NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aborsi?

Beberapa saat kemudian...

Danau Pinggir Kota

Motor Raline berhenti di bawah pohon yang rindang, yang letaknya tak jauh dari danau. Motor sport milik Kaisar juga sudah terparkir di sana, menandakan pemuda itu sudah datang lebih dulu daripada dirinya.

Raline turun dari motor. Sejenak ia menatap sekeliling mencari sosok Kaisar. Dan ternyata, Kaisar tengah duduk sendirian di sebuah bangku yang menghadap langsung ke danau. Posisinya membelakangi.

Ia tampaknya sedang menunggunya. Dan yang jelas Kaisar datang sendiri.

Raline segera berjalan mendekat ke arahnya. Kaisar belum menyadari kehadirannya, sehingga tidak menoleh saat ia mendekatinya.

Saat telah sampai di dekat kursi, tanpa bertanya apapun Raline langsung duduk di kursi yang sama dengan Kaisar dalam jarak aman, tidak terlalu dekat.

Kaisar menyadari kehadirannya lewat sudut mata. Ia langsung menoleh ke arah Raline dan menatapnya sejenak.

"Lo dateng gak bersuara," katanya. "Gue kira lo gak bakal dateng."

Raline menatap lurus ke depan, wajahnya datar.

"Langsung ke intinya aja," ucapnya. "Gue gak bisa lama-lama."

Kaisar mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kedua siku bertumpu pada paha. Posisi wajahnya tetap terarah pada Raline, seolah ia sedang berusaha menatapnya lebih jelas.

"Lo nangis terus?" tanyanya. Menyadari mata gadis itu membengkak karena kebanyakan menangis.

"Apa gue harus ketawa?" kata Raline.

Namun wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Tetap datar dan dingin.

Kaisar menghela napas pelan. Mengubah posisi hingga duduk tegak.

"Sorry," ucapnya. "Gue gak bermaksud nyakitin lo kemarin."

"Terus? Sekarang niat lo apa ngajakin gue ketemu?" tanya Raline akhirnya, seolah tak mau berlama-lama di sana.

"Obrolan kita belum selesai," jawab Kaisar. "Gue harap kita bisa ngobrol lebih lama, lebih leluasa, dan yang penting nemu jalan keluar buat masalah kita hari ini juga."

Raline tak menanggapi, tapi mendengarkan dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut pemuda tampan itu.

Kaisar kembali menatapnya. Kali ini ia sedikit menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Raline.

"Soal tanggung jawab..." ucapnya sembari menoleh ke kiri kanan memastikan tempat itu sepi. "gue bakal tanggung jawab. Tapi... gue gak bisa kalo harus nikahin lo, Lin."

"Terus?" sahut Raline tanpa menoleh. "Tanggung jawab seperti apa yang lo maksud kalo bukan nikahin gue?"

Mata Kaisar langsung terpaku pada perut Raline dibalik jaket jeansnya. Perut itu masih rata, namun sudah ada benihnya yang perlahan-lahan akan tumbuh dan membuat perut gadis itu membesar.

"Kandungan lo berapa Minggu?" tanyanya lagi.

"Gue gak tau," jawabnya. "Mungkin masih hitungan Minggu awal."

"Gue gak pernah periksa. Takut ditanya siapa bapaknya," tambahnya, pelan namun tegas.

Kaisar mangut-mangut kecil, meski sebenarnya tak benar-benar mengerti tentang kehamilan.

"Anak itu masih berupa embrio, kan?"

"Gue gak tau."

"Dari yang gue liat semalam di g*ogle sih kalo kehamilan masih itungan Minggu masih berupa embrio." Kaisar menceritakan pengalamannya semalam mencari tahu di mesin pencarian.

"Terus?"

"Dia belum berbentuk manusia," jawab Kaisar. "Jadi..."

Raline kini menatapnya dengan tatapan penasaran. "Jadi apa?"

Kaisar menatapnya serius. Ia tampak ragu mengatakan apa niatnya.

"Lin, karena gue gak bisa nikahi lo," ucapnya ragu. "Gimana kalo kita aborsi aja?"

Mata Raline langsung melebar, tubuhnya spontan berdiri dan menatap tajam pada pemuda itu.

"Apa lo bilang?" tanyanya tajam. "Aborsi?"

Kaisar mengangguk. "Iya. Cuma itu satu-satunya jalan supaya kita bisa lepas dari masalah ini."

"Kalo janin itu terus dibiarin, nanti kita yang repot," tambanya.

"Lo gila ya?!" bentak Raline. "Ini darah daging lo, Kai! Bisa-bisanya lo suruh gue buat aborsi. Di mana hati nurani lo sebagai manusia, hah?!"

Kaisar ikut berdiri. Kini mereka saling berhadap-hadapan dalam posisi berdiri.

"Gue juga gak mau kayak gini, Lin!" sahutnya tegas. "Tapi ini harus! Gue gak mau jadi bapak di usia muda. Gue gak mau kehilangan masa depan gue cuma karena pertahanin anak yang gak gue inginkan!"

PLAKKK!

Tamparan dari Raline tepat mendarat di pipi Kaisar dengan keras dan cukup membuat pipi pemuda itu panas.

"Jahat lo," ucap Raline lirih, air matanya jatuh. "Kenapa lo tega ngomong kayak gitu sementara ini semua perbuatan lo, Kai? Lo yang sebabkan ini. Tapi lo juga yang nolak kehadiran darah daging lo dengan cara yang gak manusiawi."

"Jahat lo, Kai..."

Raline menangis. Sedih mendengar kata-kata pemuda itu.

Kaisar menelan ludah. Ia mengusap pipinya pelan, rasa panas masih terasa bekas tamparan Raline.

"Gue pikir ini yang terbaik buat kita, Lin," katanya, nadanya melembut, tapi penuh keputusasaan. "Gue gak mau masa depan kita hancur gara-gara ini. Masa depan kita masih panjang."

"Kalo gak ada anak ini, lo sama gue bisa tetap lanjutin hidup. Sekolah kayak anak-anak lain, dan ngejar cita-cita kita," lanjutnya. "Gue yakin lo juga maunya gitu."

Raline menggeleng-geleng. Air matanya masih mengalir. "Gue emang mau terus kayak gitu. Tapi gue gak mau jadi manusia yang gak manusiawi, Kai."

Ia terisak pelan. "Kalo sampai kita lakuin itu, apa kita masih pantes disebut manusia? Bahkan binatang pun gak pernah bunuh anak mereka sendiri. Apa lo gak malu?"

Kaisar terdiam. Kepalanya menunduk.

Kata-kata Raline ada benarnya. Jika mereka melakukannya, betapa jahatnya mereka. Dan bahkan lebih jahat dari binatang sekalipun.

Raline menghapus air matanya, masih terisak kecil. "Dengerin gue, Kai..." ucapnya lirih. "Soal masa depan, antara lo dan gue itu beda."

Kaisar mengangkat wajah dan menatapnya.

"Lo mungkin bisa lanjutin hidup lo kayak biasa," lanjut Raline. "Lo bisa tetap jadi bujangan tanpa siapapun tau kalo lo sebenarnya hampir punya anak. Lo gak akan kena masalah apapun asalkan siapapun gak bocorin tentang rahasia lo. Hidup lo bakal berjalan mulus."

"Tapi gue?"

Raline menunjuk dirinya sendiri.

"Hidup gue udah berubah selamanya, Kai. Lo tau itu."

"Meskipun anak ini kita singkirin, tapi gue tetap udah kehilangan masa depan gue," katanya, air matanya terus mengalir. "Gak akan ada yang berubah. Bagi gue tetap sama."

"Hidup gue udah hancur, Kai... Gue gak akan bisa kayak lo, yang dengan mudahnya mempertahankan semua hal yang lo punya. Gue adalah pihak yang paling di rugikan dalam hal ini."

Raline menutup wajahnya setelah mengatakan itu pada Kaisar. Hatinya perih, menerima kenyataan bahwa hidupnya sudah hancur dan segalanya telah berubah bagi dirinya.

Kaisar berdiri mematung di tempatnya, menatap Raline yang tengah menangis dengan perasaan campur aduk.

Sejak ia tahu Raline hamil, ia bahkan tak pernah memikirkan bahwa Raline telah kehilangan dunianya sejak malam itu. Ia selalu berpikir semuanya akan baik-baik saja, bahkan jika anak yang dikandung olehnya disingkirkan.

Tapi... rupanya ia melupakan siapa yang paling dirugikan dalam posisi ini. Bukan dirinya. Tapi Raline, sebagai seorang wanita.

Raline menangis tersedu-sedu meski pelan, wajahnya masih di tutup seolah malu memperlihatkan tangisannya lebih lama pada Kaisar.

Kaisar perlahan mendekat. Tangannya terangkat untuk menyentuh bahu Raline, tapi ia ragu. Pada akhirnya, tangannya hanya mengepal di udara karena ia merasa tak pantas menenangkan Raline yang dibuat menangis olehnya.

"Maafin gue, Lin," ucapnya penuh sesal. "Gue gak punya cara lain buat tanggung jawab. Jujur, gue takut. Gue gak sanggup ngadepin semua ini. Gue... pengecut soal ini."

Raline tidak menjawab, ia masih menangis tersedu.

"Lin," panggil Kaisar pelan. "Kalo lo punya opsi lain yang lebih baik selain nikah dan aborsi, kasih tau gue. Gue bakal lakuin apapun, yang penting itu gak mengancam masa depan gue."

Raline berhenti menangis.

Ia mengangkat wajahnya, menatap Kaisar dengan mata yang basah. Cepat-cepat ia menghapus air matanya dengan ujung lengan jaket hingga kering.

"Oke, kalo itu mau lo," ucapnya dengan senyum pahit. "Lo pertahanin apa yang penting buat lo. Buat masa depan lo."

"Lo gak perlu lagi mikirin soal ini," lanjutnya sembari menahan sesak. "Biarin gue yang hadapi sendiri."

"Kalo nanti keluarga gue tanya siapa bapak anak ini, gue bakal bilang kalo bapaknya mati. Gue gak akan bilang kalo lo bapaknya."

"Gue jamin nama lo tetap aman. Tapi balasan dari Tuhan itu bakal datang buat lo meski di masa depan, di mana lo udah lupa sekalipun. Tuhan gak pernah tidur. Setiap perbuatan akan ada balasannya. Kalo sekarang lo aman, artinya Tuhan bakal kasih balasan buat lo di saat lo udah lupa semuanya."

Mendengar penuturan Raline, sontak Kaisar tersentak, seolah kata-kata gadis itu berisi ancaman dan peringatan baginya yang tidak mau bertanggung jawab.

Kaisar terdiam, mematung tanpa bisa memberikan komentar apa-apa pada Raline.

Dan Raline, setelah mengatakan itu ia memilih pergi tanpa menoleh lagi.

Langkahnya cepat menuju motornya, sambil mengusap air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya.

Seharusnya ia sudah bisa menduga ini akan terjadi. Seharusnya ia tak menemui Kaisar. Dan seharusnya ia tahu bahwa Kaisar benar-benar tak pernah berniat bertanggung jawab padanya.

Bersambung...

1
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
Nurul Hilmi
jangan kasih cinta buat kaisar lin. biar die nyesel😄
Lisdaa Rustandy: cinta akan hadir saat waktu terus berjalan. bahkan saya yg menikah tanpa cinta aja sekarang jadi bucin🤣
total 1 replies
Nurul Hilmi
anak jangan dikasih orang lain, tetep raline yang rawat...
deeRa
Ganbatee Lin💪😊
falea sezi
jangan mau pergi jauh dr situ besarin anak sendiri ibunya egois cucu kandung mau di buang dajjal bgt ne orang
deeRa
Nyesek ya jd raline, 🥺
ROSULA DARWATI
kasihan Raline
Melinda Cen
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!