NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penangkapan Dan Sumpah

Malam di pinggiran Jakarta Utara itu berselimut kabut garam yang tebal, membawa aroma karat dan minyak industri yang menyengat. Di kawasan pergudangan yang sudah lama ditinggalkan, sebuah bangunan beton tua dengan atap seng yang sebagian sudah jebol berdiri seperti raksasa yang sekarat. Di sinilah, di dalam labirin peti kemas kosong dan mesin-mesin tua yang membisu, Aris Wicaksana meringkuk.

Ia bukan lagi pria perlente yang dulu memikat hati banyak wanita dengan senyum manis dan janji-janji palsu. Pakaiannya compang-camping, bahunya yang terkena hantaman tongkat besi Pak Pamuji membiru dan membengkak, serta wajahnya masih menyisakan rona merah akibat siraman cairan cabai. Namun, di balik fisik yang hancur itu, matanya tetap berkilat dengan kegilaan yang murni. Ia sedang mengasah belatinya di atas lantai semen yang kasar, sebuah bunyi srek-srek yang ritmis dan mengerikan di tengah kesunyian.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang halus namun banyak terdengar mendekat. Aris membeku. Ia menajamkan pendengarannya. Bukan hanya mobil, tapi juga derap langkah sepatu bot yang terorganisir di atas kerikil.

"Sudah datang ya..." bisik Aris. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnya yang pecah.

****

"ARIS WICAKSANA! KELUAR DENGAN TANGAN DI ATAS KEPALA! KAWASAN INI SUDAH DIKEPUNG TOTAL!"

Suara megafon polisi membelah kesunyian malam, diikuti dengan nyala lampu sorot berkekuatan ribuan watt yang menembus celah-celah dinding gudang. Aris tidak menjawab. Ia justru bergerak lincah di antara tumpukan drum minyak bekas, berpindah dari satu bayangan ke bayangan lain.

Pintu besi gudang didobrak paksa. BRAK! Tim Brimob dengan pelindung tubuh lengkap dan senjata laras panjang merangsek masuk. Gas air mata dilemparkan, menciptakan kepulan asap putih yang menyesakkan.

"Jangan tembak! Amankan tersangka hidup-hidup!" perintah Komisaris Pratama dari luar.

Aris tahu ia terpojok, namun insting binatang buasnya menolak untuk menyerah begitu saja. Saat seorang petugas mendekati tumpukan peti kemas tempatnya bersembunyi, Aris melompat keluar. Dengan teriakan yang lebih mirip raungan srigala, ia mengayunkan belatinya.

SLASH!

Lengan baju petugas itu robek, namun pelindung lengannya menyelamatkan kulitnya. Terjadi baku hantam yang brutal di tengah kepulan asap gas air mata. Aris bertarung seperti orang kesurupan; ia tidak peduli pada rasa sakit atau hantaman popor senjata yang mengenai rusuknya. Ia menendang, mencakar, dan menggigit siapa saja yang mencoba menyentuhnya.

"Kalian tidak akan pernah bisa menangkapku!" raung Aris di tengah sesak napasnya.

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Sebuah hantaman keras dari tongkat polisi mengenai lutut Aris, membuatnya tersungkur di atas semen yang dingin. Tiga petugas langsung menindih tubuhnya, memiting tangannya ke belakang hingga terdengar bunyi sendi yang berderak.

KLIK.

Suara borgol baja yang mengunci pergelangan tangannya menandai berakhirnya pelarian panjang sang predator. Aris terengah-engah, wajahnya ditekan ke lantai semen yang kotor, namun ia masih sempat meludah ke arah sepatu petugas.

****

Di markas kepolisian, Devina Maharani duduk di ruang tunggu VIP bersama Gavin. Saat pintu terbuka dan Komisaris Pratama masuk dengan anggukan mantap, Devina merasa sebuah beban raksasa yang selama ini menghimpit dadanya tiba-tiba terangkat.

"Tersangka sudah diamankan. Dia sedang dalam perjalanan menuju sel isolasi tingkat tinggi," ucap Komisaris.

Devina menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah—bukan tangis ketakutan, melainkan tangis kelegaan yang luar biasa. Gavin merangkulnya erat, memberikan kehangatan yang dibutuhkan wanita itu.

"Sudah berakhir, Dev. Benar-benar berakhir sekarang," bisik Gavin, meski matanya tetap menatap tajam ke arah pintu, seolah masih berjaga-jaga.

"Aku bisa tidur malam ini, Gavin..." isak Devina. "Aku bisa melihat Mama dan Papa tanpa takut mereka akan diculik lagi. Aku bisa memasak tanpa harus memegang pisau untuk melindungi nyawaku."

Kabar penangkapan Aris tersebar cepat. Di rumah sakit, Bu Imroh yang mendengar kabar itu langsung bersujud syukur di atas lantai bangsalnya. Ia menangis haru, membayangkan bahwa arwah Salsa kini bisa beristirahat dengan tenang karena pria yang merenggut nyawanya sudah benar-benar dirantai oleh hukum.

****

Namun, bagi otoritas kepolisian, Aris Wicaksana bukan lagi tahanan biasa. Pengalaman pelariannya sebelumnya membuktikan bahwa sel standar tidak akan cukup. Aris dipindahkan ke sebuah blok khusus di penjara dengan keamanan maksimum yang terletak di sebuah pulau terpencil.

Sel itu kecil, tanpa jendela, dengan dinding beton berlapis baja. Lampu di dalamnya menyala 24 jam untuk mencegahnya mengenali waktu. CCTV mengawasinya dari setiap sudut, dan setiap gerakannya dipantau oleh algoritma pendeteksi perilaku aneh. Tidak ada kontak fisik dengan sipir; makanan diberikan melalui celah kecil di bawah pintu baja yang tebal.

Aris duduk di lantai selnya. Rambutnya sudah dicukur habis, dan ia kini mengenakan seragam tahanan berwarna oranye mencolok dengan kode "High Risk". Ia menatap kamera CCTV di pojok ruangan dengan tatapan yang sangat dingin.

Ia tidak nampak menyesal. Tidak ada tanda-tanda pertobatan di wajahnya. Sebaliknya, ia nampak sedang bermeditasi di tengah kebenciannya yang membara.

****

Malam itu, seorang sipir senior berdiri di balik pintu baja, memantau melalui lubang intip kecil. Ia mendengar suara bisikan yang tidak wajar dari dalam sel Aris.

"Kalian pikir tembok ini cukup kuat?" suara Aris terdengar halus, hampir seperti nyanyian kematian.

"Diam, Tahanan!" bentak sipir itu.

Aris bangkit berdiri, mendekati pintu baja itu hingga wajahnya hampir menyentuh lubang intip. Meskipun ia tidak bisa melihat sang sipir, auranya yang mengerikan menembus logam tebal tersebut.

"Katakan pada Devina... katakan pada Gavin..." desis Aris. "Aku punya waktu seumur hidup untuk merencanakan ini. Penjara ini bukan kuburanku. Ini adalah rahim tempat aku akan lahir kembali sebagai mimpi buruk yang jauh lebih mengerikan."

Aris mencakar pintu baja itu dengan kuku-kukunya yang pendek, menciptakan suara decitan yang memilukan. "Aku akan menuntut balas. Setiap tetes keringatku di sini akan kubayar dengan air mata darah mereka. Sumpahku... ini belum selesai. TUNGGU AKU!"

Suara tawa Aris meledak di dalam ruang sempit itu, memantul di dinding beton dan menciptakan gema yang membuat sang sipir bergidik ngeri. Tawa itu adalah pengingat bahwa meskipun tubuhnya terkurung, dendam Aris Wicaksana adalah entitas yang merdeka—sebuah monster yang akan terus mengintai di balik bayang-bayang kehidupan Devina dan Gavin, menunggu celah terkecil untuk kembali menerjang.

Di luar sana, bintang-bintang bersinar terang di atas langit Jakarta, memberikan ketenangan sementara bagi mereka yang telah lama menderita. Namun, jauh di sel gelap itu, dendam sedang dipupuk dengan sangat subur, bersiap untuk meledak di saat yang paling tidak terduga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!