini bergerak normal kembali.

​Satria menatap cincin di tangannya, lalu menatap Arini. Suasana menjadi sangat emosional. Di bawah ribuan bintang yang terus berjatuhan, Satria merasa inilah saatnya ia memberikan kepastian, bukan hanya sebagai partner indigo, tapi sebagai laki-laki.

​"Rin," panggil Satria pelan.

​"Iya, Sat?"

​Satria memegang tangan Arini, lalu memasangkan cincin meteorit itu ke jari manis Arini. "Gue nggak tau apa yang bakal kita hadapi ke depan. Mungkin bakal ada hantu yang lebih serem dari Sang Maestro, atau musuh manusia yang lebih jahat dari yayasan itu. Tapi di bawah hujan meteor ini, gue mau janji sama lo."

​Arini menahan napas.

​"Gue janji bakal selalu ada di depan lo buat jadi perisai. Gue janji nggak akan biarin lo nanggung beban indigo ini sendirian. Dan gue janji... gue bakal jagain lo, lebih dari gue jagain nyawa gue sendiri."

​Air mata Arini menetes, bukan karena takut, tapi karena haru. Ia membalas dengan memasangkan cincin satu lagi ke jari Satria. "Dan aku janji, aku bakal jadi cahaya yang selalu nuntun kamu pas kamu tersesat di kegelapan. Kita bakal hadapi semuanya bareng-bareng, Sat. Sampai akhir."

​“HUEEEEE... TERHARAUNYAAAA...” Mbak Suryani sesenggukan sambil mengelap air mata ghaibnya dengan selendang. “Dulu Meneer nggak pernah se-romantis ini sama saya!”

​“Ehem, Nona Suryani, saya ini perwira, bukan penyair,” bela Meneer Van De Berg sambil berdeham canggung.

Momen romantis itu sedikit terusik ketika sebuah meteor yang cukup besar tampak meluncur sangat rendah, hampir mengenai menara pemancar sekolah. Meteor itu meledak di udara, melepaskan gelombang energi yang membuat rambut Ucok berdiri tegak.

​“WADUH! ADA PENUMPANG GELAP!” teriak Ucok sambil menunjuk ke arah bekas ledakan meteor.

​Muncul beberapa arwah kecil yang tampak seperti bola api biru—arwah-arwah pengembara ruang angkasa yang sering ikut "menumpang" pada fenomena kosmik. Mereka mulai berterbangan di sekitar atap, mencoba mencuri energi dari Star Link yang baru saja mereka terima.

​"Sepertinya kencan kita harus diselingi olahraga sedikit, Rin," Satria bersiap dengan posisi tempur, cincin di jarinya mulai bersinar biru redup.

​"Ayo, Sat! Kita coba kekuatan baru ini!" Arini mengangkat tangannya.

​Ketika mereka menyatukan tangan, sebuah perisai cahaya berbentuk kubah transparan menyelimuti seluruh atap gedung. Arwah-arwah bola api itu terpental saat menyentuh perisai tersebut, dan akhirnya memilih untuk terbang menjauh mencari mangsa yang lebih mudah.

Hujan meteor mulai mereda saat semburat warna jingga mulai muncul di ufuk timur. Satria dan Arini masih duduk di atas tikar, menyaksikan matahari terbit yang pertama kali mereka lihat bersama-sama dari atap sekolah.

​"Cantik banget ya, Sat," gumam Arini.

​"Iya. Tapi masih cantikan yang lagi pake cincin meteor itu," balas Satria sambil nyengir.

​Arini menyandarkan kepalanya di bahu Satria. Kelelahan setelah berjaga semalaman seolah hilang digantikan oleh rasa damai yang mendalam. Mereka tahu, perjalanan mereka masih panjang. Misteri di SMA Wijaya Kusuma belum sepenuhnya terungkap, dan Sang Kolektor mungkin punya atasan yang lebih kuat. Namun untuk saat ini, di bawah sisa-sisa debu bintang yang jatuh, mereka merasa cukup.

​Bab 35 ditutup dengan Satria dan Arini yang turun dari atap sekolah dengan tangan yang saling bertautan. Di belakang mereka, Ucok sibuk mengumpulkan sisa-sisa "debu bintang" yang menempel di tikar untuk dijadikan koleksi barunya, sementara Meneer Van De Berg dan Mbak Suryani menghilang perlahan ke dalam tembok sekolah, siap menyambut hari baru yang penuh dengan misteri yang lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!