Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pensiun Jadi Jagoan
Matahari di atas Terminal Bungurasih terasa membakar kulit, namun tidak sepanas amarah yang meluap di dada Faris Arjuna. Meskipun hanya mengenakan kaos oblong dan jaket kulit yang sudah kusam, aura sebagai "Panglima" jalanan tetap terlihat sangat mengerikan.
Faris mengusap sisa darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Di hadapannya, tiga preman yang biasa meresahkan pedagang pasar sudah terkapar tidak berdaya di atas aspal yang berdebu.
"Bangun! Apa cuma segini kemampuan kalian?!" gertak Faris dengan suara berat yang membuat orang-orang di terminal seketika terdiam.
"Ampun, Mas Faris... Kami tidak akan mengulangi lagi, Mas. Kami kapok," rintih salah satu preman yang berjenggot sambil memegangi perutnya yang terkena tendangan telak.
Faris membuang puntung rokoknya, lalu menginjaknya hingga hancur. "Dengarkan baik-baik! Mulai hari ini tempat ini sudah saya bersihkan. Kalau sampai aku dengar kalian menarik uang jatah lagi pada pedagang kecil, habis kalian di tanganku!"
Faris berbalik badan, melangkah meninggalkan terminal tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Meskipun status di matanya yang terhubung dengan sistem masih berkedip-kedip menunjukkan wewenang tingkat tinggi, hati Faris terasa sunyi.
Ia teringat surat dari ibunya di Gedangan, Sidoarjo. Surat itulah yang menjadi alasan kuat mengapa ia memutuskan untuk pensiun menjadi jagoan terminal dan memilih jalan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Masuk pesantren... yang benar saja?" Faris tertawa sendiri sambil melirik sarung goyor yang sudah ia siapkan di dalam tas ranselnya.
"Seorang panglima perang disuruh mengaji. Tapi ya sudahlah, daripada Ibu menangis terus karena aku terus-menerus terlibat perkelahian. Akan aku coba jadi santri yang benar."
Malam itu, Sidoarjo menjadi saksi bahwa sang macan jalanan ingin belajar bersujud di hadapan Tuhan. Faris Arjuna sudah membulatkan tekad, besok subuh ia akan menghadap Kyai Ahmad, guru mengajinya dulu yang sudah menunggu di daerah Gedangan.
Faris menghela napas panjang saat kakinya melangkah masuk ke dalam kontrakan sempitnya. Di dinding kayu yang mulai lapuk, tertempel sebuah kalender tua bertuliskan kota kelahirannya, Sidoarjo. Ia duduk di pinggiran kasur tipis sambil membuka tas ransel yang sudah robek di beberapa bagian.
Tangannya yang dipenuhi bekas luka perkelahian itu merogoh ke dalam tas, mengambil sebuah sarung goyor berwarna hijau pudar. Itu adalah warisan terakhir dari ayahnya. Faris menatap sarung itu dengan tatapan kosong, seolah ada beban berat yang menghimpit pundaknya.
"Biasanya pegang parang sama kunci inggris, sekarang harus pegang kitab. Apa aku bisa?" gumam Faris pelan. Suaranya yang biasanya lantang di terminal, kini terdengar penuh keraguan.
Ia membayangkan reaksi teman-teman premannya jika tahu sang 'Panglima' yang ditakuti se-Surabaya ini tiba-tiba menghilang untuk masuk pesantren. Pasti dia akan jadi bahan tertawaan sepanjang jalan. Tapi, bayangan air mata ibunya saat terakhir kali mereka bertemu jauh lebih menyakitkan daripada sekadar dihina teman-temannya.
Faris kemudian bangkit dan berdiri di depan cermin kecil yang sudah retak. Ia menatap wajahnya sendiri yang terlihat keras dan penuh guratan masa lalu yang kelam. Ia tahu, perjalanan ke Gedangan besok bukan sekadar pulang kampung, tapi perjalanan untuk menjemput dirinya yang dulu pernah hilang.
"Besok subuh, semua hidup kelam ini harus selesai. Gak ada lagi Panglima Faris yang hobi baku hantam. Yang ada cuma Faris, anak Ibu yang ingin kembali ke jalan yang benar," tekadnya dalam hati.
Ia mulai memasukkan beberapa kaos oblong dan satu-satunya baju koko miliknya ke dalam tas. Faris mematikan lampu minyak di kamarnya, membiarkan kegelapan menyelimuti sejenak sebelum cahaya hidayah menyambutnya di pesantren esok hari.
Namun, di tengah kesunyian malam itu, Faris tidak tahu bahwa meninggalkan dunia hitam tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada masa lalu yang masih mengintai, dan ada janji yang belum lunas tertunaikan di jalanan
Tepat saat adzan subuh berkumandang dari masjid terminal, Faris sudah menyandang ranselnya. Ia berdiri sejenak di depan pintu gerbang terminal yang masih remang-remang. Tempat ini telah memberinya segalanya—kekuasaan, uang haram, hingga nama besar yang ditakuti—tapi tempat ini pula yang hampir merenggut nyawanya berkali-kali.
"Selamat tinggal, aspal jalanan," bisik Faris lirih. Ia membuang kunci kontrakan ke dalam tempat sampah terdekat. Tidak ada lagi jalan pulang ke masa lalu. Baginya, jembatan di belakangnya sudah ia bakar habis.
Perjalanan dari Surabaya menuju Gedangan, Sidoarjo, terasa lebih jauh dari biasanya. Di dalam bus kota yang mulai penuh sesak, Faris hanya terdiam menatap keluar jendela. Beberapa penumpang yang melihat jaket kulit dan tampang sangarnya sempat merasa takut, namun mereka tidak tahu kalau di dalam ransel itu ada sarung dan niat tulus untuk berubah.
Langkah kaki Faris akhirnya berhenti di depan sebuah gang sempit di daerah Gedangan. Bau tanah basah dan aroma khas pedesaan menyambutnya. Di ujung gang itu, berdiri sebuah bangunan tua dengan kubah hijau yang sudah mulai memudar warnanya: Pesantren Al-Huda.
Jantung sang Panglima berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia harus menghadapi keroyokan sepuluh orang di terminal. Baginya, menghadapi Kyai Ahmad jauh lebih menggetarkan jiwa daripada menghadapi parang lawan.
Faris berhenti tepat di depan pintu kediaman sang Kyai. Ia melepaskan jaket kulitnya, menyisakan baju koko yang terasa sedikit sempit di tubuh kekarnya yang penuh otot. Ia mencoba merapikan rambutnya yang berantakan sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kayu itu.
"Tok... tok... tok..."
Suara ketukan itu terasa sangat berat. Faris menundukkan kepalanya dalam-dalam, menanggalkan semua kesombongan dan nama besarnya di luar pagar. Di sini, ia bukan lagi seorang penguasa terminal, melainkan hanya seorang hamba yang tersesat dan ingin pulang.
Pintu perlahan terbuka, menampakkan sosok pria sepuh dengan sorban putih yang memancarkan ketenangan. Faris langsung menjatuhkan dirinya, bersimpuh di kaki sang guru sambil menahan sesak di dadanya yang mulai bergejolak.
"Mbah Kyai... Faris datang. Maafkan Faris yang baru kembali sekarang," ucapnya dengan suara bergetar, memecah keheningan subuh di Gedangan.