Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dirumah Ibu
Selamat membaca###
Sudah dua hari Sofi di rumah ayah ibunya, Hawa sejuk daerah yang masih banyak pepohonan rindang membuat siapa pun betah berlama-lama ditempat itu. Pagi yang cerah, Sofi membuat jus jeruk dan menggoreng pisang serta ubi kayu untuk sarapan mereka sekeluarga.
Hidup di pinggiran kota kecil dan masih sangat luas area perkebunan dan persawahan, membuat penduduknya banyak yang memanfaatkan area kanan kiri dan belakang rumah untuk bercocok tanam. Untuk beras sebagai makanan pokok cukup dari hasil panen sawah, sedang untuk beberapa sayuran cukup memetiknya dari perkebunan atau pekarangan rumah saja.
Dan begitulah kehidupan sederhana keluarga Sofi, ayahnya selain mengelola minimarket, waktu luangnya juga digunakan untuk menanam beberapa jenis pohon buah dan sayuran. Salah satunya beberapa pohon jeruk yang tumbuh subur dan berbuah lebat di belakang rumah. Untuk sayuran ibu juga menanam sayuran yang dibagi beberapa petak. Satu petak untuk satu jenis sayuran. Ada sawi, kangkung, bayam dan lainnya.
Sofi :" Alhamdulillah!" seru Sofi setelah menyeruput habis jus jeruknya.
"Bener bener seger ya jeruk hasil panenan sendiri, Yah! " kata Sofi pada ayahnya. Mereka sedang sarapan ala kadarnya. Mereka menikmati udara pagi dengan sarapan di teras belakang. Hamparan pepohonan hijau nampak segar di pandangan mata.
Ayah mengulurkan piring sayur. " Kamu juga harus makan sayurnya ini, yang banyak. Biar ASI mu lancar, dan anak anak terpenuhi vitaminnya serta nutrisi lainnya."
Sofi, "Beres yah!"
Selain makan ubi goreng dan minum jus jeruk, Sofi juga makan sayur kukus yang di urap, diberi parutan kelapa yang dibumbui dan dicampur jadi satu tanpa nasi, jangan tanya rasanya yah. Pastinya segar, pedas dan gurih.
Setelah sarapan Sofi mengajak mbak Rumi mengajak bayi bayinya jalan jalan diarea persawahan dekat rumah. Dengan menaikkan kedua bayinya di stroller, udara pagi yang diterpa sinar mentari di hamparan luas sawah, sangat baik untuk paru paru.
Tak lupa Sofi mengabadikan momen tersebut dengan kamera hpnya.
Cekrek.
Cekrek.
Seperti tak bisa bosannya Sofi mengabadikan apa yang dilihat saat ini. Juga dengan kedua bayi. Ia juga menyapa beberspa orang yang kebetulan kenal dengannya.
Setelah puas memandang hamparan sawah dan menghirup udara segar, matahari pun semakin naik, Rasanya pun sudah panas mengenai kulit. Ia pun mengajak si kembar untuk pulang, rasanya energinya hari ini bertambah berlipat ganda.
Sofi:" Ayok kita pulang sayang, disini udah makin panas, ayok mbak Rum! " Ajak Sofi kemudian.
Saat mereka berjalan, seseorang yang mengenalinya menyapa.
"Sofi, ya Alloh ini kamu?"
"Ratna, wah kamu sedang hamil ya?" mereka saling memeluk dan bertukar kabar.
"Ini kehamilan keduaku. Anak pertamaku telah meninggal setelah lahir." apa yang diberitahukan Ratna teman sekolahnya, membuat Sofi terkejut.
"Oh ya Alloh. Maaf aku nggak tahu!"
"Maut, memang tak mengenal usia Sof!"
"Ada yang masih dalam kandungan, ada yang bayi , balita, remaja, dewasa bahkan ada yang sampai sudah tua sekali. Kita takkan pernah tahu!"
Deg.
Sofi termangu, selama ini, ia masih menyesali kepergian Faiz yang begitu tiba tiba. Dan terkadang seolah menyalahkan keadaan.
"Sof!"
"Oh, iya! Maaf, aku malah melamun. Hehehe!"
"Aku minta maaf, suamimu meninggalkan aku juga tahu beberapa Minggu lalu. Waktu aku belanja di warung ayahmu. Aku ikut berbela sungkawa ya! Ayahmu bercerita banyak tentang kamu!"
"Oiya!"
"Heeh, terus ini kedua anak kembarmu Sof" Sofi mengangguk.
"Waah, anakmu cantik dan ganteng. Mau dong anakku secantik anakmu!" wanita bernama Ratna mengelus perut buncitnya.
"Semoga, anakmu lebih cantik lagi, Rat! Kamu kan cantik." mereka berdua tertawa.
"Ih, cantikan juga kamu. Semenjak bersuami kamu jadi tambah cantik. Kamu pasti sering nyalon ya, secara kamu punya suami kaya!"
"Hehehe, itu tuntutan Rat. Gimanapun aku pengen terlihat cantik di mata suami, lagian suami juga yang nyuruh." Ratna manggut manggut.
"Ya udah, suami nunggu di rumah. Ini tadi mau sarapan ceritanya, terus kehabisan telur. Beli dulu di warung Ayah kamu. Sampai ketemu lagi, ya!"
Mereka pun berpisah. Beberapa kali ketemu tetangga,
Sofi menegurnya dengan sopan, bahkan juga bercanda dengan mereka jika di waktu dulunya akrab.
Sesampainya di rumah, Sofi segera membersihkan diri, Ia masuk kedalam kamarnya, sedang anak anak diruang tengah bersama mbak Rumi.
"Waah, si kembar sudah tidur semua ya, mbak." tanya Sofi sambil menenteng handuk. Melihat kedua anaknya yang telah terlelap. Biasa bayi memang begitu, goyang dikit langsung merem matanya. Apalagi mereka tadi terlalu pagi bangun.
Dan itu di gunakan Sofi untuk berlama lama mandi berendam di bathtub, mumpung anak anak pada tidur. Eh kok di bathtub? Iya, karena waktu itu Faiz yang ngotot untuk memasang bathtub di kamar mandi punya Sofi.
Hampir dua puluh menit Sofi memanjakan diri dengan air hangat yang ditetesi minyak aromaterapi. Hingga suara ketukan di pintu kamar mandi mengejutkannya.
"Sof! udah belum mandinya, ada tamu tuh cari kamu!" suara ibu nyaring terdengar dari dalam. Tamu? Sofi menautkan kedua alisnya. Mengira ngira siapa yang bertamu pagi pagi mencarinya.
Sofi:" Iya bu, sebentar,"
" Siapa sih tamunya? " batin Sofi.
Dengan cepat Sofi menyelesaikan mandinya, dan memakai baju juga merias diri ala kadarnya dan memakai kerudung, bergegas ia turun dari kamar, menuju ruang tamu.
Seorang pria duduk membelakanginya, tapi... ia seperti mengenal pemilik punggung dan kepala itu. Tapi mungkinkah?
Dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati ternyata perkiraannya benar adanya.
Sofi " Mas Farhan?" Farhan menoleh dan tersenyum pada Sofi.
"Mas Farhan, Kok bisa tahu saya ada disini?" karena merasa heran Sofi sampai melupakan sesuatu.
Farhan :" Assalamualaikum Sofi, apa kabar?" Sofi tersenyum malu. Tanpa mengucap salam ia memberondong Farhan dengan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Farhan kini berdiri menghadapnya.
Sofi:" Waalaikum salam. Baik mas, kok bisa tahu saya ada disini? " Ia mengulang lagi pertanyaan yang belum terjawab oleh Farhan.
Farhan:" Kok ketus banget sih kamu Sofi, jauh jauh aku datang kesini lo!"
Sofi mendengus, entah kenapa kata kata Farhan selalu saja membuatnya kesal. Bagi Sofi laki laki satu ini kenapa gak punya malu.
Apa, 'udah berkali kali ditolak masih saja datang dan apa ini? dia datang kesini jauh jauh menemuiku' batin Sofi.
Farhan:" Aku kangen sama si kembar Sof! Jadi, waktu aku tahu mereka disini bersamamu, aku nyusul kamu."
"Oiya, dimana mereka? Aku kangen nih!" sembari tersenyum Farhan menanyakan si kembar.
Sofi:" Mereka sedang tidur di kamar. Mereka tadi bangunnya kepagian, jadi jam segini udah tidur lagi, mas"
Farhan, " Baiklah, aku akan tunggu sampai mereka bangun." putusnya sambil duduk lagi.
Sofi" Tapi mereka biasanya lama bangunnya. Kadang sampai satu jam!"
"Oke, tak apa. Aku akan sabar nunggu sampai mereka bangun."
Ni orang.
"Kau belum jawab pertanyaanku mas?" Farhan mengernyit, ia terlihat bingung, tak mengerti pertanyaan mana yang belum ia jawab.
"Pertanyaan yang mana, Sof? Perasaan udah aku jawab." tanyanya kemudian menyeruput teh di hadapannya. Lalu ia pandang lagi Sofi yang duduk diseberang meja tempat ia duduk.
" Dari mana mas Farhan tahu aku ada disini? Itu pertanyaan aku yang belum kamu jawab!" Farhan tersenyum tipis.
" Oh, pertanyaan yang itu. Maaf Sof, aku kemarin datang ke rumah mertuamu. Kata Mama kamu, sudah dua hari kamu kesini. Terus Marwan ketemu Izza, ia tanya Izzah di kampus juga bilangnya begitu, kamu bakal disini selama seminggu katanya. Benarkah itu, Sof? " Tak ada jawaban, dan itu diartikan Farhan bahwa jawabannya iya.
Farhan:" Tadi aku berangkat kesini subuh, lalu mampir dulu ke makam Ibuku, baru kemudian kesini."
"Dan juga tadi mobilku sempat mogok, saking antusiasnya aku datang kemari sampai lupa mengisi bahan bakarnya." Farhan bercerita sambil tertawa, menurutnya itu semua sangat lucu.
Sofi :"Apa, jadi Bu Wati ibunya mas Farhan udah tiada?" Farhan mengangguk.
Innalillahi wainnailaihi rojiun. Sofi benar benar tak tahu kalau ibunya mas Farhan telah meninggal." sesalnya kemudian.
Farhan :" Tak apa, Sof. Ibuku meninggal 6 bulan yang lalu. Beliau... " omongan Farhan terputus karena terdengar tangisan salah satu dari si kembar. Mbak Rumi membawanya turun. Sofi meminta agar anaknya dibawa padanya.
Sofi:" Hai sayang, kok udah bangun!" sambil mengambil alih anaknya dari mbak Rumi, lalu menciumi nya gemas.
"Biasanya lama bangunnya. Kenapa? hmmm"
"Mbak Rum, tolong buatin susu buat mereka ya, mbak? Aam udah bangun belum?"
"Kalau Kaka belum bangun Mbak. Saya buatin susu dulu. Permisi" Mbak Rumi berlalu ke dapur untuk membuatkan susu di kembar.
Kembali lagi pada Farhan.
Sofi:" Diminum dulu mas tehnya, mumpung masih hangat." Sofi sampai lupa menawari teh di atas meja, entah siapa yang membuatkan.
Farhan :"Boleh aku memangku Meera, Sof? aku udah bebersih tadi. " kata Farhan sesaat setelah menyesap tehnya, Sofi mengangguk. Lalu menyerahkan baby Meera pada Farhan untuk dipangku.
Dengan cekatan Farhan menerimanya, lalu mengajak baby Ra becanda, yang disambut gelak tawa Aam sambil mulutnya berbunyi oooooo dan Aaaaa. Sofi hanya menjadi penonton diantara mereka berdua.
Tiba tiba Sofi terkejut, ia mengucek ngucek matanya. Di penglihatannya, yang sedang bercanda sambil memangku baby Ra adalah Faiz. Sofi menggeleng. Ya Alloh, kenapa aku berhalusinasi.
Ia mengedipkan matanya lagi, sekarang yang terlihat adalah Farhan yang sedang menatapnya. Jemari kecil baby Ra menggenggam telunjuk Farhan.
"Kamu kenapa, Sof? Sakit?" Sofi langsung menggeleng.
"Eng_ enggak kok. Aku cuma agak mengantuk. Ya, aku ngantuk, tadi malam kurang tidur," Begitu kalimat kebohongan meluncur dari bibir Sofi.
Maaf, karena aku mbohongimu.
"Tidur aja kalau ngantuk. Aku gak apa kok, kan ada mbak Rum disini. Kamu pasti butuh banyak istirahat."
"Aku masih pingin bermain dengan Ra." Farhan menggoyangkan tangan yang digenggam si baby.
Farhan masih terus bermain dengan baby Ra, ditemani Sofi dan juga mbak Rumi.
Sofi hanya diam saja melihat interaksi bayinya dengan Farhan, sang mantan.
Hingga hampir satu jam Farhan di sana bercengkrama dengan Ra.
"Sof, aku pamit dulu, aku ada perlu sebentar lagi." menyerahkan baby Ra ke pangkuan Sofi.
"Babay sayang, Om Farhan mau kerja dulu ya!"
"Mas, gak nunggu makan siang dulu sebentar.
"Maaf, sof. Aku ada janji dengan klien setengah jam lagi. Sekalian makan siang bersama mereka.
"Oh, ya udah. Hati hati di jalan." Farhan mengangguk.
Assalamu'alaikum!"
❣❣❣❣❣❣❣❣❣
Hai aku datang lagi, ,,,,,,, Jangan lupa buat tekan like, komen dan votenya yaaaa! makasih all sampai jumpa di part selanjutnya . BYE!!!