NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:728
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Kesadaran datang seperti kabut yang terangkat perlahan.

Bukan dengan cara yang lembut, melainkan dengan rasa asing yang menekan dada, membuat napas Nadia tersendat sebelum benar-benar kembali ke paru-parunya. Ia membuka mata dengan gerakan pelan, seolah takut apa pun yang dilihatnya akan terasa terlalu berat untuk diterima.

Langit-langit yang menyambut pandangannya bukanlah langit-langit kamar kosnya.

Tidak ada retakan panjang di sudut tembok. Tidak ada noda lembap yang selalu ia lihat setiap pagi. Tidak ada lampu kecil yang kadang berkedip seolah hendak mati kapan saja.

Yang ada adalah permukaan putih bersih dengan ornamen ukiran halus, diterangi cahaya alami yang jatuh dari jendela tinggi di sisi ruangan.

Nadia membeku.

Ia mengedipkan mata beberapa kali, berharap ini hanya sisa mimpi buruk. Namun detail di sekelilingnya terlalu nyata. Tirai tebal berwarna abu-abu, lantai kayu mengilap, udara yang terasa sejuk dan bersih semuanya terasa terlalu mewah untuk menjadi bagian dari hidupnya.

“Ini… di mana?” gumamnya lirih.

Tangannya bergerak refleks, menyentuh kasur di bawah tubuhnya. Empuk. Terlalu empuk. Bukan ranjang kecilnya yang berbunyi setiap kali ia bergeser.

Nadia mengangkat sedikit kepalanya, dan saat itulah ia melihat cermin besar di sisi ranjang.

Pantulan itu membuat dadanya terasa seperti diremas.

Ia melihat dirinya sendiri rambut yang berantakan, wajah nya yang pucat, mata sembabnya yang terbaring di ranjang besar dengan selimut tebal menutupi tubuhnya hingga dada. Cermin itu hanya memperlihatkan kepala dan bahunya, namun cukup untuk membuat jantungnya berdebar tak beraturan.

Otaknya berusaha mengejar ketertinggalan.

Bagaimana ia bisa sampai di sini?

" Tunggu.."

Ingatan datang terputus-putus. Malam. Ketakutan. Tubuh yang terlalu lelah untuk melawan. Suara pintu. Cahaya yang redup. Rasa tercekik oleh situasi yang tidak ia kendalikan.

Dan kemudian—

Sesuatu di dalam dirinya membeku.

Nadia menarik napas tajam. Tangannya bergerak ke selimut, jari-jarinya gemetar saat mencengkeram kain tebal itu. Ada rasa takut yang tidak bisa dijelaskan, rasa takut yang lahir dari naluri, dari ingatan tubuh yang mendahului pikiran.

Dengan gerakan lambat, terlalu lambat untuk seseorang yang ingin tahu jawabannya, Nadia menyingkap selimut.

Dan dunia runtuh.

Tubuhnya tidak tertutup apa pun di balik kain itu.

Bukan hanya itu kulitnya dipenuhi jejak-jejak kemerahan, sebagian memudar, sebagian masih jelas terlihat. Bukan luka terbuka, tapi cukup untuk membuat Nadia tahu bahwa sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak ia kehendaki. Sesuatu yang tubuhnya ingat, meski pikirannya menolak.

“N—tidak…” suaranya patah.

Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Bukan satu titik, melainkan menyeluruh, hingga ke tulang. Setiap gerakan kecil memicu rasa ngilu yang membuatnya meringis. Ia merasa kosong, terkuras, seolah seluruh energinya diambil tanpa sisa.

Ingatan buruk itu datang seperti banjir.

Bukan dalam bentuk gambar yang jelas, melainkan rasa. Tekanan. Ketidakberdayaan. Kesadaran yang memudar lalu kembali dalam kondisi yang lebih hancur dari sebelumnya.

Nadia menutup mulutnya dengan tangan, menahan jeritan yang akhirnya lolos juga.

“AAAAAA—!”

Teriakan itu menggema di kamar besar itu, terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. Air mata mengalir deras tanpa bisa ia cegah.

Ia merasa jijik.

Bukan pada ruangan ini. Bukan pada orang-orang di sekitarnya.

Melainkan pada tubuhnya sendiri.

Aroma asing masih melekat di kulitnya, membuat perutnya bergejolak. Nadia menarik selimut itu kembali, membungkus tubuhnya erat-erat seolah kain itu satu-satunya perlindungan yang ia miliki.

Ia meringkuk, bahunya bergetar hebat.

Pintu kamar terbuka tiba-tiba.

Dua wanita masuk dengan langkah tergesa. Pakaian mereka seragam, sikap mereka waspada. Wajah mereka menunjukkan keterkejutan saat melihat kondisi Nadia.

“Nona—tenang, tolong tenang,” salah satu dari mereka berkata cepat.

Namun suara itu justru membuat Nadia semakin panik.

"Pergi!!"

“Jangan sentuh aku!” teriak Nadia histeris.

Ia meraih apa pun yang ada di dekatnya, bantal, benda kecil di meja samping ranjang dan melemparkannya ke arah mereka. Tangannya gemetar, gerakannya kacau.

“Keluar! KELUAR!”

Wanita-wanita itu mundur setapak, mencoba menjaga jarak.

“Ini, kamu nona. Tidak ada yang akan menyakiti Anda,” ujar yang lain dengan suara lembut, tapi Nadia tidak mendengarnya.

Ia meringkuk lebih dalam di balik selimut, seolah dunia di luar kain itu tidak boleh menyentuhnya lagi. Seringai licik yang terpatri dalam ingatan, suara rendah yang menguasai ruangan, rasa tidak berdaya semuanya membuat tubuhnya bereaksi tanpa ia bisa mengendalikan.

Ia gemetar hebat.

Salah satu wanita itu memberi isyarat ke arah pintu. Beberapa wanita lain masuk mereka semua berseragam sama, raut wajah mereka tegang.

“Dia histeris,” bisik salah satu.

“Kita harus menenangkannya,” sahut yang lain.

Salah satu dari mereka berkata pelan namun tegas, “Kita harus mengikuti perintah. Jika kondisinya seperti ini, kita harus memberinya obat penenang.”

Kata-kata itu membuat Nadia menegang.

“TIDAK!” jeritnya. “Jangan dekati aku!”

Ia kembali melempar apa pun yang bisa dijangkaunya, tangisnya pecah. “Aku akan melakukan apa saja! Tolong! Jangan paksa aku!”

Tangisannya penuh kepanikan murni.

Salah satu wanita mengangkat tangan. “Semua keluar, aku yang akan menenangkan nona,” perintahnya tegas.

Beberapa wanita tampak ragu, tapi akhirnya mereka menurut dan keluar dari kamar, menyisakan satu orang yang tetap berdiri di dekat pintu.

Wanita itu melangkah perlahan mendekat, namun tetap menjaga jarak aman.

“Nona tenanglah, namaku Melia, mulai sekarang saya yang akan menjaga anda,” katanya lembut. “Saya tidak akan menyakiti anda.”

Nadia menatapnya dengan mata merah dan basah. Ketakutan masih menguasainya, tapi nada suara Melia berbeda. Tidak memaksa. Tidak tergesa.

“Kami ditugaskan untuk menjagamu,” lanjut Melia. “Bukan untuk melukaimu.”

Melia mengambil segelas air dari meja kecil di sudut ruangan. Ia mendekat sedikit, lalu berhenti.

“Saya akan meletakkannya di sini,” katanya sambil menaruh gelas itu di lantai, cukup dekat tapi tidak memaksa. “Anda boleh meminumnya atau tidak. Saya tidak memasukkan apa pun ke dalamnya. Jika saya berani menyakiti anda, nyawa saya sendiri yang akan terancam.”

Nadia menatap gelas itu dengan curiga. Tangannya masih mencengkeram selimut erat-erat. Napasnya tersengal.

Namun tenggorokannya terasa kering. Kepalanya berdenyut.

Ia ragu lama, lalu akhirnya merangkak sedikit mendekat, mengambil gelas itu dengan tangan gemetar. Ia meneguknya perlahan,  seolah butuh kepastian bahwa ia masih hidup, ia menghabiskannya sampai tetes terakhir.

Ia mengembuskan napas panjang.

Setidaknya ia masih bernapas.

Setidaknya ia masih hidup.

Dan selama ia hidup, ia tahu satu hal dengan pasti

Ia tidak boleh hancur sepenuhnya.

Apa pun yang telah terjadi, sekejam apa pun malam itu Nadia tahu ia harus bertahan. Bukan untuk orang lain. Bukan untuk kontrak. Bukan untuk siapa pun.

Melainkan untuk dirinya sendiri.

Dan suatu hari nanti, ia akan menuntut kembali hidup yang telah direnggut darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!