NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Abraham sadar bahwa ia tidak bisa membiarkan Prita terus-menerus terpuruk dalam ketidakpastian.

Dengan langkah mantap, ia membawa Prita dan Prameswari menemui Pak Gio, manajer senior di kantornya yang selama ini sudah ia anggap seperti ayah kandung sendiri.

Di ruang kerja Pak Gio yang sederhana namun sejuk, Abraham menceritakan semua kerumitan yang terjadi—tentang penolakan keras Papa Prita hingga pengusiran yang baru saja dialami gadis itu.

Pak Gio mendengarkan dengan saksama sambil sesekali menghela napas panjang, memandangi Prita yang masih tampak sangat terguncang.

"Ham," ujar Pak Gio setelah terdiam cukup lama. Beliau melepaskan kacamata bacanya dan menatap Abraham dengan bijak.

"Dalam situasi panas seperti ini, keselamatan dan status Prita adalah yang utama. Kalian berdua sudah sama-sama dewasa, tapi secara emosional keluarga kalian sedang terbakar."

Pak Gio kemudian beralih menatap Prita sejenak sebelum kembali ke Abraham.

"Saran saya, lebih baik kalian nikah siri dulu secara agama. Ini supaya Prita punya sandaran yang sah secara keyakinan, dan untuk menghindari fitnah karena dia sudah keluar dari rumah. Urusan administrasi negara bisa kalian urus pelan-pelan setelah emosi orang tua kalian sedikit mereda."

Prita menatap Pak Gio dengan mata berkaca-kaca, ada secercah harapan di sana.

"Tinggallah di mess dulu untuk sementara. Saya akan izinkan Prita tinggal di kamar tamu mess yang lebih layak sampai kalian menemukan rumah kontrakan yang cocok," lanjut Pak Gio sambil menepuk bahu Abraham.

"Saya yang akan pasang badan kalau ada rekan kerja lain yang bertanya. Kamu anak baik, Ham. Saya tahu kamu tidak akan main-main."

Abraham menoleh ke arah Prita, mencari persetujuan di mata gadis itu.

Prita mengangguk pelan, seulas senyum tipis yang sarat akan rasa syukur muncul di bibirnya yang pucat.

"Terima kasih, Pak Gio. Terima kasih banyak," ucap Abraham dengan suara bergetar karena haru.

Sore itu juga, dengan bantuan Pak Gio sebagai saksi dan mengundang seorang ustaz kepercayaan, suasana kamar tamu mess yang sederhana disulap menjadi saksi bisu sebuah janji suci.

Tanpa pesta mewah, tanpa gaun mahal, hanya ada ketulusan dan tekad untuk saling melindungi.

Di dalam ruang tamu mess yang telah disulap menjadi tempat yang khidmat, Prita tampak begitu anggun meski dengan kesederhanaan yang mendesak.

Ia mengenakan kebaya putih milik istri Pak Gio yang ukurannya sedikit agak longgar, namun justru menambah kesan rapuh sekaligus tulus pada penampilannya.

Rambutnya disanggul sederhana, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang masih tampak pucat.

Suasana hening menyelimuti ruangan. Wangi dupa dan melati samar tercium, bercampur dengan ketegangan yang perlahan mencair menjadi keikhlasan.

Sebelum prosesi dimulai, Abraham mendekat ke arah Prita yang duduk di sampingnya.

Ia meraih jemari Prita yang terasa dingin dan bergetar.

"Maaf ya, Prit. Aku hanya bisa menikahimu secara siri dulu. Aku belum bisa memberimu pesta atau status di depan negara sekarang," bisik Abraham, suaranya parau karena rasa bersalah yang masih bersarang di dadanya.

Prita menatap mata Abraham dalam-dalam. Tidak ada lagi keraguan di sana, hanya ada keyakinan yang bulat.

Ia menganggukkan kepalanya perlahan, mencoba memberikan kekuatan pada suaminya itu.

"Nggak apa-apa, Mas. Bagiku, diakui oleh Allah dan di sisimu itu sudah lebih dari cukup."

Abraham kemudian beringsut, duduk dengan tegap di depan Pak Penghulu dan Pak Gio yang bertindak sebagai saksi.

Di depannya, sebuah meja kecil beralaskan kain putih menjadi saksi sejarah hidupnya. Ia menjabat tangan Pak Penghulu dengan cengkeraman yang mantap—tangan seorang teknisi yang kasar namun kini siap memikul beban sebagai seorang kepala keluarga.

"Saudara Abraham bin Ahmad, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Prita Sari Dewi binti Broto dengan mas kawin uang lima ratus ribu rupiah, dibayar tunai!" ucap Pak Penghulu dengan lantang.

Tanpa jeda, dengan satu tarikan napas yang mantap dan suara yang bergema di ruangan sempit itu, Abraham berucap:

"Saya terima nikah dan kawinnya Prita Sari Dewi binti Broto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Sah?" tanya Pak Penghulu kepada para saksi.

"Sah!" jawab Pak Gio dan saksi lainnya serentak.

Air mata Prita luruh seketika. Ia menunduk dalam, mengucap syukur dalam hati.

Kini, di tengah badai pengusiran dan penolakan, ia telah menemukan pelabuhan yang sah secara agama.

Abraham menoleh ke arahnya, menyunggingkan senyum lega yang paling tulus, seolah mengatakan bahwa mulai detik ini, mereka adalah satu jiwa yang tak akan terpisahkan oleh kasta maupun harta.

Setelah doa penutup selesai dibacakan, suasana haru yang kental menyelimuti ruangan kecil itu.

Abraham perlahan memutar tubuhnya, menghadap sepenuhnya ke arah Prita.

Ada binar kelegaan sekaligus beban tanggung jawab yang besar di matanya yang tajam.

Prita, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, meraih tangan kanan Abraham.

Ia merasakan permukaan kulit telapak tangan itu—kasar karena pekerjaan berat, kapalan di beberapa bagian, namun terasa sangat hangat dan memberikan rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Dengan penuh takzim, Prita membungkukkan badannya dan menempelkan kening serta hidungnya pada punggung tangan Abraham.

Ia mencium tangan pria itu cukup lama, membiarkan air mata syukurnya jatuh mengenai kulit tangan suaminya.

Inilah pertama kalinya Prita mencium tangan seorang pria sebagai tanda bakti dan penyerahan seluruh hidupnya.

Abraham memejamkan mata sejenak, merasakan sentuhan lembut bibir Prita di tangannya.

Hatinya bergetar hebat. Ia lalu meletakkan tangan kirinya di atas kepala Prita, mengusap rambut istrinya dengan sangat halus sambil membisikkan doa-doa perlindungan dalam hati.

"Terima kasih sudah mau berjuang bersamaku, Prit," bisik Abraham saat Prita kembali mengangkat wajahnya.

Prita menatap Abraham dengan mata yang basah namun bercahaya.

"Aku yang berterima kasih, Mas, karena sudah memungutku di saat aku tidak punya siapa-siapa lagi."

Abraham menghapus sisa air mata di pipi Prita dengan ibu jarinya, lalu ia mencium kening Prita dengan lembut dan cukup lama—sebuah ciuman yang menjadi segel janji bahwa ia tidak akan pernah membiarkan wanita ini terluka lagi.

Pak Gio dan istrinya yang menyaksikan momen itu dari sudut ruangan hanya bisa menyeka air mata, terharu melihat kekuatan cinta dua manusia yang berani melawan arus demi sebuah kebenaran.

"Ayo, ayo, kita makan dulu. Jangan sampai pengantin barunya malah lemas karena kurang tenaga," seru Pak Gio dengan nada riang, berusaha mencairkan suasana haru yang sempat menyelimuti ruangan.

Di tengah ruangan, sebuah tumpeng kuning yang cukup besar sudah tertata rapi di atas meja.

Pak Gio rupanya sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat detail sebagai bentuk restu dan kasih sayang kepada Abraham yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.

Aroma gurih santan, ayam goreng, dan sambal goreng ati langsung menggugah selera siapa pun yang ada di sana.

"Ini tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan doa supaya rumah tangga kalian kokoh dan berkah ke depannya," tambah istri Pak Gio sambil menyodorkan piring pertama kepada Abraham.

"Ayo Ham, potong tumpengnya. Berikan potongan pertama untuk istrimu."

Abraham berdiri, ia mengambil pisau kecil yang sudah dihias dengan janur.

Dengan perlahan, ia memotong bagian puncak tumpeng yang berbentuk kerucut itu, lalu meletakkannya di atas piring bersama lauk-pauk lengkap.

"Ini untukmu, Prit," ucap Abraham lembut sambil menyerahkan piring tersebut kepada Prita.

Prita menerimanya dengan tangan bergetar, matanya kembali berkaca-kaca melihat kebaikan Pak Gio dan istrinya.

Di tengah badai pengusiran yang ia alami, Tuhan justru mengirimkan orang-orang asing yang hatinya jauh lebih hangat dari keluarga kandungnya sendiri.

Mereka semua akhirnya duduk melingkar, menikmati tumpeng itu dalam suasana kekeluargaan yang begitu kental.

Untuk sejenak, beban tentang restu orang tua dan masalah pekerjaan seolah terlupakan oleh kehangatan nasi kuning dan canda tawa kecil dari Pak Gio.

"Makan yang banyak, Prit. Habis ini kalian harus mulai menata barang-barang di kamar baru kalian," ujar Pak Gio sambil tersenyum bijak.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!